Dokter Cinta Specialis Hati

Dokter Cinta Specialis Hati
Tunggulah Aku


__ADS_3

"Dokter Zhang,"


Devan menghentikan langkahnya setelah Ia mendengar suara seseorang memanggilnya. Sontak Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok Mia dan seorang laki-laki yang Rey ketahui bernama Mark berjalan kearahnya.


"Oh, kau rupanya. Ada apa?" tanya Devan dengan suara dingin dan datar.


"Tumben sekali kau berada di luar rumah sakit di jam segini. Biasanya Dokter selalu menyibukkan diri dengan bekerja." Ucap Mia penuh keheranan.


Entah sejak kapan mereka berdua menjadi sedikit akrab. Padahal sebelumnya mereka tak saling mengenal sama sekali. Devan yang menemui Mia terlebih dulu untuk mencari informasi tentang Jesslyn meskipun hasilnya selalu nihil.


"Hn, kebetulan aku mau pulang. Kalian sendiri mau kemana?" Devan sedikit berbasa-basi.


"Kencan." balas laki-laki yang berdiri disamping Mia dengan kencang. "Aku dan dia telah resmi berkencan. Makanya aku ingin membawanya jalan-jalan." Lanjut Mark dengan semangat. Alhasil dia mendapatkan sebuah cubitan dari Mia. "Sakitt!! My Honey Bunny Sweetie, kenapa kau malah mencubitku?" protes Mark.


"Kau memalukan!! Dokter, maafkan tingkahnya yang sedikit kekenakan. Dia memang seperti bocah." Ucap Mia. Dia benar-benar merasa malu atas kelakukan kekasihnya.


Tiba-tiba saja Devan terdiam. Kembali dia menatap Mia dengan. "Apa kau sudah mendapatkan kabar dari, Jesslyn?" tanya Devan.


Mia menggeleng kepala ."Belum," jawab Mia. Wajahnya terlihat sendu.


Raut wajah Devan berubah seketika setelah mendengar jawaban singkat Mia. Sorot matanya yang awalnya dingin menjadi redup seketika, Ia sudah menduganya bila Mia akan memberikan jawaban yang sama. Dia tidak tau tentang keberadaan gadis itu.


"Maaf, Dokter. Kami harus pergi sekarang." Ucap Mia kemudian beranjak dari hadapan Devan.


Tanpa sepengetahuan Devan, seorang gadis tengah memperhatikannya. Seorang gadis yang saat ini bersembunyi di balik pohon yang tidak jauh dari tempat Mia dan kekasihnya berdiri.

__ADS_1


Gadis itu menekan dadanya yang terasa berdenyut sakit. Hingga membuat cairan-cairan bening menetes dari pelupuk mata Indahnya, Ia tidak menyangka meskipun 2 tahun telah berlalu. Ternyata dokter tampan itu masih mengingat dirinya bahkan mungkin menunggunya.


"Tunggu aku Dev, aku akan segera kembali untukmu." ucapnya dan kemudian berlalu dari tempat itu.


.


.


Hampir tengah malam devan tiba di kediaman Zhang. Beberapa pelayan yang masih terjaga terlihat membukukan tubuhnya, menyambut kepulangan Tuan Muda mereka. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Devan, dia hanya menganggukkan kepala menyikapi sapaan mereka.


Devan melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dia sangat lelah dan ingin segera beristirahat, operasi besar hari ini tak hanya menyita waktunya saja, tetapi tenaga dan energinya juga.


Ting...


Sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya menghentikan langkah Devan. Ada satu pesan masuk dari nomor asing, nomor yang sama yang mengirimnya pesan siang tadi. Devan membuka pesan tersebut.


Devan menautkan alisnya setelah membaca pesan singkat tersebut. Dokter Tampan itu mengangkat bahunya lalu memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya. Dia tidak tahu siapa yang mengirim pesan singkat padanya, tapi depan tak mau ambil pusing. Menurutnya itu tidaklah penting.


.


.


Sang penguasa malam telah meninggalkan peraduannya. Posisinya kini digantikan oleh sang raja siang.


Sang mentari telah merangkak naik menuju singgasananya.

__ADS_1


Disebuah bangunan mewah nan megah yang memiliki tiga lantai. Terlihat beberapa orang tengah berlalu lalang untuk memulai pekerjaan. Padahal jam dinding baru saja menunjuk angka 05.30 pagi, tetapi mereka sudah sangat sibuk.


Salah satu pintu kamar di lantai dua terbuka dari dalam. Seorang laki-laki tampan keluar dari dalam sana sudah lengkap dengan penampilan rapinya. Orang itu 'Devan' harus berangkat pagi-pagi sekali ke rumah sakit karena dia baru saja mendapatkan telfon jika ada seorang pasien yang membutuhkan perawatan darinya.


Devan melewatkan sarapannya bersama Kakek dan yang lain. Dia tidak bisa ikut sarapan bersama mereka karena panggilan pekerjaan yang tak bisa ditunda. Tak sampai tiga puluh menit, Devan tiba di rumah sakit tempatnya bekerja dan langsung menuju ruang prakteknya.


Seorang laki-laki telah menunggu Devan di ruangannya. "Apa keluhan Anda, Tuan?" tanya Devan setelah duduk berhadapan dengan laki-laki itu.


"Dua hari lagi aku akan menikah, sementara ada masalah dengan tubuhku dan aku ingin sehat sebelum hari h tiba." Ucapnya.


"Kita lakukan pemeriksaan terlebih dulu." Ucap Devan seraya bangkit dari kursinya.


Laki-laki itu diminta berbaring olehnya. Dan ketika Devan melakukan pemeriksaan, dia tak menemukan gejala apapun apalagi penyakit yang berbahaya. Sedangkan laki-laki itu mengatakan ada masalah dengan tubuhnya.


"Dokter, apa kau sudah menikah?" pertanyaan yang keluar dari bibir laki-laki itu menghentikan gerakan tangan Devan.


Kemudian Devan mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu dingin dan datar."Kenapa kau ingin tahu tentang masalah pribadiku? aku sudah menikah ataupun belum, apa hubungannya denganmu?"


Laki-laki itu menggelengkan kepala. "Ya, memang tidak ada. Tetapi ada seseorang yang benar-benar ingin tahu apa kau sudah menikah atau belum," ucap laki-laki itu.


"Aku sudah menikah ataupun belum, itu tidak ada hubungannya denganmu ataupun orang itu. Kondisimu baik-baik saja dan kau boleh pergi sekarang," ucap Devan dengan dingin dan datar.


Daripada dia mengurusi orang yang tidak jelas. Lebih baik lanjut bekerja, karena masih banyak orang yang harus dia tangani dan periksa kondisinya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2