Dokter Tampan Dari Indonesia

Dokter Tampan Dari Indonesia
ramuan


__ADS_3

aku terus mendekat lalu ku tepuk dengan lembut pundak pria pucat itu.


dia pun menoleh dan kami pun berhadapan. mukanya terlihat sangat pucat dari sebelumnya. badannya juga terlihat menggigil serta bibirnya kering bagai aspal di djakarta.


tanpa berpikir panjang langsung ku bawa dia ke rumah sakit. namun sayangnya dia menolak. kami sempat ribut terlebih dahulu kemudian dia memberi tahukanku tentang sebuah ramuan.


ramuan yang ia simpan rapat-rapat. tanpa seorang pun tahu.


ku cari ramuan yang ia tunjukkan pada sebuah almari besar.


sambil ku lihat raut wajahnya yang semakin horor,merintih kesakitan. tangannya mengepal dan memukul kepalanya bertubi-tubi.


suaranya meraung-raung seakan macan yang kelaparan.


aku semakin gemetar menyusuri rakit demi rakit almari itu. hingga tanganku terasa dingin berkeringat tak berdaya melihatnya merintih kesakitan. dan tak kuasa air mata ku jatuh menetes.


satu per satu ramuan berhamburan dan menggelinding keluar dan terjatuh ke lantai.


"warna apa pak dokter ramuannya!" teriak ku.


"warna putih!" balasnya disela-sela kesakitan.


"bentuknya kotak kecil sebesar jari telunjuk mu" jawabnya lagi.


ku coba menenangkan diri ku dan ku cari benda kecil itu.


akhirnya aku bisa menemukan benda berharga itu di ujung almari paling pojok.


ku ambil benda itu dengan mengulurkan tanganku yang tak sampai. ku loncat dan ku raih benda itu dan syukurlah benda itu berada di tangan ku namun pada akhirnya benda itu terjatuh tumpah seperti temannya yang lain.


ku coba cari lagi namun sepertinya hanya tersisa satu yang ku tumpahkan itu.


sedangkan pria itu dia berusaha mengambil sisa tumpahan dari cairan itu.


seberapa berharganya sih ramuan itu sampai dia harus menjilati lantai yang penuh dengan tumpahan cairan yang menjijikan.


kemudian dia pun terkapar,tangannya mulai melemas dan tak mengepal lagi. matanya terpejam diantara puluhan entah ribuan kotak berisi cairan yang tak ku kenal.


"pak dokter, anda baik-baik saja kan?"


hati ku mulai takut, pikiran ku mulai kacau dan berfikir jika dia telah meninggal.


"tuan bangun!!" ku goyang-goyang kan tubuhnya yang terkapar. lalu ku tengok denyut nadinya. dan alhamdulilah dia masih hidup.


mungkin dia pingsan karna efek dari obat itu.


mungkin juga air putih bisa membangunkan dia.


ku teteskan air putih pada bibirnya.


dan tak beberapa lama dia akhirnya sadarkan diri.


wajahnya kini memerah dengan polesan cairan putih itu dia terlihat lucu.


aku pun tertawa, namun ku tahan karna takut dia tersinggung.


"terima kasih ana" ucapnya kemudian.


"sama-sama pak" jawab ku


dia pun melangkah pergi meninggalkan ku.


sambil berkata "rapikan obat-obatan itu seperti semula, nanti ku bayar" .


enak saja, dia pikir dia siapa?


jengkel nya diri ku mendengar perintahnya yang seakan aku ini adalah pelayannya.


ku turuti perintahnya tanpa menyisakan satu barang pun tertinggal dilantai.


kemudian ku pel juga lantai yang kotor terkena tumpahan obat-obatannya.


anggap saja ini adalah bonus baginya karna telah membuat ku jantungan hari ini.


setelah semuanya selesai tertata rapi, ku langkahkan kaki ku meninggalkan rumah dukun itu. dengan melewati penghuninya yang sedang duduk-duduk santai di depan rumah.


aku pun berhenti tepat di hadapan dia, namun dia pun tak menoleh dan malah asyik membaca koran tanpa menghiraukan ku sama sekali.


aku pun jengkel, karna dia berjanji ingin membayar ku. sebenarnya aku tidak terlalu mengharapkan bayaran itu namun dia telah berjanji. jadi aku berhak menagih janji itu padanya.


"ehem.."


"semuanya sudah selesai pak, jadi saya pamit" sahut ku.


oke, dia semakin mengerjai ku. seakan tak menghiraukan keberadaan ku yang dari tadi di hadapannya. aku pun melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


(sebenarnya rehan tertidur pulas, dengan posisi seperti orang membaca koran dan mata tertutup kaca mata hitam, siapapun yang melihatnya pasti berfikir sama dengan pikiran ana).


esok harinya aku meminta izin pulang ke bogor untuk menengok keadaan ibu di kampung.


mungkin aku bisa ngelibur untuk beberapa hari mentang-mentang skripsi ku telah selesai.


dan senin depan aku ujian skripsi.


