
"terima kasih ya pak" sahut ku pada supir angkot.
aku lupa mengabari ibu jika sekarang aku sudah sampai di bogor.
mungkin nanti saja ku beritahu ibu, sekarang aku banyak tugas yang harus segera terselesaikan.
"ana!!"
seperti ada suara memanggil nama ku.
ku cari asal mula suara itu.
"huuuh dia lagi!" batin ku bete setelah melihat asal muasal suara itu.
lelaki itu pun berlari menemui ku.
aku menghela nafas.
"akhir-akhir ini ku lihat kamu sering pulang" tanya lelaki itu.
"iya, em udah dulu ya aku masih banyak urusan" jawab ku cuek.
kemudian aku pergi meninggalkan lelaki itu.
dia bernama supardi tetangga ku. dia sudah mempunyai istri dan beranak satu. dia selalu menggoda ku padahal aku tak pernah menggubrisnya sedikit pun.
aku sengaja cuek kepada nya karna gara-gara dia aku difitnah pelakor.
sejak itulah aku selalu bersikap cuek dan menjauh darinya.
selepas mandi aku kembali ke perkebunan kemarin. kebetulan di sana juga ada bu lastri pemilik kebun kopi itu.
aku pun menyapanya, dan dia membalasnya dengan ramah.
alhamdulilah dia juga mengizinkan aku masuk ke kebunnya. dan aku bisa mencari tanaman liar itu sekarang.
selang waktu...
udara sejuk di sini hampir tak terasa lagi di tubuhku. tetesan keringat terus berguyuran membasahi baju yang ku kenakan.
namun usaha itu tak sia-sia karna detik ini aku sudah mendapatkan tanaman itu.
senyuman kini menghiasi wajah ku.
setelah itu aku pun duduk untuk istirahat sejenak.
"dik ana" bu lastri memanggil ku.
aku pun menoleh ke arahnya yang sudah duduk di samping ku.
"sebenarnya kamu tuh sedang mencari apa sih? ibu perhatikan kok dari tadi sibuk sekali" tanyanya kemudian.
sambil tersenyum aku memperlihatkan tanaman kecil itu kepada bu lastri. tak disangka bu lastri malah tertawa. aku tahu, mungkin dia merasa geli karna dia pikir tanaman itu hanyalah rumput yang tumbuh liar di kebunnya.
"bu cukup"
"anda jangan menyepelekan sebuah tanaman ini"
"karna dibalik tubuhnya yang kecil, dia adalah obat yang berharga" jawab ku menahan kesal.
"memangnya bisa menyembuhkan penyakit apa nak?" tanya ibu itu kembali.
"penyakit kanker bu!" jawab ku tak mampu lagi menahan kesal.
"y allah, memangnya keluarga mu ada yang mengidap penyakit kanker?" tanya dia lagi.
aku hanya menggeleng.
"lalu untuk siapa tanaman itu?" tanyanya.
aku tertunduk.
"teman ku, sekarang dia sedang kritis dan hanya tanaman ini yang bisa menyembuhkan" jawabku.
"ayo sekarang kamu ikut aku" sahut bu lastri sambil menarik ku pergi dari tempat itu.
"*ke mana bu?"
"sudah ikut saja*!"
aku jadi semakin bingung.
karna beliau tanpa memberitahukan penjelasan sedikit pun kepada ku.
pada akhirnya kami pun sampai di tempat misterius itu.
yang terlihat hanyalah udara kosong.
benar sekali udara kosong karna masih belum terlihat jelas di mata ku.
aku pun memberanikan diri maju lebih dekat dengan bu lastri.
menakjubkan!
budidaya tanaman obat!
aku masih terpukau melihat pemandangan di hadapan ku. berjejeran seakan berhimpitan tumbuhan kecil di atas polybek.
terlihat subur dan sehat.
"aku membudidaya tumbuhan itu nak" sahutnya.
"aku juga tidak tahu jika tumbuhan ini mampu mengobati penyakit kanker, yang aku tahu tumbuhan ini hanya bisa mengobati penyakit ku saja" jelas nya lagi
aku hanya melongo tak percaya.
"memang ibu sakit apa?" tanya ku penasaran.
"gagar otak" jawab beliau singkat.
