Dijemput Malaikat Izrail

Dijemput Malaikat Izrail
Menghajar Tukang Bully


__ADS_3

Polisi memperlihatkan obat-obatan terlarang, yang ditemukan di dalam tas. Polisi menegur Sanifa, saat baru sadar dari pingsannya. Zomprang langsung menatap tajam wajah mata putrinya, karena obat-obatan terlarang itu menunjukkan, seolah Sanifa seorang pecandu narkoba.


"Ayah, aku sungguh tidak menggunakan narkoba atau pun obat-obatan terlarang." ujar Sanifa.


"Sudahlah Sanifa, polisi menemukan pisau di tangan kamu. Bahkan berlumuran darah Ibu, diduga kamu yang membunuh." jawab Zomprang.


"Tidak Ayah, aku hanya dituduh. Ini benar-benar fitnah, aku dan Ibu dihadang para preman." ucap Sanifa, dengan sungguh-sungguh.


"Tapi, Ayah belum bisa percaya seutuhnya. Polisi masih menyelidiki kasus ini, apakah benar atau tidak." Zomprang melihat ke arah anaknya, dengan tatapan yang kecewa.


Beberapa hari kemudian, Sanifa pergi ke sekolah. Xaiza yang pertama kali menghampirinya, untuk menanyakan mengenai kabar.


"Aku dengar kamu sakit, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Xaiza.


"Alhamdulillah sudah membaik." jawab Sanifa.

__ADS_1


"Jangan putus asa, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat, bagi hambanya yang bersabar." ucap Xaiza.


Sanifa tersenyum ke arahnya. "Terima kasih, karena kamu telah menasehati aku." jawabnya.


Kramiy, Berlin, dan Zarin menghampiri Sanifa yang baru masuk ke dalam kelas. Tidak segan menendang kaki kursi, agar Sanifa emosi lalu meladeni mereka.


"Kenapa? Kamu mau marah sama kami?" Kramiy tersenyum mengejek.


"Tidak, aku ingin melakukan tindakan yang bisa lebih di atas marah. Aku ingin menumpahkan marah yang sudah menggebu-gebu." Sanifa meninju bibir Kramiy, hingga mengeluarkan darah.


"Hih, parah sekali iya dia. Benar-benar tidak punya otak."


Sanifa melihat ke arah orang yang membicarakannya. "Kalian tahu apa, tentang masalah di antara kami. Terlihat jelas di mata, memang aku yang salah. Tapi, bukan berarti kejadian ini karena ulah diriku."


Mereka sampai memundurkan kaki, karena Sanifa berucap dengan lantang. Mereka takut, kalau Sanifa benar-benar mulai gila. Sanifa segera keluar, setelah berhasil memberikan pukulan pada Berlin dan Zarin juga.

__ADS_1


Pulang sekolah, Sanifa terpikir sebuah boneka. Teringat pemberian ibunya, untuk kenangan terakhir kali. Sanifa sedikit lagi sampai di lokasi kejadian, untuk mengambil boneka yang diberikan ibunya. Sanifa melangkahkan kaki, sampai melihat seorang pedagang menendang boneka. Sanifa berteriak di kejauhan, namun tidak terdengar. Boneka terlempar ke tengah jalan, karena tendangan tidak sengaja tadi. Boneka tersangkut di jari-jari motor pengendara, yang ugal-ugalan. Sanifa tidak menyerah mengejar motor itu, sampai melepaskan sepatu sekolahnya.


"Hei, tolong berhenti! Bonekaku ada di motormu!" Sanifa berteriak lantang.


Motor berhenti pada sebuah lapangan, lalu laki-laki itu bermain sepak bola. Salah satu anak kecil lewat, dan melihat boneka pada jari-jari ban motor.


"Eh, ayo kita main tendangan boneka." ajak seseorang di sebelah anak kecil tersebut.


"Iya, ayo." jawabnya.


Sanifa sudah hampir dekat, dengan nafas ngos-ngosan. Mereka malah berlari menjauh, menuju ke tempat lain. Sanifa sibuk memeriksa motor, tapi bonekanya tidak ada.


Sanifa berlari mengejar orang-orang, yang sedang asyik menendang boneka. Mereka memperebutkannya seperti bola kaki. Sanifa mengikuti mereka yang jalan berbelok, namun namun malah tidak menemukan mereka.


"Ya Allah, di mana mereka bawa boneka dari mesin capit. Itu adalah hadiah dari Ibu, untuk terakhir kalinya." Sanifa mengusap peluh di dahi, dengan frustasi.

__ADS_1


__ADS_2