
Jesslyn merebahkan tubuhnya di kasur super nyaman miliknya. Saat ini dia sedang berada di kediaman Jung, dia sangat merindukan kamarnya dan suasana di rumah itu. Dan hal itulah yang menjadi alasannya pulang dan bermalam.
Dia tak sendirian, karena ada kepala pelayan dan para pelayan yang masih tetap bekerja seperti biasanya. Ditinggal Nyonya dan Tuan Jung ke luar negeri bukan berarti rumah benar-benar kosong, karena ada orang yang bertanggungjawab atas rumah tersebut.
Jesslyn meraih ponselnya yang ada di atas nakas kecil samping tempat tidurnya. Dia segera mengetik pesan singkat pada Devan, tadi Jesslyn lupa tidak memberitahu Kakek Zhang jika tidak pulang malam ini.
Lama menunggu, namun tak ada balasan dari Devan. Jesslyn mendengus. Kemudian dia meletakkan ponselnya di tempat semula lalu beranjak dari tempat tidurnya dan menuju balkon. Dia masih belum bisa tidur, jadi lebih baik melihat bintang dulu saja.
Baru lima belas menit berada di balkon. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Penasaran Siapa yang menghubunginya malam-malam begini, jesslyn kembali ke dalam untuk menerima panggilan tersebut.
Gadis itu menautkan alisnya melihat nama Devan yang tertera menghiasi layar ponselnya, yang menyala terang. Tanpa membuang banyak waktu, jesslyn segera menerima panggilan itu.
"Keluarlah, sekarang aku ada di depan pagar rumahmu!!"
"Apa?!" kaget Jesslyn.
Buru-buru Jesslyn kembali ke balkon kamarnya setelah mendengar ucapan Devan. Masih dengan ponsel yang menempel di telinganya. Jesslyn melihat Devan yang sedang menatap kearahnya dengan pandangan dingin dan datar.
Ia pun segera keluar untuk menghampiri Devan. Tak lupa dia meminta security yang berjaga di depan membukakan gerbang untuk kakak angkatnya tersebut. Sungguh Jesslyn tak menduga jika Devan akan datang ke rumahnya.
Dan yang menjadi pertanyaannya, dari mana dokter Tampan itu mengetahui alamat tempat tinggalnya. "Devan, sedang apa kau disini?" dan kedatangan Devan disambut pertanyaan bingung oleh Jesslyn.
"Aku sedikit bosan di rumah. Mau menemaniku jalan-jalan?" tawar Devan, wajah tampannya tetap terlihat dingin dan datar.
"Boleh, kebetulan aku tidak bisa tidur."
"Ayo, cepat naik." Devan menunjuk motor besarnya, dan memberi isyarat agar Jesslyn segera naik.
Pandangan Jesslyn bergulir pada motor sport merah di belakang Devan. Tidak biasanya dia keluar memakai motor, karena biasanya Devan selalu memakai mobil.
__ADS_1
Tak hanya itu saja, malam ini Devan juga berpenampilan berbeda dari biasanya. Dia berpenampilan sedikit serampangan, dan tak ada kaca mata minus yang selalu membingkai kedua matanya. Devan benar-benar terlihat berbeda malam ini, bukannya terlihat jelek, justru dia terlihat semakin tampan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah pada diriku?"
Buru-buru Jesslyn menggelengkan kepalanya. "Tidak!! Hanya saja aneh saja melihatmu mengendarai motor besar seperti ini. Karena biasanya kau selalu memakai mobil," Jawabnya.
"Aku hanya bosan saja. Dan ingin menjadi diriku sendiri yang bebas meskipun hanya beberapa jam saja. Aku sedikit merindukan masa-masa dimana aku bisa menjadi diriku sendiri." ujarnya.
Jesslyn menatap penampilan Devan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang ada yang berbeda dengan penampilannya. Devan yang biasanya selalu rapi dengan kemeja dan celana panjangnya. Hari ini dia justru terlihat sedikit urakan dengan balutan t-shirt putih leather vest Hitam dan celana belel berwarna hitam juga. Serampangan namun terlihat tampan.
"Naiklah," dan suara dingin itu segera menyadarkan Jesslyn dari lamunan panjangnya. Devan menuju jok belakang motor besarnya dengan dagunya, memberi isyarat supaya Jesslyn segera naik.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. Jesslyn sedikit kesusahan karena posisi motor Devan yang tinggi ditambah lagi dirinya yang memakai Dress. Devan mendengus dia mengulurkan tangannya dan membantu Jesslyn untuk duduk di jok motor besarnya.
