
Bodoh!
Ternyata benar jika rehan tak menyukai ku.
Bisa-bisanya aku berharap lebih darinya.
Bahkan tanpa dosa dia juga menghina diri ku.
Aku tahu diri jika aku memang jelek, tapi aku masih punya harga diri sebagai wanita!
ahhhh!
Aku benci dia!
Aku terus menangis meratapi kesedihanku.
Sedangkan rehan dia pasti sedang bahagia di atas dipan karna telah berhasil menyakiti ku.
Sekarang tak ada gunanya juga aku memikirkan lelaki brengsek itu!
Toh sekarang aku sudah bertunangan dengan adik kandungnya. Justru ini adalah kesempatan emas untuk memberikan pelajaran pada dokter brengsek itu!
kegelapan telah berganti terang.
pagi ini ana terlihat sedang sibuk di belakang.
sedangkan rehan, dia pagi-pagi sekali pergi ke pemukiman. dia kembali dengan sejuta pertanyaan bagi siapapun yang melihat ekspresinya. wajahnya ditekuk seperti habis menemukan sesuatu.
"kak! aku cari dari tadi ternyata di sini!"
rehan terperanjat mendengar suara dari belakang tubuhnya, walaupun setelah itu ia tersenyum.
"fattan! ada yang kakak ingin bicarakan dengan mu!" jawab rehan sembari melambai ke arah fattan.
rehan menoleh ke semua arah seakan sedang mencari sesuatu,
"ana mana?" tanyanya kemudian.
"di belakang kak, atau aku panggil sekalian.."
"boleh" jawab rehan singkat.
fattan pun memanggil wanita itu. diikuti kehadiran ana yang membawa tiga buah mie instan sekaligus. wajahnya meringis seakan menyampaikan jika dirinya sedang menahan sesuatu. diiringi langkah kakinya yang begitu cepat dan bibirnya berkomat-kamit.
"minggir! minggir!"
"aw panas!"
Dan akhirnya salah satu dari mi tersebut tumpah hingga hampir mengguyur tubuh rehan.
mulutnya langsung ditutup seketika, matanya melotot saling bertemu dengan mata rehan.
ana tak habis pikir jika dirinya begitu ceroboh. ini akan menjadi malapetaka bagi dirinya.
belum selesai masalah kemarin, justru pagi ini dia menambah bumbu kesedihan untuknya sendiri.
sungguh malang.
"re..han.. ma.. af.."
gumamnya penuh ketakutan.
Dulu rehan bukanlah pria yang mengerikan baginya. Namun kejadian kemarin ia merasa dipermalukan oleh pria tersebut. sejak saat itulah ana merubah bingkai dokter itu menjadi penuh horor.
diluar dugaan ana, pria itu sebaliknya malah pergi begitu saja tanpa sepenggal kata pun.
justru sikap yang dikeluarkan rehan malah membuat ana semakin galau.
fattan dibuat bingung oleh kakaknya sendiri.
"sejak kapan ia menjadi pemarah seperti ini" batinnya.
"ana sudah! tidak apa-apa ya, mungkin kak rehan kecapean jadi dia bersikap seperti ini dengan mu"
bujuk fattan sembari merangkul ana.
"tidak fattan! aku yang salah."
"kakak mu jelas seperti itu karna aku ceroboh"
timpal ana diiringi isak tangisnya.
"sudah sudah, jangan sedih!"
"dia pasti mengerti kok, kamu jangan nangis seperti ini dong!" bujuk fattan kemudian mengusap air mata gadis itu.
rehan begitu kebingungan.
dia bahkan seperti psikopat yang haus darah.
bagaimana tidak, jika saat melihat wanita itu dia terus terbawa emosi. Walau sejujurnya dia tau jika wanita itu adalah wanita baik-baik, namun itu semua tak berarti sama sekali. karna hati lah yang menggerakkan sikapnya saat ini.
sebetulnya dia pergi karna dia takut tak bisa mengendalikan emosinya di depan ana.
"kak, maafin ana kak!"
"dia tidak sengaja"
sahut fattan dibelakang rehan.
"aku tidak marah kok"
jawab dokter itu sembari memejamkan matanya dan ia buka kembali.
Mereka berada pada tempat yang sama.
Rehan menjelaskan perihal langkah awal untuk menumpas tuntas wabah ini.
"kita akan bergerak pada malam hari. karna di malam hari mereka mengakhiri aktivitas mereka secar total di luar rumah. lalu kita juga akan melanjutkannya di pagi hari sebelum matahari terbit, karna pada waktu itu mereka juga belum memulai aktivitasnya"
"ini bukan sebuah masalah yang kecil atau besar, bahkan bukan masalah yang rumit. kita harus cepat bergerak sedini mungkin supaya tidak ada lagi korban jiwa yang berjatuhan"
"aku sebagai seorang dokter disini tidak bisa apa-apa tanpa kalian. tolong kalian mengerti"
"dan kalian juga tidak usah khawatir dengan penularan virus itu. karna aku sudah membawa alat lengkap perlindungan diri dari virus tersebut"
"oke, mungkin cukup ya meeting kita kali ini."
rehan menoleh ke arah ana.
