
seperti biasa pagi hari aku kerja, dan sorenya aku kuliah. tak lepas dari itu semua.
namun sekarang berbeda, aku semakin sibuk mengurusi urusan orang lain sampai harus meninggalkan jadwal kuliah ku sampai urusan ini selesai.
tak hanya itu hati ku juga sekarang dipenuhi rasa gelisah dengan surat pembunuhan itu.
hari ini aku dan elsa bertujuan melapor ke polisi tentang surat pembunuhan itu.
di sana aku diintrogasi tentang hidup ku dan masalahku. namun polisi itu malah terkekeh mendengar cerita ku.
namun saat aku ceritakan peristiwa pembunuhan waktu lalu itu dia langsung menghentikan tawa nya seketika.
aku jadi bingung dengan pak polisi ini kenapa dia malah terkesan dengan cerita pembunuhan ini,batinku.
"apakah ada saksi lain selain adik dalam pembunuhan itu?" tanya polisi itu.
"seperti nya tidak ada pak, karna hampir 15 menit lebih saya tidak mendapat pertolongan pada saat itu" jelas ku.
"baik, anda masih ingat wajah orang itu?" tanyanya kembali.
"iya pak masih ingat, masih ingat sekali"
kemudian polisi itu malah pergi mencari entah apa aku tidak mengerti. karna yang ku laporkan kejadian ancaman pembunuhan diri ku tapi yang di telusuri malah pembunuhan dari ceritaku.
elsa merangkul pundak ku dengan sesekali menepuk lembut untuk menyuruhku bersabar.
pak polisi pun datang kembali sambil menyodorkan beberapa kertas bergambar pria-pria yang tak ku ketahui.
"coba kamu lihat dari gambar ini apakah ada di antara orang-orang ini" perintah pak polisi itu.
ku amati satu per satu gambar itu. sehingga sampailah aku pada gambar terakhir. namun tak ada satupun pembunuh itu dari gambar yang di perlihatkan pada ku.
"tidak ada pak"
jawab ku dengan nada lemas.
"komandan, tadi kertasnya jatuh!" suara seorang polisi dari sudut ruangan kemudian menyodorkan sebuah kertas kepada atasannya.
kemudian dia berjalan mendekati ku lalu memperlihatkan isi gambar dari kertas itu.
"pak, dia pelaku pembunuhan itu!" teriak ku.
tubuh ku langsung merinding seakan terlihat kembali kejadian pembunuhan sadis itu.
"dek, kamu jangan takut ya... dia juga kemungkinan pelaku yang mengancam kamu".
"karna mungkin kamu satu-satunya saksi di kejadian tersebut".
__ADS_1
apa!
aku seperti mendengar ledakan yang mengebom seluruh tubuh ku.
pria itu ternyata juga ingin membunuh ku. aku takut, namun aku harus lari ke mana. gimana dengan kuliah ku jika aku lari? pergi?
banyak sekali pertanyaan serta jawaban yang entah membuat ku tambah bingung.
di tambah lagi pernyataan beliau jika pria itu
seorang teroris, dan sekarang menjadi buron polisi.
merinding sekali.
aku peluk elsa degan air mata yang menetes.
seakan aku minta perlindungan dari nya.
sedangkan elsa tak henti-henti nya mencoba menenangkan diri ku.
kami akhirnya pulang dan aku mendapati rehan. dokter tampan itu.
"sedang apa dia" batinku.
"sa, aku turun sini aja ya" pinta ku pada elsa.
dia pun menuruti keinginan ku walaupun sempat cekcok dulu karna dia tak mengizinkan. namun akhir nya dia mengerti.
ku cari dia di tempat saat ku lihat, namun tak ada.
pikiran ku mulai aneh.
ngapain seorang dokter datang ke pekarangan yang rimbun seperti ini.
dia kan dokter seharusnya dia sekarang berada di sebuah RS untuk menangani pasien, bukan di sini.
ah... apa jangan-jangan dia menyembunyikan sesuatu.
pikiran ku mulai rincau hingga sadar pundak ku di tepuk oleh seseorang.
Aaaaaaa!!!!!!!
aku teriak.
burung pun kabur berterbangan seakan takut dengan raungan ku.
ku balikan badanku, ku lihat pria itu sudah di hadapan ku dengan wajah pucat nya dan tak lepas kemejanya yang selalu dikulun ke atas.
__ADS_1
"ana,ngapain kamu di sini"
tanya pria itu pada ku.
"*pak dokter, maaf saya nggak sengaja lewat sini dan mendapati anda di sini...jadi *---"
ku jelaskan panjang lebar ke rehan dokter tampan itu, eits salah sekarang ku ganti sebutan itu menjadi dokter pucat.
dia hanya terkekeh mendengar penjelasan ku tanpa menutupi jika sebenarnya dia menertawai ku.
"cukup belum....."
"...ana..."
dia mencoba menghentikan penjelasan ku dengan menyebut nama ku.
"ayo sekarang kamu ikut saya..."
ajaknya kemudian.
tanpa ada rasa takut aku membuntutinya.
dia mengajak ku pada sebuah tempat. tempat itu seperti rumah. namun rumah itu di tengah-tengah pekarangan seluas ini.
tanpa rasa takut aku masuk ke rumah itu.
waow!!!
takjub!!
"pak dokter, tempat apa ini?".
tanyaku penasaran.
"ini adalah tempat laboratorium, di sini lah aku melakukan berbagai penelitian--" jelasnya pada ku.
namun aku tak menghiraukan patah kata demi kata yang ia lontarkan. karna tempat ini begitu menakjubkan untuk dilewatkan.
ku amati arca demi arca di sana hingga sampai pada sebuah mesin besar yang tak tau itu apa.
hingga tak sengaja ku jatuhkan sebuah buku.
buku itu seperti diary.
kemudian ku taruh buku itu ke tempat semula, tanpa merubahnya sedikit pun dan pemiliknya tak mengetahui bahwa buku itu telah ku baca.
"pak dokter"
__ADS_1
ku langkahkan kaki ku mendekati pria pucat itu.
yang sedang duduk dan hanya punggungnya lah yang terlihat.