Dijemput Malaikat Izrail

Dijemput Malaikat Izrail
Melapor Ke Kantor Polisi


__ADS_3

Salah satu pria segera melarikan diri, untuk membawa Sanifa ke suatu tempat. Dengan menggunakan kecepatan dalam melangkah, berhasil meraih kemudi mobil.


"Hei, lepaskan aku!" Sanifa hanya bisa bergumam-gumam, karena tertutup mulutnya dengan kain.


"Aku tidak mengerti yang kamu bicarakan." jawabnya.


Sanifa menahan rasa sakit, pedih, saat bara api dari rokok mengenai tangannya. Sanifa melihat laki-laki tersebut senyum, saat melakukan hal tidak terpuji. Kain yang menutup mulut Sanifa dibuka, lalu terlepas dengan sendirinya.


Drrt!


Tiba-tiba teleponnya berbunyi, lalu diangkat dengan tangan sebelah kiri. Kramiy, Berlin, dan Zarin tertawa terbahak-bahak. Mereka sedang makan-makan, lalu saling pandang dan tersenyum.


"Apa perempuan rendahan itu sudah disiksa?" tanya Kramiy.


"Ya sudah, bahkan dia hampir menangis." jawabnya.


"Lakukan lagi, sampai dia benar-benar terbunuh karakternya. Aku ingin dia tersiksa lebih lama, sampai takut untuk melawan kami." ujar Kramiy.

__ADS_1


"Tenang bos, asalkan bayarannya lancar pasti aku akan melakukannya." jawabnya.


Pria tersebut melangkahkan kaki, mendekat ke arah Sanifa. Dia bersiap untuk menyiksanya lagi, dengan menampar pipinya berulang kali. Darah segar bercucuran dari sudut bibirnya, sampai tertumpah ke lantai.


"Aku mohon lepaskan aku!" Sanifa berucap dengan nada lemah.


"Makanya, kamu jangan berlagak jadi jagoan. Di SMA Hijau Daun, Kramiy dan teman-temannya yang patut dihormati." jawabnya.


Xaiza mencari Sanifa, dengan menggunakan sepeda. Xaiza bertanya pada banyak orang yang ditemuinya. Tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaannya. Xaiza tidak segan untuk melaporkan pada pihak berwajib.


"Laporan bisa diproses, kalau kamu membayar uang muka." jawabnya.


Xaiza tersulut emosi. "Pak, kalian itu aparat negara. Pasti sudah digaji, mengapa harus meminta bayaran dari masyarakat yang kesulitan."


"Ini adalah hak kami, kalau tidak suka silakan kamu pergi." jawab laki-laki berambut pirang tersebut.


Xaiza langsung pergi ke kantor polisi yang lain. Meskipun jarak tempuhnya jauh, Xaiza sangat berusaha demi Sanifa. Hati kecilnya tidak dapat mengabaikan seseorang yang teraniaya.

__ADS_1


"Ya Allah permudahkan jalan hamba, untuk membantu Sanifa dalam hal ini." monolog Xaiza.


Akhirnya Xaiza sampai, meski peluh bercucuran. Nafasnya ngos-ngosan, masih juga mendapat penolakan dari kantor polisi itu. Xaiza pergi ke tempat lain, lalu mendapatkan penolakan juga. Tidak tahu mengapa, jalannya begitu tidak mudah.


Xaiza mengusap rambutnya dengan frustasi. "Ya Allah, rasanya aku hampir menyerah. Sesulit ini golongan kelas menengah bawah, sampai tidak ditanggapi disaat darurat."


Tiba-tiba saja, muncul seorang laki-laki menepuk pundaknya. Dia berseragam lengkap, dengan senyum menawan.


"Aku tahu, kamu sedang membutuhkan bantuan. Ayo aku bantu, untuk mencari teman kamu." ucapnya dengan ramah.


Xaiza terkagum dengan sifat polisi yang berwibawa itu. "Alhamdulillah, akhirnya Tuhan mengirim seseorang untuk menolong kami. Aku sudah sangat bingung, tidak tahu harus kemana."


Xaiza masuk ke dalam mobil polisi, setelah meletakkan sepedanya di bagian kursi belakang. Mobil berjalan menelusuri jalan sempit kota, namun tidak juga menemukan Sanifa. Xaiza dan polisi tersebut singgah di kedai sebentar, membeli beberapa minuman gelas.


Cemara memperhatikan jam pada dinding, terlihat menunjukkan pukul 20.00. Cemara pun merasa heran, karena Xaiza belum juga pulang.


"Di mana dia? Mengapa jam segini belum pulang?" Cemara sedang memikirkan putranya, entah apa yang dilakukan di luaran.

__ADS_1


__ADS_2