Dokter Cinta Specialis Hati

Dokter Cinta Specialis Hati
Aku Kembali Untukmu


__ADS_3

"Jesslyn,"


Tubuh Devan menegang seketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Raut wajahnya pun berubah saat melihat seseorang yang berdiri disamping gadis itu, dia adalah orang yang sama yang datang menemuinya pagi ini.


Dan muncullah berbagai pertanyaan yang kini memenuhi kepala Devan tentang sosok yang saat ini bersama dengan gadis itu. Siapa dia, dan apa hubungan mereka. Dan seketika Devan teringat dengan kata-kata laki-laki itu jika dia akan menikah dalam beberapa hari ke depan.


Hati Devan terasa perih saat melihat tangan Jesslyn yang terkait pada lengan laki-laki itu.


Bahkan Devan tak bergeming sedikit pun meskipun dia melihat mereka berdua berjalan menghampirinya.


"Ini." Seru Jesslyn sambil menyerahkan sebuah undangan berwarna pink soft pada Devan.


Sedangkan Devan hanya mampu menatap undangan itu dengan gamang, dan dia tak berniat untuk mengambilnya. "Apa ini?" tanya Devan dengan nada dingin dan datar.


"Undangan pernikahan. Aku yakin kau pasti bisa membacanya." Balas Jesslyn.


Bagaikan ada ribuan benda tajam yang menancap di dalam dada Devan setelah Ia mendengar apa yang baru saja Jesslyn katakan.


Seketika itu pula Ia merasa dunianya hancur, dan penantiannya selama dua tahun ini terasa sia-sia setelah mengetahui bila Jesslyn akan segera menikah, smrik tipis tersungging di wajah tampan Devan membuat dahi Jesslyn berkerut heran.


"Jadi kau kembali hanya untuk mengantarkan undangan ini? Terimakasih, tapi aku tidak bisa menerimanya. Tenang saja, aku akan tetap mengucapkan selamat padamu. Selamat Jesslyn Jung, aku turut bahagia untukmu." ujar Devan.


"Eh, apa yang kau katakan? Kenapa kau tidak mau menerima undangan ini? Padahal aku memberikan khusus untukmu, dan apakah kau tidak ingin melihatnya terlebih dulu?" Tanya Jesslyn memastikan.


"Tanpa aku melihat dan membacanya, aku pun sudah tau." balas Devan dingin.


"Apa kau yakin? Kau tidak akan menyesal?" tanya Jesslyn untuk yang kesekian kalinya.


"Memangnya apa yang perlu di sesali, lagi pula semua sudah terjadi." Jawabnya datar.


"Devan,"


"Oh!! Jadi ternyata ini orangnya, dokter dingin dan menyebalkan yang sering sekali kau ceritakan padaku. Pantas saja kau tidak pernah bisa melupakannya, karena ternyata dia sangat tampan. Oya, perkenalkan. Aku Steven, kakak sepupu Jesslyn." ucap orang itu yang ternyata bernama Steven.


Steven mencoba menghilangkan kesalahpahaman di antara Devan dan Jesslyn. "Kakak sepupu!! Jadi kalian berdua..."

__ADS_1


"Makanya, jangan asal menyimpulkan. Dan undangan itu adalah undangan pernikahan dia dan calon istrinya." jelas Jesslyn menyela ucapan Devan.


Devan menatap Jesslyn tak percaya. "Jadi sebenarnya kau dan dia bukanlah pasangan kekasih apalagi calon suami-istri?"


Jesslyn menganggukkan kepalanya. "Ya, kami bersaudara."


"Sepertinya kalian membutuhkan waktu untuk berdua saja, aku akan pergi sekarang. Oya, Dokter Zhang, aku titipkan padamu." Ucap Steven dan berlalu meninggalkan dua orang itu.


Dan selepas kepergian Steven. Terlihat dua laki-laki menghampiri mereka berdua. Mereka adalah Kakek Zhang dan Kris. Mereka berdua kemudian memeluk Jesslyn dengan penuh rasa haru.


"Terimakasih telah kembali untuk kami,Sayang. Devan terutama." ucap Kakek Zhang sambil mengeratkan pelukannya.


"Selamat datang kembali di Korea, adikku yang cantik." ucap Kris seraya melepaskan pelukannya pada Jesslyn.


Gadis itu tersenyum. "Terimakasih, Kris, dan aku sangat bahagia berada disini lagi. Diantara kalian semua." balas Jesslyn dengan senyum merekah.


"Kris, sepertinya mereka butuh waktu lebih untuk saling bisa melepaskan rindu. Bagaimana kalau kita pergi sekarang." usul Kakek Zhang yang kemudian membawa Kris. Keduanya kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Baik-baik ya, kita pergi dulu." seru Kris sambil melemparkan senyum terbaiknya pada mereka berdua.


Selepas kepergian mereka berdua. keheningan juga kebisuan menyelimuti kebersamaan Jesslyn dan Devan, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir keduanya. Mereka bersikap canggung.