"ana kamu pimpin doa ya!"
__ADS_1
perintah rehan.
ana melongo mendengar perintah dari pria tersebut.
"apa aku?"
"bukannya lelaki adalah yang paling baku untuk urusan memimpin?" timpal ana.
suasana pun berubah hening.
"fattan kamu pimpin doa!" lanjut ana kemudian.
dasar lelaki! bukannya dulu pernah aku ajarin ke dia. masak lupa?, batin ana sambil melirik ke arah rehan.
aduh, aku malu sekali sebagai lelaki karna tak bisa menjadi pemimpin yang bisa memimpin, batin rehan.
fattan mulai memimpin doa.
***
waktu sudah menunjukkan pukul 04.00, itu tandanya misi akan segera dimulai.
Rehan sudah menyiapkan alat untuk sebuah penelitian. Walaupun alatnya tidak komplit, tapi dia yakin jika hasilnya akan memuaskan.
sedangkan ana dan fattan, mereka sedang memakai pakaian anti radiasi virus mematikan tersebut.
sambil memejamkan mata, ana berkomat-kamit lalu memakai helm anti radiasi.
fattan mengangguk mengisyaratkan jika semuanya sudah siap.
"ingat kalian harus saling menjaga, karna orang pedalaman lebih sensitif dengan orang asing"
sela rehan.
"ini, kalian bawa spuit ini jika kalian tidak mampu untuk membawa mereka ke tempat ini"
lanjut rehan sembari menyerahkan alat suntik.
"oh iya, kalian harus mengambil sampel darah tersebut dari orang pengidap virus itu"
"kalau jika dinyatakan negatif, itu hanya akan membuang waktu kita di sini"
"jadi harus orang yang positif mengidap virus tersebut!"
"mengerti?"
semuanya lantas mengangguk tanda memahami wejangan dokter tampan itu.
ana serta fattan kemudian pergi meninggalkan rehan sendiri.
namun dalam langkah yang kedua, ana terhenti dengan panggilan rehan terhadapnya.
"ana tunggu!"
teriak lelaki itu.
"apa?" lantas ana membalikkan badannya dengan ragu.
mata rehan tak lepas dari wanita di hadapannya tersebut lalu matanya terpejam sambil berkata
"hati-hati!" kemudian terbuka kembali.
ana tersenyum menyambutnya.
setelah itu ana berlalu diantara pintu yang terbuka.
mereka berdua tampak mengendap-endap diantara rumput ilalang yang rimbun.
sekarang keadaan dusun tersebut sudah seperti kuburan karna warganya tak keluar rumah lagi setelah jam 05.00. ingin tak percaya, namun ini sebuah kenyataan.
Dan ana sudah membuktikannya sendiri dengan mata kepalanya.
"fattan! lebih baik kita berpencar!"
ucap ana tiba-tiba.
pria itu lantas menoleh ke arah wanitanya dengan alis diserut.
"apa berpencar? tidak ana aku tidak akan meninggalkanmu sendiri!" balas pria itu tak setuju.
"fattan kalau kita bersama terus apa jadinya nanti? kita tidak mungkin saling ketergantungan terus menerus!"
"tapi ana..."
"fattan, yakinlah pada ku semuanya akan baik-baik saja oke?"
"tidak ana! aku tidak akan membiarkanmu sendirian. mereka semua berbahaya!"
"kamu salah fattan! mereka tidak berbahaya! mereka hanya merasa asing dengan kita!"
"ana aku mohon! pergilah bersama ku!"
"kasihan kakak kamu, kalau kita kelamaan berdebat seperti ini!"
"an..."
"kalau kita gagal dia pasti akan kecewa, aku tahu kamu pasti tidak membiarkan semua itu menimpa diri ku" timpal ana membuat keduanya terdiam.
"jadi percayalah!" lanjutnya kemudian pergi meninggalkan tempat persembunyian.
mereka berdua lantas berpencar.
di benak ana hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan sampel darah x.
walau dia tau jika nyawa taruhannya, namun dia tetap melanjutkan langkahnya menyelinap ke rumah-rumah warga.
Lantas ana mengintip diantara rumah tersebut. Dia melihat seorang bocah sedang berbaring.
Dan seseorang masuk ke ruangan tersebut sambil mengecup kening bocah itu.
tak terdengar sedikit pun pembicaraan mereka. namun terlihat jika lelaki dewasa itu seakan sedang meminta izin untuk pergi jauh.
Ana masih mengintip dibalik jendela ruangan tersebut. kakinya sudah tak mampu bertahan lagi. Kemudian dia terjatuh dari pijakan kayu di bawah kakinya.
wajahnya kini berubah musam, ana ketakutan.
sedangkan pria dewasa itu berlari keluar menuju tempat persembunyian ana.
namun bocah itu sudah dulu menyelamatkan wanita itu. sekarang mereka berada pada ruangan yang sama.
