
Tubuh ku lemas tak terkulai. ku baringkan tubuh ku sejenak di tempat tidur. bau tubuh yang menyengat serta kulit yang lengket karna tak tersentuh air sore tadi. tenggorokan sudah seperti sawah yang ditinggalkan penghuninya, kering keronta. semoga dari cerita hari ini aku dapat pelajaran yang bermakna.
ku pejamkan mataku sejenak, ku bayangkan minuman segar dan makanan yang enak-enak. perutku terasa perih karna lupa makan dari tadi siang. kadang aku merasa sedih hidup sendirian, biasa pulang saat perut lapar tinggal makan, saat perut haus tinggal minum. tapi di sini aku belajar mandiri, ingin makan harus pergi membeli makan dulu, harus ngantri dulu, harus nunggu masak dulu. semoga dari sini aku bisa belajar untuk menghargai hidup.
tuttttt
tuttttt
tuttttt
suara ponsel ku berbunyi. ku ambil ponsel ku dan kulihat whatsap dari elsa. terus ku buka pesan itu. ternyata isinya rekaman video ceramah tadi.
setelah itu aku download dulu videonya sambil ku tinggal mandi. mudah-mudahan nanti saat selesai mandi videonya sudah bisa ku putar.
beberapa menit kemudian..
ku sisir rambutku yang basah, ku ambil ponsel ku kemudian ku putar video dari elsa dan ku pampang di atas meja agar aku bisa menontonya sambil mengeringkan rambut ku yang basah.
"apa aku nggak salah lihat,dia kan..." batinku dalam hati.
kemudian ku ambil ponselku ku teliti lelaki itu lebih dekat. ku lihat pakaiannya, dan ku lihat lebih jelas wajahnya.
"nggak, aku nggak salah lihat. dialah orangnya!. dia yang telah berusaha membunuh suami ibu itu" batinku dalam hati.
aku harus melaporkannya ke polisi. tapi apa perlu? mungkin ibu itu telah dulu melaporkannya ke polisi.
lalu aku harus bagaimana?, apa aku harus diam saja setelah aku mengetahui pelaku itu.
aku tahu harus bagaimana, aku harus ke rumah sakit itu. aku harus ke sana untuk memastikan keadaan pria itu baik-baik saja.
mereka mungkin memang bukan keluargaku, atau bukan keturunan dari keluarga ku. tapi aku yakin bahwa aku tidak akan pernah rugi bila aku membantu mereka. karna mereka juga saudaraku, karna kami satu tanah air yaitu indonesia.
jika mereka bukan orang indonesia, mereka juga masih saudaraku seagama muslim yaitu islam.
jika mereka bukan orang muslim mereka juga masih saudara ku karna kami sesama manusia.
keesokan harinya aku minta izin bos ku untuk libur kerja, karna aku harus pergi ke rumah sakit menemui ibu itu yang aku belum tahu namanya.
namanya saja aku belum tahu, bagaimana aku bisa menemukannya. kalau saja ibu itu masih berada di rumah sakit, kalau tidak apa yang akan aku lakukan.
ku berjalan menyusuri lorong rumah sakit, ku perhatikan lalu lalang orang yang berada di sana. ku cari kamar pasien yang kemarin menjadi ruangan suami ibu itu.
"512!!" teriak ku setelah aku menemukan kamar itu. ku buka pintu kamar itu. ku cari mereka. tidak tidak ada. mereka sudah pergi. aku kehilangan kesempatan untuk masuk surga. aku gagal, aku bodoh, kenapa tadi malam aku bilang ke ibu itu kalau aku tidak tahu, ya tuhan bagaimana caranya aku bisa menemukan ibu itu.
ku tundukkan kepala ku.
"permisi mbak, mbak bisa keluar sebentar. karna akan ada pasien yang akan dirawat di kamar ini"
ucap suster yang datang.
kemudian aku berjalan keluar rumah sakit.
Dan tak sengaja aku melihat anak itu, anak yang baru saja di tinggal orang tuanya karna kecelakaan. dia masih di rawat di sini. ku samperin anak itu, ku coba ingat-ingat namanya. "hay rehan? bagaimana kabarmu?" tanyaku padanya.
"eh kak ana....,aku baik-baik saja kak" jawabnya kemudian.
"syukurlah" ku belai rambutnya.
