Dokter Cinta Specialis Hati

Dokter Cinta Specialis Hati
Dasar Orang Iseng


__ADS_3

'Jika rindu hanya sebuah kata, tetapi mengapa sesaknya begitu terasa?'


Sebuah kalimat sederhana namun memiliki makna yang begitu mendalam. Devan tidak pernah tahu jika merindukan seseorang rasanya akan sesesak ini? Dan ini pertama kalinya dia merasakan rindu yang membuat dadanya sangat sesak.


Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan ini adalah tahun kedua Jesslyn meninggalkan Korea dan orang-orang yang menyayanginya. Dan selama itu juga, tidak ada satu pun yang mengetahui kondisi gadis itu hingga saat ini. Dia masih hidup, atau mungkin telah pergi. Tidak ada yang tau termasuk Devan.


Berbagai cara telah Devan lakukan demi bisa mendapatkan informasi tentang Jesslyn, namun tidak ada satu pun dari usahanya yang membuahkan hasil.


Karena semua berakhir nihil, dan semenjak kepergian Jesslyn ke America hari itu. Devan bukan lagi Devan yang sama yang dulu di kenal, dia menjadi lebih dingin dan tertutup. Bahkan Ia menjadi jarang sekali bicara baik pada Kakek ataupun Kakaknya. Devan lebih banyak menghabiskan waktunya dan menyibukkan diri di rumah sakit.


Ia menjadi jarang sekali pulang, karena hal itu hanya akan mengingatnya pada Jesslyn. Dan setiap kali dia merindukannya, hanya rasa sesak yang Devan dapatkan.


Drettt... Drettt... Drettt...


Perhatian Devan sedikit teralihkan oleh getar pada ponselnya yang menandakan ada 1 pesan masuk. Devan meletakkan pulpennya lalu beralih pada benda tipis tersebut. Devan menautkan alisnya melihat nomor asing tertera di layar ponselnya yang menyala terang.


Merasa penasaran dengan isi pesan tersebut. Devan pun segera membuka pesan itu dan membacanya.


'Cuaca sangat cerah, apa kau tidak ingin bermain keluar'


Laki-laki itu berdecak bahu dan mengabaikan pesan itu. "Dasar orang iseng." Ucapnya pelan. Devan kembali fokus pada pekerjaannya. Dari pada dia mengurusi hal-hal yang tidak penting. Lebih baik dia melanjutkan kembali pekerjaannya.

__ADS_1


Devan bangkit dari kursinya lalu berjalan kearah dinding kaca yang berada di belakang meja kerjanya. Pandangannya tertuju pada langit malam yang dihiasi oleh jutaan manik-manik.


Dunia terasa berputar lebih cepat namun jarum jam terasa berhenti. Bunga-bunga terasa mekar namun daun-daun mengering dan memutuskan untuk gugur. Langit memancarkan sejuta bintang, namun bulan terlihat menjadi gerhana.


Desiran darah yang memberontak hebat, degup jantung yang berkejaran egois juga butir-butir rasa rindu seolah menggila dan mejadi satu. Ya, rindu. Devan tidak pernah tau jika dia akan tersisa oleh satu kata yang di sebut 'Rindu!!'


Adakah yang lebih menyesakkan dada selain tentang perasaan yang belum tersampaikan sehingga meninggalkan jejak rindu yang tak terbalaskan? Entah, Devan pun tak tau.


Lalu adakah yang lebih menguras air mata selain tentang hati yang telah dia curi dan ia kembalikan dalam bentuk puing-puing kesedihan? Dan adakah yang lebih membuat luka selain tentang harapan indah yang seolah dia tawarkan lalu kemudian ditinggalkan pergi tanpa kabar dan kepastian?


Devan tersenyum miris, entah kenapa takdir baik tak pernah berpihak padanya? Hatinya selalu dipatahkan oleh keadaan, dua kali dia kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Meskipun dengan cara yang berbeda.


"Apa yang sedang kau lamunkan?" tegur seseorang yang kini berjalan menghampiri Devan. Laki-laki itu menoleh dan menatap datar pada orang yang menghampirinya.


"Kau merindukannya?"


Sontak Devan menolah dan menatap orang itu dengan tatapan yang sama. Namun dia tak berniat membalas ataupun menyikapi ucapannya. Dan tentu saja Devan sudah tahu siapa yang dimaksud 'Dia' olehnya.


"Sedang apa kau disini? Bukankah ini masih jam bekerja?" alih-alih menjawab pertanyaan laki-laki itu, Devan malah balik bertanya.


"Aku datang untuk menemani kakak iparmu memeriksakan kandungannya. Dia merengek supaya aku menemaninya. Jadi sekalian saja aku kemari untuk melihatmu. Dua hari kau tidak pulang, Devan. Jadi aku pikir kau sudah tidak bernyawa lagi karena terlalu merindukannya." Ujar orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Kris.

__ADS_1


"Memang apa hubungannya tidak bernyawa dengannya? Jangan mengatakan hal konyol, Kris. Sebaiknya kau keluar sekarang, aku sibuk dan sebaiknya jangan menggangguku!!"


Kris mempoutkan bibirnya dan menatap Devan dengan kesal. Sebelum Jesslyn pergi, Devan sudah sangat menyebalkan. Dan sekarang dia lebih menyebalkan lagi setelah gadis itu pergi dari sisinya. Keberadaan Jesslyn memang membawa banyak perubahan pada diri Devan.


Ngomong-ngomong soal Kris. Kris telah menikah dan sudah mau menjadi seorang ayah. Dia menikahi sekretarisnya yang bernama Tiffany, berawal dari makan siang bersama kemudian hubungan mereka berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.


Saat ini Tiffany tengah mengandung buah dari cinta mereka berdua, dan dokter mengatakan jika Tiffany hamil bayi kembar. Tidak tanggung-tanggung, Tiffany hamil tiga bayi sekaligus. Benar-benar sebuah anugerah dari Tuhan.


Kebahagiaan tak hanya menghampiri krish saja. Tetapi Kakek Zhang juga. Cinta lamanya yang belum kelar bersama nenek Maya, kini tersambung kembali. Mereka telah menikah dan hidup bersama, hanya Devan satu-satunya orang yang tak merasakan kebahagian. Dan Devan selalu berharap ada miracle untuknya.


"Dev, pulanglah dan jangan terlalu memforsir dirimu dengan pekerjaan. Pikirkan kesehatanmu juga, aku tau kau melakukan semua ini agar tak teringat padanya. Tetapi tetap saja kau harus memikirkan keadaanmu juga." Nasehat Kris. Dia sungguh tidak tega melihat kondisi Devan yang sekarang.


"Aku tau, kau tidak perlu mencemaskan ku. Malam ini aku memang berencana untuk pulang," ucapnya datar.


"Baiklah, aku akan menunggumu di rumah. Aku pulang dulu, mungkin kakak iparmu sedang mencari ku." ucap Kris dan dibalas anggukan oleh Devan.


"Hati-hati, jangan mengebut. Ingat, istrimu sedang hamil besar."


"Iya-iya, aku tahu. Cepat pulang," Kris menepuk bahu Devan dan pergi begitu saja. Bisa-bisa Tiffany ngomel-ngomel karena dirinya yang tiba-tiba menghilang. Dan Kris tak ingin membuat wanita itu kebingungan mencarinya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2