"ana, lain kali tante,om, dan elsa boleh ya main ke bogor?" ucap tante.

__ADS_1


"iya tante, boleh banget. nanti aku ajak keliling bogor deh tante" timpal ku.


"ana, ini aku ada sisa tabungan bisa kamu gunakan buat ongkos pulang" ucap elsa sambil menyodorkan sejumlah uang kepada ku.


namun pada akhirnya aku menolak kebaikannya itu dengan bilang kalau aku masih punya cukup uang untuk ongkos pulang.


mereka pun melambaikan tangan sambil tersenyum melihat kepergianku seakan menunggu aku kembali.


yjogja-bogor mungkin bus kota adalah satu-satu transportasi termurah yang bisa ku pilih.


namun naas,uang ku tak cukup untuk membeli tiket.


tubuh ku terasa lemas dan ambruk seketika.


bersandar di kursi dengan pikiran kosong adalah kebiasaan ku saat putus asa menjalani hidup.


"ini mbak, tiket mu terjatuh tadi" tiba-tiba suara seorang anak kecil menyodorkan sebuah tiket kepada ku.


"ee...dek ini bukan..." belum selesai menjawab bocah itu malah pergi meninggalkan ku.


aku pun menggunakan tiket itu, dan berniat menggantinya dengan uang bagi pemiliknya.


5 menit lagi bus itu berangkat dan aku belum mencari tempat duduk.


ku cari tempat duduk yang kosong, dari ujung depan ke belakang.


tinggal 1 kursi kosong tepat berada di tengah. aku bergegas menduduki kursi tersebut yang berjejeran dengan seorang pria berjaket tebal dan bermasker.


pria itu nampak cuek dan dingin, dia sama sekali mengacuhkan keberadaan ku.


sebenarnya aku sangat risih sekali jika harus bersandingan dengan seorang pria.


bagaimana lagi ini satu-satunya bangku kosong di bus itu.


tapi tak apalah yang penting aku bisa pulang dengan selamat.


kendaraan pun mulai berlaju.


semua lampu sengaja diredupkan supaya para penumpang bisa istirahat dengan tenang.


aku pun memejamkan mataku seakan lelah melewati hari ini.


"istri ku di mana ya? sepertinya tadi aku menyuruh seorang bocah untuk memberikan tiket itu"


sahut pria di sebelah ku.


mataku terbuka lebar kembali seperti habis makan bakso mercon dan makan biawak hidup-hidup. perkataan pria itu mengingatkan ku pada bocah yang ku temui tadi sore. dia memberi ku sebuah tiket lalu aku menerimanya tanpa dosa.


dan seenaknya aku menggunakan tiket tersebut.


aku terus menyalahkan diri ku sendiri serta menyebut diri sendiri bodoh.


sebenarnya aku sudah berniat diri untuk mengganti sebuah tiket itu. namun uang ku tak cukup, kalaupun cukup aku tak perlu mengambil milik orang lain toh aku bisa membelinya sendiri.


"pak maaf, tadi saya diberi sebuah tiket oleh seorang bocah. mungkin maksud bapak tiket itu? dan saya berniat ingin menggantinya dengan uang--" jelas ku panjang lebar.


namun dia malah terkekeh dan malah berniat memberi ku uang.


terkejut bercampur bingung, itulah perasaan ku saat ini.


tiba-tiba dia menaruh segepok uang bewarna merah di atas pangkuanku.


jumlahnya pun tak sedikit, dilihat dari tebalnya kira-kira 5 juta an lebih. seumur hidup pun aku tak pernah melihat uang sebanyak itu. menurut ku cukup untuk hidup satu bulan bagi masyarakat miskin seperti ku.


"pak, maksud anda apa kasih saya uang sebanyak ini?" tanyaku.


"karna itu bayaran kamu kemarin" balasnya lagi.


alis ku mengerut seketika dan bibir ku mlempem bagai karet yang kedinginan.


aku langsung bisa mengetahui siapa pria bercadar ini dan mengapa juga dia memberi ku honor di bus. gila! sungguh memalukan sekali jika ada yang melihat. pasti mereka akan berfikiran negatif tentang diriku, wanita bayaran lah dan bla bla bla.


aku langsung bisa mengetahui siapa biang kerok dihadapanku ini, pria yang selalu tak absen membuat ku jantungan setiap bertemu. siapa lagi jika bukan si dokter pucat itu.


saking gereget nya tanpa sadar aku cubit perutnya hingga dia lepas kendali dan teriak "aaaaaaaah" sampai para penumpang di sana memandang ke arah kami berdua terlihat wajah mereka seakan berfikir jika kami sedang mesum.


aku pun hanya nyengir menahan malu.


sedangkan dokter itu tertawa kegirangan melihat wajahku yang terlihat malu.


ini sungguh tidak adil, aku harus menjauh dari dokter edan ini.


"anda waras pak dokter! memberiku uang sebanyak ini hanya karna aku telah membantu mu memberesi rumah"


"anda sadar? anda hanya menghambur-hamburkan uang anda"


jelas ku dengan nada kesal.


