
sejak rehan koma dia jadi bertemu dengan ayah kandungnya. ayah yang sudah lama tak pernah berjumpa dengan dia. ternyata dia adalah pemilik rumah sakit terbesar di bogor. pak heri kuswadi pemilik rumah sakit terbesar di bogor.
saat rehan berkemas untuk pulang, rehan melihat sebuah kotak kecil yang tercecer cairan warna hijau. rehan pun penasaran dan mengambil kotak kecil itu. tak lupa dia pun mengambil sisa-sisa dari cairan berwarna hijau itu.
dan dia mengenali cairan itu yang tak lain adalah obat penawar sakit yang ia derita. lalu dia bergegas mencari tahu siapa yang sudah membawa ramuan ini ke rumah sakit.
dia terus menanyai para petugas di rumah sakit.
akhirnya dia pun bertemu dengan dokter yang menanganinya sebelum itu.
dokter nisa!
rehan memanggil wanita cantik itu.
wanita itu pun tersenyum.
"nisa, kamu tahu siapa yang membawa ramuan ini ke kamar ku?" tanya rehan tak sabar.
"aku, aku yang membawanya rehan" jawab dokter nisa.
"kamu?" rehan semakin tak percaya.
dia bahkan tidak menyangka jika wanita yang berkali-kali ia tolak cintanya ini adalah orang yang menyembuhkannya.
rehan pun memeluk wanita itu. air mata nya pun menetes karna haru merasakan keajaiban ini.
sedangkan nisa,dia merasa puas karna usahanya kini tak sia-sia. ternyata dia masih memendam rasa cintanya kepada dokter tampan ini.
namun dia telah berbohong karna sejatinya orang yang telah menyembuhkan koma rehan sudah ia jebloskan ke penjara. walaupun dia juga tahu bahwa besok wanita itu akan bebas dari tahanan.
tak bisa dipungkiri jika rehan pasti akan mencintainya tak seperti dulu saat pernah menolak cintanya, pikir wanita itu.
"rehan, aku melakukan ini semua karna aku tidak mau kamu mati sia-sia" sahut dokter nisa.
"iya aku mengerti"
rehan melepaskan pelukan wanita cantik itu.
"tapi dari mana kamu tahu racikan ramuan itu" tanya rehan penasaran.
"aku.... aku tau lah.."
"kan aku broshing lewat internet" jawab wanita itu terpatah-patah.
"oh ya?" rehan semakin curiga. karna setahu dia di internet belum ada orang yang mengetahui tentang racikan ramuan itu. bahkan dialah orang pertama yang menemukan obat pereda itu.
nisa semakin bingung menjawab pertanyaan rehan. karna ternyata rehan sangat kritis dan menakutkan.
dia pun mengalihkan pembicaraan dengan mengajaknya makan siang di luar.
sejatinya nisa bukanlah wanita yang mengerti rehan karna rehan tidak akan tinggal diam begitu saja dengan kebohongan nisa. sebenarnya dia tahu jika wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. yang pasti dia harus tau jika nisa adalah orang yang menyelamatkan hidupnya atau bukan. namun dia diam dengan pura-pura mengikuti alur yang diperankan oleh wanita itu.
sampai mereka pun tidak sadar jika dari kejauhan bu salimah sedang memperhatikan kemesraan diantara keduanya. yang pasti rehan hanya pura-pura melakukan ini semua, dia hanya menginginkan kebenaran yang sesungguhnya.
bu salimah merasa terpukul melihat pria yang dicintai oleh putrinya itu ternyata melupakan mereka begitu saja. bahkan pria itu juga telah melupakan jasa putrinya yang telah membangunkan dia dari masa komanya.
dia pun pergi meninggalkan tempat itu, padahal tujuannya adalah memberitahukan jika putrinya sekarang sedang di tahan di kantor polisi. namun semua itu sirna karna pria itu telah melukai hati beliau dan juga putrinya.
***
hari ini aku dibebaskan dari tahanan karna polisi bilang orang yang melaporkanku mencabut gugatannya.
aku sangat senang sekali karna mereka menjadi tahu tujuanku sebenarnya adalah kebaikan bukanlah tindak kriminal.
ku lihat ibu telah menunggui ku di ruang tunggu.
ku peluk dia sambil menangis terharu.
aku sengaja tidak menanyakan kepada ibu tentang keadaan rehan, karna aku sengaja ingin membuat surprise kepada diri sendiri tentang kesembuhan rehan. hari ini juga aku ingin melihatnya langsung ke rumah sakit. berharap melihat dia sudah membuka matanya, sudah duduk dan tersenyum kepada ku.
ya tuhan aku benar-benar tidak sabar menunggu itu semua. tapi ku lihat wajah ibu tampak sedih dan tidak seperti biasanya.
mungkin dia masih merasa terharu dengan ini semua.
