
Keesokkan harinya, Sanifa kembali ke sekolah. Masih saja tidak menyerah, untuk mengenyam pendidikan di SMA Hijau Daun. Kali ini makanannya ditaburi dengan debu, tanpa ada sebab. Emosinya selalu dipancing untuk keluar, padahal menahannya setengah mati.
"Kenapa? Kamu tidak bisa berbuat apa pun, untuk melindungi diri kamu sendiri ya. Dasar perempuan rendahan!" Kramiy menghinanya dengan enteng, tanpa merasa bersalah.
"Hahhah... terlalu culun, mengenakan jilbab itu-itu saja." Berlin ikut-ikutan juga.
Sanifa sengaja mengabaikan omongan mereka dengan memilih pergi, lalu kakinya kena jagal hingga jatuh. Sanifa melempar kaki meja ke hidung Kramiy, hingga darah bercucuran keluar. Berlin dan Zarin mendorong pundak Sanifa, lalu mendapatkan serangan tendangan. Berlin dan Zarin tidak terima, lalu mendorong Sanifa hingga jatuh. Zarin menginjak dada Sanifa, sambil tertawa dengan suara mengerikan.
"Tolong aku, siapa pun tolong aku." Sanifa merasakan sakit pada dadanya, karena sesak nafasnya kambuh lagi.
Kramiy menghentikan mereka, sebelum ada yang melihat aksi jahat tersebut. Kramiy mengajak Zarin dan Berlin pergi, agar mereka bisa aman dari tersangka penganiayaan.
"Yakin, kalau kita tidak akan diinterogasi?" tanya Zarin.
"Kalau tidak ada yang tahu si, masih aman-aman saja." jawab Kramiy.
"Menakutkan itu, kalau ada yang mengadu ke Ayah kamu." sahut Berlin.
__ADS_1
Kramiy berpangku tangan. "Ayah sangat sayang sama aku, pasti memberikan toleransi."
Sanifa tergeletak di depan kantor polisi, akibat sesak nafasnya kambuh. Para polisi menolongnya, lalu Sanifa melaporkan apa yang terjadi.
"Kamu kenapa?" tanya seorang polisi.
"Tolongin aku Pak, aku di-bully. Teman sekelas melakukan kekerasan fisik, sampai menakut-nakuti." jawab Sanifa, dengan ketakutan.
"Dik, kamu mungkin terlalu bawa perasaan. Jangan lebay, terkadang teman hobi bercanda." jawab polisi.
Sanifa tetap ngotot, dengan wajah penuh keringat. "Pak polisi, tolongin aku. Mereka benar-benar jahat, melakukan hal serius di luar batas."
"SMA Hijau Daun." jawab Sanifa, dengan jelas.
Keesokkan harinya, ibu Fraza memanggil Kramiy, Berlin, dan Zarin. Ibu Fraza hanya pura-pura, sebenarnya tidak sungguhan memarahi mereka bertiga. Kramiy tidak mau mengakui, perbuatan yang keliru.
"Apa kalian melakukan kekerasan di sekolah ini?" tanya seorang polisi.
__ADS_1
"Mana mungkin, wajah imut seperti kami melakukan hal keji. Kami terkadang hanya bercanda, namun Sanifa yang terlalu dimasukkan ke hati." jawab Kramiy, yang mengelak.
"Dia melapor, katanya kalian sering mem-bully." ujar polisi wanita.
"Tidak ada, semua laporan tidak benar. Kami bercanda dengan bijak, namun dia terlalu arogan dan brutal. Senyum pun tidak, malah histeris seperti gangguan jiwa." Kramiy memutarbalikkan fakta.
"Terima kasih saudari Kramiy, sudah memberikan penjelasan." ucap polisi wanita.
"Iya sama-sama." jawab Kramiy.
"Dia berbohong Pak polisi, dia bahkan menendang punggung aku. Dia juga tidak segan menginjak dadaku." Sanifa langsung histeris, melihat mereka tidak diberikan sanksi.
"Tolong tenang, kamu jangan berperilaku seperti ini. Semua orang menjadi risih, bila kamu berbicara dengan nada tinggi." jawab polisi laki-laki.
Xaiza sengaja masuk ke dalam ruangan, untuk menjadi saksi. Semua dibuat tercengang, dengan keberanian Xaiza dalam membela.
"Yang dikatakan oleh Ahra benar adanya. Aku melihat sendiri, saat dia ditindas oleh teman-teman sekelasnya." ujar Xaiza.
__ADS_1
"Baiklah, kami akan memantau sekolahan ini." jawab polisi wanita.