"kak, aku senang sekali hari ini. karna kata dokter aku sudah boleh pulang. aku hanya disuruh kontrol ke sini seminggu sekali. kak, doakan ya mudah-mudahan aku bisa berjalan kembali. tolong ya kak" ucapnya dengan penuh rasa semangat. aku takjub dengan rasa percaya dirinya, dia begitu semangat untuk bisa jalan kembali padahal ku perhatikan kakinya sangat parah, bengkak hampir sama dengan pahaku. ya tuhan kasihan sekali aku melihatnya. berikanlah kesembuhan untuknya tuhan, kalau memang dia tidak bisa berjalan kembali tolong gantikanlah semua itu dengan selalu beri dia kebahagiaan. agar dia selalu bersemangat menjalani hidupnya tanpa kedua orang tuanya yang lebih dulu meninggalkannya. ku tersenyum membalas pernyataannya. "kakak kok di sini memangnya siapa yang sakit kak?" tanyanya kembali.
__ADS_1
"tidak, tidak ada yang sakit,cuma..." jawabku terputus.
"cuma apa?? kakak sakit?" tanya nya kembali.
"tidak juga, sebenarnya kakak ke sini mau mencari seseorang tapi mereka sudah lebih dulu pergi dari sini. lantas kakak bingung sekarang karna kemarin kakak lupa menanyakan alamat serta nama mereka"
"aku tau kak, mungkin suster masih menyimpan catatan yang berisi alamat serta nama mereka kak, kakak tinggal bilang saja ke suster untuk nomor kamar mereka waktu itu" jelasnya padaku.
"oh iya, kenapa kakak nggak kepikiran dari tadi y dek, makasih ya dek. kakak tinggal dulu" ucapku membelai rambutnya.
ku cari suster yang jaga di resepsionis. ku tanyakan ke dia tentang daftar orang yang menginap di kamar nomor 512. ya tuhan baru ku ingat bahwa aku tidak mengetahui nama pasien itu. kemudian ku perjelaskan ke suster bahwa aku lupa menanyakan nama pada saat itu sehingga aku tidak mengetahui namanya.
"ya sudah mbak, kalau gitu mbak ingat hari serta jam nya pada saat itu" tanyanya padaku.
"aku ingat sus hari selasa jam 15.20, dia berkelamin laki-laki".
"baik, saya cari dulu ya mbak"
aku pun menunggu pemberitahuan dari suster.
setelah beberapa menit ku menunggu dan hasilnya keluar.
"oh atas nama bapak sumadi alamat desa kertosono mbak, tapi di sini dia diketahui meninggal dunia mbak" jelas suster itu padaku.
"inalilahi, meninggal sus" tanya ku memperjelas kembali.
"iya mbak, yang korban penusukan itu kan? katanya si karna kehabisan darah. jadi nggak bisa diselamatkan, kasihan ya mbak padahal bapaknya belum sempat bicara orang yang mencoba ingin membunuhnya" jelas nya.
"sudah sekarang tolong tuliskan alamatnya ke saya sus,karna saya tahu siapa pelaku pembunuhan itu" tegasku.
ya tuhan apa yang sudah aku lakukan, aku gagal menolong pria itu. ya tuhan tolong maafkan aku. ku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan pikiran yang kacau karna rasa bersalah yang besar pada ibu itu karna tidak memberitahukan siapa pelaku pembunuhan suaminya itu.
"anda tidak apa-apa tuan?" dengan rasa khawatir ku bertanya padanya.
"sudah, tidak usah hiraukan saya. saya tidak apa-apa" jawabnya padaku.
"tapi sepertinya anda kesulitan berjalan? biarkan saya membantu anda ya tuan. anda mau kemana?" tanyaku.
"saya mau menemui seseorang di dalam" jawabnya singkat dan masih menahan sakit.
"ya sudah biar saya bantu anda menemui orang itu ya tuan" karna aku merasa kasihan dan simpatik pada pria ini ku bantu dia berjalan ku papah dia menemui seseorang yang ingin dia temui.
tanpa sadar aku merasa berat sekali memapah pria ini, dan rasanya tidak kuat seperti pada awal tadi. ku lihat wajahnya.
"astaghfirullahaladzim"
"tuan, tuan... anda kenapa tuan? bangun tuan"
dengan khawatir ku bawa dia ke tempat duduk. ku coba berusaha membangunkannya. ya tuhan kenapa wajahnya pucat sekali. dan siapa pria ini kenapa dia pingsan tak sadarkan diri.
lalu ku cari suster dan ku panggil mereka untuk membawa pria ini.
