
Joe meminta Pak Go untuk ke ruangannya, Pak Go adalah kepala pelayan di rumah Joe. Ia sudah tiga puluh tahun lebih bekerja untuk Joe. Dari semasa kecilnya sampai Joe sudah menjadi orang yang berkuasa.
"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu?". tanya Pak Go sesampainya di ruangan Joe.
"Bagaimana keadaannya?". tanya Joe to the point.
"Nona baik-baik saja tuan, sepertinya nona sedang tidur". jawab Pak Go.
"Baiklah, jaga dia baik-baik dan perketat keamanan".
"Baik tuan, kalau tidak ada lagi saya pamit undur diri". ucap Pak Go seraya membungkukkan badan dan pergi meninggalkan ruangan Joe.
Joe kembali mengerjakan dokumen-dokumennya, yang masih tersisa. Setelah selesai Joe berniat untuk melihat keadaan Ayla. Ia berjalan menuju kamar Ayla, dan membuka perlahan pintu kamar Ayla, Agar ia tidak membangunkannya.
Joe duduk di samping Ayla yang sedang tertidur. Sekilas Joe memandang wajah sendu Ayla yang sedang tertidur, ia mengusap dahi Ayla. Dan Joe betapa terkejutnya saat ia menyentuh dahi Ayla, ternyata dahi Ayla panas.
"Kenapa dengan nya, dahinya panas sekali". ucap Joe, ia bergegas memencet tombol yang ada di sebelah ranjang untuk memanggil pelayan.
"Ya ada apa nona". ucap Pak Go yang sudah ada di depan pintu.
Joe mendengar suara Pak Go, ia lantas segera keluar dan menemui Pak Go.
__ADS_1
"Panggilkan Dokter". ucap Joe setelah keluar dari kamar Ayla.
"Baik tuan". sebenarnya Pak Go binggung dengan apa yang diperintahkan tuannya, tiba-tiba menyuruhnya untuk memanggilkan dokter. Pak Go tak mau berlama-lama dengan pikirannya, ia segera memanggil Dokter pribadi rumah Joe.
Joe kembali masuk ke dalam kamar, dan mengecek kondisi Ayla. Perasaan khawatir menyelimuti pikiran Joe. Baru kali ini ia sangat-sangat khawatir dengan seseorang selain kedua orangtuanya.
***
"Nona tidak apa-apa tuan, dia hanya demam". ucap Dokter pribadi rumah Joe, Juhi.
"Lalu kenapa dia masih belum bangun?". tanya Joe, terlihat jelas raut wajahnya yang khawatir dan panik.
"Nona akan segera siuman tuan, dengan kompresan saja demam nona akan mereda".
Dan Joe tidak lupa meminta pelayan untuk membawakan air dan handuk untuk mengompres Ayla. Dengan telatennya Joe mengompres dahi Ayla. Entah mengapa tiba-tiba saja Joe sangat peduli pada Ayla.
***
Keesokan paginya....
Ayla terbangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling dan mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya. Ayla melihat Joe yang tidur di sebelahnya, ia enggan untuk membangunkan Joe.
__ADS_1
Ayla memilih bangun dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan Joe. Tetapi gerakan ranjang membangunkan Joe.
"Kamu sudah bangun?". tanya Joe.
"Hmm... iya om, maaf gara-gara aku om jadi bangun". ucap Ayla, ia merasa sedikit bersalah karena gerakannya yang kurang hati-hati sehingga membuat Joe terbangun.
"Nggak papa, bukan salah kamu". ucap Joe."Kamu mau kemana?". tanya Joe yang melihat Ayla sudah tidak diposisi semula.
"Tadi Ayla mau ke kamar mandi, tapi sekarang nggak".
"Jangan mandi dulu, tunggu disini aku akan ambilkan sarapan". ucap Joe seraya bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Ayla.
Ayla termenung sejenak dengan perubahan sikap Joe padanya, pasalnya awal mereka bertemu. Joe sangat menyebalkan, tapi dalam sekejap sikapnya bisa berubah. Menjadi seorang Malaikat, yang penuh dengan perhatian dan kelembutan.
Setelah beberapa saat Joe masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan yang berisi. Bubur, air, dan obat untuk Ayla.
"Buka mulut mu". perintah Joe, ia duduk didepan Ayla. Untuk memudahkan ia untuk menyuapi Ayla.
"Ta.. tapi.. om aku bisa makan sendiri". ucap Ayla, karena ia merasa tidak nyaman.
"Menurut lah". Ayla menurut, dikarenakan ia juga sudah lapar. Setelah beberapa saat Joe selesai menyuapi Ayla. Dan ia menyuruh Ayla untuk meminum obatnya.
__ADS_1
"Tidurlah, dan tetap didalam kamar". perintah Joe dan menyelimuti Ayla dan ia pergi juga tak lupa membawa nampan dan wadah makanannya.