"pak ke rumah sakit dokter heri kuswadi ya" sahut ku pada supir angkot.
namun ibu malah marah dia bilang jika " kita tidak perlu datang lagi ke sana!"
aku menjadi bingung dengan perubahan sikap ibu. seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dari ku. aku pun tergugah untuk mencari tahu yang telah terjadi sebenarnya. aku pun turun dari angkot dan berlari menaiki ojek. tidak perduli jika ibu akan marah pada ku karna dia juga salah telah menyembunyikan sesuatu dari ku. di belakang ibu juga tidak terlihat mengejar ku membuat aku semakin semangat untuk segera sampai ke rumah sakit.
yes aku sudah sampai di rumah sakit.
aku pun berlari ke kamar pasien rehan.
sampai aku pun terjatuh karna tak sadar jika seseorang sedang mengepel lantai.
ya allah..
aku berusaha berdiri dengan dibantu seseorang di sana. sekarang sudah tidak bisa berlari lagi. dan hanya bisa berjalan pelan sambil memegangi pinggang ku yang terasa sakit.
sampai aku tiba pada sebuah kamar dimana rehan dirawat.
jantungku kini berdebar karna melihat sebuah kamar yang kosong.
y tuhan, rehan dimana?
apakah dia sudah pergi?
pulang kah? atau
meninggal?
aku pun menangis, tidak mengerti.
ibu ternyata menyembunyikan jika rehan telah meninggal. air mata ku tak hentinya jatuh menetes seakan merasakan pilu yang mendalam.
aku menyesal.
aku menyesal
aku menyesal karna aku adalah pembunuh.
aku telah membunuh rehan.
otak ku terus berkata sendiri, menjawabi setiap pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
aku terus berusaha menenangkan pikiran ku sendiri. lalu terpikirkan untuk bertanya ke suster.
dan suster bilang jika rehan sudah sembuh, dia baru saja keluar dari rumah sakit.
aku tersenyum mendengarnya karna berarti rehan tidak meninggal.
aku langsung berlari ke luar rumah sakit berharap rehan masih berada di depan sana.
sakit di pinggang ku hampir tak terasa lagi karna terlalu mementingkan pria itu.
rehan!
teriak ku memanggil pria itu.
dia bersama dokter nisa.
aku benar-benar tidak percaya jika pria di hadapanku adalah rehan. dia nampak biasa-biasa saja. tidak terlihat jika dia menyukai ku. bahkan dia tak tersenyum sama sekali saat melihat ku.
ya allah kenyataan apa lagi ini?.
"rehan, kamu sudah sembuh" sahut ku. rasanya aku ingin sekali memeluk pria di hadapan ku ini.
"iya, dari mana saja kamu?"
ketus dia
"loh rehan.." aku mencoba menjawab pertanyaannya namun dia kembali melontarkan kata-kata yang membuat ku semakin kecewa.
"aku sekarat, tapi kamu malah pergi tidak tau kemana. sekarang aku sembuh kamu malah datang kembali"
deg!
kata-kata itu seakan menikam ku.
sakit sekali.
ya tuhan tolong kuatkan hati ku.
aku hanya bisa menangis mendengar perkataan pria itu. aku juga tidak menyangka jika dia akan menyakitiku dengan cara seperti ini.
rehan kenapa kamu tega sekali?
dia bahkan tak mengucapkan kata-kata lagi dan pergi dengan wanita lain.
ibu, maafkan aku.
seharusnya aku mendengar apa kata mu.
__ADS_1
nasehat mu benar jika rehan tidak mungkin menyukai ku. dia bahkan membenci ku sekarang.
tapi, apa dia tahu jika aku hampir di penjara karna ramuan itu.
sudahlah, aku tidak perlu lagi mengejarnya toh dia tak mungkin mempercayai ku.
***
aku semakin bingung dengan semua ini.
ana tidak perduli dengan ku, itu tandanya dia tidak menyukai ku. nisa bilang jika ana hanya menjenguk ku sekali saat aku koma. ternyata selain wajahnya yang jelek, hatinya pun jelek seperti sampah. tak sesuai dengan penampilannya yang sangat agamis.
tapi kenapa hati ku malah terasa sakit sekali menerima kenyataan ini.
bahkan aku seperti tidak percaya jika ana seperti itu. dan sekarang aku seperti menyesal telah berkata kasar seperti itu kepadanya.