"aku pernah mengalami kecelakaan, hingga dokter bilang aku gagar otak. aku sering mengalami pusing yang hebat serta mutah sampai berdarah-darah nak. hingga aku putus asa untuk sembuh. suatu ketika suami ku pulang dari kebun, dia memberi ku seikat sayuran. setelah itu aku masak dan kita makan berdua. dan suami ku terus memberiku seikat sayuran yang sama setiap hari. sampai kami lupa jika aku sudah jarang muntah dan sakit kepala. sampai dokter bilang aku sembuh dari penyakit ku. namun setelah itu aku masih mengkonsumsi sayuran itu dan membudidayakannya di tempat ini" jelasnya panjang lebar.
aku semakin tak percaya mendengarnya.
ternyata tumbuhan ini bukan hanya mampu mengobati sebuah penyakit,tapi bisa juga mengobati penyakit yang lainnya.
setelah lama berbincang aku pun pamit tak lupa beliau juga memberi ku seikat tumbuhan mujarab itu. dan beliau juga menitipkan salam untuk rehan. beliau merasa simpatik terhadap dokter tampan itu.
aku pun segera pergi meninggalkan tempat itu. selepas itu aku mengerjakan misi selanjutnya yaitu mencoba melakukan tes di lab.
namun aku harus kembali lagi ke jogja. karna aku membutuhkan alat-alat lab yang bisa ku dapatkan di gubuk rehan.
aku menyempatkan menjenguk rehan di rumah sakit sebelum akhirnya harus pulang lagi ke jogja.
sungguh pekerjaan yang memakan waktu dan tenaga.
sekarang aku telah tiba dimana rehan dirawat.
kulihat ibu tertidur di samping rehan berbaring.
wajahnya terlihat kusut karna kecapean membuat aku tak tega untuk membangunkannya.
jadi aku biarkan dia tetap tertidur.
"kasihan ibu" batin ku.
kini mata ku yang bulat tertuju pada seorang pria di samping ibu. dia masih terlihat seperti sebelumnya, hanya saja kini tubuhnya sedikit bertambah kurus.
aku genggam telapak tangannya.
dan aku terkejut karna merasakan telapak nya yang begitu dingin. membuat aku berasumsi jika rehan telah pergi. namun setelah ku sentuh lehernya terasa hangat dan dia masih bernafas. aku pun merasa lega dan tidak khawatir lagi.
seluruh tubuhnya terasa dingin. memancingku untuk berbuat sesuatu.
ku lihat suhu ruangan begitu dingin
aku pun bergegas mencari suster dan memintanya untuk mengurangi suhu kamar rehan.
dia pun menurutinya.
sekarang aku bisa lebih tenang walaupun hanya sekedar melihatnya terdiam dan membisu.
kemudian ku ajak dia ngobrol.
dan ku ceritakan kepadanya tentang mimpi itu.
sampai air mata ku berlinang karna merasa haru.
__ADS_1
hingga ibu ku terbangun mendengar suara berisik dari mulut ku.
beliau kemudian tersenyum melihat ku.
tapi aneh sekali, ibu tak mengeluarkan sepatah kata pun pada ku. beliau malah keluar dari ruangan.
"ibu kenapa" pikirku.
lalu aku mengejar beliau keluar.
dia duduk di depan pintu ruangan seakan menunggu. terlihat wajahnya begitu sedih dan suram.
"bu" panggil ku lalu duduk disampingnya.
dia hanya diam.
aku semakin bingung dengan perubahan sikap ibu. "ibu kenapa?" tanya ku.
"ana, memangnya kamu tidak memberitahukan keluarga teman mu itu?" tanya dia.
"rehan hidup sendiri bu, kedua orang tuanya sudah berpisah" jawab ku padanya.
"ana, laki-laki banyak. kenapa kamu malah memilih pria itu yang tidak jelas keluarganya!"
sahut ibu menahan tangis.
"bu, sudah cukup. dia memang pria yang bukan ibu inginkan tapi setidaknya kita menolongnya untuk saat ini. aku mohon ibu yang ikhlas ya? aku yakin tuhan pasti akan membalas kebaikan ibu." timpal ku mendinginkan suasana.
"aku akan kembali ke jogja malam ini, besok aku pasti ke sini lagi" balas ku lagi.
kemudian aku pergi meninggalkan ibu.
dari kejauhan terlihat jelas jika ibu menyesali perkataannya. namun aku bisa memaklumi semua itu.
esok harinya aku telah sampai di jogja kembali.
elsa datang menjemput ku di terminal.
kami pun jalan menuju gubuk laboratorium milik rehan. walaupun sempat cekcok terlebih dahulu dengan elsa karna beda pendapat.
