Dokter Cinta Specialis Hati

Dokter Cinta Specialis Hati
Taruhan!!


__ADS_3

Langit malam semakin menghitam, ribuan bintang telah menampakkan sinar redupnya sejak beberapa jam yang lalu untuk menemani sang Dewi Malam.


Dan dalam remang malam, terlihat sepasang muda-mudi yang tengah menikmati suasana malam di Sungai Han. Siapa lagi mereka jika bukan Jesslyn dan Devan. Duduk dalam keheningan dan larut dalam pikiran masing-masing.


Sesekali Devan melirik gadis yang duduk di sebelahnya. Jesslyn terus memandang ke depan dengan tatapan penuh kekaguman, warna-warni air mancur di jembatan banpo begitu menarik perhatiannya.


Melihat wajah sumringah gadis itu membuat Devan tak tahan untuk tidak tersenyum, dokter Tampan itu mengurai senyum setipis tisu. Tiba-tiba rasa hangat menjalari perasaannya melihat senyum sumringah Jesslyn.


"Kakek, berniat mencarikan jodoh untukmu. Malam ini rumah kedatangan tiga pemuda asing, yang semuanya datang untuk melamar mu." ucap Devan mengakhiri keheningan.


Sontak saja Jesslyn menoleh dan menatap Devan dengan penuh tanya, dia membutuhkan penjelasan dari ucapan laki-laki itu. "Maksudmu bagaimana?" ia menatap Devan penasaran.


Devan menoleh, matanya terkunci pada mata Hazel milik Jesslyn. "Aku yakin kau tidak bodoh untuk merumuskan makna dari ucapanku!!" ucapnya tanpa mengakhiri kontak mata di antara mereka.


"Ya, aku paham. Sebegitu sayangnya kakek padaku, sampai-sampai dia memikirkan tentang depanku. Kakek tahu saja jika aku baru patah hati beberapa bulan yang lalu, mungkin karena dia tidak ingin aku terus-terusan sendirian makanya berniat mencarikan jodoh untukku." Ujar Jesslyn panjang lebar.


Devan mengangkat bahunya. Pandangannya kemudian lurus ke depan. "Aku tidak tau, mungkin saja itu alasannya mengundang tiga pria asing itu untuk datang." Jawabnya dingin dan datar.


"Devan Zhang, akhirnya aku bisa menemukanmu!!"


Perhatian mereka berdua teralihkan oleh suara itu, sontak keduanya menoleh dan mendapati seorang laki-laki bersama beberapa anak buahnya menghampiri Devan dan Jesslyn. Asing bagi Jesslyn tetapi tidak bagi Devan, karena dia mengenal mereka semua.


Devan bangkit dari posisinya, posisinya dan ketujuh laki-laki itu saling berhadapan, saling menatap dengan dingin dan tajam. "Ada perlu apa kalian datang mencari ku?!" tanya Devan tanpa banyak basa-basi.


"Tentu saja untuk menghabisi mu!! Maju dan habisi dia!!" perintah laki-laki itu pada anak buahnya tanpa banyak basa-basi.


Devan melompat mundur untuk mencari ruang. Dia membutuhkan tempat yang lebih luas agar lebih bebas dalam membantai mereka semua. Sementara Jesslyn tampak terpaku dan terkejut karena insiden itu.

__ADS_1


Hampir berbarengan anak buah laki-laki itu meluruk ke arah Devan. Dengan bersamaan mereka mengirimkan serangan pada Devan yang hanya sendirian. Gerakan mereka berenam cepat, kuat, dan teratur.


Di samping itu, mereka juga mampu melakukan kerja sama yang baik. Mereka tidak kompromi sebelumnya. Tapi masing-masing pihak kirimkan serangan dengan sasaran yang berbeda.


Dua diantaranya melompat dan menerjang Devan laksana harimau menyambar mangsanya dari sisi kanannya. Dua lainnya mengirimkan serangan berupa cengkeraman pada ubun-ubun dan pelipis Devan namun bisa dengan mudah dihindari olehnya.


Sedangkan dua lagi menggulingkan tubuhnya ke depan mendekati Devan yang berkelahi melawan keempat rekannya. Ketika telah berada


dekat si pemuda, dia bangkit seraya melancarkan tusukan jari tangan terbuka ke arah ulu hati dan pusar. Namun sayangnya serangannya gagal.


