
malam ini hanya aku dan tuhan lah yang tau, tentang perasaanku yang setiap hari membuat ku harus meneteskan air mata.
bagaimana bisa aku harus menikah dengan adik dari rehan.
kejutan yang sangat miris, tuhan menyiapkannya dengan sangat indah sampai aku harus memikirkannya setiap detik.
ditambah lagi kata-kata fattan yang ingin mengajak ku untuk menemui kakak nya.
celaka!
dia ingin mengenalkan ku dengannya.
hati ini seperti dicabik-cabik mendengar ucapan fattan. sekarang percuma saja jika aku harus berjauh-jauh pergi ke aceh untuk melupakan rehan jika akhirnya aku harus bertemu dengannya lagi.
luar biasa!
rencana tuhan memang tidak ada yang tau.
aku mendapat telpon dari fattan. dia ingin mengajakku jalan-jalan sekitar pantai.
pantai yang 12 tahun silam menjadi tragedi tumpah darah. dimana dia harus kehilangan ibunya yang ia cintai.
"fattan, kamu kenapa mengajak ku ke pantai?"
tanya ku.
"karna aku rindu ibu"
jawabnya dengan tatapan kosong.
"memangnya ada apa dengan tempat ini?"
tanya ku penasaran.
"12 tahun silam di tempat ini aku kehilangan ibu ku. saat itu kami sedang bermain-main di pinggir pantai. tiba-tiba saja air laut memisahkan kami. tsunami itu telah mengambil ibu ku tepat di hari ulang tahun ku." jelasnya.
tangan ku bergetar mendengar ceritanya, seakan hanyut merasakan ganasnya tsunami 2006 waktu lalu.
sorot matanya berkaca-kaca memandang ku, terlihat begitu jelas betapa ia sangat sedih kehilangan ibunya.
aku membujuk dia supaya dia tidak sedih lagi.
lalu dia menceritakan tentang keluarganya kepada ku.
dari ceritanya tidak ada yang membuat ku terkejut. hanya saja aku penasaran pada hubungannya dengan rehan dokter tampan itu.
namun dia tak menceritakan kepada ku hingga aku memberanikan diri untuk menanyakan kepadanya.
"kalau hubungan kamu dengan orang yang bernama rehan itu apa? maaf bukan maksud aku ikut campur"
tanya ku menelah.
jari ku menari nari menunggu suara fattan menjawab pertanyaan ku. namun tak kunjung ia jawab. dia malah menatap ku dengan sorot mata yang tajam.
"kamu suka dia ya!"
reflek tubuh ku mematung mendengar suara fattan, jari ku juga berhenti bergerak. aku merasa gugup, darimana dia tahu jika aku menyukai kakak nya.
hahahaha
dia malah tertawa dengan angkuhnya.
"kamu ekspresi nya lucu sekali"
timpal dia kemudian.
memang adik dan kakak tak ada bedanya, sama saja selalu membuat ku jantungan.
astaghfirullahaladzim
aku harus lebih ekstra sabar mengahadapi mereka berdua.
"dia kakak kandung ku na, dari aku umur 10 tahun kami berpisah. orang tua kami bercerai. aku memilih ikut ibu ku. dan aku tidak tahu sekarang dia ada di mana. baru kemarin aku melihatnya di televisi. ternyata dia baik baik saja" jelasnya panjang lebar.
ternyata benar, mereka saudara kandung. padahal aku sangat berharap jika mereka hanya sepupu an. pernyataan yang membuat ku semakin sulit untuk berlari.
"ana, sebentar lagi kan kita menikah. aku ingin bertemu dengan dia. besok kamu temani aku ke jogja ya!"
deg!
tidak, aku tidak mau.
aku tidak bisa.
aku berusaha merakit kalimat untuk menolak. tapi tak ada satu pun yang keluar dari mulut ku. kalimat itu hanya berputar-putar di dalam otak ku.
rencana apa lagi ini tuhan yang akan kau hadiahkan kepada ku.
ucapan fattan sudah seperti malaikat maut yang sebentar lagi memakan ku.
namun aku juga tidak bisa menolak ajakannya. karna dia pasti akan curiga terhadap ku.
aku jadi semakin takut, apa yang akan terjadi nanti jika fattan tau jika aku mencintai kakaknya bukan dia.
