Dokter Cinta Specialis Hati

Dokter Cinta Specialis Hati
Aku Tidak Peduli!!


__ADS_3

"Jauhi aku, dan jangan pernah menggangguku lagi. Aku benar-benar muak dengan perempuan sepertimu!! Jangan hanya parasmu yang kau jaga, tapi harga dirimu juga. Kau sangatlah murahhan, Lisa!!"


Tangan Lisa terkepal kuat mendengar apa yang baru saja Devan katakan. Dia mengatainya murahan. Dan itu membuat perasaan Lisa terluka. Jika bukan murahhan, lalu Apa sebutan yang tepat untuk perempuan yang masih mengharapkan mantan kekasihnya yang jelas-jelas sudah dia campakkan begitu saja?


Apa Lisa tidak pernah bercermin pada dirinya sendiri? Atau mungkin urat malunya telah putus, sampai-sampai dia masih mengharapkan Devan kembali setelah Apa yang dia lakukan padanya.


"DEVAN!! KAU BENAR-BENAR KEJAM. JELAS-JELAS PERASAANKU PADAMU BENAR-BENAR TULUS. TAPI KENAPA KAU MALAH MENCAMPAKKANKU?! AKU MASIH MENCINTAIMU, AKU MENCINTAIMU!! AKU KATAKAN JIKA AKU MENCINTAIMU, UNTUK ITU CEPAT BERHENTI!!" teriak Lisa.


Lisa mengabaikan tatapan orang-orang di sekelilingnya, tidak peduli bagaimana mereka akan menilainya. Lagi pula urat malunya juga sudah putus, dia sudah tidak memiliki rasa malu lagi. Lisa hanya ingin Devan kembali padanya.


Beberapa perawat maupun dokter yang melihat kejadian itu langsung menjadikan Lisa sebagai bahan di bahan mereka. Apalagi mereka yang tidak suka padanya, hal tersebut menjadi ladang untuk membuat namanya semakin buruk.


"Dia benar-benar tidak tahu malu, ya. Sudah menjadi beban rumah sakit, dan sekarang malah mempermalukan dirinya sendiri. Sebagai seorang wanita aku malu karenanya!!"


"Namanya juga urat malunya sudah putus, mau bagaimana lagi!! Dia sudah tidak memiliki rasa malu lagi!!"


Benar-benar menjijikkan. Dia adalah dokter senior di rumah sakit ini, sebagai seorang dokter senior seharusnya memberikan contoh yang baik bukannya menciptakan skandal dan drama. Lama-lama dia membuatku muak!!"


Sekali lagi Lisa mengepalkan tangannya, mendengar ucapan orang-orang di sekelilingnya. Dengan terang-terangan mereka membicarakan, dan itu membuat telinganya terasa panas. Sontak Lisa menoleh dan menatap mereka dengan tajam.


"Dasar tukang ghibah, apa kalian tidak bisa diam?!" teriak Lisa dengan marah.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan semua orang yang ada di sana. Lisa segera melenggang pergi untuk kembali ke ruangannya. Dan nama baiknya sudah hancur karena ulahnya sendiri. Mungkin saja sebentar lagi dirinya akan menjadi trending topik di berbagai media sosial ada orang yang merekam kejadian barusan.


.


.


Sean menghampiri Devan di ruangannya. Dan kedatangan Sean tentu saja untuk membicarakan apa yang baru saja terjadi. Dia merasa kasihan pada Lisa karena terus-terusan mendapatkan penolakan dari Devan.


"Jika kedatanganmu hanya untuk wanita itu, sebaiknya kau keluar saja. Aku sudah tidak ingin membahas apapun lagi tentangnya!!" ucap Devan seolah-olah dia sudah mengerti tentang maksud dan tujuan Sean mendatangi ruangannya.


"Devan, apa kau tidak merasa kasihan pada, Lisa? Dia memang pernah melakukan kesalahan besar dengan mencampakkanmu, tetapi dia sudah menyadari kesalahannya dan menyesali perbuatannya. Dia masih sangat mencintaimu, apa tidak ada kesempatan kedua baginya?!"


Sean menggeleng. "Sekali saja apa tidak bisa? Devan, aku mohon lakukan ini untuk, Lisa. Dia sedang tidak baik-baik saja. Lisa, memberitahuku jika saat ini dia sedang tidak baik-baik saja, dia sedang sekarat!! Devan, lisa sakit parah. Dan umurnya sudah tidak lama lagi."


"Lalu Apa urusannya denganku?!" Devan menyela cepat. Bahkan jika dia harus menjadi tulang belulang Sekalipun Aku tidak akan kembali padanya!! Hidup Ini bukan tentang masa lalu, Sean. Tetapi masa depan, lagipula aku tidak akan pernah jatuh kembali ke dalam lubang yang sama. Daripada kau berjuang untuk kebahagiaannya, lebih baik perjuangkan sendiri kebahagiaanmu!! Sebesar apapun kau berkorban untuknya, pengorbananmu tidak akan ada artinya di mata, Lisa!!"


Sean terdiam mendengar apa yang Devan katakan. Benar apa yang dia katakan, untuk apa dia memperjuangkan kebahagiaan seseorang yang tidak pernah memikirkan tentang kebahagiaannya. Mungkin sudah saatnya dia berhenti memikirkan kebahagiaan orang lain, karena dirinya juga berhak bahagia.


"Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan ini, Sean. Jujur saja aku merasa kasihan padamu, kau selalu dimanfaatkan olehnya tetapi kau tidak menyadarinya. Bukan tidak menyadari, tidak peduli lebih tepatnya."


"Terimakasih telah menyadarkan ku, kawan. Ya, kau benar. Tidak seharusnya aku memperjuangkan kebahagiaan orang lain yang tidak pernah peduli padaku dan selalu menganggapku sebagai bayangan. Sudah saatnya aku melangkah maju untuk mendapatkan kebahagiaan ku sendiri. Ya sudah, aku keluar dulu." Sean menepuk bahu Devan dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Devan menghela napas panjang. Masa iya harus diingatkan terlebih dulu baru sadar. Benar-benar sudah dibutakan oleh cinta, sampai-sampai dia tidak peduli jika sebenarnya dirinya hanya dimanfaatkan saja.


"Devan!!"


Devan mengangkat kepalanya mendengar suara familiar yang memanggil namanya. Terlihat Jesslyn datang sambil membawa makanan untuknya. Dan Devan yakin itu adalah makan siang yang dia beli dari restoran langganan keluarganya.


"Kau datang," ucapnya dengan nada datar.


Sungguh sebuah kemajuan yang sangat pesat. Jika biasanya depan berkata 'Mau apa kau datang kemari?' Maka tidak dengan hari ini, dia berkata 'Kau datang' yang artinya Devan menyambut kedatangan Jesslyn.


"Aku membawakanmu makan siang, dan makanan ini aku beli dari restoran langganan keluargaku. Bagaimana jika setelah ini kita makan siang sama-sama?" usul Jesslyn.


Devan mengangkat bahunya. "Bukan ide yang buruk. Kalau begitu aku selesaikan dulu pekerjaanku!!" ucapnya dan di balas anggukan oleh gadis itu.


"Baiklah!!"


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2