
Cemara datang ke tenda perkemahan, untuk menanyakan Sanifa pada guru-guru. Ini atas permintaan Xaiza, karena dia tidak dapat berjalan sendiri. Ibu Melan memanggil Kramiy, yang baru saja datang. Zarin dan Berlin jadi mempunyai firasat tidak enak, ketika melihat kehadiran perempuan paruh baya tersebut.
"Eh, di mana Sanifa?" tanya ibu Melan.
"Kami juga tidak tahu." jawab Kramiy, yang sengaja berbohong.
"Jangan menutupi sesuatu hal, hanya untuk menyelamatkan perbuatan curang diri sendiri. Kalau ketahuan, pengadilan akan menuntut. Tidak peduli status kalian, namun bila terjadi apa-apa, aku tidak akan sungkan." Cemara berucap dengan tegas.
"Dih, santai saja kali Bu. Kami pun tidak kenal dengan anda." jawab Kramiy.
"Kalian memang tidak kenal denganku, begitupula sebaliknya. Namun aku tahu, kalian yang sudah menyebabkan Xaiza dipecat." ujar Cemara, dengan spontan.
"Maafkan kami Bu, jika memang kami yang berbuat. Tapi kenyataannya, kami tidak berbuat apa-apa." Berlin masih terus mengelak.
__ADS_1
Ibu Fraza berusaha membela mereka, supaya tidak disudutkan oleh Cemara. Ibu Fraza tersenyum ke arah Cemara, mengeluarkan jurus andalan bicara ramah. Dia pura-pura baik, untuk terlihat berwibawa.
"Sanifa sebelumnya ketakutan seperti dikejar-kejar setan saja, lalu lari ke kantor polisi. Jelas-jelas sekolah aman, dan tidak ada hal apa pun. Barangkali dia menjadi pecandu narkoba, sehingga otaknya menjadi gila. Dia perlu dibawa ke rumah sakit jiwa, tidak pantas berada di sekolah." ujar ibu Fraza.
"Menurut aku, masih mending orang gila daripada orang waras, yang berbuat kegilaan." jawab Cemara.
Zarin, Berlin, dan Kramiy merasa sedang disindir. Jadi terlintas dalam pikiran mereka, untuk membuat perhitungan pada ibu kandung Xaiza.
"Eh senter, kamu jangan mati dong! Aku takut di sini sendirian, mana gelap lagi." monolog Sanifa.
Xaiza melihat kedatangan Cemara ke dalam kamar, karena baru saja pulang dari sekolah SMA Hijau Daun. Cemara menghampiri Xaiza, untuk memberitahu keadaan Sanifa.
"Sanifa tersesat di dalam hutan, waktu mengambil bendera di pohon." ucap Cemara.
__ADS_1
Xaiza memandang keadaan udara luar, yang mulai terkena rintikan hujan. "Kasian sekali, bagaimana bila dia kehujanan. Cuaca malam ini sedang tidak bagus, petir mulai menggelegar dengan lantang."
Kepala ditutup plastik, saat hujan mulai membasahi bumi. Sanifa menggigil, dengan kedua mata memandang langit. Tiba-tiba terpikir dengan boneka kancil, kenangan terakhir yang diberikan ibunya.
Pencarian dihentikan sementara, karena hujan semakin turun dengan deras. Semua orang beristirahat, di dalam tenda perkemahan. Pencarian Sanifa yang tersesat dilanjutkan hari esok. Semua orang memejamkan mata, karena sudah mengantuk.
"Eh Fraza, mengapa ibunya Xaiza datang dengan raut wajah masam?" tanya ibu Melan.
"Biasalah Bu, mungkin tidak terima karena anaknya dipecat. Harusnya sih sadar diri saja, bahwa Xaiza sudah mencari masalah dengan Kramiy. Kalau aku sih cukup menjalani hari dengan baik, lalu mendapatkan gaji untuk biaya anak-anak." jelas ibu Fraza.
"Gaji si gaji, tapi kalau ucapan yang diadukan Sanifa benar adanya, kita sama saja makan uang haram." ujar ibu Melan.
"Halah, Sanifa saja yang suka membesarkan masalah." jawab ibu Fraza.
__ADS_1