Dijemput Malaikat Izrail

Dijemput Malaikat Izrail
Dipenjara


__ADS_3

Kramiy dimasukkan ke dalam sel tahanan, bersama dengan teman-temannya. Kramiy sibuk mendobrak-dobrak tubuhnya ke arah besi jeruji.


"Polisi, keluarkan aku dari sini." teriak Kramiy.


"Kramiy, kamu bisa minta tolong dengan orangtuamu." Zarin berusaha menenangkannya.


"Ya, kalau Papa dan Mama mau membebaskan aku dari tempat hina ini. Kalau mereka tahu aku melakukan kejahatan, bisa saja mereka tidak sudi melihatku lagi." ujar Kramiy.


"Bilang saja kalau kamu difitnah, dengan begitu mereka akan membebaskan kamu dari penjara." Berlin mengusulkan sarannya.


Dua orang manusia paruh baya memasuki kantor polisi, untuk melihat anaknya yang dipenjara. Kramiy tidak menyia-yiakan kesempatan, bersiap-siap mengeluarkan air mata buayanya.


"Kramiy, kami mendapatkan laporan bahwa kamu menjadi tersangka penculikan saudari Sanifa." ujar Doran.


"Papa, aku tidak melakukannya. Aku hanya difitnah, aku tidak sejahat itu." Kramiy memasang muka melas.

__ADS_1


"Jangan berbohong kamu." ujar polisi muda, yang berada di sebelah Xaiza.


"Aku tidak ada melakukan apa pun, tapi satu polisi ini bersikeras menuduhku. Dia bahkan membantu orang, yang telah mencemarkan nama baikku. Coba kalian lihat laki-laki di sebelahnya, tidak asing. Dia merupakan penjaga sekolah, yang telah dipecat." jelas Kramiy, dengan keterangan palsunya.


Doran mendekat ke arah Xaiza. "Apa benar, kamu yang telah membuat anakku masuk dalam sel jeruji?"


"Ya, karena anak tuan pantas mendapatkannya. Berikan waktu tiga hari, akan aku temukan Sanifa. Silakan dengar sendiri keterangan darinya." jawab Xaiza.


Zawil mendekat ke arah Xaiza. "Aku yakin, kalau anakku tidak bersalah. Teman kamu yang bernama Sanifa itu, pasti punya niat untuk menjatuhkan posisi anakku. Secara, Kramiy ini siswi berprestasi, ditambah dari kalangan keluarga terpandang." menyahut dengan berapi-api.


Zawil langsung mendorong pria muda berseragam polisi itu. "Aku sedang marah, pada laki-laki tidak tahu diri ini. Aku ingin, jangan ikut campur dengan urusanku."


"Aku berharap, kalian mempercayai keterangan pemuda ini. Aku pasti akan segera menemui Sanifa, seorang remaja yang telah diculik sampai disekap, pada sebuah ruangan." Indro terus membela Xaiza.


"Baiklah, perkara ini diputuskan sampai sini. Biarkan saja Kramiy dalam penjara, nanti kalau tidak bersalah, dia pasti bebas juga." Doran tidak ingin ribut-ribut lebih lama lagi.

__ADS_1


"Hih, Papa ini kenapa bisa ikut saja si. Jadi suami yang bijak dong, buktikan kalau anak kota tidak bersalah." Zawil emosi.


Doran menarik lengan sang istri, yang masih tertinggal rasa tidak terima. Doran membukakan pintu mobil untuk Zawil, lalu perempuan itu masuk ke dalam.


"Mama, jangan membuat malu dong!" Doran melihat ke arahnya.


"Mama lebih baik malu, daripada melihat putri kita dalam sel tahanan." jawabnya, sambil menangis.


4 hari kemudian.


Para nelayan menemukan jenazah Sanifa, yang hanyut di dalam drum. Awalnya mereka terkejut, karena ada manusia di dalamnya. Mereka beramai-ramai ke kantor polisi, untuk melaporkan hal tersebut.


Jenazah Wanita di otopsi, untuk diketahui siapa pelaku pembunuhan tersebut. Dicocokkan dengan hasil DNA dari pihak keluarganya. Zomprang merasa sedih, karena Sanifa juga meninggalkan dirinya.


"Sanifa, maafkan Ayah! Maaf untuk hal yang telah menimpa kamu. Harusnya Ayah lebih perhatian, tidak mendengarkan ucapan orang. Ayah sekarang sudah mengerti, bahwa kamu mengalami kepedihan karena di-bully."

__ADS_1


__ADS_2