"na, kamu yakin tidak istirahat dulu di rumah?"
tanya dia lagi.
"aku takut na kalau kamu kecapean lagi dan pingsan seperti kemarin" sambungnya.
"percaya saja sa sama aku jika semuanya akan baik-baik saja" jawab ku.
selang berapa menit kita akhirnya sampai di tempat tujuan.
sesampainya di lab elsa merasa takjub, dia berfikir jika rehan bukanlah dokter sembarangan.
"na, kalau menurut aku sih dia udah pantes dipanggil profesor" sahut elsa sambil memperhatikan sekeliling ruangan.
dia melihat satu-persatu benda di area itu.
"na, coba lihat itu!" sahut elsa sambil mengacungkan jemarinya ke sebuah benda.
"apa si?" tanya ku.
elsa mengamati piagam penghargaan yang dipasang di dinding ruangan.
"biasa aja kali sa" timpal ku di tengah kesibukan membaca buku panduan.
akhirnya terlihat kembali gambar wanita itu.
gambar yang membuat hati ku terasa diiris.
sakit banget!
"na, aku yakin pria sesempurna rehan pasti sudah punya pacar!" suara elsa seakan membuat badan ku beku. jantungku seakan berhenti berdetak dan
otak ku berhenti berfikir.
kenapa sekarang hati ku merasa sakit sekali mendengar ucapan elsa.
aku tidak boleh marah, elsa benar rehan pantas jika berhubungan dengan wanita manapun.
wanita mana yang tidak tergoda dengan dia.
"tapi sayangnya pria itu sekarat dengan penyakitnya" ucap elsa lagi hingga membuat ku kesal dan emosi.
"cukup sa!"
"aku tidak bisa berfikir kalau kamu berisik terus seperti ini" ketus ku.
"iya maaf na" jawabnya lagi.
sekarang aku harus segera melakukan riset.
tapi hati ini masih terasa perih.
bagaimana jika setelah ini rehan akan pergi meninggalkanku. setelah dia bangun dari komanya lalu dia pergi bersama wanita lain dan melupakan ku.
tidak!
aku harus bisa menerima jika rehan melupakan ku dan bersanding dengan wanita lain.
dia berhak memilih wanita yang ia sukai.
keberadaan ku di sini hanyalah berusaha membantunya untuk sembuh.
setelah aku baca buku panduan itu. aku pun mulai melakukan riset.
selang waktu..
akhirnya ramuan itu sudah siap.
tapi warnanya hijau tidak seperti ramuan yang kemarin yang aku tumpahkan.
"na, kamu yakin ini tidak beracun?"
"aku juga bingung sa" jawab ku.
"warnanya hijau gitu, ih jorok ah!" timpalnya.
"aku juga tidak mengerti sa kenapa warnanya hijau bukan putih seperti ramuan yang diminum rehan sebelumnya"
"*na, udah deh jangan cari perkara. nanti kalau tambah parah gimana? urusannya polisi na!"
"nggak lah !"
"aku yakin ini bener kok sesuai sama yang di buku*!"
elsa terus bicara seakan menakut-nakuti ku. tapi aku tetap yakin jika yang ku lakukan adalah benar.
kami pun kembali ke rumah elsa.
malam ini aku melihat elsa pergi bersama kekasihnya. anehnya aku malah merasa semakin tidak suka dengan pacar barunya.
bukan maksud cemburu atau iri.
tapi aku tidak suka karna elsa menjadi liar sejak dia berhubungan dengan lelaki itu.
dia jadi sering pulang larut malam dan masih banyak lagi.
pagi ini aku siap-siap berangkat kampus, ku lihat elsa tidak ada di kamarnya.
pintunya terlihat terbuka sejak tadi malam.
berarti sejak tadi malam dia belum pulang.
kebetulan orang tua elsa sedang pergi ke luar kota, hal ini membuka kesempatan elsa untuk bertindak seenaknya.
aku pun mengambil hp ku yang ku taruh di meja kamar. berharap elsa memberi kabar.
kosong!
tak ada pesan masuk!
elsa sudah kelewatan batas!
padahal kedua orang tuanya sudah mempercayai ku untuk menjaga elsa. kami memang sepantaran namun elsa masih labil dan perlu didikan setiap saat.
akhirnya ku telpon dia.
nomornya aktif namun tak diangkat.
