Dokter Tampan Dari Indonesia

Dokter Tampan Dari Indonesia
episode 02 Dia lagi


__ADS_3

Pagi ini aku merasa kurang enak badan, sedangkan aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tak lupa tugas laporan ku yang belum terselesaikan.


"Ya tuhan, berikan jiwa yang semangat untuk diri ku" batinku.


Ponsel pun berbunyi, ternyata elsa.


Dia adalah sahabat ku, dan asli orang jogja.


Dia cantik,kaya dan juga baik, dia islam seperti ku. Tapi dia tidak berhijab seperti ku. Lantas itu tak menjadi masalah untuk ku, semua orang bisa berteman dengan siapapun.


Aku berpendapat jika Indonesia kaya.


kaya akan Budaya, akan alamnya, ras nya pun kaya, tak lupa agamanya juga banyak, tapi kami semua hanya satu yaitu indonesia.


Jadi menurut ku tidak masalah, berteman dengan siapa pun.


"ni, kamu dimana?" tanya elsa dari telfon.


"masih di kos an, ada apa sa?" tanya ku.


"kesini cepet! kamu lupa ya kita kan ada ceramah nanti malam". sambungnya lagi.


Lantas aku langsung menutup telfon dan berangkat menuju kampus.


Namun saat aku berjalan menuju halte, tak sengaja aku melihat seorang pria bersorban yang sedang berkelahi. Pria itu memukul seorang pria yang lebih muda darinya.


Aku terkejut karna pria muda itu tiba-tiba jatuh tergeletak, sedangkan pria bersorban itu akhirnya kabur setelah melihat ku. Kelihatannya dia lari karna mengetahui keberadaan ku di sana. Sontak aku langsung lari menghampiri pria muda itu.


"pak, bangun pak!" ucapku sambil menepuk-nepuk pipinya.


Jantungku berdebar, tanganku gemetar, sepi tak terlihat ada orang di sekitar sana.


"y allah aku harus bagaimana" batinku.


Lalu aku mencoba memegang tangan pria itu, dan ternyata dia masih hidup. Setelah itu aku berusaha memapahnya berdiri. Dan tak disangka-sangka ternyata punggungnya bersimbah darah.


Aku semakin panik tak terkendali.


"tolong!!!!"


"*tolong!!!"


"tolong*!!!" aku berteriak minta tolong.


Setelah lama bergembar -gembor akhirnya ada orang yang menolong kami. Lantas aku bawa pria itu ke rumah sakit.


Ya tuhan aku sangat takut sekali. Jika benar terjadi apa-apa dengan pria itu bagaimana. Pasti aku yang akan dituduh melakukan pembunuhan tersebut. Aku akan berurusan dengan polisi dan dipenjara.


Jika aku dipenjara?


Bagaimana dengan ibu dan kuliah ku.


Semuanya pasti akan kacau.

__ADS_1


Otak ku terus berputar karna kepanikan yang tiada akhir. Maklum aku baru kali ini menjadi saksi dalam pembunuhan yang menurut ku sangat tidak manusiawi. Dan aku satu-satunya saksi yang dengan jelas melihat pembunuhan itu.


Tak berapa lama keluarganya pun datang.


"nak, matur suwun ya sudah membawa suami saya ke rumah sakit. saya tidak tau kalau tidak ada sampeyan suami saya mungkin tidak tertolong lagi" ucap ibu itu sambil menangis.


Dugaan ku salah, keluarganya tak menyeramkan dengan apa yang ku bayangkan.


"iya bu, sudah sepatutnya kita saling tolong-menolong, lagian saya juga tidak sengaja melihat suami ibu sudah tergeletak di jalan" balasku.


"kamu tahu orang yang ingin membunuh suamiku itu? apakah kamu sempat melihat nya?" tanya ibu itu dalam tangisnya.


Namun saat aku ingin menjawab pertanyaan ibu itu, tiba-tiba datang seorang dokter yang mencari keluarga dari pria itu.


"nak, kamu tunggu sini dulu ya, saya mau temui dokter dulu" perintah ibu itu kepada saya.


Aku hanya membalas dengan mengangguk.


