
aku adalah satu-satunya dokter yang dipercaya di rumah sakit. hari itu aku menjalani sebuah operasi yang sangat rumit. dan tak lain pasiennya adalah adik dari mantan ku.
rasanya sangat sakit jika aku harus bertemu dengannya kembali. sudah ku lakukan berbagai cara untuk menghindar dari wanita itu. namun dia selalu mendekati ku dan terus memaksa ku dengan cara halus. karna setiap hari aku selalu mengecek perkembangan pasca operasi adiknya itu. sampai aku tak sadar jika ana tidak ada di samping ku lagi.
aku sudah berusaha mencari dia dari ujung rumah sakit hingga kemudian aku berkunjung ke rumahnya dan ibunya bilang jika ana pergi. beliau tak memberitahuku kemana ana pergi. bahkan beliau mengacuhkan ku begitu saja dan langsung mengusir ku pergi.
semakin hari hati ku semakin galau. aku selalu menanti kehadirannya lagi di hidup ku.
sebulan kemudian aku ke rumahnya lagi. dengan berharap dia ada di sana.
namun yang ada hanyalah rumah kosong. rumah itu seperti tak terawat yang di tinggal penghuninya.
"ya allah bu salimah ke mana"
aku semakin menyesal.
aku sudah kehilangan mereka.
yang pasti aku ke rumah ana hanya untuk mengucapkan kata terima kasih karna berkat dia aku menjadi lelaki yang bertaqwa dan ingat pada tuhannya. aku juga ingin mengucapkan terima kasih karna dia,aku sekarang merasa lebih baik.
ana,kamu di mana?
sampai aku bertemu dengan bu lastri. beliau adalah tetangga ana.
"cari siapa nak?"
tanya beliau sambil memandangku dari ujung kepala sampai kaki.
"orang yang tinggal di rumah ini ke mana ya bu?"
tanya ku.
"oh, bu salimah?"
"katanya si dia lagi mengunjungi anaknya?"
mendengar penjelasan bu lastri aku menjadi lebih lega. tapi beliau juga tidak tau keberadaan ana dan ibunya saat ini.
"memang anda ini siapa nak?"
tanya beliau kembali.
"saya rehan bu, temannya ana"
dia seperti kaget saat aku menyebut nama ku.
"oh rehan temannya ana yang sakit kanker itu ya?"
"gimana keadaan mu sekarang?"
"katanya kemarin sempat koma?"
aku hanya diam bingung entah dari mana ibu ini tau tentang diri ku.
"tidak usah bingung seperti itu? saya ini kemarin kasihan sekali loh melihat ana sampai nangis-nangis seperti itu -....-"dia terus bercerita. aku pun menjadi merasa lebih bersalah dan menyesal mendengar cerita bu lastri tentang perjuangan ana demi kesembuhan ku. akhirnya aku mengutuk diri ku sendiri jika aku tak akan menikah kecuali dengan gadis itu.
begitu pun dengan cerita bu lastri yang membuat ku penasaran karna beliau berkata tentang sebuah tanaman yang dijadikan obat oleh ana kemarin. beliau pun dengan senang hati mengajak ku untuk mengunjungi perkebunannya.
saat ku lihat tanaman itu aku pun yakin jika tanaman itu bukanlah tanaman yang aku temukan kemarin. ini adalah sebuah tanaman yang berbeda.
daunnya lebih kaku dari tanaman yang ku uji kemarin. aku pun meminta beliau untuk memberikan seuntai tanaman itu. dan menghimbau beliau juga untuk menyimpan serta tak memberitahukan tanaman itu kepada siapa pun. karna aku takut ada pihak asing yang akan menyalahgunakannya.
keesokan harinya aku diberi kabar jika akan ada kunjungan dokter dari luar negri.
sebatas silaturahmi sekaligus memeriksa kesehatan ku yang semakin hari semakin membaik.
"wow, sungguh keajaiban dokter rehan?"
pernyataan beliau membuat ku bingung.
