Dokter Cinta Specialis Hati

Dokter Cinta Specialis Hati
Ini Benar-Benar Gila!!


__ADS_3

"Aku pasti akan kembali untuk mengambil tangan dan mataku yang pernah kau hilangkan!!!"


Sambungan telepon itu terputus begitu saja. Devan menarik ponsel itu menjauh dari telinganya, dan menatap layarnya yang masih menyala terang. Lagi-lagi dia mendapatkan telepon dari nomor yang sama. Dan tanpa menyelidikinya sekalipun, dia tahu siapa yang menghubunginya.


Sepertinya orang itu kembali untuk menuntut balas padanya. Devan telah memperkirakannya, tetapi dia tidak pernah mengira jika saat itu akan datang secepat ini.


"Siapa yang menghubungimu? Suaranya terdengar familiar," ucap seorang laki-laki yang duduk tak jauh dari Devan.


Saat ini Devan sedang berada di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja. Teman lamanya menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu, dan saat ini mereka berempat sedang reunian di cafe langganan mereka ketika masih kuliah dulu.


"Seperti suara, Romeo." sahut laki-laki jangkung yang duduk di sisi kiri Devan.


"Hn,"


"Jadi benar-benar dia?!"


Devan menganggukkan kepalanya. "Ya, dan dia kembali untuk menuntut balas padaku atas apa yang telah aku lakukan padanya dimasa lalu. Dia ingin supaya aku mengembalikan tangan dan matanya yang aku hilangkan waktu itu!!" jelas Devan.


"Gila!! Ini benar-benar gila. Keadaan sudah tak lagi sama, sekarang kau berprofesi sebagai seorang dokter, jadi bagaimana kau akan menghadapinya?!" ucap pria yang duduk di samping kanan Devan.


Lantas Devan menoleh padanya. "Lalu apa yang salah dengan hal itu? Bukankah dokter hanya sebuah profesi? Karena jati diriku terletak pada profesiku yang dulu, jika bukan karena janjiku pada dia, aku tidak mungkin menjadi diriku yang sekarang ini!!" tandasnya.


Devan mencengkram gelas di tangannya dengan kuat. Membicarakan masa lalu tanpa sadar telah membuka luka lama di hati Devan. Luka yang di torehkan oleh rasa sakit akibat kehilangan. Beberapa tahun yang lalu Devan kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Dan karena dia juga lahir Devan yang sekarang ini.


Setiap manusia yang hidup dan bernapas, pasti memiliki masa lalu yang kelam, salah satunya adalah Devan. Namun Devan dan teman-temannya berhasil keluar dari lembah gelap yang selama bertahun-tahun membelenggu mereka. Dan kehilangan seorang sahabat yang berharga, yang akhirnya membuat mereka sadar jika selama ini telah mengambil jalan yang salah.


Devan kini sukses menjadi seorang dokter. Sedangkan ketiga temannya menjadi seorang pengusaha. Dan perubahan pada mereka berempat tentu saja atas campur tangan teman mereka yang telah tiada.


"Lalu apa rencanamu sekarang?" satu-satunya pria berjas itu menatap Devan dengan penasaran.


Devan menyeringai. "Apalagi? Tentu saja menyambutnya dengan hangat!!" jawabnya dengan seringai yang sama. Dan melihat seringai Devan membuat bulu kuduk ketiganya langsung berdiri.

__ADS_1


"Jangan bilang jika kau ingin~!!"


"Kita lihat saja nanti!!" Devan menyela sebelum pria dalam balutan kemeja abu-abu itu menyelesaikan ucapannya. "Maaf, tidak bisa menemani kalian lebih lama lagi. Aku harus kembali ke rumah sakit sekarang juga. Untuk semua pesanan kalian biar aku yang membayarnya!!" ucapkan Seraya beranjak dari hadapan ketiga temannya. Dia ada operasi tiga puluh menit lagi.


.


.


Penyesalan selalu datang dengan terlambat merupakan sebuah hukum alam. Edo sungguh tak menyangka ucapannya membuatnya menyesal dengan perkataannya sendiri. Setelah kata putus itu, dia dan Jesslyn tidak lagi berhubungan.