"kata siapa aku menghambur-hamburkan uang, aku hanya ingin kamu membantu ku"


ucap dokter itu lagi.


aku semakin penasaran dengan dokter muda ini. apa sih maunya?


aku bisa-bisa terserang penyakit jantung dan tekanan darah tinggi jika harus berdekatan dengan pria ini.

__ADS_1


"jika aku tidak mau, anda mau apa..?"


ancam ku padanya.


"oke, berarti kamu bakalan turun dari bus ini, karna tiket itu adalah milik ku" ancaman maut.


pintar sekali dia membalikkan fakta. mengancam ku dengan cara licik.


oke aku memang selalu kalah darinya.


"kenapa harus saya pak? anda kan bisa cari orang lain untuk membantu anda kan".


jawab ku mencari alasan.


"jangan PD, saya hanya ingin kamu membantu saya mencari sebuah tanaman untuk ku jadikan ramuan"


"kebetulan ramuan itu sudah habis--"


jelasnya.


ternyata ramuan kemarin itu adalah obat pereda sakit yang ia derita. aku semakin gila mendengar ceritanya, dia memang pantas ku sebut dukun.


selain jenius, dia juga bisa membuat obat untuk dirinya sendiri.


"oke, saya mau.. tapi anda tidak boleh tinggal di rumah saya dan setelah saya bantu menemukan tanaman itu anda harus menjauh dari kehidupan saya".


ucapku mengajukan syarat kepadanya.


dia pun mengangguk tanda setuju.


dia bercerita tentang kehidupannya sampai kami harus tidak tidur malam itu.


aku pun tidak menyangka jika dia mempunyai penyakit separah itu. kanker selaput otak.


dia juga tidak mengetahui jika dia mengidap penyakit itu. hingga akhirnya dia didiagnosa mengidap penyakit mematikan itu.


dia sempat mempunyai keluarga, namun perceraian lah yang telah memisahkan dia dari kedua orang tuanya.


dia memang orang kaya, namun tak pernah mendapatkan kasih sayang serta perhatian sejak kecil. berbeda beda dengan ku. aku anak orang kurang mampu tapi aku dibesarkan oleh rasa kasih sayang dan penuh cinta.


walaupun pada akhirnya ayah ku terlebih dulu meninggalkan kami.


aku juga heran kenapa dia tidak memilih jalan medis dan malah berusaha mengobati penyakit itu sendirian.


walaupun pada akhirnya dia akan mati. di indonesia kanker adalah penyakit yang sulit disembuhkan serta pengidapnya tak akan bertahan lama.


tapi berbeda dengan dokter muda ini, dia malah meyakini bahwa penyakitnya akan sembuh. dia juga meyakini jika setiap penyakit pasti akan ada obatnya.


aku pun terharu melihat semangatnya yang begitu tinggi untuk hidup.


mudah-mudahan apa yang dicita-citakannya tercapai untuk bisa melanjutkan hidup.


tak terasa jam pun sudah menunjukkan pukul 4 pagi. sebentar lagi adzan subuh berkumandang.


kendaraan yang kami tumpangi berparkir di depan masjid. aneh batin ku kenapa bus ini mau parkir sejenak, karna setahu ku bus akan terus berjalan kecuali saat berganti supir atau ban bocor.


akhirnya ku tanya supir bus yang ku kendarai.


"pak, kenapa kok kita berhenti di sini?"


"memangnya anda tidak mengejar target, atau ada salah satu bannya yang bocor?"


tanyaku.


"kita hormati orang yang beragama islam ya neng, biarkan mereka melaksanakan kewajibannya dulu. dan kebetulan saya juga islam" jawabnya kemudian tersenyum.


wah bijak sekali bapak ini, mau memberikan waktunya sejenak untuk kepentingan umat.


mudah-mudahan supir bus yang lain juga bisa seperti bapak ini. yang bijak terhadap waktu.


setelah selesai sholat aku pun kembali ke tempat duduk ku semula.


ku dapati dokter rehan sedang nyenyak tertidur.


"pak dokter!"


"bangun! sudah sholat belum? bus nya sudah mau jalan"


dia pun membuka matanya sayup-sayup. kemudian menjawab jika dia tidak akan sholat.


"anda bilang anda islam?" tanyaku kemudian.


"memangnya kenapa?" jawabnya sewot.


aku pun sedikit kesal dengannya. walaupun manusia tidak ada yang sempurna tapi setidaknya mereka ingat dengan tuhan nya. serta mau beribadah sesuai ajarannya masing-masing.


rasanya ingin sekali aku memaki dirinya.


sekitar jam 5 pagi kami sampai di terminal.


karna waktu masih sangat pagi, jadi kami harus menunggu sampai matahari mulai terbit.


selang beberapa menit sebuah angkutan umum berhenti di jalan depan kami dan aku menaikinya.


tapi mengapa pria ini juga ikut bersamaku.

__ADS_1


__ADS_2