Dokter Cinta Specialis Hati

Dokter Cinta Specialis Hati
Hadiah Kecil Untuk Devan


__ADS_3

Usai menyantap makan siangnya. Devan kembali bekerja, sementara Jesslyn pergi entah kemana. Bahkan Dokter tampan itu tak menanyakan ke mana Gadis itu akan pergi. Menurutnya itu bukanlah urusannya.


Saat ini Devan sedang berada di salah satu ruangan pasiennya, dia sedang memeriksa keadaan pasien yang baru saja menjalani operasi tiga hari yang lalu.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanya seorang laki-laki paruh baya pada dokter muda di depannya.


"Keadaannya sudah mulai stabil. Luka bekas operasinya juga sudah mulai mengering, jika kondisinya semakin membaik akhir pekan ini Nyonya Wang sudah boleh untuk pulang." Jelas Devan.


"Syukurlah, syukurlah." Laki-laki paruh baya itu tak henti-hentinya mengucap syukur setelah mengetahui kondisi istrinya saat ini.


Dia sempat merasa takut ketika melihat kondisi istrinya yang semakin menurun. Tetapi berkat tangan ajaib Devan, akhirnya nyawa istrinya berhasil terselamatkan.


"Terima kasih, Dokter. Terima kasih, Dokter. Jika bukan karena Anda dan mukjizat dari, Tuhan. Mungkin saja saat ini kami telah kehilangannya." ucap laki-laki paruh baya itu. Bahkan berkali-kali dia mengucapkan terima kasih pada Devan.


"Sama-sama, Tuan. Sebagai tim medis, kami selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa pasien. Dan operasi itu tidak akan berhasil tanpa doa dari kalian para keluarga, dan mukjizat dari, Tuhan!!" ucap Devan.


Devan menepuk bahu laki-laki itu dan meninggalkannya begitu saja. Dia masih harus memeriksa pasien lain.


.


.


Mia dan Jesslyn sedang berada di pusat perbelanjaan. Jesslyn sedang menemani Mia untuk berburu barang-barang branded yang sedang banting harga. Seperti perempuan pada umumnya, mereka berdua adalah pemburu diskon.


Saat ini Mall sedang dipadati oleh kaum hawa, mulai dari remaja sampai ibu-ibu yang telah berkeluarga pun ada. Apalagi tujuan mereka datang ke Mall jika bukan untuk berburu diskon, seperti halnya mereka berdua.


Berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Kali ini Jesslyn tak terlihat antusias sama sekali. Dia terlihat seperti malas-malasan, berbeda dengan Mia yang begitu antusias.


"Ayolah, Jess. Sebenarnya ada apa denganmu hari ini? Kita ke sini untuk bersenang-senang, dan aku sudah bosan melihat muka jelekmu itu!!" cibir Jia yang mulai kesal dengan sahabatnya tersebut.


"Salahmu sendiri, siapa suruh kau memaksaku datang kemari, jelas-jelas aku sedang tidak mood untuk berbelanja!! Aku lagi malas!!" ucapnya.

__ADS_1


"Wow, benar-benar sebuah prestasi yang sangat mengejutkan. Seorang, Jesslyn Jung, tiba-tiba malas diajak berbelanja?! Ini benar-benar tak masuk akal!!" ucap Mia seraya menatap Jesslyn tak percaya.


Jesslyn memutar matanya jengah. Dia sendiri tidak tau, karena tak biasanya dirinya bersikap seperti ini. Mungkin saja karena pertengkarannya dan Peter tadi pagi, makanya membuat moodnya memburuk.


"Ayolah, Jess. Apa kau tidak ingin membelikan sesuatu untuk dokter tampan itu?" goda Mia sambil menyenggol lengan Jesslyn.


Gadis itu mendumal pelan. "Kenapa aku harus membelikan baju untuknya? Lagipula memangnya siapa dia?!" tetapi Mia menangkap maksud lain dari ucapan Jesslyn. Dia sangat yakin jika Jesslyn juga ingin membelikan sesuatu untuk Devan, hanya saja Mungkin dia merasa gengsi atau apa.


Mia memeluk lengan Jesslyn dan membawanya masuk ke sebuah boutique yang hanya menyediakan pakaian khusus pria. Mulai dari kemeja sampai pakaian dallam pria ada di toko tersebut.


