
Bayangan Zomprang masih tentang putrinya, dan juga tentang istrinya yang telah meninggal. Zomprang bertemankan sepi, menangis seorang diri. Diusap tanah pemakaman, tempat di mana putrinya dikuburkan beberapa jam lalu.
"Ayah belum ingin pulang, Ayah menyesal tidak mempercayai kamu. Harusnya dari awal Ayah percaya, kalau kamu di-bully. Mungkin hal buruk ini, tidak akan pernah terjadi padamu!" Zomprang menyalahkan diri sendiri.
Xaiza berada di sebelahnya, turut ber belasungkawa. "Pak, aku turut prihatin, atas musibah yang terjadi pada Sanifa!"
"Terima kasih Nak!" jawab Zomprang.
"Aku juga turut berdukacita, dan berharap almarhum mendapatkan tempat yang layak!" sahut Cemara.
"Terima kasih, karena kalian menyempatkan datang!" jawab Zomprang.
"Sudah seharusnya, karena semasa hidup Sanifa dekat dengan kami." Cemara mengingat hari bersama Sanifa, yang telah berlalu.
"Oh ya, kalian memang sangat baik pada putriku!" Zomprang mengakui hal tersebut.
__ADS_1
Sementara di sisi lain, Ada Kramiy yang mencekam dalam penjara. Tidak ada keluarga yang menjenguknya, termasuk orangtua kandung sendiri.
"Aku kecewa dengan orangtuaku. Mengapa mereka biarkan aku dalam sel jeruji besi. Ini sungguh memuakkan, tidak ada gunanya." monolog Kramiy.
8 tahun kemudian, Kramiy membuka sebuah usaha. Dia baru saja keluar dari kantor polisi, setelah mendekam di penjara karena kasus pembunuhan. Orangtuanya merasa kecewa, sehingga membiarkan anaknya. Mereka tidak ingin menebus dengan uang, untuk mengeluarkan Kramiy yang terbukti bersalah.
"Setelah penderitaan hari-hari sebelumnya, aku harus menjalani hidup dengan baik kedepannya." Kramiy sangat bersemangat.
Cemara dan Xaiza pergi ke restoran yang belum lama dibuka tersebut. Tapi sudah terkenal, ke seluruh penjuru kota. Masakannya yang lezat, membuat Xaiza ingin mentraktir ibunya.
"Bu, kalau Sanifa masih hidup. Kita pasti bisa makan bersama di sini!" ungkap Xaiza.
"Bu, aku kasihan padanya. Jika matinya tidak tragis, mungkin sampai sekarang tidak terngiang-ngiang suaranya!" ujar Xaiza.
"Bagaimana pun bentuk kematian Sanifa, semua atas izin Allah. Walaupun dengan cara dibunuh oleh sesama manusia!" jawab Cemara.
__ADS_1
Kramiy melihat para karyawan dan karyawati, yang duduk sebentar untuk meluruskan pinggang. Kramiy marah-marah, sampai menunjuk orang dengan jari telunjuk.
"Hei Moxir, mengapa kamu tidak berguna. Sebagai ketua kelompok dapur, mengapa biarkan mereka mengikuti gayamu. Di sini aku bos, aku yang memiliki aturan." bentak Kramiy, dengan kasar.
"Bos, di sini kami tidak untuk bersantai. Kami benar-benar lelah, hanya ingin meluruskan otot-otot yang menegang!" Moxir menahan sakit hati.
"Kamu harusnya sadar diri, kamu punya orangtua lumpuh. Mereka tidak akan berguna, bila tanpa gaji yang aku beri." ucap Kramiy, dengan spontan.
"Bos boleh saja memarahi aku, tapi tolong jangan hina orangtuaku!" jawab Moxir.
"Jika itu sebuah kenyataan, siapa pun tidak bisa menghentikan ucapanku. Kamu hanya seorang ketua dapur, tidak berhak memerintah ku untuk tutup mulut." Kramiy tegak pinggang, dengan tatapan yang angkuh.
"Baiklah, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Aku sadar diri, karena aku di sini hanya bekerja!" jawab Moxir, yang memilih mengalah.
"Bagus, sangat rendah hati. Aku hampir saja ingin menyuruhmu angkat kaki."
__ADS_1
"Jangan bos, aku masih membutuhkan pekerjaan ini!" Moxir memohon.
”Suatu hari, aku bisa menutup paksa mulut kejam itu. Lihat saja kamu Kramiy, tunggu apa yang akan aku lakukan.” Moxir menyimpan dendam, atas sakit hatinya.