
Peter terus mondar-mandir di depan kamar Jesslyn. Dia sudah menunggu Gadis itu sejak 30 menit yang lalu, tetapi belum ada tanda-tanda jika dia akan keluar dari kamarnya.
Rencananya Peter akan mengajak Jesslyn untuk tinggal bersamanya sekali lagi, meyakinkan padanya jika memang lebih baik ikut tinggal bersamanya. Dan Peter yakin Jesslyn tidak akan menolaknya kali ini.
"Sedang apa kau di depan kamar, Jesslyn?!" bukan Jesslyn yang muncul, melainkan Devan.
Peter menatap Devan dengan terkejut. "Kau!! Kenapa kau keluar dari kamar, Jesslyn? Apa yang sudah kau lakukan padanya?!" tanya Peter sambil menunjuk dokter Tampan itu.
Devan menautkan alisnya dan menatap Peter dengan pandangan menyelidik. "Apa kau bilang? Kamar, Jesslyn? Memangnya sejak kapan kamarku menjadi kamar gadis itu?!" tanya Devan dengan nada sinis.
Peter pun terkejut setelah mendengar jawaban Devan. "A..Apa katamu? Jadi ini bukan kamar Jesslyn tapi kamarmu?! Lalu kenapa semalam aku melihatnya masuk ke kamar ini?!" Peter meminta penjelasan.
"Memangnya itu penting, ya? Sampai-sampai aku harus memberi tahumu?!" Devan berkata dengan sinis.
Peter mendekati Devan dan menarik pakaian yang dia kenakan. "Katakan padaku dengan jujur, apa yang sudah kau lakukan padanya?! Kau pasti melakukan sesuatu yang tidak baik pada, Jesslyn, kan? Benar, kan?! Jawab dengan jujur!!" bentak Peter dengan suara meninggi.
Devan menyentak tangan Peter yang mencengkram pakaiannya dan menatapnya dengan tajam. Dan tatapan Devan membuat Peter sampai menelan salivanya dengan sedikit bersusah payah.
"Berani sekali kau berbicara dengan nada setinggi itu padaku, apa kau belum pernah merasakan bagaimana rasanya sebuah bogem mentah mendarat di wajahmu?!" Devan berbalik menarik pakaian Peter.
"Lepaskan!! Kau membuatku tidak bisa bernafas!!" teriak Peter sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Devan dari kemejanya.
"Ingat baik-baik, jangan coba-coba mencari masalah denganku jika kau tidak ingin menanggung akibatnya!!" ucap Devan dan pergi begitu saja.
Ucapan Devan bukan sekedar ancaman. Karena Peter benar-benar akan berada dalam masalah besar jika berani mencari masalah dengannya. Karena Devan adalah pria yang sangat berbahaya.
Baru saja Peter hendak beranjak dari sana. Tiba-tiba Jesslyn muncul dari kamardi samping kamar Devan. Gadis itu telah rapi dengan balutan dress sepanjang lutut berlengan pendek. Dan Jesslyn sedikit terkejut melihat keberadaan Peter di depan kamarnya.
__ADS_1
"Peter, sedang apa kau di sini?" tanya gadis itu.
"Jess, ada hal penting yang ingin aku katakan denganmu, dan ini tentang pria dingin itu. Dia bukanlah pria baik-baik seperti yang kau kira, dia baru saja mengancamku!! Sangat tidak aman jika kau tetap berada di rumah ini, untuk itu ikutlah bersamaku dan kita tinggal bersama!! Aku mohon padamu, ikutlah pergi bersamaku!!" mohon Peter sambil menggenggam tangan Jesslyn.
Gadis itu menghela nafas panjang. Dengan kasar Jesslyn menyentak tangan Peter yang menggenggam tangannya.
"Apa-apaan kau ini?? Kenapa kau memaksa sekali?! Dan bukannya aku sudah mengatakannya padamu jika aku tidak mau ikut pergi denganmu!! Peter, aku sudah terlalu nyaman tinggal disini. Untuk itu aku tidak ingin pergi!!" jelas Jesslyn menegaskan.
