Dijemput Malaikat Izrail

Dijemput Malaikat Izrail
Terluka


__ADS_3

Saat dizalimi memang manusia kadang tidak mendapatkan pembelaan dari sesama makhluk. Namun, pembelaan dari Tuhan jauh lebih penting. Bersifat absolut, dan tidak terbatas. Sanifa berdoa dengan yakin, bahwa Allah akan membantunya yang dibully.


"Ya Allah, maafkan aku yang pernah meragukan Engkau. Disaat titik terendah, aku malah tidak percaya Engkau akan menolongku. Aku lelah ya Allah, maka bantu aku bangkit."


Keesokkan harinya, Sanifa pergi ke sekolah. Rutinitas biasa yang tidak bisa terhindarkan, harus bertemu setiap hari dengan Kramiy, Berlin, dan Zarin. Saat berjalan hendak ke kelas, tiba-tiba Sanifa ditutup menggunakan kain dari belakang.


"Lepaskan aku!" Sanifa berusaha mengalihkan kain, yang menutupi mata.


Sanifa diseret ke dalam ruangan yang terkunci, yaitu sebuah tempat yang biasa digunakan untuk praktik membatik. Sanifa melihat dengan kedua bola matanya, saat lilin panas dilelehkan. Zarin mengambil setrika, yang biasa digunakan untuk merapikan baju.


"Kamu harus tahu, kalau ini panas." Cairan lilin panas ditumpahkan pada lengan Sanifa.


"Aaa...!" Sanifa menjerit kepanasan.


"Hahah... hahah..." Semuanya tertawa serentak.

__ADS_1


Setrika ditempelkan pada punggung Sanifa, berganti ke perutnya lagi. Sanifa menjerit-jerit kesakitan, karena mendapatkan serangan dadakan.


"Tolong... Aaa... sakit!" Sanifa merasakan kulitnya yang pedih.


Kramiy menepuk-nepuk pipi Sanifa secara bergantian. "Kasian kamu, tidak ada yang menolong."


Tangan Sanifa yang memerah dianggap lelucon, dan tidak ada yang mau menolongnya. Sanifa sempat menganggap semua orang jahat, sampai datang Xaiza dalam hidupnya. Sanifa baru tahu, bahwa ada orang baik di dunia ini.


Brak!


"Lepaskan dia, atau aku tidak segan-segan menghajar kalian." ancam Xaiza.


"Jangan mentang-mentang kamu bukan perempuan, lantas aku takut denganmu." Kramiy menunjuknya.


"Jangan mentang-mentang kamu anak pemilik sekolah, aku takut denganmu." ujar Xaiza.

__ADS_1


Kramiy, Berlin, dan Zarin mendorong Xaiza, namun tidak membuat tubuhnya yang kuat terjatuh. "Awas kamu, aku pasti akan beri peringatan, yang membuatmu tidak melupakannya seumur hidup."


Xaiza dipecat jadi penjaga sekolah, dengan sebuah surat pemecatan yang langsung mendarat di rumah. Cemara curiga bahwa anaknya mendapatkan masalah, sehingga tidak boleh bekerja lagi di SMA Hijau Daun.


"Apa kamu berbuat sesuatu hal yang melanggar?" tanya Cemara penuh selidik.


"Tidak Bu, aku hanya menolong seorang siswi yang tertindas. Malang sekali nasibnya, anak sekecil itu menghadapi semua masalah berat seorang diri." jawab Xaiza.


Zomprang duduk termenung di ruang tamu, sambil menyeruput air kopi dalam gelas. Zomprang melihat ke arah Sanifa, yang hendak pergi ke sekolah.


"Kamu berhenti sekolah saja, jika hanya membuat onar." ucap Zomprang.


"Ayah, aku tidak pernah membuat masalah. Namun aku tidak bisa diam saja, ketika diriku dianiaya tanpa sebab. Aku ini sudah termasuk sabar Ayah, bukan aku tak kenal sebagai pecandu narkoba. Aku tidak pernah berbuat demikian, tapi semua orang sibuk menuduhku." jawab Sanifa datar.


Xaiza ditinju banyak orang, bahkan sampai ditusuk. Sanifa tidak sengaja memergoki saat pergi ke sekolah, lalu menelepon polisi menggunakan telepon umum. Mendengar suara mobil polisi yang semakin mendekat, membuat para penjahat kabur. Mereka berlari tunggang langgang, karena tidak ingin ditangkap. Sanifa segera menolong Xaiza, yang sudah tergeletak.

__ADS_1


__ADS_2