
Hati ini seperti di bom ketika mendengar kabar bahwa warga di salah satu desa di indonesia terkena wabah penyakit yang mematikan.
Nyali ku terbawa untuk pergi ke sana.
Entah mencari malapetaka atau apa, yang pasti aku ingin membantu mereka. Bukan hanya itu, justru aku penasaran. Sebenarnya penyakit apa yang telah merenggut nyawa orang-orang yang tinggal di sana. Mereka semua mati dengan mudahnya. Ini bukan hanya musibah bagi mereka, tapi juga tugas ku menjadi seorang dokter.
Desa itu jauh sekali, aku harus berjalan kaki selama 7 km dari pusat kota.
Tidak hanya itu, kaki ku pun penuh lumpur karna medan tempur yang tidak terisolir.
Padahal keadaan hujan lebat, baju ku hampir basah kuyup sebelum akhirnya aku berteduh di sebuah rumah tua.
Ini baru separuh perjalanan, dan aku harus melanjutkannya setelah hujan reda.
Kaget bukan main, ku pikir ini rumah kosong. Namun aku mendengar suara wanita.
Seperti suara isak tangis, tapi aku yakin jika suara itu berasal dari dalam rumah tua ini.
Aku masih mengamati deru tangisan itu dengan menempelkan telinga ku ke pintu.
Dan aku semakin yakin untuk mengetahui asal suara itu. Aku pun memberanikan diri untuk masuk ke dalamnya.
*astaghfirullah *!
Dugaan ku benar ada wanita di dalam rumah ini.
Ku beranikan diri untuk lebih mendekat dengan dirinya. Lalu dia menoleh, sorot matanya tajam menatap ke arah ku. Dengan sekejab membuat ku terhenti dan mematung.
Lalu dia mendekati ku, terlihat wajahnya berapi-api. Bukan takut, tapi aku justru bingung.
kenapa dia?
Sekarang dia berada di hadapan ku.
Oh tidak!
Dia bau sekali. Aku berusaha menghempaskan rasa risih ku di hadapannya.
"Kamu siapa!"
Lantang suaranya di antara guntur.
"negara ini tak ada gunanya!"
"penyakit itu sudah lebih dulu mengambil keluarga ku!"
"tolong jawab kamu siapa!"
Wanita itu terus meraung dengan nada keras. Sedangkan aku hanya mematung mendengar ceritanya.
"jangan bilang kalau kamu ke sini untuk mengobati kami semua!" Jelas dia lagi.
Lalu diiringi isak tangis nya.
"terlambat !"
Aku berusaha menenangkannya, namun dia terus meronta.
"diam!!" tegas ku kepadanya.
Dia justru malah menangis dan memeluk ku.
"tolong tuan, keluarga ku sudah meninggal semua. Aku tak punya harapan hidup lagi! huhuhu....."
"iya aku mengerti, anda sekarang tenang ya tenang"
"aku ke sini untuk membantu kalian semua sembuh dari virus itu."
"jadi mbak tidak usah khawatir".
Akhirnya dia bisa menenangkan diri.
Lalu aku menyuruhnya untuk membersihkan diri, Dia pun menuruti perkataan ku.
Diluar masih terdengar suara hujan dan guntur bersautan. Berharap cepat reda, agar aku bisa melanjutkan tugas ku.
"mas"
Terasa sentuhan dingin dipundak ku.
"oh kamu sudah selesai?"
Wanita itu sudah berdiri di hadapan ku.
"sudah!"
Aku hanya tersenyum membalasnya.
Dia terlihat berbeda dari sebelumnya.
Tak lupa dia juga membuatkan ku kopi.
Dari dulu aku tak pernah diperlakukan seperti ini oleh wanita. Pantas saja aku begitu bahagia saat wanita ini membawa kan ku secangkir kopi.
"aku klara, nama mas siapa?"
Tanya dia memulai perbincangan.
" rehan"
Kami berjabat tangan.
Kami pun banyak bercerita dan bercanda.
Hingga tak terasa hujan pun sudah reda.
