
**Air mata risya tak terbendung dan lolos begitu saja, membasahi kedua pipinya." apa ini jawaban dari perasaan yang aku rasa kan sejak tadi " batin risya.
mamanya risya terlihat sangat gusar, ia berpikir bagaimana caranya menjelaskan dan menenangkan risya nanti, mengingat risya begitu dekat dan sayang pada papanya.
mama vizha tak menyadari keberadaan putrinya itu, karna terlalu sedih dan terpukul ia tak melihat risya yang berdiri di depannya. yang ia tau putrinya itu masih di kota J dan belum tau kabar papanya meninggal.
icha di bantu putra dan anita menyiapkan tempat di ruang keluarga untuk meletakkan jenazah papanya risya.
sedangkan zen dan rifal meembantu menurunkan papanya risya dan meletakan jenazahnya di diruang keluarga.
risya masih diam terpaku, tak ada suara sedikit pun hanya air mata yang terus menetes membasahi pipinya.
" dek " pangil ardi mendekat ke arah risya, ardi maju selangkah maka risya pun akan mundur selangkah, ardi pun mengalah dan berhenti." maaf" cuma kata itu yang terus iya ucapkan.
" apa salah aku bang," tanya risya dengar suara yang bergetar menahan tangisannya,! adri diam dan cuma mengeluarkan 1 kata yaitu " maaf " cuma itu yang bisa dia ucapkan saat ini.
risya mendorong tubuh ardi dan berjalan melewatinya, risya bersimpun di depan jenazah sang papa .
" pa , papa marah sama isya, sampai papa pergi tanpa pamit, apa isya yang terlalu egois ninggalin papa,! ucapnya di iringi dengan tangisan!
risya hiteris, meraung sejadi jadinya di depan jenazah papanya, sampai ia tak sadarkan diri!
__ADS_1
suara risya menyadarkan mamanya akan kehadiran risya di situ. " kuatkan putri ku ya allah, aku tak tega melihatnya seperti itu! batin mama risya.
zen mengangkat tubuh kekasihnya, zen membawah risya ke kamar, dengan perlahan ia letakkan risya di ranjang, menarik selimut dan menutupi tubuh risya,!
" istirahatlah sayang, aku tau ini berat, tapi kamu harus kuat dan iklas , ucap zen mencium kening risya, setelah itu iya melangkah keluar dari kamar risya.
" gimana, risya udah sadar? tanya luna dan di balas gelengan kepala dari zen.
terik matahari menyinari pagi itu suasana duku menyilimuti keediaman risya, semua tetangga dan kerabat telah siapa mengantar papa risya ke pembaringan terakhirnya.
mami dan papi rifal telah sampai 20 menit yang lalu setelah mendapat kabar dari rifal.
" apa kamu yakin dek? tanya ardi.
" apa tidak cukup abang menghukum ku kemarin, dengan tidak memberi tahu kesehatan papa,!
" bukan itu maksud abang seperti itu sya, abang cuma khuwatir sama kamu! .
" aku baik baik saja dan jangan pedulikan aku!.
" aku akan terus pedulih sama kamu sampai kapanpun karna kamu adik abang!
__ADS_1
" oh adik, masih ingat kalau abang punya adik, waktu papa sakit apa pernah abang ingat untuk memberitahu adik mu ini. ucapa risya tersenyum sinis.
" sya , ardi sudah ,jangan memberatkan papa kalaian dengan pertengkaran kalian, lebih baik kita langsung ke pemakaman ! ucap yani melerai perdepadabat ke 2 kaka beradik itu.
" iya tante maafin risya, hik... hik..hik. risya menangis memeluk tante yani.
acara pemakaman pun berjalan dengan lancar semua tetangan dan kerabat telah pulang, tinggal risya ,ardi, zen dan rifal tante yani pun telah kembali bersama om indra.
.
.
.
.
Bersambung.
πππ
π*Tinggalkan jejak ya kalau kalian sukaπ***
__ADS_1