"rehan, kamu mikirin apa sih?
"nggak, aku cuma lagi mikirin bagaimana cara aku mendapatkan tanaman itu lagi"
"oh itu?"
"nanti aku bantuin nyari ya"
aneh!
ternyata nisa bukanlah pembuat ramuan itu. aku harus bisa membuktikannya.
"nis, kamu dapat tanaman itu di mana?"
aku mencoba menelisik.
"oh, aku dapat di...."
"di kebun belakang rumah ku"
jawab dia seperti menyembunyikan sesuatu.
"masak sih?" aku tidak percaya.
dia pun malah mengajak ku mampir ke rumahnya untuk membuktikan perkataannya itu.
sopir taxi pun berhenti di depan rumah nisa.
aku meminta si supir untuk menunggu sebentar.
aku tidak boleh terbujuk rayuan wanita centil ini. aku tahu dia sangat licik, jadi aku harus lebih berhati-hati lagi. aku memang pria yang banyak disukai wanita, tapi aku bukanlah seorang pria rendahan yang gampang menyukai wanita.
"rehan, kamu tunggu sini ya aku buatin minum dulu"
"nggak usah nis, kasihan nanti supir nungguin lama" jawab ku mencari alasan.
"terus kamu mampir ke sini mau ngapain?"
tanya nisa.
sudah ku duga jika nisa hanya menipu ku.
dia membuat ku semakin bingung. dia mampu memutar-mutar kan keadaan.
aku pun pamit pulang, namun nisa dengan sigap menghempaskan tubuhku ke sofa.
dia bahkan menindihiku hingga membuat punggung ku sakit karna dorongan tangannya.
"nisa! apa yang kamu lakukan!"
tubuh ku seakan menerima pasrah himpitan tubuh nisa. karna tenaga ku hampir habis terkuras dengan lamanya koma kemarin.
"rehan, aku mencintai mu!"
bisik wanita itu di telinga ku.
"nisa, kamu tahu sendiri kan aku tidak mencintai mu" jawab ku.
"baik! aku akan buat kamu mencintai ku!"
wanita itu langsung melumat bibir ku.
saking ganasnya dia seperti wanita yang kerasukan setan.
sial!
dia mampu memanfaatkan situasi. dengan sekuat tenaga aku berusaha menyingkirkan wanita gila itu dari tubuhku.
aku harus melakukan sesuatu.
"nisa. kamu begok sekali. karna tubuhku ini sudah berkali-kali bercinta dengan linsi"
aku tau jika dia sangat membenci linsi. jadi aku gunakan nama linsi untuk memancingnya.
aku berusaha mengalihkan wajah dia agar bisa menghadap ku.
dia pun termakan umpan dan menghadap ke arah ku. aku pun langsung menarik wajahnya dan menggigit bibirnya.
"aw!!"
bibirnya kini berlumuran darah.
namun aku tak perduli dengan nya sedikit pun.
karna dia terbukti menipu ku.
setelah itu aku pun pergi meninggalkan rumah setan itu.
aku berharap setelah ini aku tidak bertemu dengan wanita iblis itu lagi.
***
malam ini ana memutuskan mengaji. dan setelah itu dia berdoa kepada allah agar dia bisa melupakan rehan. dan bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada. dia baru merasakan sakit hati karna sekian lama dia tak pernah merasakan jatuh cinta.
"bu, besok aku berangkat ke jogja lagi ya?" sahut ana.
"ana, kenapa ke jogja? kan kamu sudah ujian? di sini saja bersama ibu" timpal bu salimah.
"elsa minggat bu, dan sampai sekarang dia belum juga pulang ke rumah. tadi tante fatma telpon aku"
"ya allah..."
aku baru mendapat kabar jika elsa tak kunjung pulang ke rumah. tante fatma terus menelpon ku dan meminta ku untuk ikut membantu cari elsa.
aku sudah mencoba menghubungi elsa, tapi dia tak menjawab telpon.
aku pun mulai menelpon teman laki-laki elsa yang dahulu pernah elsa kenalkan pada ku. tapi mereka juga tak ada yang tau elsa di mana.
keesokan harinya aku sampai di jogja.
tante fatma sudah menunggu ku di terminal. matanya terlihat sembab karna habis menangis semalaman.
lalu dia memelukku. aku pun berusaha menenangkan dia, setelah emosinya membaik lalu aku mencoba menanyakan kepadanya.