Namun keadaan sudah gelap dan menunjukkan pukul 11 malam.
"sudah,malam ini kamu nginep di sini saja!"
"kebetulan di belakang ada kamar kosong, besok aku antar ke perkampungan"
Lantas dia mengantar ku ke sebuah ruangan.
Dia juga pamit dengan sangat ramah lalu akhirnya menutup pintu.
aneh!
Wanita itu ternyata bukan orang gila. Dia jelas-jelas wanita waras yang kehilangan keluarganya.
Aku menghempaskan tubuh ku ke sebuah dipan reot. pikiran ku terus berputar berdiskusi mencari jalan keluar dalam masalah ini.
Lantas aku duduk kembali dan mencari ponsel ku yang ku taruh di ransel.
Sial tak ada sinyal!
Aku menggerutu kesal.
Aku pun berbaring kembali karna frustasi.
Ku pejamkan mata ku.
Badan ku terus bergoyang mencari posisi tidur yang nyaman. Tiba-tiba terdengar suara decak kaki. Namun aku berusaha menenangkan diri dan memejamkan mata ku kembali.
Suara itu terus semakin dekat dan terus dekat.
kreng kreng kreeeeng....
Sekarang terdengar suara rantai yang bersentuhan.
Aku semakin dibuat curiga dengan suara itu.
tok tok tok..
pintu kamar ku diketuk.
aku harus segera pergi dari tempat ini sebelum terlambat.
****
Alhamdulilah pagi ini aku sudah sampai di bandara. Mata ku hampir tak bisa terlelap karna rasa khawatir. Rehan bukan hanya menguasai hati ku tapi otak ku juga telah dikuasai.
Bagaimana bisa aku tidur tenang, sedangkan dia sedang berjuang di pedalaman.
"sayang, aku masih ngantuk"
Suara fattan membangkitkan amarah ku.
Kok bisa dia merengek, sedangkan nyawa kakaknya lagi diujung tanduk.
"fattan! kok bisa ya kamu bilang seperti itu padahal di pesawat kamu tidur!" sengak ku padanya.
Dengan santainya dia malah tertawa.
Aku semakin brutal, lalu ku tinggalkan dia sendiri.
"sayang sayang tunggu!"
"sayang!
Dia terus berteriak. Sedangkan aku sudah di dalam angkutan umum.
Ku lambaikan tanganku kearahnya, berharap dia semakin kesal. Sekali-kali pria itu dikerjai agar tidak seenaknya sendiri, dan bisa memikirkan orang lain.
Ku ubah posisi ku untuk berbaring.
Akhirnya aku bisa memejamkan mata.
sssssssssst !!!
Spontan saja tubuh ku terguling ke jalan.
Aku berusaha berdiri, sayangnya mobil tersebut sudah duluan pergi.
Angkut sialan!
Aku terus memegang kepala ku yang terbentur aspal. Bersyukur karna masih selamat dari kejadian tadi.
__ADS_1
Di sini banyak berjumpa dengan masyarakat.
Mereka masih terlihat sama seperti ku. Penampakan mereka tidak kelihatan orang pedalaman.
"mbak, ini sudah sampai desa plecit ya?"
"oh, belum kak.. ini dusun sinehe, dusun plecit masih jauh..."
Beliau menceritakan arah ke dusun tersebut kepada ku. Tak kurang dari mereka juga ada yang mewanti-wanti untuk tidak pergi ke dusun tersebut.
Kengerian itu terus bergentayangan dibenak ku. Namun aku terus melanjutkan perjalanan ku Walaupun sebenarnya rasa takut itu ada, tapi aku yakin jika aku pasti bisa melewatinya.
Ini semua aku lakukan demi..
Demi rehan?
Bukan, bukan pria itu.
Aku pastikan jika ini semua ku lakukan demi indonesia ku tercinta.
Diantara lumpur jalan setapak pun ku lalui.
Walau sepatu ku berubah menjadi gumpalan tanah, baju ku pun dekil bernuansa tanah.
