Dijemput Malaikat Izrail

Dijemput Malaikat Izrail
Menangkap Pelaku


__ADS_3

Kramiy mengerem mobilnya, lalu membawa Sanifa ke sebuah dermaga. Sanifa diseret paksa naik ke atas tangga, lalu mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Sanifa menendang perut Zarin dan Berlin, lalu berlari kecil ke sebuah tempat yang menumpuk berbagai jenis ukuran drum.


"Sanifa, keluar kamu!" teriak Kramiy.


"Sejauh apa pun kamu melarikan diri, kami pasti bisa menemukan kamu." Zarin celingak-celinguk, mengedarkan pandangan ke sekitar.


Sanifa menutup mulutnya, supaya tidak mengeluarkan suara. Sanifa berkeliling drum, ke drum besar lainnya. Kramiy, Berlin, dan Zarin sengaja bersembunyi terlebih dulu. Sanifa memberanikan diri memunculkan kepalanya, setelah hening beberapa waktu.


”Apa mereka benar-benar sudah pergi ya.” batin Sanifa.


Sanifa mengeluarkan diri dari persembunyian, lalu melangkah dengan hati-hati. Tidak terduga, muncul Kramiy, Berlin, dan Zarin.


"Sanifa, kamu ternyata belum kabur dari sini ya." ujar Zarin.


"Kasian sekali nasib kamu, karena akan tersiksa hari ini." Kramiy menakutinya.


Sanifa hendak kabur, namun ditarik paksa. Tangannya yang masih terluka, membuatnya lemah tak berdaya. Bekas luka bakar itu masih terasa perih. Sanifa tidak menyerah melakukan perlawanan, namun gagal membela diri. Sanifa didorong hingga masuk ke dalam drum, lalu ditutup dengan rapat-rapat.


"Kita tendang saja ke laut." ujar Zarin.

__ADS_1


"Baiklah, hitung sampai tiga." jawab Kramiy.


"Satu! Dua! Tiga!"


Bugh!


Drum ditendang Zarin dan Kramiy, hingga tergelincir ke bawah anak tangga. Sanifa ketakutan saat drum terus berjalan, ditambah kesulitan bernafas karena tidak ada lubang udara. Sanifa sudah pasrah, sembari terus berdoa dalam hati.


"Jika aku mati, aku pasrah ya Allah." monolognya.


Berlin, Zarin, dan Berlin menyatukan telapak tangan di atas udara. Mereka bertiga tertawa, menikmati pemandangan tragis tersebut.


"Hahah… hahah…"


"Ashadualla ilahailallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah." Sanifa mengucapkan kalimat syahadat, untuk yang terakhir kali.


Drum terlempar ke lautan, lalu terdengar suara mobil polisi. Zarin, Berlin, dan Kramiy melarikan diri. Mereka segera masuk ke dalam mobil, lalu pergi dari tempat tersebut. Xaiza mengajak polisi yang ada didekatnya, untuk mengejar mobil yang sedang berjalan dengan kecepatan tinggi tersebut.


"Ayo cepat, kita ke arah sana." Berlin menunjuk bukit yang curam.

__ADS_1


"Tapi susah, takut mobilnya tidak sanggup." jawab Kramiy.


"Sudahlah, kita sedang dikejar polisi ini." Zarin bersungut-sungut.


"Ya, iya, sabar dong." Kramiy melajukan gasnya, lebih cepat lagi.


Mobil yang di belakang tidak mau kalah, tetap mengejar dengan kekuatan sedang. Kramiy lebih cepat lagi dalam mengendarai mobilnya, dan mobil di belakangnya melajukan kemudi lagi.


"Ya Allah, di mana keberadaan Sanifa. Aku semakin khawatir, kalau hal buruk telah terjadi padanya." Xaiza resah, dengan menggosokkan telapak tangannya.


"Sabar, kita sedikit lagi melampauinya." Polisi melihat mobil di depan, yang sudah hampir terkejar.


Mobil polisi menghadang tepat di depan mobil Kramiy. Suara rem dadakan, sampai membuat ban mobil berdesir. Kramiy turun sambil membanting pintu mobil.


"Apa maksud anda ini Pak polisi?" Kramiy pura-pura tidak tahu, sambil berpangku tangan.


"Jangan mengelak dari tanggungjawab." jawab bapak polisi.


Xaiza melihat mereka, dengan tatapan membunuhnya. "Lebih baik kalian ikut ke kantor polisi, untuk mengikuti proses penyelidikan."

__ADS_1


"Kami tidak mau ikut." Kramiy terus menghindar.


Xaiza menarik paksa tangan Kramiy, namun Zarin dan Berlin membelanya. Bapak polisi memborgol paksa, kedua tangan manusia keji tersebut.


__ADS_2