Dijemput Malaikat Izrail

Dijemput Malaikat Izrail
Ainin Tewas


__ADS_3

Xaiza mengetahui kecurangan ibu Fraza, saat menerima suap dari Kramiy. Uang sogok yang besar, membuat ibu Fraza tidak peduli dengan keluh kesah dari Sanifa.


"Sanifa, Ayah kamu dipanggil ke sekolah iya?" tanya Xaiza.


"Iya Xaiza, sepertinya dia akan marah padaku lagi. Ibu Fraza tampak menyudutkannya sejak tadi." jawab Sanifa, dengan jujur.


"Kita harus melaporkan perbuatan ini pada dewan pendidikan." ujar Xaiza, mengusulkan sarannya.


"Dewan pendidikan akan datang, pada pentas seni musik." jawab Sanifa.


"Jangan lupa berusaha mencari solusinya." ucap Xaiza.


"Iya Xaiza, terima kasih atas dukungannya." jawab Sanifa, dengan setulus mungkin.


Kelas malam dilaksanakan dengan ditemani Ainin. Zomprang sibuk dengan urusan pekerjaan baru, yaitu merobohkan tembok gedung besar tidak berpenghuni.


"Bu, mengapa Ibu mau menemani aku?" tanya Sanifa penasaran.


"Ibu takut terjadi apa-apa dengan kamu." jawab Ainin.

__ADS_1


"Sanifa mengerti perasaan Ibu, yang mengkhawatirkan kondisi aku. Terima kasih iya Bu, sudah menyayangi aku dengan tulus." ucap Sanifa.


"Iya Sanifa, Ibu akan menemani kamu setiap ada kelas malam InsyaAllah." jawab Ainin, seraya mengembangkan senyuman ke arah putrinya.


Sanifa melihat ada permainan mesin capit boneka. Tiba-tiba terlintas di pikirannya, untuk mengajak ibunya. Jarang ada waktu untuk bisa berdua dengannya.


"Bu, kita main itu berdua yuk." Sanifa memegang tangan Ainin.


"Iya Nak, ayo kita habiskan waktu berdua." jawab Ainin.


Sanifa bermain mesin capit boneka bersama Ainin, untuk menghilangkan jenuh. Keduanya tertawa-tawa, saat boneka tidak berhasil dicapit.


"Sini, biar Ibu yang menjepit untuk kamu." tawar Ainin.


Ainin mulai melakukannya, setelah membaca basmalah. Boneka berhasil dicapit, terangkat ke atas udara di dalam kaca. Sanifa jingkrak-jingkrak, tatkala menyaksikan hal tersebut.


"Hore, aku dapat boneka kancil." Sanifa mengangkat tangannya ke atas udara.


Ainin mengambil boneka yang sudah berhasil diambil. "Ini untukmu."

__ADS_1


"Terima kasih Bu." ucap Sanifa, dengan lembut.


"Iya sama-sama." jawab Ainin.


Sanifa mengistirahatkan diri sejenak, duduk di emperan toko. Memandang bintang terang di atas langit, bersama sang ibu tercinta.


"Ayo kita pulang, soalnya toko juga sudah hampir tutup." ucap Ainin.


"Iya Bu, ayo kita sekarang pulang." jawabnya.


Saat di dalam perjalanan, ada sekelompok preman membawa golok. Ainin mengajak Sanifa berlari putar arah, namun punggungnya dilempar dengan golok.


Ainin terjatuh, lalu Sanifa membantunya berdiri. Preman berjalan mendekat, bersama dengan teman-temannya. Ainin ditusuk oleh preman, lalu Sanifa ditendang dadanya. Sanifa terjatuh pingsan, dengan darah keluar dari hidungnya. Nafasnya sesak, tidak bisa melakukan perlawanan. Tangan Sanifa sengaja diletakkan senjata pisau, dan juga obat-obatan terlarang dalam tasnya.


"Rasain kamu, pasti dikira membunuh." ucap seorang preman.


"Ayo cepat pergi, sebelum kita ketahuan." ajak orang di sebelahnya.


Mereka meninggalkan Ainin, yang tergeletak bersimbah darah. Mereka sengaja menghilangkan jejak, supaya merasa lebih aman. Ainin menghembuskan nafas terakhirnya, dengan luka tikam sebanyak enam tusukan. Tempat itu sepi, belum ada yang menolong.

__ADS_1


Satu jam kemudian, para warga berdatangan. Ada mobil ambulance, yang membawa mereka untuk pergi. Ainin dibawa ke kamar mayat, sedangkan Sanifa dibawa ke ruangan perawatan. Dokter sengaja melakukan operasi, saat mendapatkan persetujuan dari Zomprang.


”Ya Allah selamatkan Sanifa putriku, dan juga permudahkan penyelidikan polisi terkait kasus kriminal ini.” batin Zomprang.


__ADS_2