Tak lupa keringat ku berkucuran mengalir di seluruh tubuh.
brukkk
Aku terpeleset.
sial!
Kini aku sudah seperti kuli lahan.
Bahkan lebih parah lagi.
Ku pandang ke depan.
Aku hanya bisa menghela nafas saat melihat Jalanan lumpur ini masih begitu jauh.
Tiba-tiba saja aku mendengar suara anak kecil,dari suaranya dia seperti sedang menangis. Namun entah dari mana asal suara itu.
Aku terus mencari asal dari suara itu.
Mata ku berputar-putar ke semua penjuru arah.
Sampai akhirnya aku melihat anak itu. Dia tampak terduduk di tanah.
Aku pun menghampiri dia.
Jemari ku berusaha menyentuh lengannya, namun aku tarik lagi.
Sedangkan dia menoleh ke arah ku.
Ku beri dia sebuah coklat, lalu dia tersenyum membalasnya.
Nama kamu siapa dek?
Tiba-tiba saja terdengar suara aneh di arah yang tak jelas.
Spontan anak itu kabur dengan sebuah coklat di tangannya dan tanpa sepatah kata pun.
Mata ku mencari asal dari suara tersebut, namun tak terjawab.
prakkkkk
Seseorang telah menutup mulut ku lalu menyeret tubuh ku ke semak-semak. Tangan itu begitu dingin menempel di bibir ku.
siapa dia?
Aku berusaha berontak, lantas ku gigit telapak tangannya dengan sekeras mungkin.
aaaaaa!!
Dia berteriak kesakitan lantas mengibaskan tangannya.
Aku pun membalikkan tubuh ku menghadap pria itu. Dan akhirnya segerombolan kelompok suku pedalaman berlarian di hadapan kami.
Pria itu kembali membungkam mulut ku dengan tangannya lalu menarik ku untuk bersembunyi.
Sedangkan seseorang tak asing ada pada kelompok tersebut. Dia adalah anak kecil yang ku beri coklat tadi. Ternyata dia adalah anggota dari kelompok suku tersebut. Mereka pun tak terlihat lagi diantara ribuan rumput teki.
Akhirnya aku merasa lega.
Ku arahkan mata ku pada lelaki yang berada di samping ku. Dan ternyata sejak tadi dia menatap ku. Bibirnya tersenyum lebar. Matanya tenggelam dalam-dalam diantara jutaan rindu yang tersimpan.
"rehan?" ku panggil lelaki itu.
Ingin sekali aku memeluknya karna kangennya hati ini. Tanpa menjawab kata-kata ku,Dia malah mengambil tangan ku dan meletakkan di dadanya.
Bukannya bahagia, aku malah sedih.
Aku sedih karna ternyata dia masih menyukai ku.
"ana, apa benar kamu ke sini untuk bertemu dengan ku?" tanya dia kemudian.
Aku tau jika sebuah cincin sudah melingkar di jari manis ku. Itu tandanya ada sebuah ikatan.
Akhirnya hal yang ku takutkan terjadi, rehan melihat cincin itu dijari ku. padahal aku sudah berusaha menyembunyikan itu darinya.
"ana kamu sudah bertunangan?" tanya dia kembali. Mulut ku membisu, bahkan air mata ku nyaris jatuh dari pelupuk mata.
Aku tak mungkin menceritakan kepahitan ini padanya sekarang. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk membongkar semuanya.
"ana jawab!"
Dia terus memaksa ku untuk menjawab semua lontaran itu.
"ayo jawab!"
Sampai kemudian seorang lelaki menghampiri kami berdua. bahkan dia dengan beraninya memeluk rehan.
"kakak! aku merindukan mu"
"akhirnya aku bisa bertemu dengan mu!"
Sekarang lengkap sudah, sebentar lagi rahasia ini akan terbongkar. rehan sudah bertemu dengan adik kandungnya.
"fattan, adik ku!"
"kamu baik-baik saja nak"
Diantara keduanya meneteskan air mata, menandakan betapa rindu diantara mereka.
"aku baik kak!"
Aku berjalan menghindar dari dua saudara itu.