***
dokter!
bisakah jelaskan kepada kami obat apa yang anda suntikkan ke tubuh anak kecil itu?
iya dokter!
beri waktu untuk kami sebentar!
menderu para wartawan seolah bersautan mewancarai pria muda itu, namun dia terus berjalan dengan gesit sampai tak sedikit pun suara ia keluarkan.
sebuah rumah sakit besar di djakarta ini ternyata menjadi buah bibir masyarakat pada saat ini. sejak ia mengobati seorang anak kecil yang hampir kehilangan hidupnya. kemudian dia beralih menghentikan operasi yang mematikan, lalu merubah mimpi anak kecil tersebut.
entah hampir semua televisi menayangkan kejeniusan dokter tampan itu.
dan dia berhasil memukau masyarakat di seluruh penjuru indonesia.
kakinya terus melangkah menghindari amukan wartawan. sedangkan wajahnya menunduk menyatakan betapa ia sangat merahasiakan keadaannya sekarang.
"sus tolong saya!" dengan sigap kedua tangan rehan memutar tubuh wanita gajah itu lalu bersembunyi di belakangnya.
wanita itu hanya pasrah.
tak sampai 5 menit setelah para wartawan itu tak kelihatan lagi, dia justru berubah menjadi nenek lampir. amukannya membuat siapa saja gigit jari.
rehan kini mandi keringat karna hampir berjam-jam berlarian.
namun tetap saja dia terlihat gagah. justru basah di wajahnya malah semakin menggoda bagi siapa pun yang melihatnya.
"gila!"
"itu gajah larinya kencang banget!"
__ADS_1
gerutunya.
"pak dokter!"
teriak seorang bocah di belakang rehan.
sedangkan pria itu tersenyum setelah tau siapa yang ada di belakangnya.
seorang bocah usia 5 tahun terlihat duduk di atas kursi roda. wajahnya cerah merekah tersenyum simpul memandang dokter tampan itu.
betapa ia sangat mencintai dokter muda itu.
"dokter saya sudah boleh pulang kan besok?"
tanya anak itu.
lalu rehan membungkuk, matanya tajam nan sendu tertuju pada tuyul yang sekarang ini di hadapannya.
"boleh sayang" usap-usap.
"tapi obatnya harus diminum ya!"
"siap pak dokter!" jawab bocah itu dengan gerakan hormat.
seorang ibu di sebelah bocah itu melirik seolah bingung.
"dokter, tapi kok sampai saat ini saya belum menerima resepnya?"
tanya ibu dari bocah tersebut.
"tenang bu, saya sengaja melarang rumah sakit ini memberi obat kepada kalian"
semua tampak hening.
"lantas saya yang akan memberikannya sendiri kepada kalian"
sambungnya lagi.
rehan sengaja melakukannya karna dia takut jika resep dari obat itu akan dijiplak dan disalah gunakan oleh orang yang tak bertanggung jawab. mendengar obat ini yang masih langka.
jadi dia akan terus merahasiakannya dari halayak publik.
bagaimana tidak, dia satu-satunya dokter terpercaya di indonesia. dan sekarang namanya melambung tinggi. berkat kebaikannya menolong orang sekarat yang tidak punya biaya, dia juga seorang idola bagi masyarakat miskin.
namanya selalu disebut-sebut serta dinantikan mereka yang melarat.
rehan sudah seperti dewa penolong bagi warga desa plecit. sebuah desa terpencil jauh dari kota yang dianak tiri kan oleh negara, tepatnya di pedalaman kalimantan. hari ini juga dia mendapat kabar jika sebuah desa di sana terkena wabah penyakit menular yang mengerikan.
semua orang di sana mati satu per satu.
sedangkan dinas kesehatan di daerah tersebut angkat tangan karna sudah tak sanggup lagi menangani virus tersebut, dikarenakan dua orang petugas dari mereka juga terserang lalu mati mendadak.
mereka jadi enggan serta pergi migrasi ke desa lain.
rehan adalah satu-satunya dokter yang berani mengambil resiko. hatinya merasa terenyuh ketika ia melihat seorang bayi yang sekarat akibat terserang virus mematikan itu.
dia sendiri pergi ke tempat itu, teman-temanya pun tak ada yang melirik. bahkan mereka tak segan-segan nyinyir dan berkata jika rehan juga akan mampus seperti dua petugas di sana.
rehan tak perduli !
dia tetap berangkat ke kalimantan sore ini!