__ADS_1
"elsa kamu keterlaluan sekali sih!"
aku terus menggerutu kesal karna sudah hampir 100 kali dia tak menjawab telpon ku.
"ya allah tolong lindungilah sahabat ku ini dimana pun dia berada"
tepat pukul 6.30 aku berangkat ke kampus.
sebenarnya aku ingin mencari elsa, tapi hari ini adalah hari penting yang sudah ku tunggu sejak kemarin.
aku hampir kehilangan ijazah s1 ku kemarin. dan hari ini aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.
alhamdulilah hari ini berjalan dengan lancar.
hasil karya ilmiah ku ternyata menggandrungi nilai yang bagus dan banyak pujian memukau dari teman serta dosen.
aku pun menjadi lega.
dan siang ini juga aku harus segera pulang ke bogor. rehan harus segera ditolong.
saat ini dialah yang terpenting. aku tahu elsa juga penting tapi dia pasti baik-baik saja toh dia sekarang sedang bersama kekasihnya.
keesokan harinya aku telah sampai kembali di rumah sakit terbesar di bogor.
"bu, bagaimana kondisi rehan sekarang?"
tanya ku pada ibu.
"*belum ada perubahan na, ibu jadi bingung kalau harus menunggui rehan lama di sini"
"hlo kenapa harus bingung*?"
"tadi ada perawat datang dan kalau besok belum juga ada perubahan selangnya akan dicabut".
"loh! tidak bisa seperti itu dong bu! rumah sakit macam apa ini!" tegas ku kesal.
"kamu lupa kalau biaya rumah sakit ini sangat mahal? ingat na kamu punya duit berapa buat bisa bayar perawatan rehan di sini!"
**deg **!
aku terdiam. hati ku seakan ditusuk mendengar ucapan ibu. akhirnya aku pun menangis.
aku bingung apa yang harus aku lakukan saat ini. aku tau rehan orang berduit, tapi aku bingung harus bagaimana karna aku tidak tau rumah rehan, dimana dia menyimpan uang, keluarganya juga tak tau ada di mana.
akhirnya aku pun meminta pengertian dari suster.
"sus, aku mohon jangan cabut dulu selangnya ya sus. aku mohon"
aku terus merengek meminta belas kasihan namun tak seorang pun yang peduli.
"mbak, kami hanya menjalankan tugas kami sebagai suster di rumah sakit ini. kalau memang nanti selangnya akan dicopot ya itu hubungannya dengan pemilik rumah sakit ini. bukan masalah kami lagi"
jawab seorang suster dan kemudian pergi.
tanpa perlu berfikir lebih lama lagi aku pun mulai mencari pemilik rumah sakit terbesar ini. aku tanya satu per satu petugas rumah sakit.
pak heri kuswadi!!
yes akhirnya aku bisa bertemu hari ini dengan pak heri kuswadi pemegang rumah sakit terbesar di bogor. petugas bilang jika pak heri kuswadi akan berkunjung ke rumah sakit hari ini.
aku terus menunggu pria itu di depan resepsionis.
karna suster bilang jika pak heri setelah sampai pasti langsung menuju ke bagian resepsionis untuk mengecek data yang ada.
30 menit kemudian..
aku masih duduk termenung, dan mata ku sudah sedikit memberat(ngantuk).
2 jam kemudian..
aku mulai capek duduk terlalu lama, sehingga aku pun berdiri dengan badan besandaran tembok.
tak sabar aku pun mulai panik dan kesal menunggu lama.
"sus aku sudah nggak tahan lagi! sekarang aku perlu bertemu dengan dokter yang menangani pasien atas nama rehan!"
aku mulai menemukan ide yang lain. tanpa harus bertemu dengan pemilik rumah sakit lagi.
ibu ku mendekati ku, dia menangis.
"na, cukup sayang. kamu yang tabah ya. jangan emosi seperti ini" timpal ibu.
