Dokter Tampan Dari Indonesia

Dokter Tampan Dari Indonesia
Di balik sebuah racun


__ADS_3

Sekarang rehan sudah sampai di pemukiman penduduk, anehnya situasi di sini berbeda.


Semua tampak amburadul, berserakan.


seperti baru ada pertempuran hebat hingga semua benda berserakan dimana-mana.


Rehan semakin berkecamuk, dia berteriak memanggil nama ana dan fattan.


Dia bahkan semakin dibuat khawatir setelah menemukan helm pelindung yang digunakan fattan dan ana.


Helm itu bersimbah darah.


"apa yang sudah aku lakukan!" rehan terduduk menangis.


"fattan ana! aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu dengan kalian!"


teriaknya lagi.


rehan begitu terpukul dengan apa yang dia saksikan. kepalanya terus menunduk menandakan betapa dia sangat menyesal.


"bang, jangan menangis! orang yang memakai helm ini sedang menuju rumah sakit"


tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari belakang tubuh ku. aku pun menoleh ke arahnya.


"katakan padaku apa yang terjadi pada mereka!"


timpal ku penuh nafsu.


anak itu hanya diam, dia sama sekali tak menjawab pertanyaan yang ku ajukan padanya.


aku pun semakin kesal.


dan terus berusaha memaksa dia untuk berbicara dengan mengepak-ngepakkan tubuhnya dengan kasar.


"ayo katakan apa yang terjadi dengan mereka!"


akhirnya dia pun pasrah dan mengeluarkan suaranya.


"aku tidak tahu, kakak itu yang memberitahuku agar aku memberitahumu tentang orang yang memakai helm ini"


jawab bocah itu dengan kepolosannya.


"dimana! dimana orang yang memberitahumu!"


tanya ku antusias.


"di sana! dia berdiri di pohon itu"


jawab bocah itu sambil menunjuk ke arah pohon besar.


aku mengikuti gerak tangannya, sementara mata ku tak menemukan sosok manusia di sekitar pohon.


"di mana? tidak ada siapa siapa di sana!"


gertak ku pada bocah itu.


sementara bocah itu malah menangis ketakutan,


lalu dia pergi meninggalkan tempat itu.


aku pun perlahan mendekat ke arah pohon besar tersebut. Dan suara daun kering terinjak oleh sepatu ku.


tak ada siapa siapa!


anak itu menipu ku.


akhirnya aku menelpon kepolisian.


aku memberitahu jika ada kejadian aneh seperti pembantaian di dusun plecit.


sekarang aku harus pergi dari dusun ini dan segera mencari keberadaan fattan serta ana di rumah sakit.


urusan dusun plecit biar polisi yang menangani.


Seperti biasa dalam perjalanan aku harus susah payah menyelamatkan kakiku dari brutalnya lumpur.


Berharap ada seseorang yang lewat dan mau aku tumpangi. namun hanya hembusan angin saja yang bisa ku rasakan.


Tidak ada kendaraan, tidak ada lalu lalang orang.


kok masih ada desa purba seperti ini, pikir ku.


ini bahkan lebih parah dari desa-desa yang pernah aku kunjungi.


manusianya juga aneh, satu dusun saja masih suka perang. saling memerangi saudaranya sendiri. memang benar kata bung karno "jika suatu hari nanti kita akan berperang melawan saudara kita sendiri".


aku terus bergumam bagai anak idiot, hingga tak terasa sebuah lampu menyala di hadapan ku.


itu tandanya jalan menuju kota sudah di depan mata. aku pun bergegas menuju ke arah dimana lampu itu menyala.


akhirnya aku sudah sampai.


tapi dimana perkampungan!


di sini cuma ada dua lampu.


Dan gubuk tua itu!


gubuk yang pernah aku masuki, dan seorang wanita di dalamnya.


tidak mungkin jika aku harus masuk lagi ke dalamnya. suara aneh itu akan kembali terjadi jika aku memulainya.


jika gubuk ini sudah di depan mata itu tandanya perjalanan menuju kota masih separuh lagi.


aku harus segera pergi dari tempat ini dan tidak membuang-buang waktu lagi.


haaaaaa!!!


saat ku balikkan tubuhku aku dikejutkan oleh sosok wanita berdiri dihadapan ku.