"Tapi, Jess~"
"Jika kau ingin pergi. Ya sudah, pergi saja sendiri. Aku tidak mau!! Karena aku akan tetap tinggal disini bersama kakek dan kedua cucunya itu sampai Mama, Papa pulang dari luar negeri!!" ucap Jesslyn menegaskan.
Jesslyn tak akan meninggalkan tempat yang sudah membuatnya nyaman hanya demi tinggal bersama seseorang yang belum tentu bisa menjaga dan melindunginya.
"Baiklah jika itu keinginanmu. aku harap kau tidak akan pernah menyesali keputusanmu ini, dan jika kau dalam kesusahan jangan pernah mencariku lagi. Jesslyn, kau sudah membuatku kecewa!!!" tandas Peter lalu beranjak dari hadapan Jesslyn dan meninggalkannya begitu saja.
.
.
Cantik dan seksi, adalah salah satu ciri khas Lisa. Tetapi sayangnya prestasi yang dia miliki sebagai seorang dokter tidaklah secantik parasnya.
Beberapa kali Lisa gagal di meja operasi, dan karena kecerobohannya beberapa nyawa harus melayang. Bahkan dia pernah di tuntut oleh pihak keluarga dari korbannya. Mereka tidak terima atas apa yang Lisa lakukan sampai membuat salah satu dari keluarga mereka meninggal dunia sebelum di usahakan.
Tetapi sayangnya keluarga korban akhirnya memilih mengalah dan tidak melanjutkan tuntutannya. Karena mereka sadar jika orang yang mereka hadapi bukanlah orang sembarangan. Dan orang kecil seperti mereka tak mungkin menang menghadapinya.
Banyak yang tidak menyukai Lisa, bukan karena mereka merasa iri padanya karena Lisa berparas cantik ataupun terlahir dari keluarga kaya raya. Tetapi mereka tidak menyukai sikapnya yang suka semena-mena, apalagi pada pasien yang kurang mampu.
__ADS_1
"Cih, dasar tidak tau malu!! Menjadi dokter terburuk sepanjang sejarah di rumah sakit ini saja bangga!! Malah ingin balikan sama Dokter Devan lagi, bagus sekali dia lepas dari ular betina seperti dia" komentar salah satu perawat yang benar-benar tidak suka pada Lisa.
"Jangan keras-keras, bisa-bisa kau ditelan hidup-hidup olehnya!! Lihat saja tatapannya yang seperti ingin memakan orang!!" sahut perawat yang lain.
Tangan Lisa mendengar ucapan kedua perawat tersebut. Rasanya Lisa ingin sekali memberikan pelajaran pada mereka berdua, tetapi jika dia sampai membuat keributan di rumah sakit dan menyebabkan orang lain sampai mengalami cedera, bisa-bisa dia sendiri yang mendapatkan sangsi.
Akhirnya Lisa pun memilih untuk tidak menghiraukan mereka berdua. Lebih baik dia kembali bekerja daripada mengurusi orang-orang seperti mereka.
Tiba-tiba Lisa menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja melihat Devan melintas di lorong bersama Sean. Dan dia pun segera menyusul mereka berdua.
"Devan, tunggu!!"
Dan teriakan itu menghentikan langkah mereka berdua. Keduanya lantas menoleh dan mendapati Lisa menghampiri mereka.
"Lisa," ucap Sean sambil tersenyum. Namun sapaan Sean tak dihiraukan oleh Lisa. Perempuan itu melewatinya begitu saja.
"Minggir kau!!" ucapnya sambil mendorong dada laki-laki itu. Dan Lisa berjalan mendekati Devan. "Mau kopi?" tawar Lisa pada Devan. Namun Devan menolaknya. "Hm, jahat. Kenapa harus di tolak sih? Mau ya," rengek Lisa memohon.
Devan menatap Lisa dengan tatapan dingin dan datar. Apa belum cukup semua penolakan yang dia berikan, dan apakah Lisa sudah kehilangan urat malunya sampai-sampai dia tidak pernah lelah untuk mengejarnya.
"Jauhi aku, dan jangan pernah menggangguku lagi. Aku benar-benar muak dengan perempuan sepertimu!! Jangan hanya parasmu yang kau jaga, tapi harga dirimu juga. Kau sangatlah murahhan, Lisa!!"
.
.
Bersambung.
__ADS_1