"sudah tidak ada lagi titik-titik sel kanker di otak anda" sambungnya lagi.
aku sungguh tidak bisa berbicara lagi, seakan bungkam begitu saja. dengan yang ku dengar barusan.
alhamdulilah ya allah.
air mata ku tak terbendung lagi. seakan mengalir begitu saja.
kesalnya sejak vonis itu aku semakin dekat dengan linsi. namun akhirnya aku harus pergi ke amerika. selain melakukan pertemuan juga aku dipercaya untuk melakukan sebuah operasi di negara adidaya tersebut. aku juga tidak mengerti mengapa mereka sangat mempercayai ku. mereka bilang jika pasiennya sudah melakukan berkali-kali operasi namun gagal. dan oleh sebab itu mereka mempercayai ku untuk melanjutkan operasi.
aku juga tidak paham mengapa negara sebesar ini tidak mampu melakukannya.
sejak itulah aku banyak dikenal dan nama ku selalu di sebut-sebut di program televisi. karna setiap operasi yang ku lakukan selalu berhasil hingga aku mendapat penghargaan "master of surgeon" dari negara besar tersebut.
5 bulan kemudian..
"dokter rehan, selamat ya anda hebat"
puji seorang suster.
"terima kasih banyak sus"
"tapi sayang sekali ya, sampai detik ini kok belum berkeluarga"
dia memang benar jika aku sangat kurang beruntung. aku memiliki segalanya tapi aku tidak punya cinta.
sudah setahun ini ana pergi meninggalkan ku.
sampai detik ini pun hati ini masih mengharap dia kembali. tapi itu tidak mungkin.
karna selama ini dia pasti sudah melupakan diri ku. seharusnya aku bisa membuka hati untuk wanita lain. yang pasti bukan linsi. karna dia sudah meninggalkan ku saat aku susah, itu tandanya dia tak mencintai ku dengan tulus.
"rehan? aku kangen sekali dengan mu"
"rehan, hari ini kamu langsung pulang kan?"
"iya" jawab ku males.
"rehan apa kamu tidak bisa menghargai aku sedikit saja"
"linsi, cukup!"
"rehan, aku mencintai mu. aku ingin menjadi istri mu"
"aku ingin kita bersama-sama terus seperti dulu"
sambungnya lagi.
"linsi, aku sama sekali tak mencintai mu lagi. tolong kamu mengerti!" jawab ku sambil melepaskan tangannya di lenganku kemudian pergi meninggalkannya.
semakin hari aku semakin sibuk dengan pekerjaan ku. ditambah lagi kekesalan karna setiap hari harus bertatapan dengan wanita sial itu. namun itu semua tak membuat ku lupa akan perasaan ku kepada seorang wanita.
wanita itu pernah berpesan jika hati gelisah itu tandanya dia jauh dari tuhannya.
aku pun melaksanakan ibadah sholat malam dan di situlah aku memohon ampun kepada allah.
aku sangat bersyukur sekali karna DIA masih memberikan kesempatan hidup untuk ku. namun DIA sangat adil, DIA menggantikan rasa sakit itu dengan memisahkan aku dengan cinta ku.
aku pun menangis meminta beliau untuk mengembalikan cintaku kembali.
keesokan harinya badan ku terasa lebih fit dari biasanya. padahal akhir-akhir ini aku tak pernah berolahraga. mungkin benar yang dikatakan ana. jika sholat tahajud mampu membuat tubuh menjadi lebih segar di pagi hari.
tutttt
tutttt
bunyi panggilan masuk.
"hallo"
"hallo pak rehan? apa kabar pak pagi ini?"
"baik" jawab ku ketus karna tau dia adalah direktur PT. Obat herbal indonesia.
tak ada bosannya dia terus merayu ku untuk memberi tahu resep obat kanker yang telah menyembuhkan ku.
"gimana pak rehan apakah anda masih tidak ingin membagi resep itu?" rayu nya.
aku berjanji dengan diri ku sendiri jika sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberikan resep itu kepada siapa pun.
"sudah lah pak fikri anda tak perlu merayu saya seperti itu karna sampai kapan pun saya tidak akan memberi tahu anda"
jawab ku.
"anda yakin?"
"diluar sana banyak sekali orang sekarat yang mengharapkan hati nurani anda" sambungnya lagi.
benar licik, dia justru menggunakan cara iba untuk merayu ku. aku sungguh tak ingin berhubungan lagi dengannya.
tuttt
ku matikan telpon.
