Dokter Tampan Dari Indonesia

Dokter Tampan Dari Indonesia
surat cinta yang tersembunyi


__ADS_3

Setelah siuman dari proses penyembuhan.


Aku harus melakukan isolasi selama 7 hari di rumah sakit, demi masa pemulihan.


Sekarang masa isolasi ku sudah 3 hari namun sudah seperti satu tahun.


bahkan aku juga tidak boleh keluar ruangan sedikit pun.


apa-apaan ini!


separah ini racun itu sampai harus dikurung sendirian seperti ini!


rancau ku.


aku terus berusaha menenangkan diri, karena aku juga belum tahu kondisi di luar sana seperti apa.


serta kondisi fattan saat ini.


dimana dia!


seingat ku dialah yang membawa ku ke rumah sakit ini sampai akhirnya aku pingsan dan tak ingat apapun setelah itu.


lalu dimana rehan?


apakah dia baik baik saja?


Kini perasaan ku menjadi panik setelah mengingat peristiwa itu. pertempuran yang hebat!


2 suku saling bertempur di sana.


setelah kaki ku terkena panah,fattan membopong ku dan bersembunyi di balik pohon.


Dan setelah itu pertempuran dimulai, kami berdua menyaksikan dengan kengerian tiadatara.


aku pun memejamkan mata, berharap pertempuran itu tak kembali datang di otak ku.


saat ku buka mata, suara pintu kamar terbuka.


namun sosok dibalik itu, aku tidak tahu dia siapa.


dia mengenakan baju yang sama dengan yang ku pakai saat itu.


Dari sosoknya yang tegap dan tinggi, sepertinya dia seorang laki-laki.


Kemudian dia berjalan mendekati ku dan berhenti tepat di samping keranjang tempat ku berbaring.


"apa kabar ana?" sapa dia.


"baik" jawab ku singkat seraya menatap matanya.


mata itu! sepertinya aku tidak asing dengan sorot matanya.


"lalu apa kabar dengan mu saat ini?" tanya ku balik.


"wow, apakah kamu mengenaliku?"tanya dia


aku sempat diam karna bingung akan menjawab apa. sejatinya aku tidak tau siapa pria ini, namun aku sengaja berlaga mengenalinya.


"oh tentu!" timpal ku lalu tersenyum.


"padahal ku pikir kamu tak mengenaliku dengan pakaian yang ku kenakan ini" balasnya.


"sorot mata mu tidak bisa membohongiku rehan! hahahaa..." timpal ku terkekeh.


Lantas aku memindahkan posisi ku dari berbaring menjadi duduk.


aku tersenyum selepas itu dan memandang kembali ke arah pria itu.


Hingga suara seseorang dari luar ruangan menyadarkan ku. Dengan diperjelas lagi dari sudut kaca jendela tatkala terlihat sosok nama pria terduga di depan ku.


Pria itu adalah rehan, dia dengan jelas menampakkan diri di luar kamar ini.


Lantas siapa pria yang dihadapan ku ini!.


Dan diperjelas kembali saat dia masuk.


sementara pria dihadapan ku dia malah pasrah tanpa bicara sedikit pun.


krekkk!


suara pintu terbuka.


Rehan memandang ku.


"ana?" sapa dia lalu tersenyum.


kemudian matanya menyorot ke arah pria asing di depan ku. Dengan mudahnya rehan langsung tahu siapa pria dibalik kostum yang ia kenakan.


"fattan! kakak kan sudah bilang jangan masuk ke sini dulu!" wajah rehan berubah berang.


fattan! oh tidak dugaan ku salah, batin ku.


dengan tangan masih menggenggam kuping pintu dia memarahi adiknya.


"kamu juga tidak boleh memakai pakaian itu sembarangan! pakaian itu hanya boleh digunakan oleh tenaga medis!" cerca rehan.


"kak, maafkan aku. aku hanya rindu ingin melihat ana......" jelasnya.


"kakak tidak peduli alasan apapun, sekarang kamu keluar dari ruangan ini!" perintah rehan.


aku hanya bisa melongo melihat perdebatan mereka berdua.


