Dokter Tampan Dari Indonesia

Dokter Tampan Dari Indonesia
senderan hati


__ADS_3

"halo"


"baik aku akan segera ke sana!"


suara rehan kemudian menutup telpon.


"sus, tolong jaga pasien ya!"


"aku ada keperluan keluar sebentar"


sahut pria itu pada seorang suster yang ia temui.


"baik pak dokter!"


"tapi pak, stok makanan sudah habis dan pihak rumah sakit tidak perduli akan hal ini"


balas suster itu.


"tapi masih cukup kan untuk makan hari ini?"


suster itu hanya terdiam.


"nanti kita bicarakan lagi ya" sambung rehan lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


Semua orang mengira jika rehan hanyalah seorang dokter biasa, namun dugaan itu benar.


pahlawan yang diberi tugas oleh negara untuk menyelamatkan nyawa manusia.


Tapi lelaki itu, dia adalah satu-satunya dokter yang memahami situasi.


Menurut dia Negara sama dengan rumah sakit.


ketika rumah sakit sedang anjlok dan kekurangan bahan obat segala macam. orang di dalamnya harus siap dan ikhlas menyumbangkan dana untuk situasi genting seperti ini.


Begitu pula dengan Negara, ada saatnya negara mengalami masalah. Dan di saat itu lah kaum pengusaha dan sejenisnya harus mengerti dan turut serta menangani.


rehan telah sampai di kantor polisi.


sorot matanya tajam menyusuri ruangan demi ruangan di kantor tersebut.


Dan berhenti tepat di antara 4 orang tersangka di hadapannya.


"pak inspektur, kenapa ada anak kecil di sini?"


tangan rehan menunjuk ke arah anak kecil yang duduk diantara tersangka lainnya.


"dokter rehan, kami sudah semampu mungkin melarang bocah ini masuk ke sini. tapi dia tetap ngeyel untuk ikut orang tuanya" jelasnya.


Rehan hanya diam seraya menatap bocah itu.


"Brigadir! bawa mereka ke ruangan investigasi"


ucap inspektur Hasan.


"baik inspektur!"


tiga tersangka dan satu bocah itu kemudian di bawa ke ruang investigasi untuk penyelidikan lebih lanjut.


"brigadir Jon! bocah nya jangan dibawa!"


"biarkan dia di sana!"


"Aduh bagaimana sih!"


timpal inspektur Hasan pada bawahannya.


"Dokter rehan kami tidak menemukan adanya bukti tentang kecurigaan anda"


"Padahal dengan jelas jika mereka terserang wabah di sana, bukan tindak kriminal".


jelas inspektur.


rehan menatap mata ketiga tersangka dan berhenti pada salah satu tersangka yang ia curigai.


"apa yang kalian sembunyikan dari kami!"


"ayo jawab!" gertak Rehan lantang namun pelan.


"mereka pecandu narkoba pak, dan kemarin hasilnya positif"


"kemarin kami menggledah pemukiman tersebut, banyak ditemukan obat psikotropika dan sejenisnya"


"pengaruhnya pada otak mereka, jadi menurut saya mereka berhak direhab".


jelas inspektur Hasan panjang lebar.


Rehan hanya diam, dia merasa tak percaya dengan apa yang didengarkannya ini.


Ini diluar dugaannya.


"bocah itu juga diperiksa?"


tukas Rehan kemudian.


"tidak pak.." jawab inspektur terbata-bata.


"maksud saya belum"


"saya ingin dia juga diperiksa!"


"saya akan tunggu hari ini juga!"


balas Dokter itu lalu keluar.


Menoleh ke arah tempat duduk yang berdiri seorang anak kecil polos.


kepolosannya menciptakan rasa iba di dada Rehan.


"Tapi, dia hanyalah seorang anak kecil.. mana mungkin dia....ah" batin Rehan berusaha melempar pikiran kotornya.