"Rehan! jangan takut ini aku!"


sahutnya kemudian. Lalu dia menyingkap rambutnya yang menutup wajahnya itu.


Aku mulai sadar bila sosok ini adalah klara, wanita penghuni gubuk tua itu.


Lantas dia mengajak ku untuk singgah kembali ke gubuk tua itu, walau sebelumnya aku berusaha menolak. tapi dia terus memaksa sehingga aku tak ada pilihan lain selain menurutinya.


"rehan, kenapa malam itu kamu pergi begitu saja tanpa pamit kepada ku?" sahut dia memulai perbincangan.


"maaf klara, aku tidak memberitahumu saat itu. tapi jujur klara aku sangat berterima kasih sekali karna kamu sudah membolehkan aku untuk menginap di rumah mu"


wanita itu hanya diam.


"klara sebelum aku pamit pulang, bolehkah aku bertanya sesuatu kepada mu?"


Dia lalu menoleh menatap ku.


"tentang apa?"


"malam itu apakah ada seseorang yang masuk ke rumah mu?"


"karna waktu itu aku seperti mendengar sesuatu yang aneh dan mengerikan" jelas ku padanya.

__ADS_1


"apakah pertanyaan mu sangat penting untuk aku jawab dokter rehan?" tanya dia balik.


"maksud mu? jelas penting karna aku juga ingin tau asal usul wabah yang menimpa dusun plecit dan juga yang membunuh keluarga mu" jawab ku memendam amarah.


"baik akan aku jawab semua pertanyaan mu itu"


balasnya hingga membuat ku penasaran.


"tapi kamu harus bawa aku pergi dari tempat ini"


sambungnya.


aku syok berat mendengar tukasnya itu.


apalagi tingkahnya dengan langsung menarik lenganku pergi begitu saja, tanpa ia berikan aku kesempatan sepenggal kata sedikitpun untuk membalas permintaannya.


sebenarnya apa sih maksud dari wanita ini.


Aku jadi semakin curiga dengannya. Dari ucapannya dia juga tidak seperti orang biasa, bahkan dari sorot matanya terlukis keturunan bangsawan. Aku memang hanya seorang dokter, tapi aku bisa mengetahui karakter seseorang walaupun hanya dari sorot mata orang tersebut.


kami telah sampai di perkampungan sinehe,


dimana ada angkutan umum dan berbagai jenis kendaraan lainnya.


Aku hempaskan begitu saja lengan klara di lengan ku. Tidak semestinya dia merapatkan tubuhnya dengan diriku seperti ini.


"maaf nona, aku sudah bawa kamu pergi dari tempat tinggal kamu. sekarang terserah kamu ingin melanjutkan pergi ke manapun kamu mau"


wanita itu hanya tersenyum membalas ucapan ku.


saat aku mulai bergerak untuk masuk ke sebuah angkutan umum, tiba-tiba dia mengeluarkan kata-kata yang menjadikan kaki ku terhenti seketika.


"kamu yakin tidak ingin ramuan yang bisa menyembuhkan kaki teman mu itu?"


aku menoleh ke arahnya.


"tahu dari mana kamu tentang mereka?"


aku pun mulai curiga.


kesalnya dia malah mengerjai ku dengan pergi begitu saja. aku pun tak ada pilihan selain mengikutinya pergi.


"hei, tunggu klara!"


dia terus berjalan di depan ku.


"kamu mau pergi kemana sih? aku harus ke rumah sakit sekarang!"


dia masih tak menghiraukan ku dan terus berjalan.


Aku hanya bisa menghela nafas karna selalu dipermainkan oleh wanita.


"ya ampun! kamu dengar tidak sih!"


aku terus mengeluarkan celoteh-celoteh yang tidak penting,sedangkan dia masih terus berjalan acuh tak acuh.


"taxi!"


teriaknya kemudian.


berhentilah kendaraan di hadapan kami.


wanita itu lantas masuk dan memberi aba-aba kepada ku untuk mengikutinya.


saat di dalam taxi aku berusaha membuang muka karna telah dibuat kesal olehnya.


namun peristiwa ini justru membuat ku ingat pada sosok ana. Sebab dulu akulah yang sering membuat dia kesal dan selalu merepotkan.


memori itu terpampang kembali dari saat pertama kali aku melihatnya di sebuah rumah sakit. Saat itu dia sedang menangis di hadapan ibunya karna tak mampu membayar biaya rumah sakit. akhirnya aku membantunya karna tak tega, melihat kegigihannya bolak-balik bogor-jogja hanya untuk merawat ibunya.