"Kenapa kita malah pergi kesini?" Jesslyn menatap Mia dengan bingung.


"Sudah jangan pura-pura bodoh lagi!! Aku tahu yang ada di kepalamu. Sebaiknya sekarang kita berkeliling, disini banyak kemeja dan lain sebagainya!" ucap Mia seraya mendorong Jesslyn menuju deretan kemeja. Seorang pelayan toko membantu mereka berdua.


Dan sekarang Jesslyn bingung apa yang harus dia beli untuk Devan. Kemeja sudah banyak. Sepatu, tapi Jesslyn tidak tau ukuran kalinya. Jam tangan, itu terlalu mewah. Dompet, dia sudah punya. Ikat pinggang, sepertinya terlalu biasa. Dan Jesslyn ingin membeli sesuatu yang berguna untuk dokter tampan itu.


Disaat Jesslyn sedang dilanda galau. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah pulpen yang terpajang di sebuah etalase toko. Dan entah kenapa, Jesslyn malah tertarik untuk membelikan Devan pulpen tersebut.


"Aku ingin melihat pulpen yang ini." Ucapnya sambil menunjuk salah beban yang berada di etalase.


"Baiklah kalau begitu. Langsung bungkus aja," ucap Jesslyn dan dibalas anggukan oleh pelayan toko tersebut.


"Baik, Nona."


Menurut Jesslyn, satu-satunya barang yang berguna untuk Devan adalah pulpen tersebut. Karena dia bekerja lebih sering menggunakan pulpen. Dan rencananya Jesslyn akan memberikan pulpen itu pada Devan saat dia pulang nanti. Jesslyn berharap dia akan menyukainya hadiah kecilnya.


.


.


"Devan, kau sudah pulang."

__ADS_1


Kepulangan Devan di kediaman Zhang disambut oleh Jesslyn. Gadis itu menghampiri Devan sambil membawa sebuah bingkisan di tangan kanannya, yang kemudian dia berikan pada laki-laki itu.


"Apa ini?" Devan menatap Jesslyn dengan bingung.


"Tadi aku ke mall bersama, Mia. Dan aku membelikan sesuatu untukmu," jawabnya sambil tersenyum.


Devan menerima bingkisan tersebut Lalu membukanya. "Pulpen?" ia mengerutkan keningnya dan menatap Jesslyn dengan bingung.


"Awalnya aku bingung ingin membelikan apa untukmu. Dan setelah aku pikir-pikir, pulpen adalah pilihan yang paling tepat. Kau bekerja juga membutuhkannya, jadi aku rasa ini sangat berguna." Jelasnya.


Devan menutup kembali kotak pulpen itu lalu memasukkannya ke dalam paper bag. "Aku terima. Dan terimakasih." ucapnya sambil menepuk pelan kepala Jesslyn. Membuat rona merah seketika muncul di kedua pipinya.


Semakin hari, sikap Devan pada Jesslyn semakin menghangat. Meskipun terkadang dia masih menunjukkan sikap menyebalkannya. Tapi kini dia tak sedingin sebelumnya.


"Oya, Kakek dan Kris sedang pergi ke luar kota. Dan katanya baru kembali Minggu depan. Kakek, berpesan supaya kau tidak terus-menerus mengambil jatah lembur orang lain. Kakek, ingin kau memikirkan kesehatanmu juga!!" ucap Jesslyn dan menghentikan langkah Devan.


Laki-laki itu menganggukkan kepala. "Aku mengerti."


.


.


Malam sudah semakin larut. Namun Jesslyn masih terjaga dan enggan untuk menutup matanya. Entah apa yang membuatnya tidak bisa tidur. Padahal kedua matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


Jesslyn menyibak selimutnya dan berjalan ke arah balkon. Langit malam tampak cerah dengan hiasan jutaan manik-manik langit serta sang penguasa malam yang telah berpendar indah di singgasananya.


Semilir angin malam yang dingin langsung menyambutnya ketika Jesslyn menginjakkan kakinya di balkon. Tiba-tiba dia merindukan kedua orang tuanya. Jesslyn rindu dimana dia bermanja-manja pada sang ibu. Sudah hampir satu bulan mereka tak bertemu. Karena sekarang kedua orang tua Jesslyn sedang berada di luar negeri.


"Ma, Pa. Aku kangen!!"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2