Da berharap mereka tak melanjutkan ceritanya dengan ku.
"ana, tunggu!"
Suara fattan memekik suasana.
Langkah ku pun terhenti.
"tempat ini kurang aman,sebaiknya kita pergi dari sini sekarang" ujar ku mengalihkan perhatian.
Kami pun melanjutkan perjalanan kembali.
Fattan berjalan berjejer di samping kakaknya, sampai akhirnya dia menghampiri ku dan melontarkan pertanyaan menyedihkan.
"ana, aku tidak sabar ingin menceritakan rencana pernikahan kita pada kakak ku" bisik nya.
Ku lihat raut wajahnya begitu bahagia, berbeda dengan diri ku.
"apakah kamu sudah ceritakan pertunangan kita pada kakak mu?" tanya ku menelisik.
"oh iya aku lupa!"
"aku akan ceritakan padanya sekarang!"
sontak aku terkejut mendengar tanggapannya.
"e.. fattan tungg.."
Aku berusaha menghentikan langkahnya.
Namun dia sudah dulu menghinggapi kakaknya.
Otak ku terus berputar mencari cara agar fattan Tak sempat menceritakan pada rehan.
Akhirnya aku punya ide.
Aku yakin ide ini pasti bisa membuat mereka panik dan tak sempat bicara.
brughh!
Sial! awalnya aku ingin pura-pura, namun terjatuh beneran.
"auw!"
"rehan! aku terkilir!" teriak ku.
Sontak mereka berdua menatap ku panik.
Oh tidak!
Aku salah sebut nama. Seharusnya fattan, tapi kenapa rehan yang aku sebut.
"fattan rehan aku terkilir!"
"cepetan jangan diam saja!"
Mereka berdua menghampiri ku.
namun rehan, dia berjalan dengan pelan membelakangi fattan.
__ADS_1
Fattan dengan sigap membopong ku.
aku tau jika aku melakukan kesalahan besar pada mereka berdua. Dan suatu saat rehan pasti akan tau.
****
Akhirnya kami sampai di perkampungan.
Ana begitu akrab dengan adik ku.
Walau aku sudah lama tak berjumpa dengan saudara kandung ku,entah kenapa justru aku malah sedih melihatnya.
Apakah karna fattan dekat dengan ana?
Ada sesuatukah diantara mereka?
Tapi jika ada, mengapa fattan tak menceritakannya pada ku.
"kak, kampung ini seperti kampung mati" ucap fattan.
"sudah, sebaiknya kita mencari tempat tinggal untuk menginap nanti malam" jawab ku.
"baik kak!" jawab dia kembali.
"ana, kamu tunggu di sini ya dengan kakak. biar aku cari tempat tinggal"
"aku pergi ya"
Fattan melambaikan tangan, lalu menghilang diantara pepohonan.
Sekarang hanya tersisa kami berdua.
Tapi kenapa ana hanya diam saja. Apakah dia tak menyukai ku?
Ah sudah lah!
Aku ke sini bukan untuk berpacaran dengan wanita ini, melainkan menolong warga di dusun ini.
"pak dokter! nanti apa yang akan kita lakukan?" tanya ana di dalam keheningan.
"tugas kamu mencari tau sebab dari virus yang menyerang warga di sini".
"caranya?" tanya dia kembali.
"kamu membawa seorang warga di sini untuk dibawa ke tempat persembunyian kita. di sana aku akan mengambil sampel darah dari orang tersebut" jelas ku.
"apa! aku sendiri?" pekiknya.
"kalian berdua. kamu dan fattan!".
jawab ku bernada berat.
"tapi pak dokter, kenapa kita bersembunyi? seharusnya kita terus terang saja pada mereka!"
tanya ana membuat ku kesal.
"ana kamu nurut saja apa kata ku!"
"baik dokter tampan!" jawabnya kemudian tersenyum. padahal aku sempat kangen dengan semboyan itu, "dokter tampan".
fattan kembali dengan berlari.
dia memberitahukan jika salah satu warga di sini mengetahui keberadaan kami.