***
ana mondar-mandir di dalam kamar, sedangkan matanya tak henti-henti melirik jarum jam di atas meja.
uh gerah!
"sebentar lagi fattan pasti datang!"
"aku harus bagaimana!"
ana terus bergumam.
berm
berm
suara mobil berhenti di depan rumah.
ana semakin cemas mendengar raungan mobil fattan.
itu tandanya pagi ini juga mereka akan berangkat menemui kakak nya fattan.
rehan!
"aku harus mencari alasan" batinnya.
terdengar di luar jika bu salimah sedang berbincang dengan fattan.
bu salimah kemudian berjalan menghampiri kamar ana. lalu memberitahukan jika fattan sudah menunggu di depan.
krekk
ana membuka pintu.
bu salimah tampak kaget melihat penampilan ana. matanya tertuju pada baju tidur yang ana kenakan.
"ana! kok kamu belum siap-siap?"
"padahal fattan sudah rapi dan minta izin ke ibu untuk mengajak mu pergi ke djakarta!" maki bu salimah.
"eh kamu nya malah belum apa apa!" sambungnya lagi.
ana hanya bisa diam, dia tak berani membantah ibunya. sejak dia dilamar pria itu, dia merasa ibunya berubah. selalu mengkritisi penampilannya yang lusuh tanpa dandan.
apalagi berat badannya yang sekarang melonjak 70kg, ibunya hampir tak pernah berhenti ngoceh.
ana menarik koper jumbo di tangannya. wajahnya tak berubah satu inci pun, dia tekuk seolah terpaksa. fattan tersenyum gembira menghampiri loket tiket penerbangan.
tangannya satu menggandeng tangan ana, sedangkan yang satunya lagi menarik koper.
di dalam pesawat ana masih seperti sedia kala, tetap cemberut. entah keegoisan fattan atau karna dia tak perduli, yang pasti fattan menyukai gadis di sebelahnya itu.
bibirnya merekah lebar lalu menatap mata ana dan tersenyum kembali. padahal ana tak menggubris. kepalanya ia senderkan ke pundak ana yang tebal. kini fattan sudah merasa seperti tidur di atas bantal. matanya terpejam mendadak ngantuk bagai di bius.
berlainan dengan ana, dia justru merasa bahwa matanya disokong seribu bambu.
bambu pertama hingga terakhir adalah kata yang sama. yaitu "rehan"
tiba-tiba suara gemuruh dari luar pesawat membangunkan seluruh penumpang yang ada di dalamnya.
sebagian dari mereka ada yang berteriak bahkan ada yang jatuh dari tempat duduk mereka.
kegaduhan tersebut membuat ana tersadar dari lamunannya.
lalu mata ana melirik ke arah pria yang tertidur pulas di pundaknya.
__ADS_1
"gila !"
"suasana kacau seperti ini, masih pulas saja!" gerutu ana. lantas ana membangunkan fattan, sayangnya pria itu malah semakin lengket sebab jarinya memeluk erat lengan ana.
"sialan!"
"dia kira lengan aku ini bantal apa!" makinya.
ana hanya bisa pasrah dengan keadaan.
toh dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk membangunkan fattan.
walaupun hasilnya nihil.
kini mereka berdua tiba di djakarta. jantung ana berdegup kencang, keringatnya juga mengalir deras hingga terasa dingin pada kulitnya.
sebentar lagi kiamat akan menghampiri ana. kalaupun ada semak,rasanya ingin sekali ia bersembunyi dibaliknya.
"ana, enaknya kita cari hotel dulu atau langsung ke rumah sakit ya?" ucap fattan.
ana semakin ciut mendengar suara fattan.
"ke.. ke hotel saja dulu!"
"istirahat!"
"aku capek"
kegugupan ana ternyata diketahui fattan.
lirikan mata fattan seakan mengintrogasi dirinya. ana semakin takut, sampai dia tak berani lagi melihat wajah pria itu.
ana menunduk.
"kamu kenapa?"
pertanyaan fattan diiringi gerakan kepalanya yang mengikuti tingkah ana.
