
Suatu rumah sakit di indonesia sedang melakukan operasi cangkok jantung. Dan selama kurun waktu tak banyak orang yang berhasil walaupun akhirnya meninggal setelah beberapa bulan kemudian.
Aku adalah seorang Mahasiswi yang sudah lama tinggal di jogja, aku tinggal sendiri di sini. Karena orang tua ku tinggal di bogor.
Aku termasuk mahasiswi yang aktif di kampus ku. Walau banyak yang mengatakan aku pintar, agamis, solehah namun wajahku kurang menarik. Orang jawa biasa menyebut "uwelek" atau jelek.
Pada suatu hari aku harus ke rumah sakit karena Ibu masuk ke rumah sakit. Kekurangan ku yang ke dua yaitu ekonomi. Kami sekeluarga selalu memakai KIS atau kartu indonesia sehat. Aku merawat ibuku di salah satu rumah sakit di daerah Bogor. Sampai akhirnya aku harus bolak-balik ke bogor-jogja untuk kuliah dan merawat ibu ku. Dia terserang penyakit Diabetes militus. Di suatu hari kami benar benar tidak punya uang, dan akhirnya kami harus dipulangkan. Walaupun kami memakai KIS namun kami harus membayar berapa persen dari biaya rumah sakit. Anehnya lagi ibu ku tak jadi dipulangkan karna ada seorang dokter yang mau menanggung biaya kami.
Aku penasaran dan ingin tahu siapa namanya. aku cuma sekedar ingin berterima kasih atas bantuannya tersebut.
"ibu, ana tinggal keluar sebentar ya bu" ucap ku pada ibu ku yang terbaring lemas di ruang pasien.
kemudian aku mencari suster yang sedang jaga di rumah sakit itu.
"sus, aku mau tanya untuk pasien atas nama ibu salimah kan kemarin dipulangkan. dan sekarang dirawat lagi. atas nama siapa sus yang mau menanggung biaya rumah sakit bu salimah"
tanya ku pada seorang suster.
"bentar ya mbak saya cek dulu" jawab suster itu.
"maaf mbak, untuk orang yang menanggung biaya atas nama ibu salimah katanya tidak mau disebut namanya mbak".jawab suster itu kemudian.
masyaallah saya benar-benar bingung, apa maksud dari orang itu membantu saya.
"ha kok bisa sih, sebelumnya ada pesan kah dari dia sus?" tanya ku kembali.
"tidak ada mbak, beliau cuma bilang kalau dia melakukan ini untuk Amal seperti itu katanya" jawab suster itu.
Mendengar pernyataan dari suster itu aku sangat terkejut sekaligus heran karna zaman sekarang masih ada orang yang baik tanpa ingin orang lain tau kebaikannya. Dalam hati ku mengutuk orang yang telah membantu ibu untuk selalu di beri kesehatan dan umur panjang. Mudah-mudahan juga aku bisa bertemu dengannya dikemudian hari.
Keesokan harinya Dokter penolong itu datang lagi ke rumah sakit tempat kami di rawat. Aku berusaha mengorek keberadaannya, bahkan aku hampir mengelilingi seluruh rumah sakit ini.
Apa-apaan ini!
Seluruh rumah sakit sebesar ini tidak ada yang tau keberadaan pahlawan itu.
Aku hampir putus asa!
__ADS_1
Padahal aku hanya ingin mengucapkan kalimat terima kasih ke padanya, tidak lebih. Tapi dia menutup diri rapat-rapat. Sampai akhirnya aku mendapat info jika di rumah sakit ini sedang melakukan operasi besar-besaran.
Operasi cangkok jantung!
Kebetulan pasiennya seorang yang kurang mampu seperti ku. Dia termasuk kategori pasien yang mendapatkan operasi gratis dari dokter tersebut. Ku dengar jika biaya operasi tersebut ditanggung oleh dokter yang menanganinya.
Tidak salah lagi!
Berarti dokter yang menolong ibu, dia sedang di ruang operasi!
Mudah-mudahan dia dokter yang sama!
Aku harus menunggunya di ruang bedah!
Hampir 2 jam lebih operasi itu belum juga selesai.
Dan waktu terus berjalan. Sampai akhirnya dua orang suster keluar dari ruang bedah sambil mendorong seorang pasien.
Aku terus menunggu di depan pintu.
Dua orang memakai busana bedah keluar dari ruangan tersebut. Tapi mereka sepertinya panik.
Lalu dua orang suster berlarian masuk ke ruang bedah, lantas mereka keluar dengan mendorong seseorang yang terkapar tak berdaya.
Seseorang itu tampak masih mengenakan pakaian bedah lengkap.
Dan pintu ruangan ditutup kembali.
Setelah hari itu aku makin penasaran dengan orang yang telah menyumbangkan kebaikannya tersebut pada ibu.
Sambil membuat laporan dari study kemarin aku minum es dawet yang biasa mangkal di pinggir jalan kampus tempat ku belajar.
Sebelah kanan ku seorang pria yang bertato dari ujung kaki sampai lehernya pun di tato.
Kebetulan kami hanya berdua, aku jadi takut berjejeran dengan dia. Jadi aku memutuskan untuk sedikit menjauh darinya.
"takseh gangsal ewu ta pak?" tanya ku dengan bahasa jawa pada penjual es dawet.
__ADS_1
"iyo nduk, nek larang larang dawet ku rak payu ta" jawab pak yanto.
Kemudian aku memberikan uang pas kepadanya
Saat aku ingin menyeberang jalan, tiba-tiba ada
pengemis di depan ku.
"maaf ya bu, saya punya uang tapi untuk membayar kos nanti" ucap ku terus terang pada si pengemis.
Lalu pengemis itu malah mengambil tas ku dengan menariknya. Aku tidak menyangka ibu itu telah melakukan penjambretan kepada ku.
Aku hanya bisa menangis dan berteriak minta pertolongan. Pikiran ku gelap seketika. Di tas itu ada uang 500 ribu untuk bayar kos dan uang biaya sehari-hari aku di jogja. Sekarang aku harus cari ibu itu dimana, ya allah sial sekali nasib ku hari ini. Aku pun berjalan kaki menyusuri jalan.
Dengan kaget ada seseorang yang tiba-tiba memanggilku dari belakang.
"mbak!"
Terkejutnya diriku melihat seseorang yang ada di belakang ku saat ini. Ternyata orang itu adalah lelaki bertato yang minum es dawet bersama ku tadi.
Aku sangat takut bukan main saat pria itu melangkah mendekati ku.
"tolong jangan apa-apain aku mas, aku habis dijambret. sekarang aku tidak punya apa-apa lagi" ucap ku lalu menangis.
Lelaki itu malah berjalan ke sepeda motornya. Aku tidak tau apa yang akan dia ambil.
Aku hanya melihat sebuah plastik kresek yang isinya tidak tahu apa. Dibuat heran dengannya, pria itu mendekat ke arah ku lagi.
"mbak, ini tas embak"
"maafkan tetangga saya itu tadi. Dia memang jail orangnya" jawab pria itu sambil membuka plastik yang berisi tas.
Kemudian aku cek isi dari tas itu, dan alhamdulilah isinya masih utuh tanpa hilang sedikit pun
"terima kasih banyak ya mas" ucap ku.
"sama-sama mbak, lain kali hati hati" ucapnya kemudian pergi.
__ADS_1
Dari peristiwa ini aku sadar bahwa orang yang terlihat tidak baik belum tentu dia tidak baik, sedangkan orang yg yang terlihat baik belum tentu dirinya baik.
Terima kasih tuhan, aku akan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran yang sangat berharga untuk ku.