
ku langkahkan kaki ku menjauhi mereka.
"hey tunggu!!"
kemudian ku hentikan langkahku yang masih membelakangi mereka.
"aku belum tahu siapa namamu" jawab pria itu kembali.
"panggil saja aku ana"
jawab ku tanpa menoleh ke arah mereka.
kemudian dengan langkah gesit ku menjauhi mereka. sudah banyak sekali masalah yang ku hadapi di rumah sakit itu.
ya tuhan aku merasa capek sekali hari ini sampai sampai aku tak masuk kuliah.
setelah ini aku harus bagaimana? apakah aku harus tetap menemui ibu itu. tapi kenapa aku harus peduli sama dia. apa karna psikis ku kini mulai terancam dengan rasa bersalah yang kian menggerogoti perasaanku.
ku rebahkan tubuhku sejenak. ku tunggu adzan komat lalu ku tunaikan sholat berjamaah di masjid. setelah selesai sholat aku berdo'a kepada tuhan yang maha esa. aku mengadu kepada Nya dengan apa yang sudah ku lalui hari ini.
aku minta petunjuk kepada Nya agar aku tak menyesal di kemudian hari serta bisa menghilangkan stres ku sejenak.
lalu ku berjalan menuju kos-an dimana aku menginap tiap malam.
astaghfirullah hal adzim
sampai depan kos aku dibuat syok dengan apa yang ku saksikan malam ini. semua terlihat berantakan seperti gudang sampah. acak-acakan tak karuan dan ku lihat pintu kamar ku terbuka.
namun tak terlihat ada makhluk di sekitar kamar. ku tengok kanan kiri tak jua ada sesosok orang sama sekali.
ku cepatkan langkahku kemudian ku lihat seisi kamar ku. semua benar-benar berantakan. siapa yang sudah mengacak seisi kamar ku ini. dan alasan mereka apa sampai melakukan semua ini pada ku.
ku rapihkan satu per satu buku yang berserakan. sambil mengecek semua barang-barang ku yang hilang. namun tak ada satupun barang yang hilang.
dengan air mata yang masih bisa ku bendung, dan bibir yang terbungkam tak bisa berkata.
setelah semua nya selesai ku rebahkan badanku seketika di tempat tidur lalu ku pejamkan mata ku yang kian memberat. ku coba untuk melupakan semua masalah hari ini.
jari jemariku terasa sedang menyentuh sesuatu.
apa ini?
ku nyalakan lampunya kembali.
dan ku lihat seperti kotak kardus tempat sepatu. lalu punya siapa ini? sepertinya aku tidak pernah memiliki kotak kardus seperti ini.
mungkin ada orang yang sengaja menaruhnya di sini. tapi baunya busuk sekali seperti bangkai. aku jadi takut mau membukanya.
ku beranikan membuka kardus itu.
dengan tangan yang dingin dan gemetar ku buka kotak itu dengan pelan. dengan tangan yang satunya menutupi hidung ku.
prakkkk
tutup kardus itu terjatuh.
ku berlari keluar kamar dengan berusaha menahan muntah.
**bangkai **!!!
kenapa bangkai di letakkan di kamar ku.
**wuekkkk !!
sorrrrrr **!
baunya busuk sekali, seekor bangkai tikus yang berlumuran darah di dalam kardus sepatu itu.
ku tahan nafas dari hidung dengan menutupinya dengan tanganku yang lentik dan bernafas melalui mulut supaya bau dari bangkai itu tak terasa menyengat di tenggorokan.
lalu ku bawa kardus isi bangkai itu keluar dari kamar dan ku lempar ke tong sampah.
tiba-tiba sebuah kertas melayang di hadapanku yang berada di dalam kardus itu.
ku baca tulisan itu.
**ku bunuh kau **!!
mata ku terbelalak seketika, entah ada orang yang sengaja menaruh kardus itu di kamar ku kemudian mengacak-acak seisinya.