"enggak"
"aku tidak apa-apa kok"
jawaban ana terkesan menutup-nutupi perasaan di di dalamnya, tapi fattan sepertinya tak menyadari hal itu. fattan mengambil ponselnya yang berdering di dalam saku. lalu matanya tajam menatap layar ponsel, seolah mengetahui sesuatu.
"ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
ucap fattan terburu-buru.
"kenapa kita ke rumah sakit sekarang?"
"karna rehan sebentar lagi terbang ke kalimantan!"
"ayo! kita nggak ada waktu!"
lantas fattan menarik lengan ana.
dari lubuk ana yang paling dalam, dia terus berdoa agar rehan lebih dulu pergi.
ana mencari cara agar waktu terus terpotong,hingga kemungkinan besar mereka tak bertemu. alasan demi alasan terus ana ulangi, dengan sering minta mampir untuk buang air kecil atau hal sepele lainnya.
ana sungguh puas sekarang, karna pasti sebentar lagi keadaan akan berpihak padanya.
ini adalah terakhir kalinya ana minta izin mampir untuk buang air kecil. karna fattan sudah naik pitam, ia berusaha menahan kesal pada ana sejak tadi. tapi tidak pada kali ini, dia rasa ini adalah yang terakhir kalinya ana mempermainkan dia.
"cukup ana!"
"aku mohon kamu jangan mempermainkan ku seperti ini!"
"tolong ana, aku ingin bisa bertemu dengan saudara kandung ku"
"tolong kamu mengerti!"
ana hanya diam dengan kepala menunduk seolah merasa bersalah.
sekarang ana tidak bisa berbuat apa-apa lagi. karna sekarang mereka sudah sampai di rumah sakit seperti informasi yang fattan dapat dari seseorang.
ana berusaha berjalan lambat sampai membelakangi fattan. namun tangan pria itu dengan gesit menarik kembali tangan ana yang terlepas dari genggamannya.
ana semakin was-was.
perasaannya kini campur aduk bagai bubur.
walaupun dalam batinnya tak pernah putus komat-kamit agar mereka tak bertemu.
sedangkan fattan, wajahnya sangat menyeramkan seakan memangsa pada siapapun yang melihatnya.
langkahnya kini semakin ganas setelah mendapati meja resepsionis.
dengan semangat fattan menanyakan dokter rehan kepada petugas di depannya.
"sus, saya ingin bertemu dengan dokter rehan. tolong sampaikan kepada dia ya!"
suara fattan dengan percaya diri.
lalu fattan tersenyum kepada ana sembari menunggu pemberitahuan dari suster.
sejujurnya ana sangat kasihan dengan pria yang ada di hadapannya itu. tapi dia juga takut jika harus bertemu dengan rehan.
dia tak punya nyali untuk itu.
"maaf pak, dokter rehan nya sudah terbang kemarin ke kalimantan"
jawaban suster tersebut sudah seperti cakaran yang melukai hati fattan.
dia sedih karna telat menemui kakaknya.
berbeda dengan ana, dia justru sangat bersyukur mendengar ucapan suster tersebut.
ternyata benar, keberuntungan berpihak padanya. ana tersenyum puas walaupun setelah itu ia malah sedih karna tau rehan dalam bahaya besar.
serentak orang di seluruh rumah sakit menundukkan kepalanya yang dipandu pada sebuah pengeras suara.
samar-samar ana mendengar jika doa tersebut ditujukan kepada dokter rehan yang sedang berjuang sendiri di kalimantan, medan yang mengancam nyawa.
senyuman di wajah ana kini berubah total menjadi hantaman pedang yang tajam.
hatinya yang tadinya bahagia, juga berubah merah padam.
sekarang justru kekhawatiran itu bertambah 5 kali lipat dari sebelumnya. dan ketakutannya membuat otak nya lemah berfikir. lalu tanpa pikir panjang ana mengambil langkah untuk menyusul dokter tampan itu ke kalimantan.
"fattan! kamu ingin bertemu dengan kakak mu kan?"
fattan menoleh ke arah ana.
"ayo kita susul dia!" sambung ana kembali.
anehnya fattan tak menyadari perubahan sikap ana. dia fikir jika ana memikirkan perasaanya, padahal ana memikirkan kakaknya yang sekarang dalam bahaya. ana sungguh tak ingin mendengar kabar duka seperti dua petugas kesehatan yang tewas lebih dulu.
__ADS_1