
Kramiy, Berlin, dan Zarin mengikuti upacara dengan seksama. Ketiganya bahagia, karena Sanifa tidak ada lagi. Tidak merasa empati sama sekali, dengan Sanifa yang tidak masuk sekolah karena diculik.
"Hahah... dia akan trauma mendalam setelah ini." ujar Berlin.
"Biarkan saja, aku tidak peduli." jawab Kramiy.
"Paling terpenting bahagia, kita punya hiburan yang seru. Penderitaan dia adalah tontonan bagi kita, yang sangat kurang menikmati hidup." ucap Zarin.
"Benar, dengan adanya dia hidupku lebih berwarna dan lucu." Kramiy ingin tertawa, mendengar penuturannya sendiri.
Xaiza datang ke sekolah bersama seorang polisi laki-laki. Semua orang melihat ke arah Xaiza, yang datang tiba-tiba. Xaiza melapor ke guru, tentang keadilan untuk Sanifa.
"Bu, saya melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa Sanifa diculik. Apa Ibu tidak tahu, bahwa dia di-bully di sekolah ini. Orang yang melakukannya adalah Kramiy, Berlin, dan Zarin." Xaiza dengan tegas melaporkannya.
__ADS_1
"Baiklah, Ibu akan tanyakan pada mereka satu persatu." jawab ibu Melan.
Ibu Melan melangkahkan kakinya menuju kelas sepuluh, setelah dari tadi keluar dari ruangan kantor tersebut. Ada Zarin, Berlin, dan Kramiy yang sedang bercerita dengan ria.
"Apa kalian yang menculik Sanifa? Kalian juga yang mem-bully Sanifa?" tanya ibu Melan.
"Kami tidak melakukan bullying. Kami sangat baik, mana mungkin kejam. Wajah kami yang cantik, tidak pantas berperangai seperti setan." Kramiy tersenyum, sambil memainkan rambutnya.
"Kramiy, tolong mengaku saja, biar hukuman kamu tidak berat. Ibu berani bicara seperti ini, atas laporan dari Xaiza." ujar ibu Melan.
Ibu Fraza membela Kramiy, Berlin, dan Zarin. "Benar Ibu Melan, laporan darinya pasti hanya omong kosong belaka. Lihat status Xaiza, pekerja sekolah yang dipecat."
"Nah, dengar kata Ibu Fraza. Ibu Melan jangan mudah terhasut sama omongannya, termasuk bapak polisi juga." Kramiy melihat ke arah pria berseragam lengkap anggota aparat negara.
__ADS_1
"Maaf Adik yang cantik, kami berdua telah keliru. Kami pamit undur diri, untuk kembali mencari Sanifa." ujar polisi tersebut.
Xaiza tercengang melihat polisi tersebut, karena malah memilih untuk mengalah. "Apa maksud Bapak, katanya mau membantu saya? Tapi kenapa malah memilih pergi, seperti pecundang seperti ini."
Bapak polisi tersebut mengedipkan mata ke arah Xaiza, sambil menundukkan kepala tiga kali. Xaiza mengerti bahwa dirinya sedang diberi kode, maka ikut pergi keluar ruangan.
"Kita akan mencari Sanifa, tanpa melibatkan pihak sekolah. Lalu setelahnya, aku akan menyelidiki kasus bully ini diam-diam." ujar pak polisi.
"Baiklah, aku akan ikuti permainan ini." jawab Xaiza, yang tidak ingin banyak protes.
Sanifa ketakutan saat dipaksa makan kecoak. Sanifa sampai memuntahkannya berkali-kali, dan preman itu meninju kepalanya. Sanifa menangis histeris, karena benar-benar ketakutan. Sanifa meminta tolong berkali-kali, agar laki-laki itu berbaik hati melepaskan.
"Kamu jangan banyak bermimpi! Melepaskan kamu, sama saja memasukkan aku dalam sel jeruji besi." ujarnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan memberitahu pihak polisi. Aku akan membiarkan kamu bebas, tapi tolong bebaskan. Aku ingin sekolah, karena banyak pelajaran yang harus aku ikuti." jawab Sanifa, dengan memelas.
"Aku tidak akan sudi, karena kamu adalah tawanan." jawabnya tegas.