
Di sore yang cerah, cuacanya juga terlihat begitu bersahabat dan menenangkan hati. Seorang laki-laki dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dengan kemeja putih polos dan Vest V-Neck hitam melekat di tubuh kekarnya. Duduk seorang diri di bangku taman sambil menatap langit sore.
Rambut coklatnya terlihat sedikit berantakan karena hembusan angin senja yang cukup kencang, mata hitamnya yang dingin menatap lurus ke depan dengan pandangan datar. Tak ada eskpresi apapun yang terlihat dari sepasang mata itu.
Duduk sendiri di taman ketika sore tiba adalah hal yang sangat tak biasa. Karena biasanya dia hanya akan menghabiskan waktunya di rumah sakit dan berkutat dengan peralatan medis. Namun hari ini dia ingin melihat pemandangan senja yang membuatnya mendapatkan ketenangan hati.
Ia juga bisa menatap langit yang tenang, di tambah dengan kicauan burung yang berada di atas dahan.
"Sudah dua tahun kau pergi meninggalkanku Jess. Mungkinkah kau masih mampu bertahan hingga saat itu, atau kau justru menyerah dan pergi untuk selamanya? Jess, aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu." ucap laki-lak itu yang tak lain dan tak bukan adalah Devan.
Devan memejamkan matanya dan mencoba memutar memorinya bersama Jesslyn. Memang tak banyak memori berkesan yang dia miliki dengan gadis itu. Namun ada satu moment yang selalu Devan ingat hingga detik ini. Yakni awal pertemuan mereka berdua.
Flashback:
"Dokter, aku baru saja patah hati. Bisakah kau menyembuhkan hatiku dan menyambungnya kembali?!"
Sontak Devan mengangkat wajahnya dan menatap gadis itu dengan pandangan yang sama, datar. "Anda salah tempat, Nona. Ini bukan tempat reparasi hati. Jadi pergilah dan cari tempat lain saja!!"
"Maksudku sembuhkan lukaku dengan wajah tampanmu itu!!"
Devan menghela napas panjang. "Kau semakin tidak jelas. Pergilah, kau menggangguku bekerja!!" dan akhirnya dia mengusir gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jesslyn.
Bukannya pergi seperti yang Devan minta. Jesslyn malah tetap Stay di sana. Dia menatap dokter muda itu dengan kesal.
"Bukanlah kau itu seorang, Dokter. Dan apakah menurutmu mengusir pergi seorang pasien yang datang untuk berobat itu pantas?!" ucap Jesslyn dengan tatapan menantang.
Devan mengangkat kembali wajahnya dan menatap gadis itu dengan tatapan yang sama, datar. "Selagi kesabaranku masih normal, sebaiknya kau pergi sekarang!! Jangan memaksaku untuk mengusirmu pergi dari sini dengan cara yang tidak sopan!!"
Kedua mata Jesslyn tiba-tiba berkaca-kaca."Hiks, kenapa hari ini semua orang begitu jahat padaku. Sahabat dan Kekasihku mengkhianatiku, padahal aku ini adalah orang yang setia. Aku tidak pernah mendua, dan selalu bersikap baik padanya."
__ADS_1
"Tetapi dengan entengnya dia mengatakan jika sudah tidak nyaman lagi denganku. Dan sekarang, ketika aku ingin menyembuhkan hatiku yang patah, malah diusir pergi. Kenapa begini amat nasibku?!"
Devan menghela nafas. "Jika ingin curhat, kau salah memasuki ruangan. Harusnya kau pergi bagian psikolog!!"
Jesslyn menggeleng. "Aku tidak mau!! Bukankah kau dokter spesial hati, jadi bukannya sudah benar Aku datang padamu?! Karena Aku memiliki masalah dengan hati, Jadi hanya kau yang bisa membantuku!! Dokter, sembuhkan penyakit hatiku ini!!"
Devan menghela napas. Sebenarnya Mimpi Buruk apa yang dia alami semalam, sampai-sampai dia harus bertemu dengan perempuan aneh dan tidak jelas seperti Jesslyn. Dan dia berhasil membuat Devan kesal setengah mati.