__ADS_1
tapi siapa dia?
apa masalahnya dengan ku?
sebelumnya aku juga tidak pernah mempunyai masalah dengan seseorang.
tapi mengapa dia mengancam ingin membunuhku?
semua pertanyaan berputar-putar di kepalaku seakan mengisi semua rongga otak ku.
ku berjalan ke sana ke mari, melihat kamar kos yang lain. pada kemana sih penghuninya!
kenapa tidak ada satu pun orang di sini.
**hallow !
apakah ada orang di sini !
kalau ada ku mohon keluar **!
teriak ku dalam keheningan.
krekkkk
suara pintu terbuka.
seseorang penghuni yang lain keluar dengan wajah melongo seperti terhipnotis.
dengan keringat ku yang bercucuran dan nafas ku yang tersengal-sengal serta rasa berharap yang kian memuncak ku tanyakan kepada nya
apakah dia melihat seseorang yang masuk ke kamar ku atau tidak.
"mbak, sepurone aku rak weruh ono wong mlebu kamar mu. aku turu awit mau sore. emangnya ono opo to mbak?" jawabnya dengan bahasa jawa.
kening ku mengerut seketika.
"oh, nggak kok nggak ada apa-apa. matur suwun mas" jawab ku singkat pada lelaki itu. kemudian pria itu menutup pintunya kembali. sedangkan aku melangkah dan duduk di depan pintu. dengan kepala yang ku senderkan pada tiang pintu kamarku. aku memang bukan orang jogja tapi aku tau bahasa mereka. karna aku sudah belajar sejak aku kuliah ke sini.
ternyata lelaki itu tidak tau dan tidak melihat ada orang yang masuk ke kamar ku. sungguh ironis nasib ku.
malam ini aku harus tidur di mana. pembunuh itu telah mengetahui keberadaanku.
ku pandang langit yang mulai bertambah gelap seiring berjalannya waktu. terdengar suara kodok senantiasa mengalun seperti lagu yang tak kunjung padam. angin mulai berhembus menerjang kerudungku yang tergerai bebas di tubuh ku.
entah sampai kapan aku harus duduk di sini.
di depan pintu yang terbuka lebar seakan mempersilahkan siapa saja yang ingin masuk.
sebagai seorang perempuan aku sangat takut. karna aku jauh dari siapapun di sini.
tess
air mata ku terjatuh. berlinang membasahi pipi dan kerudungku yang kumal.
tiba-tiba saja suara ponsel ku berbunyi membuyarkan kesedihan ku pada malam ini.
"hallo" sahut ku
"hallo na, ya ampun kamu baik-baik saja kan? aku hubungi dari tadi nggak diangkat---"
"elsa, aku baik-baik saja kok cuma..."
"cuma apa na? jangan berani-berani kamu menyembunyikan masalah dari ku ya!" ancamnya pada ku. aku tak bisa berbuat apa-apa selain menceritakan masalah ini pada elsa sahabatku.
ku ceritakan semuanya kepada dia. dan dia mendengarkan semua cerita ku sampai kami menangis bersama.
elsa takut terjadi apa-apa dengan ku, sehingga dia mengajak ku untuk menginap di rumahnya dalam beberapa hari ini.
awalnya aku menolak, namun elsa memaksa akhirnya aku bersedia tinggal di rumah nya untuk beberapa hari.
keluarganya sangat baik pada ku, mereka menyambut ku dengan sangat hangat dan penuh cinta. membuat ku rindu pada keluarga ku di kampung. sementara ini aku tidur sekamar dengan elsa karna kata ibunya kamar yang akan aku tempati belum dibersihkan dan akan mulai di bersihkan besok.
keesokan harinya aku bangun pagi. ku lihat elsa masih tertidur lelap. dan jam sudah menunjuk pukul 4.00, tandanya sebentar lagi adzan subuh. sambil menunggu adzan berkumandang ku bersihkan badan ku sebentar.
tak lama kemudian ku dengar suara adzan. bergegas ku langkahkan kaki ku menuju mushola dekat rumah elsa.
rumah elsa besar sekali, aku sampai bingung mau keluar lewat pintu mana.
seakan aku seperti maling yang sedang mencari jalan keluar. gelap gulita tak terlihat sama sekali. ya tuhan..
