Dijemput Malaikat Izrail

Dijemput Malaikat Izrail
Kesulitan Mencari Kerja


__ADS_3

Zomprang melamar kerja jadi satpam, namun masih mendapat penolakan. alasan utamanya adalah karena tidak mengikuti didikan kasar (Diksar). Melamar sebagai tukang angkut barang juga, malah mendapatkan komentar bahwa dirinya sudah tua.


"Nasib, nasib, padahal sudah ke sana dan kemari. Masih saja tidak berpihak untuk mendapat pekerjaan, mungkin karena dosaku yang sangat banyak." Zomprang termenung sejenak, tepat di anak tangga sebuah toko.


Zomprang pulang ke rumah, lalu melihat Sanifa baru juga pulang. Dia terlihat kelelahan, namun tidak membuat Zomprang merasa kasihan. Hari ini sangat kesal dengan semua orang, yang menyebutkan anaknya sebagai pecandu narkoba.


"Sanifa, kenapa kamu baru pulang?" tanya Zomprang.


"Aku 'kan mengikuti kegiatan kemah Pramuka." jawab Sanifa.


"Ingat, kamu itu masih sedang dalam masa pengawasan, terkait isu kematian Ibu kamu. Jika benar kamu yang melakukannya, kamu akan dikeluarkan dari sekolah." ujar Zomprang.

__ADS_1


"Aku tidak takut Ayah, karena aku tidak salah dalam hal ini. Aku yakin suatu hari nanti, semua kebusukan teman sekelas akan terbongkar." jawab Sanifa.


Sanifa pergi ke dapur, untuk mengambil piring. Sanifa akan menumpahkan lauk pauk, yang dibawakan oleh Cemara. Sanifa menawari ayahnya untuk makan, namun mendapatkan penolakan dengan kasar. Sanifa mengerti, ayahnya sangat terpukul oleh kematian Ainin.


"Ayah, mengapa Ayah berubah? Sudah aku katakan berulang kali, bukan aku yang bunuh Ibu. Aku juga sangat menyayanginya dan ingin mengenang boneka kancil, yang diberikan terakhir kali oleh Ibu." ujar Sanifa, dengan raut wajah sedih.


"Kita lihat saja, hasil pemeriksaan polisi nanti. Kasus ini sedang dalam tahap penyelidikan, jadi Ayah belum bisa memutuskan untuk percaya dengan siapa pun." jelas Zomprang.


Keesokkan harinya, kedatangan polisi wanita dan polisi laki-laki. Siswa dan siswi SMA Hijau Daun sibuk berbincang, kebanyakan dari mereka berdiri di emperan. Sanifa melihat polisi melakukan pemeriksaan terhadap tas warga sekolah.


"Aku hanya difitnah, aku tidak menggunakannya." Sanifa membela diri.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti, polisi akan melakukan penyelidikan." ucapnya lagi.


"Ya, aku harap kabar baik segera menghampiriku. Aku sudah lelah, ingin bebas dari segala cengkraman kejahatan." jawab Sanifa lirih.


Obat-obatan terlarang telah diamankan, tinggal memasuki masa observasi selanjutnya. Polisi itu pergi dari sekolah SMA Hijau Daun, lalu membandingkan dengan yang ditemukan sebelumnya.


"Sepertinya sama, dengan plastik obat-obatan terlarang yang ditemukan hari ini. Kemungkinan dia memang diam-diam mengkonsumsi narkoba, tanpa diketahui oleh siapa pun juga." Seorang polisi wanita hanya menduga-duga, meski tidak tahu kebenarannya.


Ayahnya selalu marah-marah, sejak ibunya meninggal. Tidak biasanya, pulang sekolah Sanifa tidak bisa santai. Sanifa memikirkan boneka kancil, sekaligus ingin membantu perekonomian keluarga.


"Eh Sanifa, kalau Ayah tidak diterima kerja, kamu bantu Ayah menanam cabai di kebun belakang rumah. Lumayan untuk pemasukan, supaya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari." ujar Zomprang.

__ADS_1


"Iya Ayah insyaAllah, kalau aku tidak ada kendala apa pun." jelas Sanifa


Sanifa disiram air, saat baru sampai sekolah. Tas miliknya dilempar ke sana kemari, lalu diinjak-injak hingga kotor. Sanifa menahan amarah, hingga menekan dalam batinnya. Tanpa disadari Sanifa mengalami trauma, bahkan mentalnya menjadi luka. Dia perlu dibimbing oleh profesional, agar pulih seperti sediakala.


__ADS_2