Dokter Tampan Dari Indonesia

Dokter Tampan Dari Indonesia
cinta


__ADS_3

akhirnya aku telah sampai di depan rumah.


pria itu juga ikut turun bersamaku.


"pak, kenapa sih anda membuntuti saya terus menerus". gertak ku.


"kan saya sudah bilang, saya akan bantu anda tapi anda cari tempat tinggal sendiri" maki ku.


ku lihat wajah nya terkesan sedih dan kusut.


membuat tumbuh rasa iba dan kasihan.


akhirnya aku kalah lagi dengannya. dia mampu membuat ku mematuhi perintahnya lagi. sungguh curang. tapi aku sangat tidak tega jika harus meninggalkannya sendiri mencari tempat tinggal di sini.


sebelum kami berangkat mencari tempat tinggal untuknya.


kami beristirahat sejenak di rumah ku.


kebetulan ibu juga sudah memasakkan makanan untuk kami berdua.


setelah selesai sarapan, ibu menarik ku ke bilik dan langsung mengintrogasi tentang pria yang bersama ku saat ini.


"owalah nduk! sopo kui?"


"beraninya kamu bawa lelaki ke rumah!"


ibu langsung memarahi ku.


beliau mengira jika lelaki itu adalah pacar ku.


"astaghfirullah ibu"


"dia itu teman aku bu, aku cuma ingin membantunya mencari tempat tinggal di sini"


jelasku padanya.


bukan munafik, dari dulu aku memang belum pernah merasakan pacaran. sejak SMA waktu lalu aku ditolak dan di permalukan oleh orang yang ku sukai, sejak saat itulah aku semakin menjauhi lelaki. dan aku mengurung hati untuk menyukai lelaki.


akhir nya ibu ku mengerti dan dia juga mengizinkanku membantu mencari tempat tinggal untuk dokter rehan.


"kami pamit buk"


ucap ku kemudian mencium tangan beliau bergantian dengan rehan.


kami pun berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun sayur dan berbagai tanaman lainnya. sebenarnya ini bukan kemauan ku. rehan sendiri lah yang menginginkannya. menurutnya berjalan mengelilingi perkebunan akan lebih menyenangkan, dari pada melewati jalan aspal yang panas.


di balik wajahnya yang tampan dia juga seorang dokter yang ramah.


terbukti saat kami berjumpa dengan para petani dia selalu menyapanya dengan manis.


aku jadi semakin kagum, dan senang berteman dengannya.


tak terasa kaki ku mulai terasa perih karna berjalan terlalu lama. aku pun memintanya untuk istirahat sejenak.


nafas ku ngos-ngosan, keringat pun mulai bercucuran membasahi baju serta kerudungku.


"masih jauh ya na?"


tanyanya.


"sebenarnya deket, tapi nggak tau ini kok lama banget nyampenya" ujar ku.


gimana pun aku kasihan melihat rehan kecapean. aku takut jika sakitnya kambuh.


lalu aku pun memarahi nya karna dialah yang memilih jalan kaki daripada naik angkot menuju pasar.


rasanya kesal bercampur iba.


kesal karna dia, liburan ku jadi kacau balau. seharusnya sekarang aku sudah tidur pulas dan bermanja-manjaan dengan ibu ku tercinta.


iba karna melihat dia berjuang mati-matian untuk kesembuhannya. semangat nya tinggi untuk hidup, aku sangat kagum padanya. jadi aku berkeputusan untuk membantunya sekali di sisa-sisa umurnya yang mengambang.


gila!


apa yang aku pikirkan saat ini.


aku menginginkan dokter itu mati begitu saja?


astaghfirullah


apa yang aku pikirkan ini?


tidak

__ADS_1


yang mengetahui kematian hanyalah tuhan.


aku tidak berhak memberikan jawaban seenaknya seperti itu.


hingga tak sadar pria itu telah menghilang dari hadapan ku.


"pak dokter!"


aku teriak memandang kemanapun arah angin.


berharap menemukan beliau dari hembusan angin yang menerpa jilbab ku.


yes!


aku menemukannya.


dia berada ditengah perkebunan yang rimbun seperti yang tak dirawat oleh pemiliknya.


"pak dokter!!"


teriak ku lagi lalu melangkah mendekati pria pucat itu.


bagai kecepatan angin dia berbalik arah dan berlari ke arah ku. dengan wajahnya yang tersenyum gembira. aku hanya bisa melongo memperhatikan tingkah beliau.


grep!!


dia memeluk ku.


tidak ada 5 detik, ku hempaskan tubuhnya menjauhi ku hingga dia tersungkur ke tanah.


tidak perduli dia sedang sakit atau tidak. aku hanya tidak mau berdosa karna telah berpelukan dengan orang yang bukan mahram ku.


"ana maafkan aku!"


dia pun merasa bersalah atas kesalahannya.


namun aku tak mempedulikannya lagi. aku berjalan menjauh dari nya. namun dia malah berusaha menggapai tangan ku.


hah yang benar saja!


ini sungguh keterlaluan!


lalu kutampar wajah nya.


tanpa melihat wajahnya, aku sengaja tidak melihat wajahnya karna aku takut tidak tega.


ku putar tubuh ku membelakangi rehan.