Devan mendapat serangan berbarengan dari atas dan bawah. Tapi dia tak menjadi gugup karenanya. Devan melempar tubuh ke belakang dan bersalto beberapa kali untuk menjauhkan diri dari keenamnya.


Devan berhasil memupuskan serangan lawan-lawannya. Hal ini membuat mereka berenam semakin blingsatan. Kian kalap. Karena tak menyangka kalau lawan yang mereka serang, ternyata tak selemah seperti yang diperkirakan.


Sementara itu, Jesslyn yang menyaksikan perkelahian tersebut hanya bisa melongo dan menatap


Devan tak percaya. Karena dia tidak menduga jika Devan ternyata memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik, bahkan dari gerakan tubuhnya dan cara dia menghadapi lawan, seseorang yang sudah terlatih dan profesional.


"Bodoh!! Kenapa kalian berdua hanya diam saja?! Cepat maju dan Habis itu dia!!" bentak laki-laki itu dengan emosi.


"Bos, bagaimana jika kami berdua dihajar habis-habisan juga seperti mereka berempat?! Kami tidak ingin bapak keluar apalagi mati sia-sia di tangannya.


"Dasar kalian semua pengecut!! Sia-sia saja aku membayar mahal kalian semua jika tidak berguna!!" teriak laki-laki itu dengan emosi.


Devan mendekati laki-laki itu dan bertanya padanya. "Aku bukanlah tandinganmu. Bertahun-tahun aku memberimu waktu, tapi tetap saja kau tidak bisa mengalahkan ku!! Jika ingin menuntut balas atas apa yang aku lakukan pada kakakmu, sebaiknya kau lebih bekerja keras lagi!!"


Laki-laki itu mengepalkan tangannya dan menatap Devan dengan marah. Ya, bener apa yang Devan katakan, kedatangannya memang untuk membalaskan dendam kakaknya. Karena ulah Devan, kini laki-laki itu menjadi orang cacat dan tak berguna.

__ADS_1


"Ingat, Devan Zhang. Ini masih belum berakhir. Aku pasti akan kembali untuk membalaskan kekalahan ini!!" dia menunjuk Devan sambil berjalan menjauh darinya, diikuti oleh keenam anak buah laki-laki itu. Devan hanya memberi mereka pelajaran dan tidak menghabisinya.


Jesslyn menghampiri Devan untuk memastikan keadaannya. "Apa kau terluka?" tanya Jesslyn mematikan.


Devan menggeleng, meyakinkan pada Jesslyn jika dia baik-baik saja. "Ini sudah larut malam, sebaiknya aku antar kau pulang." Ucap Devan dan dibalas anggukan oleh Jesslyn.


Keduanya kemudian meninggalkan sungai Han.


.


.


"Kakek, untuk apa semua itu?"


Kakek Zhang menoleh setelah mendengar suara Kris masuk dan berkaur di telinganya. Kakek Zhang tersenyum lebar. "Bagus kau belum tidur. Kris, bantu aku menyiapkan kejutan untuk Devan dan Jesslyn. Kakek, berencana untuk menjodohkan mereka berdua."


"Lalu untuk apa semua balon dan hiasan-hiasan ini?!" Kris menatap Kakek Zhang dengan bingung.


"Kau itu bodoh atau apa, sih? Tentu saja untuk membantu Devan. Kakek, melihat Devan sangat tertarik pada Jesslyn, dan untuk itu Kakek ingin membantunya. Dan menyatakan cinta pada seorang gadis, tentu saja harus romantis."


Kris tersenyum kaku. "Tapi aku tak yakin Devan mau melakukannya, Kakek tahu sendiri kan dia seperti apa?! Dan aku berani menjaminnya jika Devan akan langsung menolaknya!!"


Kakek Zhang menggelengkan kepala. "Dia pasti mau!! Dan Kakek berani menjamin itu. Atau kau mau bertaruh? Jika kau yang menang, maka Kakek akan menjadi babumu selama satu Minggu. Tapi jika kau yang kalah, kau harus membawa Kakek jalan-jalan keliling, Eropa. Bagaimana?" Kakek Zhang menantang Kris.


Dengan mantap Kris menganggukkan kepalanya. "Oke, aku setuju!!"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2