Dijemput Malaikat Izrail

Dijemput Malaikat Izrail
Dijuluki Pembunuh


__ADS_3

Boneka ditendang oleh anak kecil dengan kuat, hingga jatuh ke jalan bawah. Tidak sengaja mengenai Xaiza, dan ditangkap oleh kedua telapak tangannya.


"Boneka kancil, kamu malang sekali. Ayo aku rawat di rumah, lalu menjadi temanku." monolog Xaiza.


Cemara membuka pintu, saat melihat Xaiza pulang. Cemara menyuruh Xaiza ke ruang makan, supaya bisa menyantap bersama hidangan yang tersaji.


"Xaiza, kamu tadi dari mana?" tanya Cemara.


"Aku dari luar, untuk membeli putu ayu." jawab Xaiza.


"Apa kedai yang menjual kue di tempat biasanya sedang buka?" selidik Cemara.


"Tumben saja tutup Bu, tidak tahu mengapa." jawabnya, dengan lirih.


Zomprang menghancurkan tembok bangunan, yang disuruh pemerintah ratakan. Tempat itu sudah diobrak-abrik, bagaikan tempat pembuangan barang bekas bangunan.


"Eh, istri kamu bisa meninggal karena apa?" tanya orang di sebelahnya.


"Entahlah, polisi masih menyelidiki hal ini."


"Sabar ya, ini sudah takdir." ujarnya.


"Iya, aku pasti bisa melalui semuanya. Ini hanya soal waktu, yang akan biasa menerima." jawab Zomprang.

__ADS_1


Sanifa pergi ke makam ibunya, untuk melihat kondisi tanah kuburan. Kalau banyak rumput maka dia akan membersihkan. Baru beberapa hari lalu ditinggal, Sanifa sudah merasa sangat hampa.


"Bu, Sanifa rindu sekali sama Ibu. Boneka kenangan tidak ketemu, padahal aku sudah mencarinya." monolog Sanifa.


Sanifa melepaskan tali sepatunya, yang sempat menginjak aspal. Tampak kotor, dan sepatu juga robek. Sanifa tidak ingin merepotkan Zomprang, dengan menuntut ini dan itu.


Keesokkan harinya, Xaiza pergi ke sekolah. Bersamaan dengan itu, Sanifa memasuki gerbang sekolah. Akar tumbuhan dilempar ke wajahnya, beserta tumpukan sampah yang kotor terkena genangan air hujan.


"Dasar pembunuh Ibu sendiri!"


"Seorang pembunuh!"


"Dasar pembunuh!"


"Anak durhaka!"


"Aku bukan seorang pembunuh." teriak Sanifa, dengan lantang.


"Mengaku saja kamu, jangan mencari alasan lagi. Sudah tertangkap basah, masih juga mengelak." Kramiy sengaja menyudutkannya.


Xaiza membela Sanifa, menyuruh semua orang berhenti. Mereka terus berbuat seenaknya, tidak mempedulikan ucapan Xaiza.


"Sudahlah, kamu tidak perlu repot-repot membelanya. Semua siswa-siswi di sekolah ini juga tahu, bahwa dia seorang pecandu narkoba." ucap seorang perempuan berjilbab.

__ADS_1


"Astaghfirullah, kalau tidak ada bukti jangan berkata demikian. Itu sama saja dengan fitnah, dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat." jawab Xaiza.


"Halah, terlalu banyak drama. Lebih baik minggir saja kamu, jangan mengganggu keseruan kami." Tetap kekeh ingin mengganggu.


"Seru buat kalian, tapi menderita bagi korban." Xaiza menjawab dengan tegas.


Sanifa berlari tanpa menghiraukan sorak sorai, bahkan sampai kakinya terluka akibat menginjak kaca.


"Aduh, sakit sekali." Sanifa melihat kakinya yang berdarah.


Xaiza segera membantunya, karena merasa kasihan. "Ya Allah, kakimu terluka karena sepatu robek."


"Aku kesulitan untuk berjalan." Sanifa meringis.


"Sini, biar aku bantu." Xaiza memapah tubuh Sanifa.


"Terima kasih Xaiza." jawab Sanifa, dengan suara pelan.


Xaiza membiarkan Sanifa diobati dengan perawat di ruang UKS. Sanifa menangis tersedu-sedu, tanpa berbicara apa pun juga. Tidak lama setelahnya, baru mulai berbicara.


"Mengapa Allah pilih aku, dari sekian banyak manusia di muka bumi?" tanya Sanifa.


"Karena Allah percaya, kamu bisa melaluinya." jawab Xaiza.

__ADS_1


"Aku hampir tidak sanggup, karena ini terasa berat sekali." ujar Sanifa.


"Kamu pasti bisa, dan Allah memilih bukan tanpa alasan." jawab Xaiza.


__ADS_2