Sejak saat itu Edo merasakan perasaan kehilangan yang menerpa hatinya. Berusaha ditepis tapi selalu datang seolah berusaha menyadarkannya.


Dan benar memang Edo seakan seperti orang yang baru bangun dari tidurnya, ia bermimpi telah kehilangan Jesslyn dan mimpi itu memang nyata. Karena sekarang dia benar-benar telah kehilangannya. Dan penyesalan itu datang setelah dia dikhianati oleh Anna. Edo baru menyadarinya jika Jesslyn adalah yang terbaik untuk dirinya.


"Apa yang sedang kau lamunkan?" tegur seseorang dari arah belakang.


Sontak Edo menoleh dan mendapati seorang laki-laki berjalan menghampirinya. "Tidak ada, apa yang kau lakukan disini?" Edo menatapnya dengan dingin.


Edo menganggukkan kepala. "Ya, aku menyesali kebodohanku!!" ucapnya dengan diiringi helaan napas panjang.


"Kau terlalu bodoh, Edo. Karena melepaskan serbuk berlian hanya demi butiran pasir. Jika aku jadi dirimu, aku akan mempertahankan seseorang yang telah menemaniku sejak awal. Tapi kau dengan bodohnya malah melepaskannya. Aku benar-benar tidak mengerti Jalan pikiranmu, kenapa di dunia ini ada orang bodoh sepertimu?!" ucap laki-laki itu dengan sinis.


Edo terdiam mendengar ucapannya. Benar apa yang dia katakan. Untuk apa dia melepaskan serbuk berlian demi butiran pasir. Jika saja dia tidak bodoh, mungkin hidup Edo tidak akan berakhir tragis ini.


"Edo, kau mau kemana?" tanya laki-laki itu.


"Mencari, Jesslyn. Aku ingin meminta maaf padanya, dan memulai semuanya kembali dari awal." Jawab Edo di tengah langkahnya.


Edo akan menemui Jesslyn untuk meminta maaf padanya. Dan Edo berencana memperbaiki hubungannya dengan gadis itu. Edo sangat yakin bila Jesslyn akan memaafkannya mengingat seberapa besar cinta yang dia miliki untuknya.


"Jesslyn, tunggu aku!!"

__ADS_1


.


.


Devan menyeka peluh di keningnya. Setelah tiga jam, akhirnya dia berhasil menyelesaikan operasi dengan lancar. Satu nyawa lagi berhasil dia selamatkan, dan hal itu memberikan kepuasan tersendiri baginya sebagai seorang dokter.


Seorang perawat menghampiri Devan. "Dok, bagaimana selanjutnya?"


"Pindahkan pasien ke ruang inap saja. Kondisinya juga sudah semakin stabil, aku akan menemui keluarga pasien." ucapnya dan di balas anggukan oleh perawat tersebut.


"Baik, Dokter."


Baru juga Devan membuka pintu ruang operasi. Salah satu keluarga pasien menghampirinya. "Dokter, bagaimana kondisi Ibu saya? Apakah operasinya berjalan dengan lancar?"


"Anda tenang saja, Tuan. Ibu, Anda sudah dalam keadaan baik-baik saja. Operasinya berjalan dengan lancar, dan Anda bisa menemuinya setelah dia di pindahkan ke ruang inap."


"Baik, dokter. Terimakasih," ucap laki-laki itu.


Devan membungkuk dan meninggalkannya begitu saja. Devan berjalan kearah kamar mandi. Dia harus segera mencuci tangannya dan mengganti pakaiannya.


Setelah mencuci tangan dan mengganti pakaiannya, Devan kembali ke ruang kerjanya. Dia masih harus memeriksa beberapa data pasien yang akan menjalani operasi esok hari.


Ponsel Devan tiba-tiba bergetar. Menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk. Nama Jesslyn menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Alih-alih membalas pesan singkat itu. Devan malah memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya.


Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan tipis di bibir kiss able-nya. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu. Belum pernah Devan terlihat sumringah ketika menerima pesan singkat dari seseorang. Sepertinya pesan singkat kali ini sangatlah special. Benarkah begitu, Dokter Zhang?!


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2