Tanpa sadar aku tersenyum sendiri.


"pak dokter!"


"kamu baik-baik saja kah?"


klara berusaha membangunkan lamunan ku.


"e...iya" jawab ku singkat.


"kamu pasti sedang membayangkan kenangan-kenangan kalian berdua?"


"tenang saja, dia pasti akan baik-baik saja kok sebelum 24 jam!"


aku tersentak seketika.


"24 jam! kenapa kamu tidak bilang dari tadi!"


pekik ku.


"pak cepat pak!" perintah ku pada sopir taxi.


lantas sopir pun mempercepat laju kendaraannya.


"sesuai dengan perjanjian sebelumnya, aku ingin kamu menyerahkan ramuan itu pada ku"


"baik"


kemudian dia meletakkan obat itu ke tangan ku.


sekarang kami sampai di rumah sakit.


aku pun langsung berlari, sampai-sampai taxinya belum sempat aku bayar.


"dokter rehan! bayar dulu itu supirnya!"


teriak klara dan aku pun berhenti


"ini! sekarang kamu pergi ke sana dan bayar!"


perintah ku pada klara sambil memberinya uang.


Sekarang tidak ada waktu lagi.


Jika memang benar yang dikatakan wanita itu kalau racun itu akan mematikan setelah 24 jam. maka waktu yang tersisa adalah tinggal 12 jam.


aku terus berlari masuk ke rumah sakit tersebut. mencari tahu tentang keberadaan ana dengan bertanya ke suster dan dokter.


ya tuhan tolong selamatkan ana.


tolong pertemukan aku dengannya secepat mungkin.


tolong


aku terus berdoa pada setiap langkah ku.


Dan akhirnya aku menemukan wajah fattan diantara kerumunan orang.


tanpa basi-basi aku langsung memeluk adik kandung ku tersebut.


Matanya berbinar-binar serta bengkak akibat menangis berkepanjangan.


"fattan? bagaimana keadaan ana?"

__ADS_1


tanya ku kemudian.


Pria itu hanya menangis dan langsung memeluk ku. air mata ku pun ikut terjatuh, sebab bisa merasakan betapa cintanya dia pada ana.


"kak, ana kak!" ucap fattan dalam pilu.


"iya kakak tau, sekarang dia ada di mana?"


tanya ku dengan berusaha menahan air mata.


"dia sedang berada di ruang isolasi"


"kok bisa!" balas ku terkejut mendengarnya.


"dokter bilang racun itu menular, dokter juga bilang jika racun tersebut sudah menyebar ke organ-organ yang lainnya"


jelas fattan diiringi isak tangisnya.


aku berusaha menenangkannya sambil menahan diri untuk tidak ikut larut dalam kesedihan.


"tolong selamatkan nyawa ana kak!"


"aku yakin kakak pasti mampu menyelamatkan ana dari racun itu"


fattan, tanpa kamu pinta pun aku pasti akan menyelamatkan nyawa ana kekasihmu itu, batinku.


lalu aku bergegas pergi meninggalkan fattan.


Setelah mendapatkan izin untuk menggunakan laboratorium rumah sakit. aku pun mulai menganalisa ramuan pemberian klara.


aku berinisiatif untuk mengecek kandungan zat yang ada di dalamnya sebelum ramuan itu aku gunakan. lebih-lebih aku juga belum mengenal klara, takutnya jika obat tersebut malah berisi zat yang berbahaya.


Dan setelah beberapa jam menunggu, hasil pun keluar bahwa ramuan tersebut mengandung Antivenom yang tinggi dan mengandung 20 macam bakteri baik serta antibodi yang tinggi.


aku pun tersenyum gembira.


tandanya ramuan ini aman dan bisa langsung digunakan.


aku bersicepat ke ruang dimana Ana di isolasi.


"ya allah!!"


aku terkejut melihat tubuh ana yang terbujur pucat. penuh dengan selang dan alat bantu.


tapi yang paling mengejutkan bukan itu, namun rambut ana yang terurai indah.


Baru pertama kali ini aku melihat dia tanpa jilbab.


Dan subhanallah indah sekali.


