
Sanifa mengantar Xaiza menggunakan gerobak sampah, sampai ke rumah Cemara. Sanifa dipersilakan masuk olehnya, sambil membantu memapah tubuh Xaiza. Cemara segera menelepon seorang dokter, untuk datang ke rumah memeriksa keadaan putranya.
"Sanifa, mengapa Xaiza bisa terluka?" tanya Cemara.
"Tadi ada yang memukuli Xaiza, waktu di jalan. Aku yang mau pergi sekolah, tidak sengaja melihatnya." jawab Sanifa.
"Keterlaluan orang-orang itu, lihat saja mereka. Aku harus melaporkan, ke kantor polisi.
"Iya Bu, tapi polisi juga sedang menyelidiki laporan kasus di sekolah SMA Hijau Daun." jawab Sanifa, sesuai realita yang diketahuinya.
Keesokkan harinya, kegiatan kemah akan dilakukan di hutan. Semua murid tampak mengenakan pakaian seragam pramuka, dengan atribut lengkap tanpa ada yang kurang. Mereka harus mematuhi aturan, selama kegiatan dilaksanakan.
"Aku bagus mengenakan baju apa?" tanya Kramiy.
"Kamu bagus warna putih, apalagi berdiri dekat kuburan. Lalu bersiap tertawa dengan lantang, dan membuat orang berlari hahah..." Zarin tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Ibu Melan dan ibu Fraza memandu kegiatan tersebut, memberi titah untuk kumpul bersama. Saat itu Sanifa dipilih satu kelompok dengan Kramiy, Zarin, dan Berlin. Sebenarnya Sanifa enggan untuk menuruti perintah guru, namun ini sekolah yang memiliki aturan tegas, bukan aturan pribadi.
"Cepat Sanifa, kamu ikuti ketua kelompok yaitu Kramiy. Dia yang akan memandu perjalanan, sampai menemukan bendera di tengah hutan." titah ibu Melan.
"Baiklah Bu." jawab Sanifa.
Kramiy dan teman-temannya mencari cara, untuk membuat Sanifa berpisah dengan mereka. Zarin dan Berlin pura-pura kebelet, ingin buang air kecil. Kramiy dan Zarin menunggu hanya berdua. Lama kelamaan Sanifa bosan, tidak diajak bicara sama sekali. Kramiy berjalan lalu berlari, sengaja ingin meninggalkan Sanifa.
"Kramiy, tunggu aku dong! Aku tidak tahu jalan, jangan tinggalkan aku seorang diri." ujar Sanifa.
Sanifa berlari mengikuti Kramiy, namun malah ditinggal sembunyi di balik pohon. Setelah itu, Kramiy memutar kayu yang menjadi petunjuk arah jalan.
"Haha... rasain kamu Sanifa, pasti kamu tidak bisa pulang." Kramiy menutup mulutnya, yang tertawa kuat.
Zarin dan Berlin memanggil Kramiy, yang berlari sambil tertawa. Mereka segera kembali ke tempat tenda kemah, setelah berhasil mengambil bendera di pohon.
__ADS_1
Sanifa tersesat saat dalam perjalanan, lalu mendengar suara lolongan serigala hutan. Sanifa yang ketakutan, memilih duduk merengkuh. Ketika ingin minum, malah air dalam botol dimasukin debu.
"Siapa yang tega melakukan ini padaku. Padahal aku sangat haus, sungguh keterlaluan manusia yang melakukan ini." monolog Sanifa.
Sementara di sisi lain, ada Xaiza yang baru bangun. Cemara langsung menyadarkan gelas berisi air minum. Xaiza meneguknya dengan perlahan, lalu terpikir dengan Sanifa.
"Bagaimana dengan temanku itu, dia pasti sekarang sekolah sendiri." ujar Xaiza.
"Tadi pagi dia sempat ke rumah, untuk melihat keadaan kamu. Dia juga yang menolong kamu, saat dipukul oleh orang-orang di jalan." jawab Cemara.
"Kok dia bisa tahu rumah kita?" tanya Xaiza.
Cemara tersenyum ke arah putranya. "Mungkin dia bertanya pada tetangga sekitar. Lagipula, dia sudah tahu nama kamu."
"Sekarang aku harus ke sekolahnya, dia di-bully sampai mengalami kekerasan fisik. Aku tidak akan membiarkannya sendiri, lalu putus asa berhenti sekolah." ujar Xaiza.
__ADS_1
"Jangan, kondisi kamu belum pulih. Biar Ibu saja, yang melihatnya di sekolah." jawab Cemara.