
Laki-laki itu masih terduduk lemas dengan penuh rasa cemas dan khawatir di sebuah ruangan. Sesekali mata hitamnya yang dingin menatap pada pintu bercat putih di hadapannya, sudah hampir 3 jam Ia bertahan dalam posisinya.
Dan selama itu pula tidak ada tanda-tanda satu pun suster maupun Dokter yang keluar dari dalam ruangan itu, hingga laki-laki itu 'Devan' tidak tau bagaimana keadaan Jesslyn di dalam sana.
Seharusnya Devan yang memimpin operasi Jesslyn, tetapi dia tidak mau melakukannya karena saat ini pikirannya sedang kacau. Devan tak ingin semakin membahayakan nyawanya jika dia tetap memaksakan diri.
"Tuhan, aku mohon selamatkan dia. Jangan kau renggut dia dari sisiku," lirih Devan dengan suara parau nya.
Devan memejamkan matanya saat netranya mulai memanas hingga tanpa di sadari cairan-cairan kristal bening mengalir dari pelupuk matanya yang kemudian jatuh membasahi wajah tampannya. Ia takut, bukan? Tapi sangat-sangat takut bila Dokter tidak bisa menyelamatkan nyawa Jesslyn.
Gadis itu terluka demi melindunginya, dan Devan tak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpanya. Dan ini pertama kalinya ada seseorang yang rela mati untuknya. Dan orang itu sedang terbaring dan bertaruh dengan maut seorang diri di dalam sana.
Terdengar derap langkah. Terlihat Kakek Zhang dan Kris menghampiri Devan. Mereka segera pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Devan tentang apa yang Jesslyn alami. Sementara itu, kedua orang tua gadis itu masih di perjalanan. Kebetulan sekali mereka memang sedang dalam perjalanan pulang dari luar negeri.
"Devan, bagaimana keadaan Jesslyn?" tanya Kakek Zhang.
Devan menggelengkan kepalanya. "Aku sendiri tidak tau. Kakek, bagaimana jika dia tidak selamat? Sungguh, aku tidak siap bila harus kehilangannya. Dan gadis bodoh itu, kenapa dia sampai senekat itu?" Ujar Devan yang mulai tidak bisa berfikir jernih.
"Dia melakukan itu bukan tanpa alasan, Dev." Ucap Kakek Zhang. "Jesslyn, tidak ingin kau sampai terluka. Makanya dia merelakan tubuhnya tertusuk piisau itu. Dan alasan lain adalah karena dia care padamu. Kalian sering bersama, ada kemungkinan besar jika dia mulai menyukaimu. Dan orang yang sedang jatuh cinta itu sangat nekat dan bisa berbuat apa saja." ujar Kakek Zhang panjang lebar.
Dan Devan hanya mampu terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh kakeknya. Lidahnya terasa keluh hingga Ia tidak mampu mengatakan sesuatu. Perasaannya bercampur aduk, sedih, takut, cemas dan khawatir semua bercampur menjadi satu.
Devan menutup matanya, setetes kristal bening mengalir dari sudut matanya dan membasahi pipinya. Melihat Devan yang tiba-tiba meneteskan air mata membuat Kakek Zhang dan Kris sangat yakin bila Jesslyn sangat berarti baginya.
__ADS_1
Kris mendekati adiknya lalu menepuk bahu kanan Devan. "Berdoa saja untuk keselamatannya. Dia dan orang-orang di dalam sana sama-sama berjuang. Jangan sampai Jesslyn melihatmu seperti ini." Ucapnya menasehati.
Hampa... tidak ada tanggapan dari Devan. Dokter tampan itu diam seribu bahasa dan tak mengatakan apa-apa.
Kenapa hatinya harus sesakit ini?Mungkinkah secara tidak sadar Devan telah jatuh cinta pada Jesslyn? Devan menutup matanya rapat-rapat. Sekali lagi dia bersumpah tak akan memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa Jesslyn.
Devan mengusap wajahnya dengan kasar. Laki-laki itu menunduk dalam posisi duduknya, tidak ada lagi yang tersisa dalam hati Devan saat ini. Selain penyesalan yang mendalam.