__ADS_1
hari ini aku seperti kesurupan. entah iblis mana yang telah membisik di telinga ku hingga aku berniat untuk memutuskan kontrak kerja dengan PT obat nomer satu tersebut.
aku memang menjalin kontrak kerja dengan PT tersebut karna banyak racikan obat ku yang menjadi keuntungan besar bagi PT tersebut. dan sampai sekarang aku terus mendapatkan uang dari kontrak tersebut.
namun hari ini aku akan datang ke pabrik itu dan memutuskan kontrak kerja dengan nya.
"mbak, saya perlu bertemu dengan direktur PT ini"
sahut ku pada seorang petugas PT.
dia kemudian mengantar ku menuju ke ruangan yang berada di lantai atas.
aku pun langsung masuk ke ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu atau permisi.
terlihat wajah yang tersenyum lebar puas.
"kenapa pak rehan? apakah anda berubah pikiran?" ledek nya membuat ku semakin ganas.
"pak fikri anda sudah keterlaluan sekali. anda fikir saya tidak tahu jika anda menjual salah satu resep tersebut ke pihak asing. dan sekarang anda berusaha merayu saya untuk memberikan resep obat itu kepada anda" kesal ku.
"sabar pak rehan, anda salah faham"
"salah faham bagaimana? buktinya sudah jelas kok"
"pak rehan saya kan sudah bilang jika anda tidak menjual resep itu sih oke terserah anda."
"tapi saya akan terus merayu anda sampai anda akan menjual resep itu"
"sial kau ya! aku tidak akan pernah menjual resep itu!" sahut ku sambil berusaha menahan kepalan tangan yang sebentar lagi siap melesat.
"pak rehan jika anda tidak menjual resep itu tolong berikan alasan anda, apakah harga yang saya tawarkan kurang mahal atau apa?"
aku pun terdiam sebentar.
"karna.."
"karna aku bukan pemilik resep itu"
jawab ku terbata-bata.
"pak rehan percayalah apa yang anda lakukan bukanlah kesalahan besar" timpalnya kemudian menepuk pundak ku.
aku tidak akan memberikan resep ini kepada siapa pun karna Ana lah yang berhak atas semua itu. dia yang lebih dulu membuatkannya untuk ku. hingga aku divonis sembuh dari penyakit yang mematikan itu.
***
esok hari nya seperti biasa aku melakukan operasi di sebuah rumah sakit.
sebelum operasi di mulai aku membaca surat yang berisikan bahwa instansi rumah sakit tersebut memohon bantuan operasi pengangkatan benjolan pengidap kanker selaput otak.
deg!!
dan tak lain pasiennya seorang anak berumur 5 tahun. tiba-tiba hati ku terasa sakit membaca itu semua. entah tidak tega atau bagaimana.
sebab aku memiliki obat itu.
aku akan lebih menyakiti diri ku sendiri jika aku melakukan operasi tersebut. karna itu bukan jalan terbaik dalam memecahkan masalah ini.
aku tidak akan membiarkan anak itu mati sia-sia.
kemudian aku berlari menuju ruangan dimana anak itu dirawat.
wajahnya pucat polos tak berdosa.
y allah... kasihan sekali dia harus merasakan sakit seperti yang ku rasakan dulu.
mungkin hari ini aku akan membuka resep itu kepada publik.
tapi ana?
maafkan aku ana. aku terpaksa melakukan ini.
tapi aku yakin jika yang ku lakukan ini adalah benar bukan suatu kesalahan yang fatal.
"dokter, apakah anda yang akan menangani operasi saya?" tanya anak itu di hadapan saya.
"benar nak, kamu jangan takut. sebentar lagi kamu akan sembuh" sahut ku memberi semangat.
"terima kasih dok. saya percaya anda pasti tidak berbohong"
setelah percakapan itu,
aku pun memulai operasi. tubuhnya terbaring lemas. wajahnya pucat dan mata nya terpejam karna efek bius total yang ku suntikan pada pembuluh darah.
mereka seakan sudah siap membedah kepala mungil anak tak berdosa ini.
"tunggu!"
semua memandang ke arah ku bingung.
"kita tidak akan melakukan operasi terhadapnya"
jawab ku seakan membuat mereka bertanya-tanya kebingungan.
"tolong kamu suntikkan cairan ini ke tubuhnya ya"
"setelah itu sadarkan dia"
sahut ku lalu pergi keluar ruangan.
***
"ana! kamu bisa bantu ibu pasangkan tv nggak?"
"iya bu!"
