
"Bibi, apa toko bunga ini membutuhkan tenaga kerja? Jika Iya aku ingin mengajukan diri sebagai pekerja disini, tidak dibayar pun tidak masalah yang penting aku memiliki kerjaan. Aku sangat bosan jika setiap hari hanya diam saja di rumah dan kelayapan tidak jelas,"
Entah karena kurang kerjaan atau bagaimana, tiba-tiba Jesslyn mendatangi sebuah toko bunga yang tak jauh dari rumah sakit tempat Devon bekerja. Gadis cantik itu melamar untuk menjadi pegawai di sana, bahkan dia mengatakan tidak dibayar pun tidak masalah asalkan bisa bekerja dan memiliki kegiatan daripada diam saja.
"Nak, jadi kau melamar kerja karena bosan, sebab tidak memiliki pekerjaan?" jesslyn menganggukkan kepalanya. Tapi bagaimana bisa begitu, dimana-mana orang yang bekerja itu dibayar, kenapa kau malah mau melakukannya dengan cuma-cuma?" wanita itu menatap Jesslyn dengan bingung.
Gadis itu menghembuskan nafas. "Bibi, sebenarnya aku ini adalah seorang Nona muda dari keluarga ternama. Aku juga lulusan dari universitas terbaik luar negeri, aku bisa saja melamar di perusahaan besar dengan gaji yang tinggi."
"Tapi jika aku melakukannya dan mendapatkan penghasilan sendiri, lalu siapa yang akan menghabiskan harta kedua orang tuaku yang yang tidak akan habis sampai tujuh turunan. Sementara Putri mereka hanya aku sendiri, aku ingin bekerja disini secara cuma-cuma karena ingin memiliki kegiatan daripada diam. Bibi, boleh ya." Pinta gadis itu memohon.
Paruh baya itu tak lantas menjawab. Dia tidak mengatakan Iya ataupun tidak pada Jesslyn. Wanita itu benar-benar bingung harus menerimanya atau tidak.
Tidak mungkin dia mempekerjakan seseorang tanpa bayaran. Tetapi jika dia menerimanya, Takutnya malah tidak bisa membayar gadis itu. Mengingat toko bunganya hanyalah toko kecil yang pelanggannya hanya orang-orang dari kalangan menengah ke bawah. Wanita itu benar-benar bingung harus bagaimana.
"Bibi, apa yang kau pikirkan? Kau hanya perlu mengatakan iya atau tidak, jika kau menerimaku aku akan langsung bekerja ini juga, tetapi jika kau menolakku Aku akan pergi sekarang juga. Jadi Bibi tentukan sekarang," pinta Jesslyn.
Dan setelah cukup lama bergulat dengan pikirannya, akhirnya wanita paruh baya itu mengijinkan Jesslyn untuk bekerja di toko bunganya. Dengan catatan, dia akan membayarnya dengan gaji yang kecil, sesuai sesuai anggaran pendapatan toko bunganya setiap bulan.
Jesslyn akan mendapatkan 30% dari seluruh pendapatan tokonya setiap bulannya, Jesslyn menyetujuinya. Dan tentu saja Jesslyn sangat bahagia karena Bibi pemilik toko bunga itu mau menerimanya bekerja.
Dan sesuai apa yang Jesslyn katakan tadi, dia akan mulai bekerja hari ini. Bibi pemilik toko itu pun merasa senang, karena dia tidak sendirian lagi, ada orang yang membantunya sekarang.
.
.
'Ting...'
Perhatian Devan teralihkan dari data-data pasiennya setelah mendapatkan pesan singkat dari Jesslyn. Devan tidak tahu apa maksudnya, Jesslyn mengirimkan foto sebuah toko bunga dengan sebuah kata 'Aku disini'
__ADS_1
Devan tidak mengerti apa maksud dari foto dan pesan singkat itu. Toko bunga, aku disini? Ucapan Jesslyn penuh ambigu dan membingungkan. Penasaran Apa maksud gadis itu, Devan pun memutuskan untuk menghubunginya. Tetapi panggilannya tak diangkat olehnya.
"Ck, kenapa malah tidak diangkat? Dasar gadis ini," geram Devan. Dia mencoba menghubungi Jesslyn sekali lagi, tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban. Panggilannya tidak di terima oleh gadis itu.