"bu, ini nggak bisa didiemin lagi bu. rehan sudah koma hampir 3 minggu. aku nggak akan tinggal diam!" tegas ku pada ibu.
aku tahu ibu pasti sangat sedih melihat anaknya yang kesetanan. ini bukan soal cinta lagi. tapi taruhan nyawa. aku tidak mau kesempatan ini terbuang sia-sia(melihat sebuah kotak kecil berisi cairan).
dan kemudian suster pun memberitahu ku untuk bisa langsung ke ruangan dokter yang menangani rehan. alhamdulilah mudah-mudahan dokter ini mau menolong rehan. amin!
aku pun beranjak menemui dokter nisa. kebetulan dokter yang menangani rehan adalah perempuan.
jadi aku bisa lebih leluasa lagi untuk bercerita banyak kepadanya.
aku pun mulai bercerita tentang ramuan yang ku bawa ini. aku ceritakan dari awal rehan membuat dan setelah itu aku yang membuatnya.
aneh nya dokter nisa malah tertawa.
dia seperti berfikir bahwa aku orang gila yang sedang mengoceh.
aku pun diusir dari ruangannya.
cairan itu hampir tumpah dan aku langsung menangkapnya.
tidak habis pikir jika aku bakal diremehkan seperti ini. dokter nisa belum tahu sesungguhnya orang yang sekarat saat ini. aku yakin suatu saat dia pasti akan menyesali perbuatanya itu. kemudian meminta maaf kepada ku dan juga rehan.
sekarang sudah tidak ada jalan lagi selain aku sendiri yang akan menangani pasien ku sendiri.
aku akan memasukkan ramuan ini ke tubuh rehan. tidak perlu jarum suntik, selang ataupun yang lain.
aku akan menggunakan cara ku sendiri.
mungkin aku harus melakukannya sekarang.
semuanya tidak ada yang mendengarkan ku, mereka hanya menyepelekan orang yang lemah. karna mereka pikir orang yang lemah akan berhenti sampai disitu saja setelah mereka rendahkan.
aku memang lemah, tapi aku bukan sampah!
itulah motto ku saat ini, sebatas memberikan rasa semangat pada diri sendiri.
aku pun meminta ibu untuk berjaga-jaga di depan pintu. walaupun wajahnya terlihat ragu dan takut tapi beliau sangat mempercayai ku.
dan aku memulai aksi ku sekarang.
ku masukkan seluruh cairan berwarna hijau itu ke dalam mulutnya sambil menggoyang-goyangkan kepala sampai lehernya supaya seluruh ramuan itu bisa masuk ke dalam tubuh rehan.
semuanya selesai.
tak ada reaksi apapun pada tubuh rehan. dia masih membisu seperti patung.
aku pun sedih, merasa putus asa melakukan ini semua. karna yang ku lakukan hanyalah sia-sia.
lalu aku pun berjalan keluar ruangan.
langkahku terhenti seketika melihat tubuh rehan klojotan seperti orang kesurupan.
aku benar-benar tidak mengerti jika reaksinya akan seperti ini.
aku menjadi takut dan menangis menyaksikan ini semua.
hingga semua dokter datang ke kamar rehan kemudian mengusir ku.
tapi tidak dengan dokter nisa.
dia malah menangkap ku dan melaporkannya ke polisi. dia bilang ke semua orang jika perbuatan ku adalah motiv pembunuhan.
aku pun semakin sedih.
dan tak menyangka jika akhirnya akan seperti ini.
alhasil aku pun sementara ditahan di kantor polisi sampai semuanya terungkap.
(dalam situasi yang sama rehan justru semakin membaik setelah dia mengalami kejang-kejang yang hebat. darahnya kembali normal dan detak jantungnya pun membaik. dia bahkan bisa menggerakkan tangannya. dan dua hari setelah itu dia membuka matanya. walaupun bibirnya masih sulit berbicara. bu salimah tampak belum mengetahui hal ini, dia masih mencoba menemui dokter nisa yang melaporkan anaknya ke polisi. dia meminta agar wanita itu mau mencabut gugatannya. dia terlihat sedih dan kusut karna terus memikirkan masalah ini berlarut-larut.
hingga suatu ketika seorang suster datang ke kamar rehan untuk mengecek kesehatannya.
namun dia kaget karna dia melihat rehan sudah bisa berjalan. bahkan suster itu melihat jika rehan sedang berusaha mencopoti infus selang yang menempel di tubuhnya. semuanya sungguh keajaiban.)
dalam keadaan lain juga dirasakan ana karna sekarang dia mendekam dipenjara. air matanya seakan tak pernah kering. dia selalu menangis setiap ingat perbuatannya itu. dia juga takut jika yang dilakukannya adalah salah. dan akibat perbuatannya itu dia kehilangan rehan untuk selamanya.
__ADS_1