"tante, memangnya ada apa kok elsa sampai tidak pulang?"
"sebenarnya om dan tante memutuskan berpisah, kita sempat cekcok dan elsa melihat kami adu mulut waktu itu. kebetulan saat itu kamu sedang pulang ke bogor. mungkin itu yang membuat elsa kabur dari rumah" jelas tante fatma kemudian menangis.
aku hanya melongo tak percaya mendengar cerita tante. melihat keluarga elsa aku bahkan dulu sempat iri. karna mereka begitu harmonis dan penuh kasih sayang. tapi aku tidak menyangka jika keluarganya serumit ini.
"om darwin selingkuh di belakang tante. tapi tante hanya diam saja saat itu. semakin hari dia semakin keterlaluan karna dia bisa berpura-pura baik di depan anak. padahal di belakang itu semua dia selalu dingin dengan ku" imbuhnya lagi.
aku hanya bisa memintanya bersabar.
terus terang aku bisa merasakan perasaan tante saat ini. sebagai seorang anak aku juga bisa merasakan hati elsa yang kacau.
setelah hari itu aku tak pernah berjumpa lagi dengan elsa. sudah hampir satu bulan ini elsa belum juga mengabari.
kepergian elsa membuat ku pindah mencari tempat tinggal. aku merasa tidak enak karna terus melihat kesedihan tante fatma sepanjang hari.
jadi aku memutuskan untuk pergi dari sini dan tinggal di kontrakan.
alhamdulilah hari ini aku bisa lebih tenang. tidak ada lagi wajah rehan dan juga bayang-bayang elsa.
sambil menunggu hari wisuda aku memanfaatkan waktu luang ku untuk bekerja. itung-itung saat aku pulang kampung nanti aku bisa membelikan ibu baju baru.
***
rehan merasakan aneh pada tubuhnya saat ini.
walaupun dia seorang dokter dia juga rutin memeriksakan penyakitnya di teman dokternya.
"dokter rehan, kenapa nggak diperiksa sendiri saja? saya tau anda lebih pintar dari saya"
ejek fadli dokter spesialis otak.
rehan hanya tersenyum membalasnya.
__ADS_1
"yang bikin saya penasaran pak rehan, sebenarnya anda itu minum obat apa ? kalau boleh saya tau" sambung dokter fadli sambil sibuk memeriksa kesehatan dokter rehan.
"saya meracik sendiri pak fadli"
"saya tau anda memang jenius pak rehan, racikan obat anda banyak ditiru di bidang ilmu kesehatan"
"jadi alangkah senang hati saya jika anda mau menjual resep itu kepada saya karna saat ini pasien saya banyak yang mengidap penyakit seperti anda"
"pak fadli terus terang saja obat itu sudah habis. saya juga bingung akan mencari tanaman itu lagi dimana. yang pasti ada satu seseorang yang mengetahui resep itu selain saya"
dan sekarang aku sedang berusaha mencari seseorang itu, batinnya.
satu bulan ini dia tinggal bersama ayahnya. dia berupaya mengobati rasa kangen ayahnya karna sudah 15 tahun dia tak tinggal bersama.sejak kedua orang tuanya berpisah rehan hidup mandiri.
hari ini dia tiba di jogja. tak ada tempat yang lebih ia rindukan selain gubuk laboratoriumnya itu.
jadi dia memutuskan untuk langsung mampir ke sana. kebetulan juga dia mengendarai mobilnya sendiri.
dia berlari kecil menghampiri gubuk itu, karna sekarang posisinya hujan.
bukannya senang ia malah memamerkan wajah yang sedih dan kaget. tempat nya kini terlihat seperti kapal pecah.
"ya allah!"
"siapa yang telah berani mengorak-arik tempat lab ku"
tumpukan botol kecil sampai besar berserakan di lantai. tak lupa juga cairan dari botol itu turut berceceran.
dia melihat jendela terbuka dan langsung berfikir jika ada seseorang yang telah masuk ke sini lewat jendela.
sial!
ada seseorang yang telah mencuri resep obat-obatan ku.
kurang ajar!
dia juga sudah menggunakan alat-alat lab ku.
tapi aku seperti pernah lihat cairan ini.
rehan terus menggerutu.
dia ingat jika di rumah sakit waktu itu dia juga pernah melihat ramuan ini di sana. warna serta baunya sama persis dengan yang ia temukan waktu itu. dia baru sadar jika dia belum pernah meracik obat ini. dia juga baru melihatnya.