"mbak keluarga dari orang ini" tanya seorang suster pada ku.
"e ... saya" belum selesai menjawab suster itu kemudian berkata "mbak bisa langsung ke kasir ya untuk melakukan pendaftaran agar pasien cepat ditangani" katanya lagi.
bagaimana ini, aku bukan keluarga pria itu. aku juga tidak kenal siapa dia.
"mbak, tunggu apa lagi!" perintah suster itu lagi
__ADS_1
"baik sus" jawab ku kemudian.
kemudian aku pergi ke kasir dan melakukan pendaftaran untuk pria itu yang sama sekali tak ku kenal.
"mbak, pacarnya dokter rehan ya?. kasihan ya mbak dia harus berjuang melawan penyakitnya itu. padahal dia orang baik loh, dia selalu menolong orang yang kurang mampu untuk berobat." jelas kasir itu kepada ku.
aku hanya tersenyum membalasnya.
berarti pria itu mempunyai penyakit yang parah. tapi kata suster itu dia seorang dokter.
dokter yang dermawan yang selalu mengamalkan kebaikannya pada siapapun yang membutuhkan.
apa mungkin dialah orangnya? yang setahun yang lalu menolong ibu saat masuk ke rumah sakit.
kemudian ku tunggu hasil pemeriksaan dari dokter untuk pria itu. setelah beberapa jam dokter pun keluar dari ruang ugd. dia mengatakan kalau pria itu sakit parah, dan harus segera dioperasi.
ya tuhan rencana apa lagi ini. kenapa aku harus banyak menemui orang yang tak ku kenal dan mereka semua memiliki masalah lalu mereka semua melibatkan aku di dalamnya.
"memangnya dia sakit apa dok?" tanyaku pada dokter yang menangani pria itu.
"dia sakit kanker selaput otak stadium 4" jawab dokter itu
ya tuhan sakit kanker stadium 4, kasihan sekali pria itu dia masih muda tapi dia harus mengalami sakit yang parah.
"apa sekarang saya bisa menemuinya dok?" tanya ku pada dokter.
"bisa bisa.. silahkan" dokter itu mempersilahkan.
dengan langkah semut aku masuk. pria itu terlihat masih berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam dan infus yang terus mengalir di sampingnya. langkahku semakin melambat, seperti ada melodi melodi nada sedih yang menyeruai di sekeliling kamar ini.
ku lihat matanya dan ku tatap matanya, jadi ada rasa iba yang dalam di hati ini yang tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata.
dia pun mulai sadar dan membuka matanya. dia mulai memanggil nama rehan.
"rehan, siapa rehan?" batinku.
dia mencoba bangun dari tempat tidurnya. namun aku menahannya agar dia tetap berbaring.
"tolong tuan hargai saya yang telah membawa anda susah payah ke sini. kalau anda sampai kenapa-napa saya tidak mau kalau saya dihantui oleh rasa bersalah saya" jelasku memberikan pengertian kepadanya.
"saya memang sakit, tapi saya harus bertemu dengan anak itu. karna dia membutuhkan saya" jawabnya padaku.
pria itu berusaha bangun dari tempat tidurnya lagi. dan dia berhasil berjalan keluar ruangan tempatnya dirawat.
sambil berjalan dia berkata "kamu tahu kan saya siapa? saya itu dokter!!(memukul dadanya) saya sudah banyak membuat banyak orang sembuh. jadi saya bisa menyembuhkan diri saya sendiri" tegasnya padaku dengan suara yang keras dan percaya diri.
"maaf pak dokter, saya mengetahui pasti kalau anda itu adalah seorang dokter! tapi tidak menutup kemungkinan kalau anda selamanya tidak akan menjadi seorang pasien!" tegasku padanya.
"dokter han!!!!"
teriak seorang bocah dari lorong-lorong rumah sakit.
"rehan!!! saya kangen sekali denganmu. bagaimana keadaanmu sekarang? sudah membaik?" jawab sang dokter pada anak itu.
ku amati wajah anak itu dengan jelas. ku melangkah mendekati mereka. oh tuhan ternyata rehan anak yang cacat itu. berarti dokter ini yang menolong rehan saat itu. dan dokter ini pula yang pernah rehan ceritakan waktu itu.
tapi kok mereka sama ya namanya?
sama-sama rehan.
__ADS_1
"ehem permisi, maaf ya buat para rehan saya mau pergi dulu karna ada urusan mendesak. terima kasih" ucapku pada mereka.