Dijemput Malaikat Izrail

Dijemput Malaikat Izrail
Sanifa Berhasil Ditemukan


__ADS_3

Keesokkan harinya, Sanifa terbangun dari kondisi yang pingsan. Matanya berkedip-kedip, melihat cahaya di puncak langit. Sanifa melihat dengan jelas, matahari, yang menyinari bumi dengan cahayanya.


"Ya Allah, apa tidak ada yang mencari aku. Di sini hujan sangat deras, aku merasa dingin."


Ibu Melan melanjutkan pencarian, dengan beberapa murid SMA Hijau Daun. Mereka mencari sampai ke dalam hutan, agar Sanifa cepat ditemukan. Semua tempat diperiksa, walau pun itu lorong terkecil sekalipun.


"Sanifa, kamu di mana!" ujar ibu Melan.


"Cepatlah keluar, kami semua mencari kamu!" Ibu Fraza ikut memanggilnya.


Tidak ada sahutan, namun mereka tetap melanjutkan pencarian beramai-ramai. Dengan seperti itu mungkin akan cepat ditemukan, tanpa menunda-nunda waktu lagi.


Sanifa mendengar suara orang-orang yang memanggilnya. "Aku di sini, cepat tolong aku."


Sanifa sibuk melambaikan tangan, dengan kondisi tubuh yang kotor-kotoran terkena percikan air hujan. Tanah sudah menempel di sekujur bajunya.

__ADS_1


"Sanifa, mengapa kamu bisa terjebak di dalam hutan?" tanya ibu Melan.


"Tidak sengaja tersesat Bu, karena mengejar Kramiy yang meninggalkan aku." jawab Sanifa.


"Eh, mengapa kamu menuduh aku yang meninggalkan. Kamu saja yang tidak tahu arah jalan, namun berlagak paling pintar." Kramiy balik menyudutkannya.


"Sudahlah, tidak usah diperpanjang lagi. Pelaku juga tidak akan mau mengakui kesalahannya, dan akan terus berdusta." Sanifa jadi merasa lelah, dengan tindakan Kramiy yang kekanak-kanakan.


Zomprang melamar pekerjaan ke tempat lain, tidak diterima juga. Nama Sanifa yang terkenal sebagai pecandu narkoba, sudah tersebar kemana-mana. Itulah alasan, mengapa banyak orang mempertimbangkan untuk menerimanya.


"Pak, yang mau kerja di sini adalah saya. Jangan menilai putri saya, karena bukan dia yang masuk ke dalam perusahaan." jawab Zomprang.


"Tetap saja, nama perusahaan bisa tercoreng kalau menerima anda." ucapnya, dengan tegas.


"Baiklah, semoga kalian tidak menyesal kemudian hari." Zomprang membenarkan topinya.

__ADS_1


Xaiza terbangun dari tidurnya, lalu melihat ke arah ibunya. Cemara membawakan segelas susu, untuk diminum oleh putranya. Xaiza tiba-tiba terpikir oleh Sanifa, bagaimana jika dia belum ditemukan sampai sekarang.


"Bu, tolong lihat Sanifa di lokasi perkemahan. Aku takut terjadi apa-apa dengannya." ucap Xaiza.


"Kamu sampai segitunya khawatir, atau jangan-jangan suka ya sama Sanifa." canda Cemara, pada putranya.


"Tidak Bu, kami hanya berteman kok." ujar Xaiza, sesuai dengan realita.


"Ya sudah, Ibu pergi ke sekolah dulu, kamu hati-hati di rumah. Jangan lupa telepon Kalau ada apa-apa." Cemara merasa lega meninggalkan Xaiza, setelah menitipkan amanah.


Xaiza melihat kedatangan Sanifa bersama ibunya, dan dia merasa lega. Xaiza masih bisa melihat Sanifa lagi, saat membuka kedua bola matanya. Padahal kemarin ibunya membawa berita, bahwa sanita tersesat.


"Sanifa, tidak apa-apa 'kan?" Xaiza langsung bertanya dengan cepat, tanpa menunda lagi.


"Aku baik-baik saja kok. Terima kasih, karena kamu dan ibumu sudah mengkhawatirkan aku." jawab Sanifa, dengan tulus.

__ADS_1


Cemara menyuruh Sanifa membersihkan diri di kamar mandi. Setelah itu, dia ikut makan siang bersama. Sanifa menghargai tawaran baik tersebut, karena termasuk rezeki yang diberikan oleh Tuhan melalui orang lain. Perut Sanifa terasa lapar, karena terjebak dalam hutan. Xaiza menelan obat pil, setelah makan beberapa sendok.


__ADS_2