Melirik sekilas kebelakang dari ekor matanya. Devan meminta Jesslyn untuk berpegangan, gadis itu meletakkan kedua tangannya diatas bahu Devan. Laki-laki itu mendengus, kemudian Devan menarik lengan Jesslyn dan melingkarkan pada perutnya, membuat gadis itu terkejut dibuatnya.
"Begini lebih baik. Pegangan yang erat."
Jesslyn menutup matanya rapat-rapat dan memeluk Devan dengan erat ketika dokter tampan itu menambah kecepatan pada motor besarnya. Dalam hatinya Jesslyn terus merutuki Devan dan menghujaninya dengan berbagai sumpah serapah. Dan bibirnya terus ber komat-kamit memanjatkan doa.
"Tuhan, jangan ambil nyawaku dulu. Aku ini masih muda, belum menikah apalagi merasakan malam pertama. Jika kau ingin mengambil nyawa seseorang, sebaiknya ambil saja nyawa kulkas dua pintu ini. Jangan nyawaku!!" ujar Jesslyn sambil menutup matanya.
Devan mendengus mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Jesslyn. Apakah dia berpikir jika dirinya akan membawanya pergi ke neraka?! "Ck, doa macam apa itu?!"
"Diamlah!! Pada jalanan, apa kau tidak sadar jika malaikat maut sedang mengiringi jalanan kita?! Dan aku berdoa pada, Tuhan. Jika dia ingin mengambil senyawa seseorang, maka aku memohon padanya agar dia mengambil nyawamu saja!!" ujar Jesslyn panjang lebar.
Devan mendengus. Rasanya dia ingin sekali menjitak keningnya supaya tidak berpikir yang macam-macam lagi.
Cukup lama berkendara, mereka tiba di tujuan Devan. Ternyata tujuannya adalah jembatan Banpo.
__ADS_1
Jembatan Banpo terlihat indah karena lampu berwarna-warni yang dipasang di sana sudah menyala, mengingat hari sudah sore bahkan menjelang malam. Membuat sudut bibir Jesslyn tertarik keatas, gadis itu terus tersenyum melihat pemandangan indah tersebut.
Sungguh Jesslyn tak pernah menduga jika Devan akan membawanya ketempat ini. Sudah menjadi keinginan Jesslyn sejak lama untuk bisa menikmati keindahan jembatan tersebut.
Jesslyn langsung mengalungkan tangannya ke pagar jembatan, lalu memejamkan matanya sambil menghirup nafas perlahan.
Bola mata Devan yang dingin terus menatap dalam Jesslyn yang sedang melakukan hal tersebut, tanpa sadar Devan pun sudah mengikuti kegiatan gadis itu, mereka berdua terdiam untuk beberapa lama, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Merasa bosan dengan hal itu, tangan mungil Jesslyn mencoba mencapai air mancur yang berada dibawahnya, sehingga tubuhnya yang pendek.terangkat dan terhuyung ke depan.
"Jangan melakukan hal bodoh Jesslyn Jung, kau bisa terjatuh dan kemungkinan kau tidak mati hanya beberapa persen." Jesslyn pun menegang mendengar ucapan Devan, ia langsung mengembalikkan dirinya pada posisi semula.
Kedua mata Jesslyn membelalak karena ia hilang keseimbangan. "A...Aahh." dan dengan sigap Devan menarik lengan gadis itu hingga Jesslyn jatuh ke dalam pelukannya.
"kau sudah gila, ya?!" bentak Devan dengan suara meninggi. Membuat Jesslyn terkejut dan terkesiap mendengar bentakan dan dorongan laki-laki itu. "Apa kau sedang cari mati?!" bentaknya lagi.
Bentakan Devan membuat tubuh Jesslyn semakin menegang. Ia pun langsung menundukkan kepalanya, Jesslyn tidak berani menatap Devan, dan rasanya ia ingin menangis sekarang. Apalagi ini pertama kalinya dia dibentak oleh seseorang. Dan mereka saling diam.
Angin malam mulai berhembus ke tubuh Jesslyn, ia mulai merapatkan cardigan yang dipakainya dan memeluk tubuhnya dengan kedua tangan sendiri, maklum Seoul sudah mulai memasuki musim gugur (anggap saja begitu) dan ia masih menunduk.
Devan mendesah berat. Ia pun segera menghampiri Jesslyn, lalu memeluk dari belakang tubuh gadis itu. Dan apa yang Devan lakukan membuat Jesslyn terkejut setengah mati.
"Jangan pernah lagi melakukan hal gila yang bisa membahayakan dirimu sendiri. Kau... Membuatku takut!!" lirih Devan berbisik.
Dengan lirih Jesslyn bergumam. "Devan,"
.
.
__ADS_1
Bersambung.