
Kramiy, Berlin, dan Zarin sengaja mendatangi tempat di mana Sanifa disandera. Sanifa terlihat sangat menyedihkan, dengan kain putih yang banyak bercak darah.
"Di mana teman-teman kamu yang lainnya?" tanya Kramiy.
"Mereka sudah babak belur dipukuli oleh orang yang ingin menolong Sanifa." jawabnya, dengan suara lantang.
"Tidak aku sangka, ternyata masih ada yang ingin menolong kamu." Kramiy menepuk pipi kanan dan kirinya secara bergantian, dengan tersenyum mengejek.
"Lepaskan aku!" Sanifa sibuk bergerak, membuat baju yang lusuh semakin berantakan.
"Eits, tidak bisa semudah itu. Setidaknya, kamu harus menerima pukulan yang sangat manis." Kramiy melihat kedua bola mata Sanifa, yang terlihat sangat ketakutan.
"Kamu memang manusia sadis, tidak berperasaan sedikit pun." Sanifa sangat emosi melihat tindakan mereka.
Kramiy, Berlin, dan Zarin mulai menyiram kayu dengan minyak tanah. Korek api sudah siap menghadirkan nyala sebuah bara. Mereka punya niat untuk menyiksa Sanifa, karena terus saja memberontak melakukan perlawanan.
"Ini adalah hadiah dari perbuatan yang kamu lakukan." Zarin meletakkannya di tangan kanan Sanifa.
__ADS_1
"Aaa!" Sanifa menjerit-jerit histeris, karena merasa kesakitan.
Kramiy dan Berlin tertawa kuat, menyaksikan lawannya tidak berdaya. Ditambah lagi darah yang bercucuran, akibat luka bakar yang parah.
Xaiza masih mencari keberadaan Sanifa bersama dengan seorang polisi, di sebuah tempat yang sepi. Rumah yang tidak berpenghuni, menjadi sasaran pemeriksaan mereka.
"Itu gedung apa? Tampak lusuh dan sangat besar?" tanya Xaiza.
"Itu gedung penampungan drum berisi minyak solar." jawab orang di sebelahnya.
"Mungkin, Sanifa berada di tempat lain." ujar Xaiza.
Xaiza mengikuti langkah kaki polisi tersebut yang berjalan mengendap-endap, agar tidak ada siapa pun yang mendengar. Jika gerakan mereka diketahui, bisa saja orang yang ada di dalam ruangan melarikan diri.
Cemara membuka pintu, saat mendengar suara ketukan. Sebelumnya berharap bahwa yang datang adalah Xaiza. Ternyata tetangga sebelah rumah, yang memberikan makanan. Sudah diletakkan dalam beberapa bagian piring.
"Bu, ini ada rendang ayam untuk menu makan malam." ujarnya, dengan ramah.
__ADS_1
"Terima kasih Bu." Cemara tersenyum padanya.
"Rumah sepi sekali, di mana Xaiza?" tanya Xaiza.
"Dia tidak ada di rumah, sedang ada urusan penting di luar." jawab Cemara.
Kramiy mendengar bunyi langkah kaki, lalu menyuruh Zarin dan Berlin diam. Mereka membawa Sanifa secara paksa, meski perempuan tersebut mengelak.
"Lepaskan aku!" ujar Sanifa.
"Kami akan membawa kamu ke suatu tempat. Ayo ikut saja, jangan banyak melawan." jawab Zarin.
Sanifa diseret paksa dengan tangan Zarin dan Berlin. Kramiy membuka pintu belakang, supaya Xaiza tidak mengetahui keberadaan mereka. Sanifa dimasukkan ke dalam mobil, lalu mesin mulai menyala.
"Ini ada bekas tali, apa alat untuk menyekap Sanifa?" Xaiza memperlihatkannya pada polisi.
"Bisa jadi, ayo cepat keluar dari sini. Kita cari mereka, sebelum pergi lebih jauh." ajak polisi tersebut.
__ADS_1
Xaiza segera berlari keluar gedung, saat mendengar suara mobil melaju dengan kencang. Polisi itu berlari di belakang Xaiza, lalu mengajaknya mengejar menggunakan mobil. Xaiza masuk ke dalam, memasang sabuk pengaman. Polisi mulai menyalakan mesin, lalu mengejar mobil Kramiy dari belakang. Berlin dan Zarin menyuruh cepat-cepat, karena takut ditangkap mereka.