"tapi kak..."


"keluar sekarang!"

__ADS_1


fattan masih terus merengek meminta negosiasi dari kakaknya.


"kakak mohon fattan kamu mengerti!"


"aku hanya tidak ingin ada seseorang yang mengetahui keberadaan mu di sini, atau masalah ini akan semakin besar"


fattan tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti permintaan kakaknya tersebut.


tanpa mengeluarkan sepenggal kata pun fattan pergi meninggalkan kami berdua.


Pria itu selalu saja dengan mudahnya membuat ku kesal.


Aku tidak mengerti mengapa rehan diam saja seperti ini. Bahkan dia tak mengeluarkan kata sedikit pun. Hanya sekali dengan menyebut nama ku saja. Bahkan aku menginginkan dia juga bertanya kabar atau kondisi ku saat ini.


Toh aku seperti ini karena dia.


Dua saudara kandung itu beriringan pergi meninggalkan ku sendiri. Tak lupa pintu ruangan ini juga dikunci kembali.


Sampai aku merasa jika diriku bukan lagi manusia yang bisa hidup bebas. Lebih mirip burung peliharaan yang selalu dalam sangkar.


Aku berpikir, Se mematikan ini kah racun itu?


Sampai-sampai aku harus diisolasi selama 7 hari di tempat ini. Tanpa merasakan hembusan angin, melihat matahari,bahkan bulan.


Menunggu waktu satu jam saja rasanya bagai sebulan. Tidak ada aktivitas yang bisa membuatku lekang akan waktu. Tidak ada HP, tidak ada Televisi, Radio juga tidak.


Membosankan!


Dua saudara itu juga sangat menyebalkan.


Yang kurcaci tergila-gila akan cinta, dan yang bangkokkan tiba-tiba marah,cuek,ramah tidak jelas.


Mudah berubah banget ngeselin!


Apakah mereka juga tidak sadar jika aku belum ganti pakaian selama 3 hari?


Sampai-sampai kostum rumah sakit ini tidak pantas lagi disebut pakaian, melainkan karung beras.


Aku hampir tidak betah memakainya!


Setelah bosan beberapa jam, suster pun masuk.


Dia membawa makan malam untuk ku dan juga sebuah plastik kresek yang entah isi di dalamnya.


"Apa ini sus?" Tanya ku pada perawat tersebut.


"Tidak tahu mbak, dokter tidak memberitahukannya pada ku" balas dia.


"Dokter? Memang dari siapa ini?"


"Dari dokter rehan" timpalnya dengan melangkah keluar.


Aku penasaran dengan isi dari plastik ini, lalu aku membuka plastik berwarna hitam itu.


Jreng jreng!!


Kebetulan aku juga sudah tidak nyaman dengan baju rumah sakit ini.


Saat aku membuka baju tersebut sebuah kertas melayang di wajah ku.


Kertas itu bertulisan


Dear Ana


Maaf ana aku harus mengatakan ini padamu.


Sebaiknya kamu harus mengganti baju tersebut karena jika tidak, jangan salahkan aku kalau mereka akan pingsan setelah datang ke ruangan mu.


Terima kasih.


Rehan


Dasar!


Berbuat baik saja masih ingin berusaha memancing emosi ku. Sebenarnya dia itu tulus apa tidak sih memberikan baju ini untuk ku.


Awas saja nanti akan ku balas hinaannya itu.


Singkat waktu, suster pun datang kembali ke ruangan ku. Dia mengambil piring serta gelas dari sisa makan yang ku nikmati.


"Ada titipan mbak?" Tanya suster itu sontak membuat ku kaget. Dari mana dia tahu jika aku akan menitipkan sesuatu padanya.


"Dari mana kamu tahu jika aku akan menitipkan sesuatu pada mu?"


"Bukan saya mbak, tapi pak rehan" balas suster itu dengan cekikikan.


"Apa dia berbicara sesuatu dengan mu?"


Tanya ku gugup.