"Pekerjaanku masih banyak, sebaiknya kau pergi sekarang juga, atau aku akan memanggil security untuk mengusirmu!!" ancam Devan bersungguh-sungguh.
Jesslyn menatap Devan dengan pandangan memelas. "Kau benar-benar Dokter yang sangat kejam dan tidak berhati. Mana ada dokter sepertimu, yang membiarkan pasiennya kesakitan?!"
"Tapi kau bukan pasienku!!" Devan menyela cepat.
"Tapi mulai hari ini aku akan menjadi pasienmu!!"
"Memangnya siapa yang menyetujui keputusanmu itu?! Disini aku adalah hakimnya, dan aku yang berhak menentukan kau diterima atau tidak!! Dan aku memutuskan untuk tidak meladeni pasien aneh sepertimu!!"
Devan mengusap wajahnya dengan kasar. Kesabarannya benar-benar diuji sekarang. Jesslyn tak hanya menguji kesabarannya saja, tetapi mentalnya juga.
kemudian pria itu mengambil napas panjang.
"Baiklah, kau boleh datang lagi esok hari. Dan sebaiknya sekarang kau pulang dulu, karena aku masih harus melayani pasien-pasienku yang lain!!" ucap Devan dengan berat hati.
Jesslyn tersenyum lebar. "Kenapa tidak dari tadi saja mengambil keputusan yang benar. Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi besok aku akan kembali, sampai bertemu lagi dokter tampan!!" Jesslyn menyambar tasnya dan pergi begitu saja.
Flashback End:
Devan tersenyum miria mengingat kejadian itu. Pertemuan pertemuan mereka benar-benar membuat Devan makan hati. Namun siapa yang menduga jika si menyebalkan itu yang akhirnya membuatnya merasakan jatuh cinta lagi.
__ADS_1
"Jess, kau telah menang. Setelah membuatku jatuh cinta, cemburu, dan sekarang kau membuatku merindukanmu."
Hari demi hari yang Devan lewati tanpa gangguan Jesslyn terasa begitu berat. Dia sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya, dan Devan merasakan hidupnya sepi dan hampa tanpa adanya canda tawa dan tingkah jail gadis itu.
Devan telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap menunggunya walaupun Ia sendiri tidak tau gadis itu akan kembali atau tidak, dan Devan tidak pernah menyesali pilihannya. Sampai sang gadis kembali padanya.
Srettt...
Devan sedikit terkejut saat melihat sebuah kapal kertas mendarat mulus di bawah kedua kakinya, terlihat Devan membungkukkan tubuhnya dan mengambil kapal kertas itu.
°° Tanpaku, apa kau merasa kesepian?°°
Devan mengerutkan dahinya membaca isi dalam tulisan itu, tetapi tidak ingin terlalu ambil pusing. Devan meremas kertas tersebut dan membuangnya begitu saja.
Srettt....
°°Hei kau, aku yakin kau tidak buta huruf. Kenapa kau mengabaikan suratku dan membuangnya?! Tapi bolehkan aku menemanimu?°°°
Devan mendengus kesal, Ia memperhatikan sekeliling. Namun ia tidak mendapati siapa pun di sana, lantas Ia beranjak dari duduknya dan mulai menyalurkan kekesalannya.
"Hei, kau yang mengirim surat ini, keluarlah dan tunjukkan batang hidungmu jika kau berani. Jangan hanya menjadi pengecut." Teriak Devan, namun tidak ada sahutan apalagi balasan. Laki-laki itu mendengus
Mungkin lebih baik aku pergi saja. Ketenangannya telah terusik oleh orang iseng tersebut. Kemudian Devan melangkahkan kakinya dan bermaksud meninggalkan taman, sampai Ia melihat sosok gadis yang saat ini berdiri sekitar 5 meter di hadapannya.
Devan membeku melihat sosok itu membuat dia tidak mampu bergerak sama sekali, Ia merasa seperti ada sebuah batu besar yang terikat pada kakinya hingga membuatnya tidak mampu bergeming dari tempatnya.
"Jesslyn,,,"
.
__ADS_1
.
Bersambung.