Ponsel ku pun berbunyi kembali, elsa menghubungiku lagi. Aku pun mengangkat telfon elsa sambil melangkah keluar rumah sakit.


Di koridor tak sengaja aku melihat seorang anak kecil yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki dewasa.


Aku menyaksikan keakraban mereka hingga menjadikan diriku tak bisa fokus dengan pembicaraan yang sedang kami langsungkan.


"sa, kayaknya aku nggak bisa ikut ceramah untuk malam ini deh, nanti kamu rekam saja ya acaranya biar aku bisa nonton nanti di rumah" pintaku pada elsa kemudian menutup telpon.


Laki-laki itu terlihat membiarkan anak itu sendiri dengan menanggalkan sebuah senyuman yang berisi penuh arti.


Bahkan anak itu juga tak segan-segan membalasnya dengan tersenyum.


Bocah itu terlihat cacat bahkan dia mengenakan kursi roda.


Raut wajahnya mengungkapkan jika dirinya tak ingin berpisah. Tumbuh rasa empati ku dan tertantang untuk menemuinya, karna rasa kasihan yang bergejolak di dada ku.


lalu aku menghampiri anak itu.


"hay, siapa nama kamu adek kecil?"


tanya ku pada anak itu.


dengan ramah anak itu menjawab " *namaku rehan kakak".


"oh rehan, ibu mu mana? kenapa di sini sendirian*?"


tanyaku lagi.


Tiba-tiba saja anak itu menangis.


Oh tidak!


Apa yang terjadi dengan dia.


Aku terus berusaha dengan berbagai cara untuk membuatnya tak menangis, namun gagal.

__ADS_1


Dan dia terus menangis.


Sampai aku putus asa dan menyesal karna telah membuatnya seperti ini, walau aku juga tidak mengetahui dengan jelas letak kesalahanku ada di mana.


Sambil tersedu-sedu anak itu pun berkata,


"orang tua ku sudah meninggal, kemarin kami kecelakaan. mereka sudah pergi meninggalkanku sendiri"


Ya tuhan betapa teririsnya hati ini mendengar pernyataan anak ini. Aku terpukul bukan main mendengarnya. Spontan aku langsung menutup mulut ku dengan telapak tangan karena haru menyaksikan kesedihan anak yang menangisi kepergian orang tuanya, padahal tadi dia sempat tersenyum dengan seorang laki-laki. Seperti sudah melupakan kejadian setahun silam. Karena kesalahan ku ini dia menjadi sedih kembali.


Aku menyesal.


"maafkan kakak nak, kakak tidak tau kalau orang tua mu sudah pergi" ucapku sambil berusaha menenangkannya.


Namun dia masih saja terus menangis, menjadikan ku semakin bingung.


"aku panggil saja ya saudara mu yang tadi!"


timpal ku seraya berjalan karena frustasi.


"jangan! dia bukan saudara ku!" balasnya.


Lalu tangisnya pun tak terdengar lagi.


syukurlah, batinku.


"terus pria tadi siapanya kamu jika bukan saudara mu?"


"Kalian terlihat seperti kakak Adik" sambungku.


"dia dokter yang merawatku, dia yang sudah menyelamatkan hidupku. dia rela berselisih dengan dokter lain agar kaki ku tidak diamputasi, agar aku tetap mempunyai kaki yang utuh" jawabnya tersenyum.


"oh seperti itu, mudah-mudahan kamu lekas sembuh ya nak. kakak pergi dulu" balasku pada anak itu kemudian aku belai rambutnya.


Aku tersenyum memandang bocah itu, Lalu menatap udara kosong ke arah dimana pria itu pergi.


Dokter?


rehan?


Nama dokter itu rehan.


Dia baik sekali dengan bocah ini.


Akhir-akhir ini aku banyak menemukan dokter yang tulus dan baik merawat pasiennya.


Walau hanya sebuah kata-kata dan cerita, tapi aku berperan langsung menjadi tokoh yang percaya begitu saja dengan udara kosong.


"heh!" pekik ku.


Dia sudah pergi.


Mudah-mudahan dia bukan orang yang sama dengan yang menolong ibu dulu.

__ADS_1


Karena aku berharap semua dokter baik dan tidak teruntuk untuk satu orang.


__ADS_2