Dokter Cinta Specialis Hati

Dokter Cinta Specialis Hati
Jatuh Cinta Padaku!!


__ADS_3

Devan membuka lilitan perban yang membebat keningnya. Luka di keningnya masih tampak memerah dan sedikit basah. Menandakan jika luka itu masih belum sembuh sepenuhnya.


Disaat dia hendak membersihkan keringat disekitar lukanya dan mengoleskan salep luka. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dari luar, dan terlihatlah Jesslyn yang memasuki kamarnya. Jesslyn berjalan menghampirinya.


"Sini, aku bantu." Jesslyn mengambil salep dan kapas dari tangan Devan. "Meskipun terlihat gampang dan sepele, tetapi mengobati luka sendiri seperti ini itu lumayan sulit. Meskipun kau seorang dokter, tapi kau tidak mungkin bisa memasang perbannya dengan rapi di lukamu sendiri." ujar Jesslyn di tengah kesibukannya.


Disaat Jesslyn tengah sibuk mengobati lukanya. Tak sedikit pun Devan melepaskan pandangannya dari gadis itu. Dia terus menatap paras cantik itu tanpa berkedip. Menatapnya mulai dari mata, hidung, dan terakhir bibirnya.


Entah apa yang Devan pikirkan, Tiba-tiba wajahnya memanas melihat bibir pink tipis tersebut. Membuat Devan sedikit berfantasi dan membayangkan jika dirinya mencium bibir mungil itu.


Devan menggelengkan kepala. Mencoba menepis pikiran kotor itu dari kepalanya. Bagaimana bisa dia memikirkan hal-hal yang konyol semacam itu, membayangkan ketika dia mencium bibir Jesslyn, sungguh konyol dan tidak masuk akal.


Jesslyn mengangkat kepalanya dan menatap depan dengan bingung. "Kenapa tiba-tiba kau menggelengkan kepalamu? Apa kepalamu terasa tidak nyaman lagi?!" dia menatap dokter tampan itu dengan cemas.


Devan menggeleng. "Tidak apa-apa!!" ucapnya meyakinkan. "Tidak perlu dilanjutkan lagi, aku bisa melakukannya sendiri!! Sebaiknya kau keluar saja," pinta Devan sambil menepis tangan Jesslyn dari keningnya.


Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada luka di keningnya. "Aw, sakit!! Yakk!! Apa-apaan kau ini?!" bentak Devan dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Kau itu yang apa-apaan!! Jelas-jelas aku ingin membantumu, tapi seenak jidat kau malah mengusirku. Sebaiknya kau diam saja dan duduk dengan manis, biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku!!" tukas Jesslyn.


Devan menghela nafas berat. Berdebat dengan gadis Barbar seperti Jesslyn memang tidak ada gunanya. Dia juga tidak akan menang menghadapi gadis itu. Jesslyn tak pernah mau kalah dan selalu ingin menang sendiri. Dan akhirnya yang waras-lah yang mengalah.


"Terserah!!" ucap Devan dengan sinis.


Jesslyn tersenyum dengan penuh kemenangan, dia tahu jika Devan akan menyerah pada akhirnya. Lagipula siapa yang bisa menang ketika berdebat dengannya?! Bahkan orang yang pintar bicara sekalipun tak akan pernah menang menghadapinya.


"Nah, begitu dong. Dan ini baru benar!!" Jesslyn mengusap kepala Devan sambil tersenyum lebar.


Lantas Devan menoleh dan membuat kontak mata diantara mereka tak terhindarkan. Dua mata berbeda warna itu saling menatap dan bersirobok, saling menatap selama beberapa detik untuk menyelami keindahan mata masing-masing.


"Ahhh..."


Kedua matanya membulat sempurna, ketika dia menyadari ada yang salah. Kali kanannya malah terjegal kali kirinya sendiri yang akhirnya membuat Jesslyn hilang keseimbangan dan jatuh di atas tubuh Devan. Sekali lagi pandangan mata mereka bertemu, dan kali ini dengan jarak yang sangat dekat.


Buru-buru Jesslyn beranjak dari tubuh Devan. Namun tarikan pada lengannya membuatnya terhempas ke depan dan jatuh dengan posisi yang sama. "Devan, apa yang kau lakukan?" kaget Jesslyn.

__ADS_1


"Sebenarnya mantra apa yang kau gunakan untuk menjeratku? Sampai-sampai aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darimu? Kau tau?" Devan mengambil jeda dalam kalimatnya, matanya terkunci pada mata Jesslyn.


Kemudian Devan menuntun tangan gadis itu menuju dadanya. "Disini, rasanya sesak sekali saat melihatmu bersama laki-laki lain. Apalagi ketika kau tersenyum manis padanya. Aku benar-benar tidak rela."


Gadis itu membulatkan matanya. "Omo!! Jangan-jangan kau menyukaiku? Karena yang kau katakan itu adalah tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta, bisa jadi kau benar-benar telah jatuh cinta padaku?!" ucap Jesslyn tak percaya.


Dan ucapan gadis itu telah menghancurkan moment romantis diantara mereka berdua. Devan mendengus. Dengan gemas dia menyentil kepala Jesslyn. "Itu tidak benar!! Mana mungkin aku jatuh cinta pada gadis barbar sepertimu?!"


"Kalau tidak jatuh cinta apa namanya?! Jelas-jelas yang kau katakan tadi adalah tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta!!" gadis itu bersikeras.


Devan kemudian mendorong Jesslyn dari atas tubuhnya. "Jangan mengada-ada, mana mungkin aku jatuh cinta padamu. Itu tidaklah mungkin!!" ucapnya seraya bangkit dari berbaringnya.


Jesslyn mempoutkan bibirnya. "Dasar kulkas dua pintu, jelas-jelas sudah terciduk jatuh cinta padaku. Tapi tidak mau mengaku!! Lihat saja, akan aku buktikan jika yang kau rasakan itu benarkah cinta!!"


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2