Bocah itu dengan percaya diri menoleh ke arah Rehan. Tanpa malu-malu dia mengajak dokter itu bicara, walau sadar jika pria itu terlihat tak menyukainya.


"kenalkan nama ku Jhonson" Selanya mengulurkan tangan.


"Rehan" balas dokter itu sembari tersenyum.

__ADS_1


"kamu polos sekali !"


"hingga membuat ku kagum" sambungnya lagi.


Sekarang Rehan tersenyum ganas.


Matanya masih belum lepas dari tubuh bocah itu.


"Anda jujur sekali tuan!"


"saya juga kagum pada anda" timbal bocah itu dengan tangan masuk ke saku celana.


Rehan terkekeh, Dia bukan orang yang bisa ditipu begitu saja. Ini adalah sandiwara yang sangat besar. Dia sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan tuyul ini walau tahu sudah direncanakan.


"sepertinya aku harus mengobrol banyak dengan mu"


"ini kartu nama ku, aku sangat senang jika kamu bisa datang" balas Rehan seraya keluar.


"hlo dokter mau kemana?"


"katanya mau menunggu hasil lab nya!"


teriak salah seorang polisi.


"tidak perlu"


"ada banyak urusan yang harus saya selesaikan"


lanjutnya.


**Dia hanyalah seorang anak kecil.


Lugunya bisa ia tutupi, tapi wajahnya tak bisa ia sembunyikan. Sayangnya aku sudah lebih dulu mengetahui kedoknya tersebut.


Walaupun sebentar lagi karantina Kalimantan akan berakhir.


Karna korban jiwa sudah tak lagi berjatuhan. Itu tandanya virus itu bisa disembuhkan, Kecuali parah.


Tapi kok bisa semua orang yang positif di luaran sana dapat di pastikan meninggal dunia, sedangkan yang diisolasi ke rumah sakit. Sampai sekarang masih hidup, bahkan tidak ada satu pun yang meninggal.


Oh tidak!


Aku terlalu sibuk memikirkan vaksin itu sampai-sampai keadaan rumah sakit terlupakan.


Rehan terus bergumam.


Sementara mobilnya sudah sampai di depan Rumah sakit.


"Sus! siapkan semua perawat! kita akan meeting malam ini!"


tukas rehan sembari berjalan di atas tangga.


"Siap dok!"


Semua perawat rumah sakit terkencar-kencar memasuki ruang meeting.


Diantara mereka saling membisikkan sesuatu.


Rehan datang bersama dengan dokter yang lain.


Rapat pun dimulai yang diketuai oleh Rehan.


"Namun sebelum itu kami akan menyumpah kalian terlebih dahulu agar kalian berkata jujur dan apa adanya",teriak rehan dengan tegas.


Semua perawat dan para petugas rumah sakit lainnya tercengang dengan berita ini.


Setelah proses sumpah janji selesai, rehan mengajukan satu demi satu pertanyaan.


Semua perawat juga disuruh mengumpulkan semua jenis obat-obatan, termasuk alat medis.


Setelah semuanya terkumpul, Rehan mengamati satu demi satu benda yang dikumpulkan.


Matanya terhenti pada sebuah kotak obat yang berjejer. Lantas jarinya meraih kotak itu dan membukanya.


"Ini punya siapa?"


semuanya terdiam.


"ayo jawab kotak ini punya siapa?"


"dan kenapa kotak ini ada di sini?"


sambungnya lagi sambil berjalan memutari para perawat.


"ayo Fin kamu bilang saja pada dokter"


"iya Fin jujur lebih baik hlo"


"iya"


bisikan suster bergemuruh ditelinga rehan.


"Buat yang merasa bernama Fin siapa aku tidak tahu, tolong maju ke depan!"


"beritahu kami semua, apa yang kamu tahu tentang obat ini!"


Lantang Rehan di depan Audiens.


Seorang perawat pun maju, Dia memberitahu jika Obat itu ia dapatkan dari suster yang mengaku menjadi asisten dokter Rehan.


