Dijemput Malaikat Izrail

Dijemput Malaikat Izrail
Keluhan Yang Tidak Didengarkan


__ADS_3

Zomprang melangkahkan kaki, menuju ke toilet belakang. Meski pun sudah usang tidak terurus, namun lumayan untuk menumpang buang hajat.


Tiba-tiba terdengar suara berteriak. "Zomprang, kamu sudah belum?"


"Belum, aku masih kebelet. Kalau kamu mau buang hajat, sabar menunggu terlebih dulu."


Sanifa dilempar kerikil kepalanya, hingga merasa kesal. Berlin dan Zarin terus melakukan hal tersebut, meski Sanifa telah memperlihatkan ekspresi tidak suka.


"Berhenti kalian menggangguku." ucap Sanifa.


"Hei pecandu narkoba, kami tidak akan pernah berhenti. Kami akan terus menekan emosi dirimu, sampai kamu menjadi gila hahah..."


"Hahah... Seorang pembunuh berlagak membela diri." Zarin memancing Sanifa marah.


Sanifa hendak mengabaikannya, namun tali sandangnya ditarik. "Hei, kamu tidak boleh lari."


Sanifa melakukan perlawanan, dengan menendang kaki orang yang ada di belakangnya. Sanifa berhasil membenarkan tas ke posisi semula.

__ADS_1


Tanpa disadari, sekarang ada kunjungan dewan pendidikan. Sanifa sampai lupa, dengan hari penting yang ditunggu-tunggu. Sanifa berusaha menyelamatkan diri, dengan melaporkan hal yang dialaminya.


"Permisi Bapak dewan pendidikan yang terhormat, ada hal yang ingin aku sampaikan selaku siswi dari SMA Hijau Daun. Aku menerima perilaku tidak baik dari teman sekelas. Setiap hari aku ditindas, bahkan difitnah sebagai pecandu narkoba." jelas Ahra.


"Siapa yang melakukannya? Bisa sebutkan nama orang-orangnya." jawab pria paruh baya tersebut.


"Dia bernama Kramiy, Berlin, dan Zarin." ujar Ahra, dengan berani.


"Baiklah, laporan kamu akan diselidiki." jawab dewan pendidikan.


"Wow... kamu melaporkan aku. Seorang anak dari pemilik sekolah yang terhormat, mana mungkin melakukan hal keji." Kramiy balik menyudutkannya.


"Maaf, kalau berurusan dengan Ayah kamu, aku akan mundur dari sekarang." ujar pria paruh baya tersebut.


Xaiza tiba-tiba muncul, untuk memenangkan laporan Sanifa. "Keadilan harus tetap ditegakkan, tanpa mengenal kasta." Suaranya berhasil mewakili Sanifa.


"Kamu jangan ikut campur, tugasmu hanya menjaga sekolah. Menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, kedisiplinan, dan lain sebagainya." Kramiy menyudutkan, sembari menatap tidak suka.

__ADS_1


"Justru menjaga keamanan, aku mencegah aksi kejahatan di sekolah SMA Hijau Daun." Xaiza masih berusaha membelanya.


"Sebaiknya kamu pergi, sebelum aku murka." Kramiy melihat dengan tatapan tidak suka.


"Aku tidak takut." jawab Xaiza.


Sanifa segera mengajak Xaiza pergi, karena dewan pendidikan pun tidak berkutik. Usaha hari itu usai di sana, tidak ada yang perlu diperjuangkan sampai mengeluarkan keringat.


"Menurutku, percuma meminta bantuan dengan dewan pendidikan." ucap Sanifa.


"Benar, dia terlihat takut saat Kramiy menyebutkan statusnya di sekolah." Xaiza tidak habis pikir.


Xaiza melihat panggung, yang sedang diisi oleh beberapa orang. Ada yang mendekati mic, hanya untuk mengeluarkan suara bernada. Ada juga yang bermain gitar, untuk menyeimbangkan lirik lagu. Semua penonton menghayati, ada juga yang mengikuti.


"Kramiy, memang idola sekolah." teriak seorang perempuan berkacamata.


"Kramiy, Berlin, dan Zarin kalian keren!" Seorang laki-laki memuji dengan antusias.

__ADS_1


Langkah kaki Xaiza menyembunyikan kepala, dari rintikan hujan. Kedua telapak tangannya meraih handuk, saat sudah sampai rumah. Xaiza terburu-buru masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Lalu setelahnya, dia memeluk boneka kancil yang tidak sengaja ditemukan saat itu.


"Ya Allah, lucu sekali boneka ini. Tapi, mengapa ada setetes darah di pipinya?" Xaiza berbicara, dengan bertanya pada diri sendiri.


__ADS_2