
"APA, JESSLYN BEKERJA?!"
Kabar tentang Jesslyn yang bekerja di sebuah florist shop telah sampai ke telinga Kakek Zhang. Dia sangat terkejut bukan main setelah mendengar kabar tersebut.
Tanpa menghiraukan rapat yang sedang berjalan. Kakek Zhang meninggalkan kantornya dan pergi ke florist itu untuk menjemput pulang cucu angkatnya. Kakek Zhang benar-benar tidak rela jika cucu cantiknya itu harus bekerja.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, Kakek Zhang tiba di florist tempat Jesslyn bekerja. Dari dalam mobilnya, Kakek Zhang melihat gadis itu tengah sibuk melayani Beberapa pelanggan yang datang. Dia terlihat bahagia dan senyum tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya.
Kakek Zhang pun segera turun dan hendak menghampiri Jesslyn. Namun langkah kakinya terhenti ketika ia tanpa sengaja melihat sosok wanita paruh baya yang keluar dari sebuah ruangan sambil membawa puluhan tangkai bunga mawar yang dia pegang dengan kedua tangannya.
Dan dengan lirih dia bergumam, memanggil nama perempuan itu. "Maya," membuat perhatian wanita paruh baya itu teralihkan padanya. Pupil mata wanita itu pun membulat sempurna melihat siapa yang datang ke toko bunganya.
"Jeremy," ucap wanita itu dengan lirih.
Kemudian Jesslyn menatap keduanya bergantian. "Kalian berdua sudah saling mengenal?" tanya Jesslyn penasaran. Lalu keduanya mengangguk hampir bersamaan.
"Ya, Sayang. Kami berdua memang sudah saling mengenal. Maya dan aku pernah memiliki hubungan dimasa lalu, namun karena terhalang oleh restu orang tua akhirnya kami berpisah. Aku menikah dengan perempuan pilihan orang tuaku, sementara Maya entah pergi kemana. Kami tak lagi berhubungan setiap saat itu," ujar Kakek Zhang menuturkan.
"Oh, jadi ini ceritanya CLBK, cinta lama belum kelar?" tanggap Jesslyn. Sepertinya kalian berdua membutuhkan ruang untuk mengobrol, aku tinggal dulu ya."
Dan seketika Kakek Zhang melupakan tujuan utamanya datang ke toko bunga ini. Yang awalnya ingin menjemput Jesslyn pulang, malah bertemu dengan mantan kekasihnya yang lama menghilang dan meneruskan kisah mereka yang belum usai.
.
.
Rasa frustasi mulai menggerayangi diri Kris, setiap hari dia dihadapkan dengan tumpukan dokumen yang terkadang membuat Kepalanya pusing tujuh keliling.
Dan parahnya lagi, bukannya semakin habis, setiap hari malah semakin menumpuk. Meskipun dokumen-dokumen itu penuh dengan uang, tetapi tetap saja rasanya sangat menjengkelkan.
Ketukan pada pintu sedikit menyita perhatiannya, selang beberapa detik pintu itu terbuka dan seorang perempuan berjalan memasuki ruangannya.
__ADS_1
Kris memperhatikan penampilan wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, Kris menelan salivanya dengan susah payah. Penampilan wanita itu benar-benar tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Seksi, cantik, menarik semua berbaur aduk menjadi satu.
"Ada apa, Tiffany?" tanya Kris pada perempuan itu yang ternyata bernama Tiffany.
"Presdir, saya datang mengantarkan beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani hari ini." Kemudian perempuan itu meletakkan dokumen yang ia bawa ke atas meja kerja Kris.
Kris sedikit melonggarkan dasinya. Dia benar-benar kepanasan melihat sekretarisnya tersebut. Hampir 3 tahun bekerja di perusahaannya, baru kali ini Kris memperhatikan Tiffany dengan sedetail itu. Dan bodohnya lagi selama ini Kris tak memperhatikan kecantikannya sama sekali. Pantas saja Tiffany menjadi incaran banyak karyawannya. Karena dia benar-benar cantik sekali.
"Apa kau ada waktu siang ini? Temani aku makan siang," pinta Kris.
Tiffany menautkan alisnya dan menatap Kris penuh tanya. "Tumben sekali, tidak biasanya Anda meminta saya menemani Presdir untuk makan siang?" ucap Tiffany kebingungan.
"Aku sedang malas sendirian, makanya aku memintamu untuk menemaniku." Jawab Kris setenang mungkin. Dia sedang berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Tiffany mengangguk dengan tatapan bingung. "Baiklah. Kalau begitu sekarang saya permisi dulu." Ucap Tiffany lalu beranjak dari hadapan Kris. Tiffany memicingkan kepalanya, dia benar-benar bingung dengan sikap Kris yang tiba-tiba menjadi aneh.
"Tiffany, kemana saja aku selama ini? Sampai-sampai Aku tidak pernah menyadari jika ada bidadari di kantorku. Tiffany, aku pasti akan mengejarmu."