"ana, maafkan aku. aku hanya merasa bahagia ana. karna aku telah menemukan tanaman untuk obat sakit ku ini" ucapnya.


"tolong maafkan aku"


ucapnya lagi.


"aku tidak menyangka jika kamu akan semarah ini ana. maafkan aku ana. ternyata kamu berbeda dengan wanita wanita di luar sana"


jelasnya lagi.


"baru kali ini aku mempunyai seorang teman muslimah seperti mu ana, jadi tolong? aku tidak mengetahui hal ini sama sekali"


ternyata rehan tidak mengetahui hal semacam ini. dia yang salah tapi kenapa hatiku terasa yang bersalah.


aku pun memutarkan badan ku kembali.


berniat untuk memaafkannya.


namun, air mata ku tiba-tiba jatuh menetes. kata-kata yang sudah aku rakit dan akan aku lontarkan seakan ku telan kembali.


aku merasa bersalah dan amat bersalah.


entah sakit yang ia derita atau apa.


melihatnya mengeluarkan darah dari dalam hidungnya, wajahnya pucat namun berusaha tersenyum kepada ku.


aku berusaha mengucapkan sebuah kata namun dia terlebih dahulu menjawabnya.


"sudah tenang saja,aku tidak apa kok" jawabnya sambil mengusap darah yang menetes dari lubang hidungnya.


"kamu maafin aku kan ana?"


tanyanya kembali lalu tersenyum manis kepada ku.


dengan air mata ku yang berderai, ku balas senyumannya itu.

__ADS_1


Brughh!!!


pria itu jatuh pingsan.


ku bawa dia ke rumah sakit.


air mata ku tak berhenti berderai, bibir ku pun tak berhenti berdoa untuk kesembuhannya.


aku terus menangis. aku benar tidak sanggup lagi.


akhirnya aku menangis meraung-raung melihat dia masuk ke ruang UGD.


ibu ku pun datang, lantas dia memelukku untuk memberikan rasa tenang kepada ku.


dokter pun keluar dari ruang UGD.


wajahnya terlihat pasrah, membuat jantungku seakan berhenti.


mereka menghampiri ku seperti memberi kode keadaan rehan saat ini.


aku semakin berdebar.


terus terang aku tidak ingin kehilangan pria itu. walaupun kami belum kenal cukup lama, tapi dia melebihi seorang sahabat.


"anda keluarga pak rehan?"


tanyanya padaku.


aku pun langsung mengiyakan karna kekhawatiran tentang keadaan beliau.


"mbak, kok bisa separah ini?"


"memangnya nggak pernah di sinar atau diterapi yang lainnya gitu?" jelas dokter itu.


aku hanya bisa menggeleng.


"kamu tahu pasien ini udah nggak bisa bertahan lama lagi, dia udah koma sekarang. dan mukjizatlah yang bisa menyelamatkannya saat ini"


jelasnya lagi kemudian pergi meninggalkan kami.


aku seakan gila seketika.


pernyataan yang semakin membuat ku sedih.


kesedihan ini membuat ku semakin gila.


mungkin jika aku tidak menamparnya siang itu dia sekarang masih tersenyum kepada ku.


aku masih sangat ingat keceriaannya kemarin.


dia menutupi rasa sakitnya dengan selalu bersikap ceria.


sekarang aku hanya bisa melihatnya berbaring, dengan selang-selang yang menyelimuti tubuhnya.


rehan, maafkan aku jika aku telah jatuh cinta kepada mu.


aku yakin, jika aku benar mencintaimu.


ini bukan masalah iba ataupun kasihan. tapi ini sebuah cinta yang tulus.


aku yakin, kamu pasti akan kembali tersenyum kepada ku. dan aku akan selalu menunggu saat seperti itu.


ku lihat wajah ibu ku, kemudian ku genggam tangan rehan lalu ku cium bertubi-tubi tangannya.


tidak perduli, aku hanya bisa melampiaskannya dengan seperti ini.


ibu ku hanya bisa menangis melihat kesedihan anaknya setiap hari.


setiap hari aku selalu bergantian dengan ibu ku menemani rehan.


sampai dimana waktu liburan ku berakhir, tandanya aku harus kembali kuliah.


dan rehan belum ada perubahan, dia masih dalam keadaan koma.


aku pun mencium tangan rehan memberikan isyarat bahwa aku akan meninggalkannya untuk beberapa hari ini.


"ibu, aku titip rehan ya" ucap ku.


namun ibu ku malah menangis.


"bu, jangan sedih ya. aku janji setelah rehan sembuh kami akan menikah"


beliau kemudian memeluk ku sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


aku mencoba menahan air mata ku agar ibu bisa tegar. walaupun aku tahu, perasaan seorang ibu yang melihat anaknya mencintai orang yang sekarat sangatlah berat.


__ADS_2