"tv nya sudah di betulkan tadi. mudah-mudahan tidak ngoros lagi ya"
aku hanya mengangguk.
"ibu mau ganti baju dulu setelah itu kamu anterin ibu ke pasar ya"
aku mengangguk kembali.
setelah ku pasang lalu mencoba menyalakan tv tersebut.
namun yang ku saksikan saat ini sungguh membuat ku sedih dan teringat masa lalu ku.
dokter itu masuk di berita viral pada sebuah stasiun tv. dia baru saja menyelamatkan seorang bocah kecil yang mengidap penyakit mematikan. di sana terlihat dia sedang di mintai keterangan dengan perbuatannya tersebut.
wartawan-wartawan itu terus memaksa dia untuk memberitahukan tentang obat yang ia gunakan itu. namun dia tak memberitahukannya sedikitpun pada mereka.
sekarang dia semakin terkenal karna kepiawaiannya dalam proses penyembuhan.
"ana! kamu sudah siap belum?"
suara ibu seakan membuat ku sadar kembali.
"iya bu"
sudah setahun ini aku meninggalkan kampung halaman. sebenarnya aku hanya sekedar menengok nenek ku yang tinggal di aceh. tapi ibu malah menyusul ku dan meminta ku untuk tinggal di sini lebih lama. entah maksud ibu apa aku juga tidak mengerti.
"ana, kamu dari mana?"
tanya seorang laki-laki muda.
"dari pasar nganterin ibu"
jawab ku padanya.
"sore nanti kamu ikut ngaji juga kan?"
tanya dia
aku hanya mengangguk menjawabnya.
kemudian dia berlalu dengan sepeda motornya itu.
lelaki itu bernama fattan. aku mengenalnya sejak ikut mengajar ngaji di sebuah masjid.
lalu di sanalah kami berkenalan.
dia masih muda sekali tapi sudah pandai mengaji. bahkan dia hampir hafal al-quran.
kami bertemu setiap hari karna dia juga seorang guru ngaji di sebuah masjid tersebut.
dia baik dan tampan. suaranya juga bagus apalagi saat mengumandangkan adzan. merdunya minta ampun.
sorenya kami bercengkerama bersama. tak seperti biasanya dia mengajak ku mampir ke rumahnya. dia bilang jika dia ingin mengenalkanku pada orang tuanya. baru pertama kali ini aku mengunjungi rumahnya.
aku merasa aneh dan seperti ada yang dia sembunyikan dari ku.
lalu ku putuskan untuk segera pamit dari rumahnya.
__ADS_1
diri ku mulai bertanya-tanya apakah fattan mencintai ku atau tidak.
tapi aku berusaha menampik pikiran buruk itu.
sampai di rumah aku dikejutkan dengan sikap ibu yang juga aneh.
"ana, ibu ingin bicara dengan mu"
aku pun duduk di sebelah ibu.
"kamu tahu sendiri kan jika ibu sudah tua, dan sekarang ibu sudah sakit sakitan. kamu harus faham maksud ibu"
"maksud ibu apa bicara seperti itu!"
"sepertinya fattan tulus mencintai mu ana"
duerrrr!
seakan petir yang menyambar telinga ku.
bukan bahagia justru aku malah sedih mendengar ucapan ibu.
"ana, ibu perhatikan kalian berdua cocok dan sepertinya fattan juga menaruh perasaan dengan mu"
ujarnya lagi membuat ku semakin pusing dan sedih.
aku hanya tersenyum membalas ucapan ibu lalu pergi ke kamar.
ibu benar fattan mencintai ku.
tapi kenapa aku harus menangis?
air mata ku terus jatuh menetes dari pelupuk mata. seharusnya aku tidak sedih seperti ini. tapi aku tidak bisa membuka hati ku untuk lelaki itu. itu yang membuat ku menangis.
aku juga tidak tega jika harus menyakiti perasaannya karna dia adalah lelaki yang soleh. lelaki soleh adalah lelaki yang ku harapkan sejak dulu.
tidak.
tidak mungkin.
aku tidak menyukai dia.
huhuhuhu
aku terus menangis.
***
"ana, kamu sedang apa? itu diluar sepertinya ada tamu tolong kamu bukakan pintu. ibu sedang repot" teriak ibu dari bilik dapur.