.
.
Namun hal berbeda justru terlihat pada dua insan manusia yang saat ini tengah menelusuri dinginnya jalanan malam kota Seoul dengan berjalan kaki, memabur menjadi satu dengan orang-orang yang berjalan kaki seperti mereka. Bahkan pakaian yang melekat pada tubuh mereka pun sangat kontras dengan udara malam ini. Si gadis memakai white dress sepanjang lutut setengah lengan. Sedangkan si laki-laki memakai celana panjang hitam dan kemeja putih yang lengannya di gulung sampai siku.
Tak ada satu pun kain hangat yang melekat pada tubuh mereka, meskipun begitu. Mereka tampak biasa saja dan tidak merasakan apa-apa. "Apa kau kurang kerjaan sampai-sampai bekerja secara suka rela di toko bunga itu?" setelah cukup lama saling diam.
"Aku sangat bosan karena tidak memiliki kerjaan apapun. Makanya aku melamar di toko bunga milik, Bibi Maya. Dan apa kau tahu? Ternyata Bibi maya dan kakek saling mengenal, mereka berdua adalah sepasang kekasih yang dipisahkan oleh keadaan. Cinta mereka tidak direstui oleh kakek dan nenek buyutnya. Kakek, dijodohkan dengan wanita pilihan mereka hingga akhirnya hubungannya dengan Bibi Maya Kandas." Ujar Jesslyn panjang lebar.
"Benarkah? Kakek tidak pernah bercerita Jika dia memiliki mantan kekasih yang tidak bisa dia lupakan sampai detik ini, tapi baguslah jika akhirnya mereka bisa bertemu kembali."
Tiba-tiba Jesslyn menghentikan langkahnya dan menatap Deven penuh tanya. "Apa kau tidak keberatan?"
__ADS_1
"Keberatan untuk apa? Toh, nenek juga sudah tidak ada. Lagipula Kakek juga berhak bahagia," jawabnya.
Dan sementara itu tanpa mereka berdua sadari, terlihat Lisa mendekati mereka sambil menggenggam sebuah piisau di tangan kanannya yang tersamarkan oleh warna pakaian yang dia pakai. Lisa memakai sebuah Hoodie agar keberadaannya tak disadari.
Lisa telah memantapkan hatinya. Jika dia tidak bisa memiliki Devan, maka orang lain juga tidak boleh. Dan satu-satunya cara agar Devan tidak dimiliki siapapun adalah dengan cara menghabisinya.
Dan sementara itu, Jesslyn yang melihat gelagat aneh seorang perempuan yang berjalan berlawanan arah dengannya dan Devan menjadi sedikit curiga. Apalagi dia terus menatap kearahnya dan Devan. Tidak terlihat seperti apa rupanya, karena sebagian mukanya tertutup masker hitam.
"Pisau?!" gumam Jesslyn membatin. Dan matanya sedikit membelalak melihat gelang yang dia pakai oleh perempuan itu. Itu adalah gelang yang sama yang dipakai oleh mantan kekasih Devan yang bernama Lisa. Dan Jesslyn yakin dia memiliki maksud yang tidak baik. Lagi-lagi Jesslyn membulatkan matanya. "Devan, awas!!"
Jesslyn mendorong tubuh Devan hingga membuat laki- itu jatuh dan kepalanya terbentur sudut trotoar karena kencangnya dorongan itu, membuat cairan merah segar seketika mengalir dari lukanya. Sontak Devan menoleh dan...
"JESSLYN!!"
Dia berteriak dengan histeris. Gadis itu merelakan tubuhnya tertusuk hanya untuk melindungi dirinya.
Dengan sigap Devan menahan tubuh Jesslyn yang ambruk dan mulai kehilangan kesadarannya, keduanya bersimpuh di aspal yang dingin dan keras dengan Jesslyn berada dalam dekapan Devan.
Dan sementara itu, Lisa langsung menjatuhkan belatii ditangannya begitu saja setelah menyadari apa yang baru saja di lakukannya. Lisa menggeleng, dia hendak melarikan diri namun segera di tahan oleh orang-orang yang ada disekelilingnya.
"De...Devan," seru Jesslyn sambil mengulurkan tangannya yang berlumur darah untuk menyentuh wajah Devan.
"Gadis bodoh, apa yang sudah kau lakukan, HAH?! KENAPA, JESS,? KENAPA KAU HARUS MELAKUKAN INI? KENAPA?!" teriak Devan dengan mata berkaca-kaca.
"A-ku ti-dak in-gin kah ter-luka Dev. Ji..Jika kau yang celaka. La..Lalu bagaimana dengan nasib pasien-pasienmu?" ujar Jesslyn terbata-bata.
"Jangan katakan apapun lagi, kau harus bertahan. Kau harus bertahan!!" ia pun segera mengangkat tubuh Jesslyn yang sudah kehilangan kesadarannya. Dia harus segera dilarikan ke rumah sakit sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
.
.
__ADS_1
Bersambung.