Devan, Kakek Zhang dan Kris segera beranjak dari posisinya setelah melihat ruang operasi terbuka. Seorang pria lengkap dengan pakaian serba putihnya terlihat keluar dari dalam ruangan itu. Devan segera menghampiri orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Sean.
"Sean, bagaimana keadaannya??" Tanya Devan tanpa banyak basa-basi.Alih-alih menjawab pertanyaan Devan. Sean malah terus menatapnya dengan pandangan sendu. Dan hal itu membuat perasaan Devan menjadi tidak enak. "Jawab aku, Sean!!"
Sean menghela napas. "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawanya. Tusukan itu sampai menembus jantungnya, dan harapan dia bertahan hidup hanya 20 % saja." Jelas Sean dengan suara berat. Rasanya dia tidak sanggup mengatakan kabar menyakitkan ini pada Devan.
Sean menganggukkan kepalanya. "Ya, dan kami semua sudah angkat tangan dengan keadaannya. Jika pun dia bertahan, itu karena keajaiban, Tuhan!! Hanya keajaiban yang membuatnya bertahan."
Devan terhuyung lemas ke belakang, dan tubuhnya menabrak tembok dengan cukup keras hingga menimbulkan rasa sakit pada punggungnya, namun Ia tidak terlalu menghiraukannya.
Kemudian Devan merosokan tubuhnya pada ubin lantai rumah sakit yang dingin dan keras, kedua mata hitamnya kembali berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak hingga membuat nafasnya tercekat.
Jawaban yang baru saja di berikan oleh Sean bagaikan pukulan keras untuk Devan, dadanya bergemuruh menahan rasa sakit yang kini menggerogoti perasaannya. Devan sangat tidak siap jika harus kehilangan seseorang yang sangat berarti untuknya. Dan bodohnya dia baru menyadari seberapa penting Jesslyn untuknya setelah kejadian hari ini.
"Dev," panggil Kakek Zhang sambil mencengkram bahu Devan.
__ADS_1
Devan mengangkat wajahnya dan menatap Kakek Zhang dengan hancur. " Bagaimana Kek? Bagaimana bila dia tidak bisa bertahan? Apakah aku siap jika harus kehilangannya?" Kedua mata Devan sudah penuh dengan air mata yang kemudian berjatuhan membasahi wajah tampannya.
Disaat seorang laki-laki meneteskan air matanya. Itu artinya hatinya sedang hancur dan rapuh.
"Apa yang kau katakan, Devan Zhang? Ketakutanmu tidak akan terjadi, Jesslyn pasti akan selamat. Dia akan selamat." Ucap Kris penuh keyakinan.
"Untuk itu kami memutuskan untuk membawa Jesslyn ke luar negeri dan melanjutkan pengobatannya di sana." Sahut seseorang paruh baya yang tidak lain adalah orang tua Jesslyn.
"Paman Jung, Bibi Elina." Seru Kris, sementara Devan memilih untuk tetap diam.
"Kami tidak bisa membiarkan nyawa putri kami satu-satunya berakhir begitu saja. Itulah kenapa kita berdua akan membawa Jesslyn ke luar negeri malam ini juga." Imbuh nyonya Elina yang seakan mengerti arti tatapan yang Devan, Kris dan Kakek Zhang berikan.
Jesslyn adalah Putri mereka satu-satunya. Dan sebagai orang tua, mereka tentu tidak akan membiarkan hal buruk sampai menimpa putrinya. Dan apapun akan mereka lakukan untuk menyelamatkan nyawa Jesslyn, karena jika Jesslyn sampai tidak selamat, maka mereka berdua akan kehilangan lentera hidupnya.
"Jika itu memang yang terbaik dan satu-satunya jalan agar nyawa Jesslyn bisa di selamatkan, kami bertiga hanya bisa pasrah dan menurut saja." Ucap Kakek Zhang menyikapi keputusan orang tua Jesslyn.
Baik Kakek Zhang maupun kedua cucunya tak ada yang bisa menghalangi keputusan orang tua Jesslyn. Apalagi itu demi keselamatannya, dan mereka hanya bisa pasrah asalkan Jesslyn bisa selamat.
.
.
Bersambung
__ADS_1