"celaka! kita harus pergi dari sini" tegas ku.
"fattan! kamu sudah menemukan tempat tinggal?"
"sudah kak! tapi agak jauh dari sini"
"baik! ayo kita ke sana sekarang!"
"kak! aku minta tolong gendong ana ya! biar aku yang memantau keamanan sekitar!"
Aku hanya bisa pasrah menuruti permintaan fattan.
kami berjalan dengan sedikit berlari.
"ana! jangan bilang jika kamu pura-pura keseleo?"
rayu ku padanya.
"enak aja! beneran tau!" ketusnya.
"nih lihat bengkak!" sahutnya sambil menunjuk ke arah pergelangan kakinya.
aku pun tertawa, dan dia ikut tertawa. kami tersenyum bersama.
"sudah sampai kak!"
Teriak saudara ku yang sekarang berada di depan rumah tua itu.
"kamu yakin di sini aman?" tanya ku memastikan.
"yakin seratus persen!"
"eh ana kenapa kamu masih nengkreng di situ!"
"ayo turun!"
"nggak sopan banget sih sama kakak ipar!"
aku terkejut dengan lontaran yang diucapkan fattan. ternyata benar jika dia menaruh perasaan dengan ana. aku kemudian menurunkan ana dari punggung ku.
bahkan ana tak menampik lontaran fattan.
apakah benar mereka ada hubungan?
"fattan! kamu pijat pergelangan pacar kamu ya! biar kakak cek ke dalam", ujar ku memastikan.
"seharusnya aku yang melihat ke dalam!"
"dan kakak yang memijat kaki ana! kan kakak dokter! jadi lebih tau dong?"
Fattan pun pergi meninggalkan kami.
Aku selalu mendapat kesempatan berdua dengan wanita ini. Tapi anehnya aku tak berani menanyakan sendiri pada dia.
sebenarnya aku tau, tapi aku kurang yakin jika tak mendengar sendiri dari mulutnya.
"pak dokter! kenapa diam saja?"
"ayo urut kaki ku!" pinta dia.
"tidak, aku tidak akan menyentuh mu!"
"kenapa?" tanya dia sedih.
"karna kamu bukan istri ku" jawab ku sombong.
"apa! heh dokter pucat! anda ini sombong sekali ya. padahal saya juga ogah dipegang-pegang anda!"
"apalagi itu tadi... adegan tangan ditaruh di dada! eh ternyata cuma acting" sindir nya membuat ku semakin kesal.
"apa acting!"
aku tak terima dibilang acting.
"iya! kamu acting! kamu berpura-pura manis pada ku, seakan-akan menyukai ku. padahal itu semua bohong!"
ternyata wanita ini sedang bermain-main dengan ku. oke, aku akan melayaninya!
agar semua lebih jelas, siapa yang sebenarnya sedang acting!
"wanita cantik baik!"
aku tersenyum memandangnya.
aku tahu betul jika sebenarnya dia bermaksud ingin tahu tentang perasaan ku kepada nya.
otak ku mulai menyusun kata-kata untuk wanita ini. kata-kata yang membuat dia terbungkam dan mengetahui isi hati ku sesungguhnya.
tidak!
dia tidak boleh tau!
aku harus membuat dia membenci ku!
karna fattan menyukainya!
alisnya mulai mengerut menunggu tanggapan ku.
ana maaf aku harus bicara ini pada mu.
ana maaf, batin ku.
"tidak mungkin aku mencintai wanita jelek dan kucel seperti mu!"
"diluar sana aku bisa mendapatkan wanita yang lebih dan lebih dari diri mu wanita jelek!"
"jadi jangan pernah berharap untuk mendapatkan hati ku!"
tes!
air mata itu jatuh dari kelopak mata ana.
sekarang aku berhasil!
berhasil membuat dia terluka.
maafkan aku ana, batin ku.
wanita itu mengusap air matanya kemudian pergi meninggalkan ku tanpa sepatah kata pun.
aku menyesal!
aku menyesal telah berbicara seperti itu kepadanya.
__ADS_1