"Kata pak rehan, katanya dia sudah tahu jika mbak ana akan menitipkan surat untuk nya"


Tukasnya menggoda ku.


Aku semakin gugup, karna rehan justru lebih pintar dari tukang ramal.


"Kenapa mbak diam saja?"


"Jadi tidak nitip suratnya mbak? Hihihi.." suster itu terus terkekeh menggodaku.


Tidak mungkin jika aku harus menitipkan surat ini padanya. Karena aku sudah terlanjur malu setelah berkali-kali ditertawai.


"Siapa juga yang mau nitip surat untuknya!"


"Percaya diri banget sih dia!"

__ADS_1


Tukas ku penuh birahi.


Dia justru semakin tertawa geli menanggapinya.


Lalu matanya menyorot ke arah kertas yang ada di tangan ku. Aku berusaha menyembunyikan surat itu di balik selimut.


"Jangan di sembunyikan mbak, aku sudah tahu kok kalau surat itu untuk pak rehan?"


Dia masih terus menggoda, aku semakin kesal dan tersudut.


"Siapa bilang untuk rehan!"


"Surat ini untuk.." ucapan ku terputus, karna bingung menyebutkan nama.


"Untuk siapa hayoh?"


"Untuk fattan!" Jawab ku merasa menang.


Akhirnya aku bisa membungkam mulut perawat itu. Dia pasti sudah tidak akan menertawai ku lagi. Aku tersenyum puas.


Dengan bicara seperti itu ku pikir masalah ini akan selesai, ternyata tidak!


"Wah kebetulan sekali pak fattan lagi berada di ruangan yang sama dengan dokter rehan, sini mbak biar aku sampaikan padanya!"


Lantas dia langsung mengambil surat tersebut dengan paksa.


"Jangan sus jangan!!"


"Jangan!"


Aku sudah berusaha menahan, namun suster tersebut sudah lebih dulu kabur dari hadapan ku.


Gawat!


Surat itu tidak boleh sampai ke tangan fattan.


Karena isinya aku tulis khusus untuk rehan.


Gawat!


****


Tok tok!


Suara pintu terketuk dari luar ruangan.


Dan seorang perawat berada di balik pintu tersebut setelah fattan menerima secarik kertas.


Surat!


Aku tergugah melihat surat itu di tangan fattan.


Ah tidak mungkin!


Aku terus berusaha membuang asumsi ku pada sebuah kertas itu.


Telpon berdering


Ternyata panggilan dari kantor kepolisian, mereka memberitahukan jika aku harus datang sebagai saksi besok.


"Baik pak, besok saya akan datang!"


Aku menutup telpon.


Hari ini tidak memungkinkan jika aku harus pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari klara.


Dengan kondisi seperti ini, seharusnya wanita itu tidak pergi begitu saja.


Jika dia pergi, mungkin memang ada sesuatu yang penting menyangkut dengan dirinya.


Untung saja pemerintah Indonesia dengan sigap langsung menutup semua transportasi dari Kalimantan. Jadi wabah ini tidak mungkin memasuki kawasan lain.


"Kak!" suara fattan memanggil ku.


"Hem?" Balas ku dengan masih sibuk menyentuh komputer.


"Ini!!" Fattan melemparkan secarik kertas di hadapan ku.


Spontan aku menoleh ke arahnya karna bingung terhadap perubahan sikapnya.


"Kenapa dilempar ke sini!"


"Surat itu untuk kamu kak!"


"Aku pergi dulu ya!"


Balas fattan melangkah keluar.


Apa maksud dia memberi barang dengan tidak sopan seperti ini. Aku masih belum sadar dengan kertas itu.


Lantas ku buka kertas itu.


Di atas kertas tersebut tertulis nama ku.


Dear Rehan


Makasih ya bajunya.


Bagus!


Terima kasih juga ya sudah mau mati-matian menahan pingsan saat berada di ruangan yang sama bersama ku.


Ana


Aku tersenyum tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Ternyata dibalik sifatnya yang galak, dia juga lucu. Bahkan lebih lucu dari seekor kucing.


__ADS_2