Dokter Cinta Specialis Hati

Dokter Cinta Specialis Hati
Ingin Mengatakan Sesuatu


__ADS_3

"Kakek, aku pulang!!"


Teriakan keras itu menyita perhatian tiga orang berada di meja makan dan sedang menyantap sarapannya. Buru-buru Kakek Zhang berdiri untuk menyambut kedatangan Jesslyn.


"Cucuku, Kakek sangat merindukanmu."


"Aku juga merindukan, Kakek." jawab Jesslyn sambil membalas pelukan Kakek Zhang.


"Apa kau tahu, Jess? Tidak bertemu denganmu beberapa jam saja rasanya seperti bertahun-tahun. Kakek, sangat-sangat merindukanmu."


Kemudian Jesslyn melepaskan pelukannya dan menatap Kakek Zhang dengan penasaran. "Oh ya, Kakek. Aku dengar kau mencarikan jodoh untukku, ngomong-ngomong mereka seperti apa? Aku sangat penasaran," ucap Jesslyn dengan antusias.


Kakek Zhang menghela napas panjang."Ya, niatnya Kakek memang ingin mencarikan jodoh untukmu. Tetapi Devan menentangnya dengan keras dan memarahi Kakek habis-habisan. Jadi Kakek mengurungkannya dan meminta supaya mereka tidak datang lagi." Ujar Kakek Zhang.


Jesslyn memiringkan kepalanya dan menatap Devan dengan pandangan bertanya. "Kau sungguh-sungguh menentangnya, tapi kenapa? Sebenarnya niat Kakek baik, kok. Dia menunjukkan rasa pedulinya padaku dan dan menurutku itu tidak ada buruknya sama sekali." Ujar Jesslyn.


Devan mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Jesslyn dengan datar. "Aku rasa, aku tidak perlu memberikan penjelasan apapun padamu. Ya, niatnya memang baik, tetapi tetap saja itu salah, karena dia asal menjodohkanmu tanpa menanyakan kesediaan dirimu terlebih dulu!!" ujar Devan.


Jesslyn menganggukkan kepalanya. "Ya, kau benar. Memang tidak seharusnya Kakek bersikap seenaknya begitu, apalagi mencarikan jodoh untukku sesuka hatinya. Karena itu tidak baik." Ujar Jesslyn. Setelah berpihak pada Kakek Zhang, kini dia berpihak pada Devan. Benar-benar plin-plan.


"Aisshh, gadis ini!! Bagaimana bisa dia mengkhianatiku, setelah berpihak padaku tiba-tiba berubah haluan dan malah berpihak pada, Devan."


Jesslyn menoleh dan dia menggelengkan kepalanya. "Kakek, salah. Aku ini tidak memihak siapapun. Aku membenarkan, Kakek, tapi juga menyalahkan, Kakek. Dan yang Devan katakan memang benar, tidak seharusnya Kakek mencarikan jodoh untukku tanpa persetujuan dariku!!" ujar Jesslyn.


"Oya, Jess. Devan, bilang, dia ingin mengatakan sesuatu padamu!!" ucap Kris menengahi perdebatan mereka bertiga.


Dan perhatian mereka bertiga kini teralihkan padanya. Lalu pandangan Jesslyn bergulir pada Devan. "Memangnya kau ingin mengatakan apa?" dia menatap Devan penasaran. Dan Devan sendiri pun kebingungan. Karena seingatnya dia tidak berniat mengatakan apapun pada gadis itu.

__ADS_1


"Tidak ada, jangan dengarkan dia. Kris, hanya mengatakan omong kosong saja. Aku sudah hampir kesiangan, aku berangkat dulu." Ucapnya lalu memisahkan diri dari yang lain. Ada jadwal operasi pagi ini, jadi Devan tidak bisa terlambat tiba di rumah sakit.


"Devan, tunggu!!" seru Kakek Zhang, namun tak dihiraukan oleh cucunya tersebut.


Kakek Zhang dan Kris saling bertukar pandang. Sepertinya rencana mereka kali ini tidak akan berhasil. Meskipun mereka berdua sudah melihat benih-benih cinta di antara keduanya, tetapi Kakek Zhang dan Kris belum melihat adanya sinyal yang membuat mereka berdua ingin mengatakan perasaan masing-masing.


Sepertinya mereka berdua masih harus memberikan sedikit ruang untuk Jesslyn dan Devan melakukan pendekatan, karena cinta yang terburu-buru itu akan memiliki ending yang kurang baik.