"Dia bilang jika obat itu disuntikkan ke infus pasien, itu juga sesuai perintah dokter rehan katanya" jelas perawat dengan nama Fin tersebut.


"perawat yang mana?


"apakah di sini ada perawat yang kamu maksudkan itu suster Fin?"


Suster Fin pun melangkah seraya memeriksa barisan suster yang ia cari.


Dan langkahnya tertahan di perawat pada barisan terakhir.


"bagaimana?"


"apakah kamu sudah menemukannya?"


sahut Dokter Rehan penuh harap.

__ADS_1


"Tidak ada" jawabnya.


"Dia tidak ada disini dok!" sambung suster Fin kembali.


"kamu jangan bercanda suster Fin!" pinta Rehan.


"saya tidak bercanda dok, dia benar tidak ada!"


balas perawat itu lalu menangis.


"baik"


"kamu ikut saya untuk mengecek CCTv"


"untuk semua audiens bisa membubarkan diri!"


Dugaan ku benar, wabah ini sengaja dibuat dan dirancang secara sistematis.


Ada oknum yang sengaja membohongi publik dengan drama perang.


setelah pandemi ini berakhir aku yakin akan ada kejutan hebat yang akan mengguncang dunia.


"Rehan?" suara wanita di belakangku.


Lantas aku menoleh dan terkejut ketika mendapati Ana berada di belakang ku.


"kenapa kamu keluar?"


"ini kan sudah larut malam" sahut ku padanya.


"kok tumben ya pintu ruangan ku tidak terkunci"


Ana merasa aneh.


"Kamu juga kenapa tidak pakai alat pelindung, ini kan ruang isolasi !"


Aku terkekeh.


"Aku sengaja"


"Karena besok kamu sudah bebas" Lalu menoleh ke arah Ana.


Mata kami saling bertemu.


"kenapa kamu diam saja?" sambungnya lagi.


"tidak"


"aku sudah tau kok hal itu, karena aku sudah menghitungnya sejak kemarin"


"hahahaa.."


Lalu Ana mendekat duduk di sebelah rehan.


"Makasih ya coklatnya!" sahut ana.


Rehan terkejut, "coklat?"


"apa maksud mu?"


"bukannya coklat ini dari kamu?"


Rehan menggeleng.


Ana merasa malu karna dugaannya salah.


Sedangkan dari jauh, seorang laki-laki tengah berdiri memperhatikan mereka berdua.


Dia berada pada tingkat gedung sebelah Rumah sakit itu.


"Sudah jangan sedih"


"sini coklatnya bagi-bagi dong!"


Rehan merebutnya dari tangan Ana


Dengan percaya diri Rehan terus melahap coklat tersebut, hingga sisa sepotong coklat.


"Eh enak aja jangan dihabisin!" Ana menenteng marah lalu merebut sisa coklat dari tangan Rehan.


"ngantuk ah! aku mau tidur" timpal Rehan sambil menguap. Dengan seenaknya saja berbaring di lantai depan ruangan Ana.


"heh!"


"Rehan! jangan tidur di sini!"


sambil berusaha membangunkan pria itu dengan cara paksa.


"Dasar ya!"


Ana frustasi karna tidak bisa mengusir Rehan, akhirnya dia masuk ruangan dan bergegas tidur.


Dia masuk ruangan bukan untuk tidur. Melainkan demi bisa menyaksikan pria itu tanpa sepengetahuannya.


Dokter


aku tidak tahu rahasia tuhan,


kamu selalu ada,


seperti bintang di setiap malam


kamu selalu hadir


seperti waktu Sholat 5 waktu.


Tapi kamu lupa jika Hati adalah hati.


Wajah bisa disembunyikan


Namun hati?


sekuat apapun dirimu menyembunyikan perasaan,


Orang dalam hati mu pasti akan tau.

__ADS_1


mereka diam bukan berarti tidak tau.


Mereka diam namun sedang merasakan.


__ADS_2