"sus, tolong ya khusus untuk dia jangan dibiarkan terbuka seperti ini"


"kasihan".


jelas ku pada suster.


akhirnya aku meminta suster untuk mencarikan penutup kepala untuk ana.


lalu memintanya kembali untuk dipindahkan ke ruang bedah. Agar disana proses Inhalasi bisa lebih efektif dan lancar.


"dokter, apakah kita bisa mulai proses operasi ini?" tanya seorang suster pada ku.


"kak, tunggu apalagi! ayo cepat selamatkan nyawa ana kak! please!" suara fattan pun ikut bersautan merengek di hadapanku.


mata ku dibuat tak tega menyaksikan tubuh ana yang semakin terbujur kaku.


bahkan lebih tak tega lagi jika harus melihat lekuk-lekuk tubuhnya tanpa busana.


padahal bagi setiap dokter bedah, Hal lumrah atau pasti jika melihat tubuh pasiennya tanpa busana dalam proses bedah atau operasi.


buat ku semua pasien sama saja, mereka hanya mengharapkan kesembuhan.


seringkali aku harus melihat tubuh pasien tanpa busana walau akhirnya ditutup kain kembali karna proses operasi.


Tapi tidak untuk wanita yang satu ini, dia begitu berarti untuk semua proses itu.


"kak! tunggu apa lagi! ayo cepat lakukan kak!"


deru fattan kembali.


dia bahkan menggoncang-goncangkan tubuhku.


"stop fattan!"


"apa kamu rela jika calon istri mu itu memperlihatkan bagian kulitnya pada ku?"


dia pun terdiam sejenak.


"kak, tenang saja aku tidak akan keberatan kok"


"yang penting itu semua yang terbaik untuk ana".


jawabnya kemudian.


ucapan fattan membuat ku tak ada pilihan lain karna kebetulan waktu juga terus berjalan. akan sangat membahayakan lagi jika racun terus menyebar.


akhirnya aku masuk ruangan, walau sebelumnya sempat memejamkan mata karna dilema dengan situasi ini.


"maafkan aku ana"


itulah ucapan yang selalu dibenak ku sampai akhirnya pintu operasi pun dikunci oleh suster.


 


****


 


Ternyata virus tersebut tidak berhenti sampai di situ saja. karna ana sudah lebih dulu menularkan virus tersebut kepada orang lain. itu tandanya kematian massal akan segera dimulai.


Dari cerita yang ku dapatkan dari fattan, ana sebelumnya dipanah oleh seseorang pada kakinya. Lalu diantara mereka ada yang memberitahukan jika panah tersebut mengandung racun yang mematikan. seterusnya dibawa ke rumah sakit. hingga menulari orang banyak di dalam perjalanan.


aku menjadi lebih penasaran dengan racun ini.


Dia bisa secepat kilat masuk ke tubuh manusia dan berubah menjadi virus yang mematikan.


Ini adalah proses ilmiah yang sangat menakjubkan karna mampu mematikan manusia dalam hitungan 24 jam.


Jadi aku menyebut virus ini dengan sebutan virus DeF. kepanjangan dari kata Die Flash yang artinya kematian kilat.


dan ditambah lagi vaksin virus tersebut juga sudah ada dan berhasil mampu menyembuhkan.


Orang yang pertama kali mampu sembuh dari virus DeF yaitu Ana.


Setelah 24 jam dari operasi yang dijalani, wanita itu pun kembali sadar. biarpun belum diperbolehkan untuk berjalan.


Dia sudah lebih baik dan dikatakan sembuh.


Dan setelah dua hari dari proses operasi yang dijalani Ana, justru sekarang korban jiwa terus berjatuhan akibat virus tersebut. ditambah lagi acara televisi kini penuh dengan berita tentang virus itu. Dan aku satu-satunya orang yang selalu jadi incaran para wartawan. Dari mereka ada yang memuji malahan ada juga yang mencela.


Sembuhnya Ana dari racun tersebut membuat spekulasi publik. Karena mereka pikir aku sengaja menyebarkan virus demi kegaduhan di indonesia untuk menjalankan bisnis ku. Berlebih aku juga pemegang saham terbesar di indonesia untuk kategori obat-obatan.


sekarang tidak ada jalan lain selain mencari klara.

__ADS_1


Wanita pemilik vaksin dari virus tersebut demi menyelesaikan pandemi ini.


__ADS_2