"aku harus mencari tahu orang ini"
***
sudah hampir setengah hari aku belum juga mendapatkan lowongan kerja.
mana perut sudah lapar lagi. mungkin hari ini aku harus lebih ngirit lagi karna belum adanya pemasukan. akhirnya aku hanya membeli 2 keping roti dan air mineral saja. dan hanya mengeluarkan uang 5000 rupiah.
saat aku menaruh roti itu ke dalam tas,aku menjadi sadar jika aku masih menyimpan resep obat rehan.
ya allah, rehan pasti sedang mencari buku ini.
aku harus mengembalikan buku ini secepat mungkin.
akhirnya aku melihat kembali gubuk menyebalkan itu lagi. di dalam hati ku berharap jika pria itu tidak sedang berada di sana.
sudah cukup lelaki itu telah menyakiti perasaan ku. dan aku tak ingin melihatnya lagi.
aku mengendap-endap berjalan menghindari dedaunan kering sekitar gubuk.
kressss!
suara daun terinjak.
aku terus menghindari daun kering yang berserakan, namun selalu terulang dan terulang kembali.
hingga aku harus bertemu dukun gila itu lagi.
dia sudah dibelakangku sambil berdiri dengan tatapan mata tajam.
"apa yang kamu lakukan di sini?"
gertak dia.
tangan ku gemetar dan nyali ku ciut. bukan karna aku takut. tapi karna perasaan ini. aku juga tidak mengerti mengapa perasaan terus bersemayam di dada ku. bukan main aku tak berani menatap wajahnya.
dia lebih seram dari seorang dukun.
"aku tanya, kenapa diam saja".
"aku mau mengembalikan ini" jawab ku sambil menyodorkan sebuah buku.
aku berharap dia tidak menanyakan hal yang tak bisa ku jawab.
"mengapa buku ini ada pada mu?"
gertak dia lagi, namun sekarang suaranya terdengar melemah dan manis.
"ana"
panggil dia kemudian.
aku semakin gugup karna jantungku benar-benar hampir copot.
aku harus pergi dari sini.
bicara pun aku pasti tak akan ada artinya untuk dia. aku pun bangkit dan berusaha berjalan pergi dari hadapannya.
tak di sangka tangannya menarik lenganku.
aku tidak terima jika tubuhku dipegang-pegang seperti ini. tapi aku juga tidak akan mengulangi kesalahan seperti waktu lalu.
oke, kali ini aku mengalah.
aku akan bicara dengannya.
"kenapa dokter?"
"y allah ana, aku dari tadi tanya kamu"
"kamu tidak mendengarkan apa yang ku katakan"
"maaf dokter, saya akan bicara. tapi tolong lepaskan dulu tangan saya"
"oke oke.. tenang tenang"
diapun melepaskan tangannya dari lenganku.
"ana kayaknya kita bicara di dalam saja ya biar lebih enak" pinta dia.
aku hanya mengangguk pertanda setuju.
oh tidak berantakan sekali. aku hampir lupa jika dulu aku pernah mengosek di sini.
dan aku langsung pergi tanpa membereskannya lagi.
mati aku!
dia pasti akan mencurigai ku dan pasti akan marah besar pada ku.
"ana, kamu jawab jujur ya"
"apa benar kamu yang buat ramuan ini?"
sial sekali. akhirnya terbongkar juga.
"jawab ana!"
"iya" jawab ku menunduk.
aku pikir dia akan kesal dan memakan ku hidup-hidup. namun dia justru tersenyum menatap ku. aku pun membalas senyumannya.
sejak itulah aku semakin akrab dengannya.
aku pun menjadi tau apa yang ia sukai dan yang tidak ia sukai.
semakin hari aku semakin takut kehilangan dia. namun aku juga tidak berani mengungkapkan perasaan ini. aku khawatir jika dia tak menyukai ku. tapi sampai kapan aku harus memendam perasaan ini. lebih takut lagi jika dia terburu menemukan wanita lain.
sampai suatu hari kekhawatiran ku menjadi nyata.
saat aku sengaja menemani rehan melakukan operasi. dia satu satunya dokter bedah yang dipercaya di sebuah rumah sakit. dan pasiennya yang tak lain adalah adik dari wanita itu.
wanita yang ia simpan di buku panduan itu sekarang di hadapanku.
dia lebih cantik dari foto itu.
hampir tiap hari mereka bertemu.
aku tau jika rehan pasti masih mencintai wanita ini. walaupun perih, aku tetap tak bisa merubah keputusan ku lagi.
__ADS_1
yaitu pergi dari kehidupan rehan untuk selamanya.