__ADS_1
"ya tuhan.. saklarnya di mana" gerutu ku pada diri sendiri.
tangan ku meraba-raba seperti vampir yang sedang mencari sesuatu.
tiba-tiba lampu menyala dan seisi rumah terlihat jelas. ku toleh ke belakang seakan sedang mencari seseorang.
"ana, kamu mau ke mana?" terdengar suara seorang perempuan. ku cari asal suara itu dan ku dapati bu fatma sedang berdiri di samping pintu.
"oh, tante" sahut ku.
"pagi-pagi ini kamu mau ke mana?"
"aku mau sholat subuh bu" jawab ku pendek.
tiba-tiba terdengar adzan komat itu tandanya sholat berjamaah akan segera di mulai.
"bu, aku ke mushola dulu ya---".
dengan lari kecil ku langkahkan kaki ku menuju mushola.
kebetulan aku sudah bersuci dan aku bisa langsung melaksanakan ibadah ku.
namun miris sekali tak ada orang di sana. hanya aku dan seorang imam sholat.
namun itu semua tak mematahkan semangat ku untuk melaksanakan kewajiban ku yaitu sholat.
saat aku memakai sandal, imam sholat itu bertanya kepada ku.
"nduk, sepertinya saya asing dengan diri mu?" tanya pria itu.
sambil terkekeh aku menjawab "saya teman kuliah elsa pak, dan untuk beberapa hari saya menginap di rumahnya"
sambil berjalan pulang kami pun berbincang-bincang.
beliau sangat baik hati sekali kepada ku. sampai beliau mengajak ku untuk mampir ke rumah nya.
aku juga diperkenalkan dengan istri serta anaknya di rumah.
kami pun ngobrol ngalor-ngidul dari hal pendidikan sampai agama.
beliau juga bercerita kalau beliau lah satu satunya muadzin di mushola itu. dan selain itu tidak ada. sedangkan istrinya memilih berjamaah di masjid karna lebih dekat dengan rumahnya.
"memangnya orang di sini pada ke mana pak?"
tanyaku teliti.
"mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, padahal orang-orang di sini setiap minggu selalu mengamal. dan bapak sangat heran mereka mengamal sampai habis puluhan juta hanya untuk di sumbangkan ke masjid dan mushola."
aku terkejut mendengar cerita pak somad.
"tapi miris nak, mereka tak pernah ada yang terlihat ikut sholat berjamaah di tempat mereka bersadaqah" jelas pak somad kembali
aku pun kaget dan menjawab "maaf pak sebelumnya kalau aku lancang, tapi dari mana pak somad mengetahui semua itu?"
"karna adik saya yang menjadi imam sholat di masjid itu"
tak beberapa lama aku pun pamit pulang, dan tak disengaja aku melihat seorang pria dari kejauhan yang sepertinya sedang jogging.
"pak dokter!" teriak ku dalam hati.
kemudian aku berjalan mendekatinya.
dia pun menoleh dan menghentikan langkahnya sekaligus.
wajah tampannya tak pernah hilang sedikitpun walaupun saat ini terlihat keringat bercucuran mengolesi wajah serta badannya yang bidang.
"anda tinggal di sini?" tanya ku.
"iya, kok kamu bisa ada di sini?"
"aku... aku tak sengaja lewat sini dan... dan melihatmu di sini--" aku menggaruk kepala karna bingung mencari alasan.
sedangkan bola mata rehan melirik ke arah ku seakan tak percaya dengan apa yang ku ucapkan.
lalu aku menghindarinya dengan beralasan pulang. dia pun hanya mengangguk membalasnya.
curang!
padahal aku minta lebih dari itu, mungkin menanyakan rumah lah, nomor ponsel, dan bla bla bla.
__ADS_1
ah apa si yang sedang aku fikirkan, aku tidak boleh seperti ini. mana mungkin dia melirik diri ku yang dekil, kucel, jelek. si perempuan buruk rupa seperti ku tak mungkin mempunyai banyak teman.