
Sanifa digunting bajunya, hingga mengalami sobek di bagian tengah punggung. Sanifa terus saja diperlakukan seperti itu, walau pun sudah melakukan perlawanan.
"Aku tidak ikhlas kalian perlakukan seperti ini." ujar Sanifa.
"Kami tidak peduli." jawab Kramiy.
"Perlu kalian ingat, suatu hari nanti kalian pasti menyesal." ucap Sanifa.
"Iya, menurut kamu saja. Aku yakin, hal tersebut tidak akan pernah terjadi." jawab Berlin, dengan kasar.
Sanifa mengamuk untuk melampiaskan emosi, namun mereka tetap saja mengganggu Sanifa. Zarin dan Berlin memoles lipstik, pada kedua pipi kanan dan kiri Sanifa.
"Lepaskan aku!" Sanifa meronta-ronta.
"Kami tidak mau, kamu terlalu asyik dijadikan permainan." jawab Zarin.
__ADS_1
Pulang dari sekolah, Sanifa membantu ayahnya untuk menanam cabai di belakang rumah. Kebetulan ada lahan kosong, yang masih belum ditanami oleh tumbuhan apa pun. Kesempatan untuk mereka bercocok tanam, karena Zomprang kesulitan mencari pekerjaan.
"Sanifa, kamu di sekolah ada membuat masalah?" tanya Zomprang.
"Tidak ada, aku hanya belajar saja." jawab Sanifa.
"Banyak yang mengatakan kamu pecandu narkoba. Ayah sungguh malu, mempunyai putri seperti kamu." ucap Zomprang.
"Itu 'kan hanya gosip Ayah, setidaknya bukan bukti yang nyata." jawab Sanifa, yang berusaha membela diri.
Beberapa hari kemudian, Sanifa pergi ke sekolah. Tiba-tiba saja, ada kendaraan roda empat yang berhenti. Seorang laki-laki sengaja membekap mulutnya, lalu memasukkan Sanifa ke dalam mobil. Xaiza yang tak sengaja melihat, segera mengejar dengan berlari terbirit-birit.
Xaiza tidak berhasil meraihnya, memilih untuk meminjam sepeda pada anak kecil. Xaiza mengejar dari belakang, lalu melewati jalan pintas. Xaiza menghadang mobil yang sedang berjalan dari depan, lalu sengaja menendang bannya yang keras.
"Hei, cepat serahkan temanku, atau kalian akan menerima pukulan. Aku akan berteriak minta tolong pada warga, kalau kalian masih berbuat seenaknya." ujar Xaiza.
__ADS_1
keempat laki-laki dengan gaya preman keluar dari mobil untuk menyamperi orang yang sudah menantangnya. Ada beberapa orang yang menggulung lengan baju ke atas, padahal sudah pendek. Dengan gayanya menunjukkan wajah yang beringas, supaya mereka terlihat kuat. Berlagak sombong ingin ditakuti, agar orang-orang tidak berani menolong orang yang disandera.
"Hei, kamu jangan ikut campur dengan urusan kami." ucap seorang laki-laki berkalung perak.
"Ini bukan ikut campur, tapi lebih kepada simpati untuk saling tolong menolong." jawab Xaiza.
"Bro, perempuan yang ingin kamu selamatkan adalah tawanan kami. lebih baik menyingkir lah, karena kesempatan tidak datang dua kali. Selagi kami masih berbaik hati, jangan membuat hati tambah murka." jelas laki-laki bertatto lengannya.
"Aku tidak peduli, bagaimana cara kalian yang ingin melukaiku. Aku harus tetap menolongnya, karena dia adalah anak sekolah. Dia berhak untuk belajar, dengan merasa aman dan nyaman." jawab Xaiza.
Bugh!
Bugh!
Bunyi pukulan yang saling menyerang, membuat Sanifa terbangun dari kondisi yang pingsan. Sanifa tetap tidak bisa bergerak, karena tangannya sedang diikat dengan tali tambang. Sanifa kesulitan untuk mengeluarkan suara, karena mulutnya ditutup dengan kain. Xaiza menginjak perut satu pria, yang sudah terjatuh.
__ADS_1
"Lepaskan temanku, atau aku injak lebih kuat lagi." ujar Xaiza.
"Kami tidak mau menuruti perintah kamu. Teman kamu itu incaran kami, karena bisa menunjang penghasilan yang menguntungkan." jawabnya.