"Kakak kenapa kemari?!" tanya bocah tersebut.
__ADS_1
"kakak masih banyak urusan! kakak sekarang harus pergi!" balas ana tergesa-gesa.
"jangan kak! diluar sana berbahaya untuk nyawa kakak!"
"tidak! kalian tidak mengerikan!"
"buktinya kamu baik dengan ku!" tegas ana kembali.
lantas ana melangkah pergi meninggalkan bocah itu sendiri.
"tunggu kak aku lupa nama kakak siapa!"
teriak bocah itu membuat kaki ana terhenti.
"Panggil aku jhonson kak!" timpalnya lagi.
ana hanya menoleh kemudian mengangguk menanggapinya.
bocah itu adalah anak yang waktu lalu ditemui ana sedang menangis di tengah hutan. Lantas ia memberi coklat pada anak tersebut.
fattan masih bersembunyi dibalik pohon kering.
dia berdoa untuk perlindungan kepadanya dan juga ana. Setelah dia mengamini doanya tersebut.
dia dibuat aneh dengan pemandangannya sekarang.
keadaanya berubah menjadi medan perang.
pasukan dari luar tengah mengintai mangsanya,sedangkan suasana kampung masih terlihat sepi.
fattan ketakutan!
jumlah mereka tidak sedikit.
mereka juga membawa tombak sebagai senjatanya. Dan sebagian besar membawa anak panah.
fattan benar-benar ketakutan.
jumlah mereka terus bertambah seiring gelapnya malam.
"jadi mereka membawa racun!"
"mereka sangat berbahaya! aku harus membawa ana pergi dari sini sebelum semuanya terlambat!"
batin fattan.
fattan dikelilingi kelompok beracun, menjadikan nyalinya semakin ciut untuk keluar dari persembunyian.
dia terus menunduk berdoa untuk keselamatan wanita itu.
"ana! semoga kamu baik-baik saja ana!"batinnya.
***
jari rehan seakan berdansa di atas meja.
matanya menatap sesuatu namun tak sejalan dengan otaknya.
Dia resah karna takut terjadi apa-apa dengan adik dan juga wanita itu.
kekhawatiran itu terus datang menghinggapi otaknya, namun dia selalu menampiknya dengan berfikir bahwa "semuanya akan baik-baik saja karna mereka sudah dilengkapi oleh pakaian anti radiasi".
sejujurnya rehan tidak tahu jika pakaian anti radiasinya itu tak berarti apa-apa bagi keselamatan mereka.
Ana tak sadar jika dirinya sedang diterkam oleh pasukan perang. Dia bahkan sempat berlari namun akhirnya dibidik oleh seseorang diantara rumput inang yang tebal.
bidikan panah itu meluncur dan pas mengenai kakinya.
bruggh!
ana tersungkur menahan sakit di kakinya.
sedangkan fattan berlari menghampiri wanita itu sambil berteriak memanggil namanya.
ana!!!
fattan membuka penutup kepala wanita itu.
tolong bertahan ana!
aku mohon!
kamu harus bertahan!
tangan fattan mencabut panah yang tertancap di kaki wanita tersebut.
tangannya gemetar membawa anak panah itu. Lantas dia berdiri, wajahnya merah terbakar api kemarahan.
"woy!!!!"
"keluar kalian!!"
"siapa yang sudah melesatkan anak panah ini ke tubuh tunangan ku!!"
fattan terus menyerukan amarahnya di kegelapan malam.
akibat kegaduhan tersebut, para warga berhamburan keluar rumah. mereka mencari asal dari suara tersebut.
"kalian semua tahu tidak jika kedatangan kami ke sini untuk membantu kalian semua sembuh dari wabah mematikan!"
teriak fattan diiringi isak tangisnya.
"kalau tau jika sebenarnya virus itu tidak ada, dan kalian semua orang jahat aku tidak akan datang ke sini"
aaaaaa!!!!
ku bunuh kalian semua!
teriak lelaki itu mengepal ke arah lelaki yang sebagai tersangka dari kejadian ini.
walau sempat dihalau oleh masyarakat lainnya.
"tenang bang tenang!"
"kekasih mu akan baik-baik saja, sekarang kamu bawa dia ke rumah sakit. sebelum semuanya terlambat!"
sela salah seseorang warga dari dusun tersebut.
"jangan khawatir aku sudah mengikat pergelangan kakinya agar racun tersebut tidak menjalar ke tubuhnya" timpalnya lagi.
Sudah hampir 6 jam rehan menunggu mereka kembali. Namun sampai sekarang dia tak melihat dan tau kondisi fattan serta ana.
__ADS_1
mereka bahkan tak mengabarinya saat ini.
kekhawatiran rehan sudah diujung tanduk. keinginannya untuk menyusul dua relawan itu sudah tak terbendung lagi.