"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik." balas Jesslyn.


Devan menolehkan kepalanya dan menatap Jesslyn dengan seksama, tidak ada yang berubah padanya. Dia tetap cantik dan mempesona seperti dulu, Jesslyn yang menyadari tatapan Devan segera menolehkan kepalanya dan membalas tatapan mata itu.


"Aku merindukanmu." ucap Devan tanpa mengakhiri kontak mata diantara mereka.


"Aku juga." balas Jesslyn yang kemudian berhambur kedalam pelukan Devan. "Apa kau bosan menungguku?" tanya Jessica menyambung ucapannya.


"Sama sekali tidak, bahkan hingga detik ini aku masih tetap menunggumu. Karena aku percaya kau akan kembali." jawab Devan lalu melepaskan pelukannya. Lalu matanya terkunci pada mata Jesslyn.


"Tentu saja aku kembali, karena sebagian hatiku tertinggal di sini." Devan tersenyum tipis mendengar kata yang baru saja terlontar dari bibir Jesslyn.


"Jess." panggil Devan dengan suara beratnya.

__ADS_1


Sontak Jesslyn mengangkat wajahnya dari dari dekapan Devan dan memberanikan diri untuk menatap mata hitam milik dokter tampan itu.


"Apa yang ingin aku katakan padamu bukanlah sebuah bualan ataupun gombalan yang sering di ucapan oleh para laki-laki yang di luaran sana, namun sebuah ketulusan yang ada di dalam hatiku yang paling dalam. Karena ketulusan bisa di lihat di dalam perbedaan, kau tau bukan jika aku bukanlah tipe laki-laki yang mudah untuk jatuh cinta." Ucap Devan, Jesslyn mengangguk pelan.


"Sejak hari itu, ada sepasang mata Indah yang membuatku selalu ingin menatap ke dalam matanya, mata Indah yang membuatku jatuh cinta semenjak pertama melihatnya, mata Indah yang membuatku selalu di lemah setiap kali menatapnya. Ada sebuah bibir yang selalu ingin aku lihat senyum terbaiknya."


"Ada seorang gadis yang selalu membuatku kesal namun juga merasa nyaman ketika berada di sampingnya, meskipun gadis itu tidak sebaik kelihatannya. Karna dia telah mencuri hatiku bertahun-tahun tanpa mau mengembalikannya padaku, aku jatuh dalam pesonanya yang sangat luar biasa."


"Senyumnya yang begitu manis, sorot matanya yang begitu teduh. Aku sangat-sangat jatuh cinta pada gadis itu, saat ini, detik ini, di menit ini. Aku ingin mengatakan apa yang seharusnya dulu ku katakan, akan ku utarakan isi hatiku pada gadis yang saat ini berdiri di hadapanku. Dia adalah dirimu, gadis nakal yang sudah merebut hati dan cintaku, Jesslyn Jung. Aku mencintaimu."


Jesslyn terperangah mendengar setiap kata yang baru saja terucap dari bibir Devan, tidak ada kepalsuan apalagi kebohongan yang Ia rasakan. Rasa haru dan bahagia menyelimuti perasaan gadis itu hingga Ia tidak mampu berkata apa-apa. Devan begitu lancar mengucapkan kalimat-kalimat itu, seperti tidak ada perencanaan yang telah di susun sebelumnya.


Jika ada, pasti Ia sudah terbata-bata mengucapkannya, terlebih lagi jika Ia melupakan isi teks yang akan di ucapkannya.


Cinta memang tidak bisa di tebak kapan dia akan datang, dan kapan akan dia pergi.


Jesslyn menangis haru menahan semua rasa yang memenuhi hatinya. Sungguh rasanya Jesslyn tak percaya mendengar Devan si kulkas dua pintu mengungkapkan isi hatinya dan mengatakan jika Ia juga mencintainya.


Jesslyn segera melonggarkan pelukannya pada Devan dan mengangguk pelan.


"Aku juga mencintaimu." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar ucapan Jesslyn membuat senyum Devan mengembang lebar. Dan kembali menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. Devan menyandarkan dagunya pada bahu Jesslyn dan berkali-kali menciumnya.


"Aku mencintaimu, Jesslyn Jung." bisik Devan tepat di telinga kanan Jesslyn.


"Aku juga mencintaimu, Devan Zhang." balas Jesslyn sambil memejamkan matanya, dan membalas pelukan hangat Devan.


Dan kebahagiaan yang Jesslyn rasakan saat ini adalah buah kesabaran yang selama ini Ia tanam. Setelah tersakiti oleh mantan kekasihnya lalu patah hati. Akhirnya Jesslyn dapat memetiknya dan menikmatinya, cerita baru dalam hidupnya.


Baru saja di mulai, rasa sakit yang selama ini terpendam di dalam hatinya akan hilang dan akan tergantikan dengan kebahagian yang berkepanjangan bersama seseorang yang sangat Ia cintai.


Devan Zhang...


.

__ADS_1


.


The End:


__ADS_2