"iya iya bu" jawab ku pada ibu.
aku pun bergegas membuka pintu.
namun aku dibuat syok dengan seseorang yang dihadapan ku ini. seperti rombongan satu RT. banyak sekali mereka semua ke rumah ku.
hati ku mulai kacau dan cemas.
apa maksud semua ini.
dengan nada yang kebingungan aku pun mempersilahkan mereka masuk.
"ada apa ya pak kok rame-rame?"
sumpah aku bingung sekali.
mereka malah tersenyum memandangku.
dan yang semakin membuat ku bingung fattan dan orang tuanya juga ikut dalam rombongan itu.
mereka berada di barisan paling belakang.
"fattan!!"
teriak ku cemas.
ya allah aku harus bagaimana ini.
hati ku semakin hancur berkeping-keping saat mendengar keluarga fattan bilang ingin melamar ku untuk fattan. rasanya aku ingin kabur dalam situasi ini. aku tak berani keluar kamar memperlihatkan wajah ku pun tak berani.
ya allah..
tiba-tiba saja ibu memanggilku untuk keluar memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan dari keluarga fattan.
terlihat jelas di wajah fattan sangat menginginkan ku. matanya seakan percaya diri dan berharap lebih.
aku sebagai perempuan sangat gugup dan bingung harus menjawab apa, karna sejatinya aku sama sekali tidak menyukai dia.
ayolah ana jawab saja tidak jika tidak suka.
batin ku terus bersahutan antara ''iya'' dan ''tidak''.
"gimana dek ana kamu bersedia tidak menikah dengan anak ku fattan?"
sahut seorang bapak di sebelah fattan.
aku tidak boleh menunggu lama lagi.
akhirnya aku pasrah dan mengangguk menandakan setuju.
mereka yang menyaksikan teriak sorak bahagia menyaksikan fattan memasangkan cincin di jari ku. tapi berbeda dengan diri ku, justru aku merasa jika aku dalam masalah besar.
ku tarik bibir ku tersenyum walau sejujurnya hati ini sangat sedih.
aku hanya berharap jika ini adalah awal yang baik untuk masa depan ku.
semuanya terlihat berpesta dengan suguhan yang ada. sedangkan aku hanya melamun dengan wajah menghadap televisi.
hingga tak sadar jika fattan sudah di sebelahku dan merangkul ku.
"fattan!" ku lempar tangannya di pundak ku.
dia justru kaget dengan balasan ku akan sikapnya.
"ups sorry ana" jawab dia.
"tolong fattan kamu jangan kelewatan! kita belum sah menikah" tegas ku memarahi dia.
namun dia malah tersenyum dan bahagia.
fattan terus menggodaku dengan sesekali mencubit gemas sedangkan aku terus ngomel karna kelakuannya yang menyebalkan.
sampai terdengar suara seorang pria di televisi yang membuat fattan tak berkedip sedikit pun ke arahnya.
aku pun menoleh dan terkejut melihat sosok rehan yang sedang wawancara.
ku tatap lagi wajah fattan dia seperti tak asing dengan sosok dokter tampan itu.
aku pun mencoba menegur dia dan menanyakan padanya.
"fattan kamu kenapa seperti terkejut begitu?"
tanya ku penasaran.
namun anehnya fattan malah meneteskan air mata. aku semakin dibuat bingung dengan perubahan sikap nya itu.
"kakak!" sebut dia.
apa aku yang salah dengar atau telinga ku yang sudah tuli. fattan tiba-tiba menyebut kata kakak sambil memandang siaran tv tersebut.
mungkin fattan melihat kakaknya di televisi karna tertangkap kamera wartawan. aku mencoba mencari-cari jawaban yang pas.
"kakak aku rindu" rintihnya lagi.
kepala ku semakin pusing mendengarnya. lalu ku tepuk lengan dia untuk mencoba menyadarkannya.
"fattan! yang mana kakak kamu"
tanya ku lagi.
lalu dia menatap ku dengan air mata yang bercucuran.
"dia, dokter itu adalah kakak ku!"
dowrrrrrrrrr!!!!
petir menyayat hati ku seketika mendengar jawaban yang di lontarkan fattan.
ini tidak mungkin.
fattan bersaudara dengan rehan!
aku langsung menutup mulut ku menahan kaget.
__ADS_1
rencana apa lagi ya allah yang kau peruntukan untuk ku?