Ting...
Kemudian sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya, dan itu dari Jesslyn. Dalam pesan singkat itu, dia memberitahu Devan jika dirinya saat ini sedang sibuk dan tidak bisa menerima panggilan telepon.
"Sebenarnya ada apa sih dengan gadis ini? Benar-benar ada yang tidak beres!!"
Mengabaikan gadis itu, Devan kembali fokus pada pekerjaannya agar malam ini dia tidak pulang terlalu larut. Devan tidak berencana untuk lembur.
.
.
Dia tidak ingin dihentikan, dia tidak butuh perhatian dan belas kasihan dari orang lain karena yang Lisa butuhkan adalah Devan. Tetapi pria itu tidak peduli sama sekali.
"Devan, Brengsekk!!" teriak Lisa dengan keras.
Entah penyesalan seperti apa penyesalan yang dia rasakan saat ini, dan entah apa alasan dia ingin Devan kembali padanya, jelas-jelas Lisa lah yang meninggalkan Devan lebih dulu dan berselingkuh dengan laki-laki lain. Tetapi sekarang dia juga yang menyesal dan ingin kembali pada Devan.
Mata Lisa tertuju pada pecahan vas bunga yang ada di lantai. Lisa mengambil benda itu lalu mengarahkannya ke pergelangan tangannya.
"Jika dia tidak mau menerimaku kembali, lebih baik aku mati saja!!" baru saja Lisa menggoreskan pecahan vas bunga itu ke pergelangan tangannya, buru-buru ia membuang kembali benda runcing tersebut karena rasanya sangat menyakitkan.
"Sial!! Kenapa rasanya sangat sakit. Tidak boleh, aku tidak harus mati. Karena aku masih harus berjuang untuk mendapatkan dia kembali. Devan hanya milikku, dan selamanya hanya akan menjadi milikku!! Milik Lisa!!"
.
__ADS_1
.
Suara hujan ditengah malam yang sunyi bergemuruh , kilatan petir menambah seramnya kota Seoul malam ini. Jalanan kota yang biasanya rame , malam ini terlihat agak sepi karena hujan deras dan waktu memang sudah hampir tengah malam saat ini.
Disebuah ruangan dengan aroma khas yang menyengat. Terlihat seorang laki-laki dengan sebuah kacamata yang bertengkar di hidung mancungnya berdiri memandang derasnya hujan yang turun dari dinding kaca di ruangannya.
Helaan napas berkali-kali keluar dari bibirnya. Karena hujan yang turun tiba-tiba, dia harus terjebak di rumah sakit sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Ada kemungkinan Hujan akan turun semalaman.
Bisa saja dia pulang dengan menerjang hujan tetapi itu sangat beresiko, karena ketika hujan turun pandangan saat mengemudi juga akan berkurang. Dan hal itu seringkali menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
Ketukan pada pintu sedikit menyita perhatiannya, selang beberapa detik Pintu itu terbuka dan menampilkan seorang pria tampan bertubuh tinggi serta berkulit putih berjalan menghampirinya. Ditangannya memegang dua cup kopi yang salah satunya dia berikan pada laki-laki itu yang pastinya adalah Devan.
"Hujan semakin deras, apa malam ini kau akan bermalam disini?" tanya laki-laki itu yang pastinya adalah Sean.'
Devan mengangkat tahunya. "Entah, tapi sepertinya begitu. Hujannya terlalu lebat dan akan sangat berbahaya jika aku memaksakan diri untuk berkendara pulang," jawabnya.
Demi cari aman, Devan memutuskan untuk bermalam di rumah sakit. Selain karena sudah larut malam dan ditambah lagi hujan yang sangat lebat, kebetulan Devan juga sudah sangat lelah dan dia malas berkendara.
"Lalu bagaimana denganmu?" steven menatap sekilas kearah Sean.
"Ya, sama denganmu. Malam ini aku akan bermalam disini juga," jawabnya.
Baik Devan maupun Sean, mereka sama-sama belum memiliki pasangan hidup. Kecuali keluarga terdekatnya, jadi tidak akan ada yang mengkhawatirkan mereka meskipun mereka tidak pulang.
.
.
Bersambung.
__ADS_1