"Ada apa dengan kalian berdua? Kalian terlihat aneh, dan sebenarnya apa yang ingin Devan katakan padaku? Membuat penasaran saja."


"Mungkin dia malu ingin mengatakannya, tunggu saja sampai waktunya tepat. Sebaiknya cepat duduk dan ikut sarapan bersama kita." Seru Kris.


Jesslyn menganggukkan kepala. "Ya, kebetulan sekali aku sedang lapar." Ucapnya lalu duduk di kursi kosong samping Kris. Selanjutnya sarapan mereka bertiga lewati dengan tenang. Tak ada lagi percakapan, selain suara dentingan sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring.


.


.


Apakah Lisa benar-benar akan melakukan bunuhh diri? Maka jawabannya tidak, Lisa hanya ingin memberikan gertakan pada Devan agar dia mau kembali padanya. Yakni dengan cara dia akan melompat dari atap gedung. Dan Lisa sangat yakin, dengan cara ini Devan tidak mungkin bisa menolaknya lagi.


Sementara itu. Salah seorang perawat yang tidak sengaja melihat aksi gila Lisa segera melaporkannya pada Sean. Karena dia adalah satu-satunya dokter yang dekat dengannya. Sean pun segera naik ke atap gedung untuk menghentikan aksi gila perempuan itu.


"Lisa, kau jangan gila. Cepat turun dari sana!!" perintah Sean.


Lisa sontak menoleh. Dia mengulurkan tangannya ke arah Sean sambil berteriak kencang. "STOP!! JANGAN COBA-COBA MENDEKAT ATAU AKU AKAN LOMPAT!!" teriaknya memberi ancaman.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Bagaimana bisa wanita terpelajar sepertimu melakukan hal gila semacam ini, jangan nekat. Cepat turun!!" teriak Sean sekali lagi.

__ADS_1


"TIDAK!!" bentaknya emosi.


Lisa mengepalkan tangannya dan menatap Sean dengan marah. Bukan dia yang Lisa harapkan, kenapa Sean harus datang dan berlagak seperti seorang pahlawan kesiangan?! Dia pikir dirinya akan luluh padanya atas apa yang Sean lakukan selama ini? Sean bermimpi terlalu tinggi.


"Sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan ikut campur, aku mati ataupun tidak itu tidak ada urusannya denganmu!! Aku cuma ingin, Devan. Bukan yang lain, jadi cepat pergi!!" teriak Lisa dengan emosi.


Sean tidak tau lagi bagaimana cara membujuk Lisa agar dia mau turun dari sana. Sebenarnya dia ingin bersikap tidak peduli, tetapi melihat Lisa yang melakukan kenekatan membuat Sean tidak tahan untuk tidak menghentikannya.


"Tidak perlu dihalangi. Dan jika dia ingin mati, maka biarkan saja!!" ucap seseorang dari belakang.


Sontak Sean menoleh dan mendapati Devan berjalan menghampirinya. Bukannya senang melihat kedatangan Devan, Lisa justru merasa kesal. Bukannya menghentikan dirinya, dia malah meminta Sean agar membiarkan dirinya mati.


"DEVAN!!" teriak Lisa dengan emosi, wajahnya penuh air mata dan menatap Devan dengan kecewa. "Devan, kau benar-benar keterlaluan!! Apa sedikit saja kau tidak memiliki rasa peduli padaku?! Bahkan ketika melihatku akan mati di depanmu!! Kenapa kau tidak peduli sama sekali?!" teriaknya emosi.


"Karena itu tidak ada hubungannya denganku. Terima saja kenyataan, Lisa. Jika di antara kita sudah berakhir. Aku tidak akan melakukan kebodohan dengan memberikan ruang pada masa laluku. Karena masa lalu selamanya hanya akan menjadi masa lalu, dan aku tidak akan membiarkan masa laluku mengusik kembali hidupku!!" ucapnya dan pergi begitu saja.


Devan datang ke atap gedung bukan untuk menghentikan Lisa melakukan bunuh diri. Karena dia mati ataupun tidak, itu tidak ada hubungannya dengannya.


"DEVAN, AKU MEMBENCIMU!!"


Lisa pikir Devan akan luluh dan mau menerimanya kembali setelah dia mengancam akan melakukan bunuhh diri. Tapi ternyata apa, yang dia dapat adalah hasil yang nihil.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2